Sukses Bersama Klinik Pertanian Organik Kembang Langit, Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Kegiatan bersama Menakertrans di Leles-Garut More »

Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Jajaran Komisaris Direksi, Staff, dan Rekan PT.Kembang Langit More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada tanaman Padi di Aceh More »

Kegiatan Pelatihan More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Keriting More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Rawit More »

Hasil Aplikasi Mengatasi lalat buah di tanah karo-SUMUT More »

Pengiriman Barang, Kegiatan Pelatihan More »

 

Tag Archives: lalat buah jeruk

1 2 »

JANGAN SALAH PILIH DALAM TEHNIK PENGENDALIAN LALAT BUAH JERUK

Hama lalat buah menyerang tanaman jeruk di Tanah Karo atau yang lebih populer dengan sebutan jeruk berastagi dan jeruk medan sudah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir ini.

Tak sedikit petani jeruk di tanah Karo yang kemudian menyerah dan akhirnya menelantarkan tanaman jeruknya. Mereka sudah kehabisan tehnik dalam mengendalikan  hama yang mereka namakan  “citcit”  tersebut.

(Pada kesempatan ini,kami sedang mengaplikasikan tehnik KPO-KL pada Tanaman Jeruk di desa Nagabosar, kec. Silimakuta, kab. Simalungun, dalam hal pengendalian hama-penyakit, khusus nya LALAT BUAH.)11

( Dalam  gambar  yang kami tampilkan pada artikel kali ini, adalah tanaman jeruk Mitra kami sdr. Sembiring, yang luasnya sekitar satu hektar.)

Berbagai upaya telah dilakukan mulai dari meningkatkan dosis penyemprotan pestisidanya  maupun  memberikan bahan aktif dari suatu pestisida yang  lebih kuat dari sebelumnya.

10

( Sebelum menggunakan,tehnik aplikasi ini, 50 % buah jeruk, berjatuhan terserang hama lalat penusuk buah.)

Tehnik aplikasi yang lainnya dalam mengendalikan lalat buah adalah dengan memasang  jaring di sekeliling kebun untuk mencegah masuknya citcit/lalat buah tersebut. Khusus pemasangan jaring ini, biayanya sangat tinggi. Estimasinya untuk satu hektar kebun jeruk dibutuhkan biaya sekitar Rp 20-40 juta yang antara lain dialokasikan untuk biaya jaring, bambu, maupun pekerja lepas.13Dinas Pertanian setempat pun sebenarnya  juga sudah mensosialisasikan gerakan massal penggunaan perekat (lem),tapi tehnik ini pun ternyata tidak begitu efektif,bahkan justru mengundang makin banyaknya hama lalat yang menyerang. Saking putus asanya, tak sedikit petani yang menyemprot jeruk dengan menggunakan cairan kapur barus atau kamfer, minyak angin, bahkan menggunakan obat nyamuk  Baygon.

Tetapi….Tak satupun upaya  tehnik tersebut efektif membasmi hama penusuk buah jeruk tersebut.14

( Buah diperkirakan sekitar tiga bulanan lagi,panen raya, aplikasi sudah 3 kali dilakukan dengan menggunakan tehnik pengendalian ala KPO-KL.)

Serangan hama ini justru semakin mengganas,  lalat buah tetap menyerang buah yang sudah matang. Serangga betina memasukkan telur ke dalam buah dan beberapa hari kemudian buah mulai berguguran. Sementara dari dalam buah yang jatuh akan muncul puluhan lalat baru.

15Serangan lalat buah ini rata-rata menjatuhkan 50-70% buah yang sudah matang di pohon. Tak jarang petani gagal panen sama sekali. Yang lebih memprihatinkan  lagi, sisa jeruk yang selamat dari serangan hama, harganya jatuh.

16Serangan hama tersebut benar-benar mematikan ekonomi warga setempat. Selain banyak petani mulai menelantarkan tanaman jeruknya, serapan tenaga kerja yang dulunya sangat tinggi untuk perawatan, panen, hingga pengepakan kini sudah jauh berkurang. Tak sedikit pengusaha yang dulunya membeli jeruk langsung dari petani, gulung tikar.

17Dampak paling signifikan adalah mulai menurunnya daya beli masyarakat. Ini diakibatkan tingginya biaya produksi dan tuntutan biaya pendidikan anak-anak petani. 18Beberapa tehnik dalam pengendalian hama lalat buah tersebut ternyata memberikan efek yang tidak kecil,contohnya saja efek dari pestisida yang terlalu berlebihan menyebabkan tanaman menjadi ‘hangus terbakar”.  Efek dari penggunaan lem, justru mengundang lalat lainnya untuk menghampiri, sedangkan efek dari penggunaan jaring, adalah, lalat yang sudah ada didalam semakin betah dan berkembang biak didalam jaring tersebut.

Pada artikel artikel terdahulu,KPO-KL, dengan Produk pendukung PESNATOR dan PROTEKtan, telah menampilkan hasil aplikasi dengan menggunakan tehnik PENOLAKAN HAMA, sehingga hama tidak suka hinggap dan menusuk buah jeruk. Tingkat keberhasilan dengan tehnik repellen ini yang kami telah  diterapkan di desa Munthe, Tanah Karo, tingkat keberhasilannya diatas 90 %.

Jadi jangan salah pilih dalam tehnik pengendalian lalat buah ini.

LALAT BUAH JERUK, TERATASI ….

Pada bulan Mei 13, ini kami sangat bersyukur yang tidak terhingga, karena metode -metode dalam budidaya tanaman berbasis organik, ala KPO-KL .  Kami semakin yakin ,bahwa dengan  tehnologi  pertanian berbasis organik, tidak layak untuk dipandang “sebelah mata”.  Step by step dengan pengamatan dan aplikasi yang  diupayakan “terukur”, akhirnya kendala utama pada tanaman jeruk, sudah bisa teratasi.
2
 ( Jumlah tanaman saat ini yang dikelola tidak dari awal, sebanyak 270 pohon.)
 ( Setelah bulan yang lalu, hasil yang didapat sekitar 3 tonan, itu pun dengan catatan, pelaksanaan program pestisida organik ala KPO baru dilakukan pada bulan Desember 12.  Sebelumnya metode yang digunakan dengan sistem pertanian kimia. Tampak dalam gambar dengan kondisi tanaman yang  “kurang” daun pun,  buahnya sangat lebat dan terhindar dari serangan lalat buah.)
3
 ( Proses pemetikan lanjutan di bulan Mei 13, setelah bulan yang lalu pun sudah panen. Hasil yang dicapai sebanyak 2 Tonan, sudah cukup dan lebih dari “lumayan” karena, pada saat ini belum saatnya panen raya.)
4
Gambar 5. ( Sementara pada saat ini, di Tanah Karo, tingkat kerusakan akibat serangan Lalat buah, sedang menjadi kendala yang “menakutkan” bagi petani.  Buah “rontok” sebelum matang, selain itu  dampak pemberian pestisida kimia yang berlebihan justru menyebabkan terbakarnya daun jeruk dan membusuknya buah.)
5
 ( Setelah aplikasi selama kurang lebih 6 bulan, hasil pun didapat.  Tanaman bukannya “mengering” tetapi semakin hijau saja.  Bahkan kalau kita perhatikan  pada gambar  ini, buah yang sudah  “siap menyusul” ukurannya sudah sebesar kemiri atau telur ayam.  Diprediksi dan menjadi harapan, buah yang muncul dengan metode  pertanian berbasis pupuk organik ala KPO-KL, bisa 10 kali  lebih banyak dari hasil yang menggunakan tehnik “setengah jalan”.)
6
 Hasil petikan pada bulan raya, yang biasanya   pada bulan -9, kami berharap banyak, semoga bisa mencapai tonase 30-50 ton, dari jumlah tanaman   sama yang ada saat ini.
7
 Panen dan petik terus bang…!!!  Kami bersyukur bahwa, Hama lalat Buah, benar-benar teratasi tanpa menggunakan pestisida kimia yang berlebihan, tanpa umpan perangkap, tanpa metyl euganol, tanpa pemasangan Kelambu, metode yang kami gunakan adalah dengan mengupayakan agar hama lalat buah tidak “doyan” makan buah jeruk.
8
 Metode yang kami gunakan dengan memprioritaskan penggunaan pupuk organik ala KPO-KL, dan memberikan sistem imunitas dari “bawah dan atas”, menjadikan tanaman jeruk lebih tahan terhadap serangan lalat buah.
  Hasilnya seperti tampak dalam gambar, kami ikut bersyukur, Bp.  Santosa Sinuhaji, di desa Sari Munte, di Kec. Munthe, Tanah Karo,  Sumut, berhasil panen dengan kualitas buah sebagian besar masuk Grade A dan B.  Rasa buah yang lebih manis,  dan  terpenting lagi tidak mengandung ‘rasa racun’ berlebihan.
10
 Bisa dibayangkan kalau setiap ranting, hasilnya seperti demikian, penggunaan pestisida kimia yang berlebihan kami hindari pula.  Kami menyadari betul dampak dari pemberian dari insektisida dan fungisida yang over suplay, selain membentuk kekebalan hama lalat buah , juga berdampak pada meranggasnya daun dan ranting tanaman.   Tanaman …Keracunan !!! Tanaman biasanya berumur tidak panjang.
11
 Kami bersyukur bahwa  hasil yang telah dicapai pada bulan lalu dilanjutkan dengan pemanenan bulan Mei ini,  pemetikan yang “melimpah”, dengan menggunakan metode “hanya berbasis pertanian organik” kembali terbukti, keberhasilannya (sementara tanaman jaruk  yang menggunakan tehnik kimia murni diwilayah  yang sama, mengalami kerontokan buah akibat serangan lalat buah),
 Kami pun, ingin menegaskan bahwa metode pengendalian  hama dan penyakit dengan  metode berbasis organik, tidak sepantasnya untuk diremehkan.


 

 

 

 

 

PETANI JERUK BERANGGAPAN : “INSEKTISIDA KIMIA SAJA TIDAK MAMPU APALAGI,INSEKTISIDA ORGANIK”.

Kami ulas lagi  pertanian berbasis organik ala KPO dalam mengatasi  Lalat buah  pada tanaman jeruk di Tanah Karo.  Kenapa kami begitu antusias mengulas perihal lalat buah ini, diantaranya adalah : Sebagai salah satu Pijakan Besar bagi kami, untuk semakin bersemangat memacu langkah, menuju LONCATAN yang lebih tinggi lagi.

1

Gambar 1.A. ( Gambar 1, pada  “halaman”  ini adalah hasil aplikasi dengan tehnik kimia yang menggunakan “senjata ”  insektisida kimia.  )

Bagaimana tidak…dimana tehnik tehnik tehnologi pertanian, yang diandalkan sebagai  “senjata”, ternyata “,”mati kutu” oleh LALAT BUAH ini.
2
Gambar 1.B.( Pengambilan gambar dilakukan oleh mitra kami,   di daerah , Tanah Karo, Sumatera Utara.)
Berbagai jenis insektisida  kimia dari jenis PERMETRIN  hingga ABAMEKTIN, malahan bertekuk lutut oleh hama yang sukanya melubangi buah jeruk ini.
3
Gambar 1.C. ( Tanaman yang menggunakan tehnologi “senjata kimia” yang lengkap, ternyata, menghasilkan kondisi tanaman yang seperti ini.)
Malahan sepertinya,”senjata kimia”  yang digunakan sebagai alat pembunuh hama lalat, berbalik menyengsarakan penggunanya.  Lebih tepat istilahnya, “SENJATA MAKAN TUAN”.

4

Gambar 1.D. ( Seluruh gambar dari 1.A s.d 1. F, diambil pada tanggal 25 Maret 13.)
“SENJATA KIMIA” yang digunakan ternyata lama-kelamaan, menyebabkan hama semakin kebal.  Setelah disemprot secara berulang-ulang, hama lalat bukannya mati malahan  seolah berkata : ” SIAPA TAKUT”. …
5
Gambar 1.E. ( Sepertinya kondisi tanaman seperti, “MATI SEGAN , HIDUP TAK MAU”.)
“Senjata kimia” yang digunakan ternyata  berdampak yang sangat luas, selain hamanya menjadi kebal dan  tidak mati  tetapi justru malahan  tanaman  jeruknya  banyak yang mati “terbakar”.

6

Gambar 1.F.( Bahkan saking sudah , putus asanya, petani kemudian melakukan ” tumpang sari dengan tanaman jagung,kubis dls.)

Dampak yang lebih luasnya lagi adalah :  “SENJATA KIMIA” yang diberikan dalam dosis tinggi, bisa meninggalkan ‘RESIDU yang TINGGI’ pada buah jeruk, akibatnya apabila kita mengkonsumsi jeruk yang berlumur ‘SENJATA KIMIA ‘ ini sama saja dengan istilah ‘ TUAN MAKAN SENJATA’.

7

Gambar 2.A. ( Sementara itu, aplikasi kami yang menggunakan, ‘SENJATA MANUAL ‘ yang sederhana dan  hanya berasal dari tanaman, ternyata mampu menghasilkan buah yang lebat,seperti gambar diatas ini. Tanaman  berbuah lebat sehingga perlu di’sokong’ bambu agar tidak patah.)

8

Gambar 2.B.( Kondisi tanaman yang lain,yang dipantau pada waktu dan lokasi yang sama.  Pengamatan dilakukan pada tanggal 25 Maret 13, di kebun Jeruk Bp. Sentosa Sinuhaji, di desa Sari Munthe, Munthe, Kab. Tanah Karo, Sumut.)

9

Gambar 2.C. ( Tampak dalam gambar, tanaman boleh kecil, tetapi buahnya sangat lebat, sehingga perlu di “sokong” dengan  “Bambu Runcing”.)

Ibarat sedang berperang, yang satu menggunakan ‘SENJATA KIMIA’ yang canggih, sementara yang satu lagi hanya menggunakan ‘SENJATA DARI TANAMAN’ , ‘SENJATA BAMBU yang DI RUNCINGKAN’…

tetapi dengan ‘SEMANGAT 45′, ternyata ‘SENJATA DARI TANAMAN’, bisa  juga diandalkan

10

Gambar 2.D.( Pengambilan gambar dari salah satu bagian “sudut” ranting, jeruk-jeruk yang mulai menguning.  Hal ini berbeda dengan pemandangan pada gambar 1, diatas yang melihatnya saja “NGERI-NGERI”. Sedangkan  Pemandangan yang ” SEDAP” dipandang mata, terlihat pada seluruh gambar 2.   )

11

Gambar 2.E. ( Batang tanaman boleh kecil, tetapi buahnya sangat lebatnya  bahkan sebelumnya, seluruh pertanaman jeruk ini, sudah tidak akan dipelihara lagi.)

Suatu upaya cukup berat, dilakukan oleh mitra kami di Medan ini, bagaimana tidak, awalnya jelas Bapak Santosa Sinuhaji, merasa ragu  untuk menerapkan  TEHNOLOGI PERTANIAN ORGANIK ALA KPO KL ini.
Petani berasumsi :   INSEKTISIDA KIMIA SAJA TIDAK MAMPU UNTUK MENGATASI LALAT BUAH INI, APALAGI ‘SEKEDAR HANYA’  INSEKTISIDA ORGANIK,
Namun setelah melihat hasil aplikasi insektisida organik ala KEMBANG LANGIT,seperti ini, TERBAYAR SUDAH KERAGUAN  sebelumnya.  Kami berharap, kedepannya…kita untuk tidak menganggap remeh… insektisida organik…

Sukses petani  berbasis organik ala KPO-KL