25 Juni 2021

Bertanam dilahan Urugan Batubara tapi layaknya sama dengan di lahan yang subur

Kami lanjutkan pengamatan dan pembahasan hasil dari daerah Samarinda, Sempaja, dimana wilayah tersebut disekitaran nya terdapat spot lokasi bekas tambang batubara yang nota bene tidak layak untuk ditanami hortikultura apalagi tanaman cabai yang perlu banyak nutrisi untuk perkembangannya.

Tetapi kami bersyukur dengan metode KPO ini lahan bekas urugan galian tambang ini hingga akhir bulan Juni 2021 ini masih saja bisa berkembang bahkan sudah panen ke 3 kalinya.

Yang paling menjadi perhatian kami yaitu lahan yang awalnya kuning cerah bertahap berangsurmenjadi kecoklatan mendekati kehitaman , yang merupakan salah satu ciri tanah yang banyak mengandung humus/bahanorganik.

Demikian lah kondisi lahan mitra KPO yang awalnya berwarna kekuninngan bahkan ektreem nyalagi mitra tidak memberikan pupuk dasar sama sekali untuk lahan bekas urugannya. Tindakan yang menurut kami sendiri, terbilang terlalu berani.

Dari gambar ini bisa kita fokus pada gundukan tanah diatas mulsa yang berwarna masih kekuningan, yang mencirikan lahan yang sejatinya tidak layak untuk tanaman cabai, tomat dll. Namun nyatanya buah cabai tetap lebat seperti lahan lahan yang subur di Pulau jawa dan Pulau Sumatera dll nya.

Dengan pemupukan melalui pengecoran Protektan , Biopestis ,Pormik dan Mikvator secara berkala dan bergantian antara Mikvator dan Pormik, merupakan cara kami memberikan Mikroba aktif juga mensuplay unsur hara Mikro pada tanahnya. Efeknya sedemikian hasilnya.

Rekomendasi dari penelitian /jurnal jurnal pertanian yang selama ini lahan demikian hanya cocok untuk ditanami tanaman jenis Sagu yang jangka waktu panennya belasan tahun saat ini kita sudah berhasil memanfaatkannya bahkan dengan tanaman yang perawatannya bisa dibilang paling kompleks, Cabe.

Lahan subur ,gulma pun ikut subur,semoga hasil ini menginspirasi bagi pihak terkaituntuk ‘menyulap’ lahan bekas urugan tambang batubara menjadilahan produktif kembali.