Sukses Bersama Klinik Pertanian Organik Kembang Langit, Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Kegiatan bersama Menakertrans di Leles-Garut More »

Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Jajaran Komisaris Direksi, Staff, dan Rekan PT.Kembang Langit More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada tanaman Padi di Aceh More »

Kegiatan Pelatihan More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Keriting More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Rawit More »

Hasil Aplikasi Mengatasi lalat buah di tanah karo-SUMUT More »

Pengiriman Barang, Kegiatan Pelatihan More »

 

Tag Archives: PHT

PHT (PENGENDALIAN HAMA TERPADU) PADA TANAMAN HORTIKULTURA

SELURUH GAMBAR  DALAM MAKALAH INI MERUPAKAN,HASIL HASIL APLIKASI DENGAN  KONSEP PHT/PTT (PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU),VERSI KEMBANG LANGIT.Sengaja kami tampilkan gambar hasil aplikasi kami,untuk menyatakan bahwa konsep tersebut bukan hanya konsep belaka tetapi telah kami lakukan secara terus menerus/berkelanjutan.

Pengendalian hama terpadu didefinisikan sebagai cara pendekatan atau cara berfikir tentang pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi dalam rangka pengelolaan agroekosistem yang berwawasan lingkungan berkelanjutan. Dengan pengertian ini, konsepsi PHT telah sejalan dengan paradigma pembangunan agribisnis. Konsep PHT muncul dan berkembang sebagai koreksi terhadap kebijakan pengendalian hama secara konvensional yang menekankan penggunaan pestisida. Penggunaan pestisida dalam kerangka penerapan PHT secara konvensional ini menimbulkan dampak negatif yang merugikan baik ekonomi, kesehatan, maupun lingkungan sebagai akibat penggunaan yang tidak tepat dan berlebihan.

Pelaksanaan program pengendalian hama terpadu (Integreted Pest Management) merupakan langkah yang sangat strategis dalam kerangka tuntutan masyarakat dunia terhadap berbagai produk yang aman dikonsumsi, menjaga kelestarian lingkungan, serta pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan yang memberikan manfaat antar waktu dan antar generasi. Salah satu pertimbangan dasar, pentingnya melakukan introduksi teknologi PHT, adalah adanya pergeseran strategi pembangunan dari pendekatan pertumbuhan, top down, dan bersifat jangka pendek (pola pembangunan konvensional) ke arah pendekatan pembangunan pemerataan, partisipatif, jangka panjang dan berkelanjutan yang disebut pola pembangunan berkelanjutan

Penggunaan PESTISIDA  dan PUPUK KIMIA menjadi hal yang penting  dalam dunia pertanian saat  ini,namun ternyata penggunaan yang berlangsung secara terus menerus dan dalam dosis yang tinggi akhirnya penggunaan bahan kimia tidak lagi memberikan solusi peningkatan hasil-hasil pertanian. Hal  ini disebabkan karena hama dan  penyebab penyakit justru menjadi lebih tahan ( resisten ) terhadap penggunaan bahan kimia tersebut .  Penerapan  konsep   revolusi hijau (”Green revolution”)  yang pada awalnya, usaha ini dapat memberikan hasil pertanian yang memuaskan, namun beberapa beberapa saat  kemudian justru terlihat gejala-gejala negatif mempengaruhi konsep pertanian tersebut. Konsep revolusi hijau memang menawarkan penggunaan Varietas Hybrida yang berpotensi hasil tinggi dan lebih genjah dibandingkan varietas lokal,namun disayangkan penggunaan varietas ini, perlu diiringi dengan penggunaan pupuk kimia dengan dosis tinggi demikian juga ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit relatif lebih lemah sehingga diperlukan tehnik pengendalian hama yang lebih intensif pula .  Secara umum Efek negatif  dari konsep REVOLUSI HIJAU,saat ini telah terasa antara lain berupa :

1. Resistensi/kekebalan, hama dan penyakit

2.Timbulnya hama hama baru,yang awalnya bukan merupakan hama utama  sehingga menyebabkan terjadinya peningkatan populasi hama dan patogen sekunder

3.Berkurangnya populasi serangga yang bermanfaat sebagai predator/Parasitoid  hama

4. Efek kesehatan terhadap  manusia berupa bahan residu  kimia yang terkandung dalam  tanaman dan juga tanah

5. Tanaman menjadi rapuh dan menjadi mudah terserang hama dan penyakit,yang justru memudahkan timbulnya kerusakan tanaman yang lebih parah

Memperhatikan berbagai efek negatif yang ditimbulkan dari penggunaan PUPUK DAN PESTISIDA KIMIA tersebut, maka mulai diadakan penelitian-penelitian yang mengarah kepada penggunaan jasad hidup untuk penanggulangan kerusakan di dunia pertanian, yang dikenal dengan pengendalian biologi (”Biologic control”). Dalam metode ini dimanfaatkan serangga dan mikro organisme yang bersifat predator dan  parasitoid. Usaha untuk meningkatkan hasil pertanian terus berlanjut dengan memperhatikan aspek KEAMANAN LINGKUNGAN, KESEHATAN MANUSIA dan ASPEK EKONOMI, maka muncul istilah ”INTEGRATED  PEST CONTROL”, integrated pest control dan selanjutnya menjadi integrated pest management (IPM), yang dikenal dengan PENGENDALIAN HAMA TERPADU (PHT) juga ada istilah PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU (PTT).

Hasil yang kami dapatkan seperti yang kami tampilkan dalam gambar-gambar pada halaman ini,juga merupakan hasil PENELITIAN yang kami lakukan secara terus menerus dan berkelanjutan.   Metode dan konsep PHT/PTT,berupaya kami terapkan,namun dengan modifikasi sana sini.

Aspek aspek yang mempengaruhi tingkat keberhasilan dari PHT/PTT, itu sendiri kami perhatikan betul.

Aspek KEAMANAN LINGKUNGAN DAN KESEHATAN

Penggunaan bahan alami berupa ekstrak dari tanaman yang bersifat Repellen,kami gunakan sebagai pengendali hama dan penyakit,sehingga dampak negatif berupa residu yang tersisa pada tanaman dan tanah,bisa diminimalisasi.  Metode pengendalian hama  yang kami lakukan adalah tidak dengan MEMATIKAN HAMA ,sehingga efek resistensi/kekebalan hama,tidak terjadi.

ASPEK EKONOMI

Jelas dengan hasil yang seperti terlihat pada Gambar-gambar yang kami tampilkan ( bisa juga di lihat pada Video/You Tube,kami),menunjukkan peningkatan produktifitas, tanaman berbuah lebat dan bahkan tunas tunas baru bermunculan terus dan menghasilkan bunga dan buah yang lebat pula,(seperti terlihat pada gambar dibawah ini).

Selain mengurangi biaya produksi berupa pestisida kimia,ternyata sudah kami buktikan pula,kita tidak memerlukan lagi biaya untuk pembelian PUPUK DAUN,PUPUK BUAH,ZPT/HORMON PERTUMBUHAN dan SEKALIGUS JUGA kita TIDAK LAGI MEMERLUKAN BAHAN PEREKAT dan PERATA dan PENEMBUS. Bisa kita  hitung  berapa pengurangan biaya yang dikeluarkan.

Mungkin ada pertanyaan dalam benak anda,mengapa ada produk yang seperti ini,SEGALA  MACAM FUNGSI ADA?

Hama thrips,tungau ,kutu kebul, lalat buah dan Ulat ternyata menjauh.  Selain kombinasi perlakuan yang kami lakukan secara tehnik alami,juga menghindarkan tanaman dari serangan penyakit seperti patek dan layu fusarium.

Prinsip Penerapan

Menurut Direktorat perlindungan HORTIKULTURA

Ada 4 (empat) prinsip penerapan PHT, yaitu : (1) budidaya tanaman sehat, (2) pelestarian dan pendayagunaan musuh alami, (3) pengamatan mingguan secara teratur, dan (4) petani berkemampuan melaksanakan dan ahli PHT.

Budidaya tanaman sehatmerupakan prinsip penting penerapan PHT dengan menggunakan paket teknologi produksi dan praktek agronomis, untuk mewujudkan tanaman sehat.

Pelestarian musuh alamimelalui pengelolaan dan pelestarian faktor biotik (pengendali alami) dan abiotik (iklim dan cuaca) agar mampu berperan secara maksimal dalam pengendalian populasi dan penekanan tingkat serangan OPT.

Pemantauan ekosistem secara teratur yaitu pemantauan hasil interaksi faktor biotik dan abiotik dan menimbulkan serangan OPT. Kegiatan pemantauan merupakan kegiatan penting yang mendasari pengambilan keputusan pengendalian.

Petani sebagai ahli PHTmerupakan tujuan penerapan agar petani memiliki kemampuan dan kemauan untuk menetapkan tindakan pengendalian sesuai prinsip PHT dan berdasarkan hasil pengamatan. Upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan petani adalah latihan dan pemberdayaan petani.

 

Adapun penjabaran dari prinsip penerapan PHT,menurut versi kembang Langit adalah sebagai berikut:

1. BUDIDAYA TANAMAN SEHAT

2. PELESTARIAN DAN PENDAYAGUNAAN MUSUH ALAMI

Penggunaan pestisida yang tidak mematikan ,justru menguntungkan, karena populasi dari musuh alami juga tetap terjaga.  Hal ini berbeda dengan penggunaan insektisida berbahan aktif kimia,karena selain hama target mati tetapi musuh nya hama,musuh alami hama berupa PREDATOR dan PARASITOID HAMA juga ikut MATI.  PROTEK-tan, PESNATOR ,cara kerjanya repellen dan antifeeden,menolak dan mengkondisikan agar hama tidak mau makan.

Kondisi tanah yang sudah berlumut,yang ditanami tanaman cabe secara berulang-ulang tanpa merubah posisi bedengan/guludan.  Kita tidak perlu khawatir tanah mengeras,karena dengan sistem organik tanah justru semakin lama semakin subur ,gembur dan tidak mengeras. Dengan sistem alami ini pula kita tidak perlu khawatir terjadi perpindahan /migrasi hama dan penyakit.

3. PEMANTAUAN EKOSISTEM SECARA TERATUR

Hal ini kami anggap sebagai salah satu KUNCI keberhasilan dalam bercocok tanam komoditas hortikultura. Pengamatan sangat diperlukan baik dari tingkat kepadatan populasi  per tanaman maupun intensitas serangan dalam suatu lokasi.

Jadi ada kata kunci dalam penerapan PHT /PTT ini,PENGAMATAN…

Pengamatan tentang jenis hama penyakitnya  dan luasan serangan dalam suatu area, sebab tehnik yang kami kembangkan adalah adanya

Kami memahami dan memaklumi begitu banyaknya metode dan tehnik yang berkembang dalam masyarakat petani,perihal tehnis budidaya tanaman HORTIKULTURA ,termasuk dalam hal ini tehnik yang dikembangkan oleh  KEMBANG LANGIT.

4.  PETANI  SEBAGAI AHLI PHT/PTT

Kami berharap suatu waktu metodologi dan konsep PHT versi KEMBANG LANGIT ini,dapat kami ” tranferkan” pada petani-petani diseluruh  Indoneisa.

PENGENDALIAN HAMA SECARA TERPADU / PHT (JAMBORE) PADA TANAMAN HORTIKULTURA, dengan Wagub Jawa Barat Bapak Dede Yusuf, di Garut Tanggal 24 November 2010

Konsep dan Strategi penerapan PHT

PHT merupakan suatu cara pendekatan atau cara berpikir tentang pengendalian OPT yang didasarkan pada dasar pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi dalam rangka pengelolaan agro-ekosistem yang berwawasan lingkungan yang berkelanjutan. Sebagai sasaran teknologi PHT adalah : 1) produksi pertanian yang tinggi, 2) Penghasilan dan kesejahteraan petani meningkat, 3) Populasi OPT(organisme penggangu tanaman) dan kerusakan tanaman tetap pada arah secara ekonomi tidak merugikan dan 4) Pengurangan resiko pencemaran Lingkungan akibat penggunaan pestisida yang berlebihan (Anonimous, 2004 ).

Konsep PHT muncul dan berkembang sebagai koreksi terhadap kebijakan pengendalian hama secara konvensional, yang sangat mengutamakan dalam penggunaan pestisida kimia. Kebijakan ini mengakibatkan penggunaan pestisida kimia oleh petani yang tidak tepat dan berlebihan, dengan cara ini selain dapat meningkatkan biaya produksi juga mengakibatkan dampak samping yang merugikan terhadap lingkungan dan kesehatan petani itu sendiri maupun masyarakat secara luas.

Direktur Utama PT. Kembang Langit, Bapak Rusli Gunawan (Jaket Hitam) berdampingan dengan Wagub Jabar, Bapak Dede Yusuf,dalam acara JAMBORE PHT tersebut

1. Jauhar IPB (Baju Biru) sedang berdialog perihal konsep pestisida organik, dengan Wagub Jabar, Bapak Dede Yusuf (foto bawah)
.

2. Jauhar IPB sedang berdialog dengan Bp. Dede Yusuf,dan disebelahnya Bp.Dr.Ir. Swastiko Priambodo dosen HPT-IPB (berbatik coklat) mendampingi

3. Bapak Dede Yusuf dan Bapak Dicky Candra (Wakil Bupati Garut) dengan seksama mengamati hasil uji terap PROTEK-tan, PESNATOR dan POCANIL.

Sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT), berupaya memaksimalkan penerapan berbagai teknik pengendalian OPT ramah lingkungan secara komprehensif dan mengurangi penggunaan pestisida secara tepat. Pengendalian hayati merupakan salah satu komponen penting dalam Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Pengendalian hayati adalah pemanfaatan musuh alami untuk mengendalikan serangga hama atau penggunaan agens antagonis untuk mengendalikan patogen tanaman. Pada dasarnya, setiap serangga hama mempunyai musuh alami yang dapat berperan dalam pengaturan populasinya. Musuh alami serangga hama adalah komponen utama dari pengendalian alamiah, yang merupakan bagian dari ekosistem dan sangat penting peranannya dalam mengatur keseimbangan ekosistem tersebut. Musuh alami yang berperan dalam pengendalian serangga hama terdiri dari patogen serangga, predator, dan parasitoid.

4. Acara Jambore PHT ini juga dihadiri oleh Bpk. Dirjen Hortikultura DEPTAN dan Bpk. Pembantu Rektor IPB (bawah)

Penggunaan pestisida kimia yang berlebihan saat ini telah merubah keseimbangan ekosistem yang ada diantaranya : hama sasaran menjadi lebih tahan/RESISTEN, MAKIN PUNAHNYA MUSUH ALAMI serta menurunnya jumlah jasad renik dalam tanah sebagai dekompositor/pengurai benda mati menjadi BAHAN ORGANIK yang diperlukan untuk kesuburan tanah. Bila keadaan tersebut dibiarkan maka bukan tidak mungkin pada ekosistem tanaman tersebut populasi hama maupun penyakitnya semakin meningkat sebagai dampak dari penggunaan bahan kimia yang berlebihan. Disadari atau tidak, dampak pengendalian kimiawi yang dilakukan secara serampangan tanpa memperhatikan aspek lingkungan sangat berpengaruh besar pada keseimbangan ekosistem.

Dalam acara ini,tampak tengah Bp. Dede Yusuf,disebelah kanan beliau Pembantu Rektor IPB dan sebelah kirinya Wakil Bupati Garut
Kami dari P.T. KEMBANG LANGIT , menerapkan suatu konsep pengendalian hama,yang mengacu pada KONSEP-KONSEP PHT diatas. Dalam beberapa tahun terakhir ini telah mengembangkan TEHNOLOGI PENGENDALIAN HAMA YANG RAMAH LINGKUNGAN.
Semoga harapan kita bersama,PHT (PENGENDALIAN HAMA SECARA TERPADU) ,yang selama ini,menurut kami baru sekedar KONSEP,kedepannya STRATEGI PENGENDALIANNYA dapat di TERAPKAN
khususnya di Garut dan pada umumnya untuk seluruh petani.