17 Juni 2020

Waspadai Resistensi Hama dan Penyakit

Sudah kita pada mafhum bagaiamana kondisi pertanian dinegara kita ataupun di mancanegara. Hama hama dan penyakit makin kebal dan bandel. Bahkan dari beberapa jurnal pertanian yang kami telaah penggunaan insektisida bisa belasan kali bahkan puluhan kali lipat dari dosis anjuran namun hama tetap bertahan dan kebal.

Namun dalam hal ini kami dan mitra kami dari Jatim ini masih panen terus bahkan interval panennya masih seperti biasa yaitu 3 mingguan dari waktu panen tanggal 18 Mei 20 hingga saat ini per tanggal 10 dan 11 Juni kembali panen melimpah. Bisa dikatakan panen per 3 minggu sekali. (Dalam foto tertera di kanan bawah, waktu jadwal petiknya).

Padahal sebagaimana yang pernah kami Utara kan kondisinya lahan ini sebelumnya dikelola secara kimia murni sebelum diambil kembali sewa lahannya karena petani Penyewa tidak melanjutkan perawatan dan masa sewanya. Alasannya, tanaman sudah dianggap tidak prospek, perawatan yang dianggap terlalu berat dan tidak seimbangnya biaya produksi dan hasil produksinya. Hal yang terutama yaitu, sulitnya dan resistant nya hama lalat buah diperkebunan tersebut.

Menurut info yang kami dapatkan sebelumnya lokasi ini dikelola dengan pola full kimia hingga mencapai titik hasil yang sangat rendah tetapi setelah diambil alih pola perawatannya dengan cara kpo ini, secara berangsur tanaman kembali sehat dan produksinya makin meningkat dari hari kehari. Adapun secara pembiayaanya dengan cara kpo ini, biaya justru menurun drastis tetapi produksi terus meningkat.

Sebagai mana yang kita ketahui resistensi terhadap insektisida berbagai bahan aktif saat ini sudah terjadi, seperti Tiometaksam, klorantrapiliprol, abamektin, diazinon, malation semuanya termasuk insektisida yang sudah resistant sampai beberapa kali dosis anjuran. Bahkan dari jurnal pertanian yang kami pelajari ada yang sudah mencapai 15 sd 30 kali dari aplikasi standarnya.

Insektisida lainnya yang sudah resisten antara lain, Lamda sihalotrin, Peritrorid,fenitrotion bahkan insektisida hayati seperti Bacilllus thuringoensis pun saat ini berdasarkan keterangan Jurnal tersebut sudah makin terdegradasi fungsinya.

Demikianlah keadaanya saat ini, resistensi kekebalan terhadap hama semakin menjadi jadi, bisa dibayangkan apabila penggunaan insektisida kimia makin ditinggikan dosisnya.

Dalam suatu aplikasi pestisida selain efek resistensi pada tanaman perlu juga diperhatikan daya persistensi /daya tahan suatu pestisida setelah diaplikasikan ke lahan hal ini bisa dipengaruhi oleh suhu kelembaban, sinar matahari dan penguraiannya. Terlalu lama daya persistensinya juga tidak diharapkan karena bisa menyebabkan terjadinya ‘rantai makanan’, dari residu bahan aktif pestisida tersebut.

Yang jelas mitra kami dari Jatim ini secara berkesinambungan merawat tanamannya dan panen secara berkala. Walaupun dosis pestisida yang digunakan rendah namun hama dapat tertanggulangi. Dosis rendah dari pestisida kimia yang kami sertakan tidak juga menjadikan hama menjadi toleran terhadap pestisida yang dianggap kasta ‘rendah’. Sing penting terlihat nyata hasilnya dan tetap ramah lingkungan.