Sukses Bersama Klinik Pertanian Organik Kembang Langit, Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Kegiatan bersama Menakertrans di Leles-Garut More »

Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Jajaran Komisaris Direksi, Staff, dan Rekan PT.Kembang Langit More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada tanaman Padi di Aceh More »

Kegiatan Pelatihan More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Keriting More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Rawit More »

Hasil Aplikasi Mengatasi lalat buah di tanah karo-SUMUT More »

Pengiriman Barang, Kegiatan Pelatihan More »

 

Tag Archives: insektisida organik

« 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 ... 19 »

LALAT BUAH JERUK ,DI TANAH KARO SUMUT… MULAI TERATASI !!!

Tanaman/buah  jeruk, memang tidak termasuk salah satu  komoditas hortikultura yang mendapatkan “proteksi” dari arus impor , hal ini mungkin  karena  kuantitas dan kualitas yang  belum memenuhi harapan, akhirnya hingga saat ini buah jeruk  impor  makin  membanjiri pasar -pasar  domestik.   Salah satu faktor yang menyebabkan produktifitas  rendah adalah serangan LALAT BUAH.
Masalah lalat buah ini, betul-betul telah membuat  “pusing tujuh keliling”… Bagaimana tidak, Informasi terbaru yang kami terima, sampai-sampai ada petani dari Tanah Karo  yang langsung mendatangi salah seorang  GURU BESAR  Hama tanaman di sebuah  PERGURUAN TINGGI  menanyakan perihal solusi  yang sebaiknya dilakukan untuk mengatasi Lalat buah ini.  Tetapi jawabannya, sebagai berikut :
Tanaman Jeruk yang sudah terkena disarankan untuk  DITEBANG,DIBAKAR dan  diLAKUKAN TANAM ULANG….Dalam hal ini kami mau menggaris bawahi  bahwa  betapa sulitnya mengatasi hama lalat buah ini.  Sampai -sampai harus  “REPLANTING”….Kalau semua petani melakukan hal ini, TAMAT lah sudah salah satu komoditas Hortikultura kebanggaan Tanah Karo, Sumatera Uatara, bahkan salah satu buah  kebanggan bangsa ini.

1

Gambar 1.A . ( Hasil aplikasi  pada tanaman Jeruk dalam mengendalikan Lalat Buah,  di desa Sari Munthe ,Kecamatan Munthe, Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara.  Pengambilan gambar pada tanggal 11 Maret 13.    Buah sebagian sudah ada yang menguning, harapannya sekitar 1-2 bulan lagi,  mudah-mudahan “lancar sampai tujuan”.  Padahal sebelumnya pemilik kebun ini, sudah mau mengganti tanaman jeruknya dengan yang lain.)

2

Gambar 1.B. (  Sungguh hasil yang sangat menggembirakan, karena kondisi buah sudah terbentuk 70-80 %, dengan tingkat kerontokan bunga dan buah hanya sekitar 5 persen saja.    Pembentukan buah sudah sebesar bola tenis.    Luasan tanaman sekitar 3 ha.  Sedangkan pembanding pada saat ini, sudah menjadi masalah utama di daerah ini, adalah serangan  Lalat buah dan  menjadi kendala utama.)

Berita selanjutnya :  Banyak pekebun yang gagal panen hingga 90%.  Dengan  potensi hasil  produksi jeruk bisa mencapai 40 ton per hektar tiap tahun.  Tetapi ternyata  hasil panen hanya  sekitar 5 ton dan harga jual lima ribu rupiah per kilogram, bisa ketahuan berapa kerugian yang dialami pekebun jeruk,” urai Usaha Barus dengan mimik prihatin. “Akibatnya banyak pekebun memilih menelantarkan kebun mereka, takut biaya produksi menguap tanpa hasil.

3

Gambar 1. C.  ( Berdiri di samping tanaman jeruk yang sudah berbuah lebat, Bapak Santosa, sebagai pemilik kebun  Jeruk ini. Dalam pengendalian lalat buah , berbasis pertanian organik ala KPO KL, kami tidak menganjurkan pemasangan umpan perangkap  meutil euganol.  Kami juga tidak perlu menyarankan pemasangan kelambu pada setiap tanaman seperti yang sudah dilakukan oleh petani di  desa seberaya,tiga panah, Kab. Tanah karo. ).  Bahkan lebih ekstrim lagi ada petani yang  memberikan perlakuan dengan cara dikelambui untuk luasan  satu ha.  Demikian Informasi yang kami dapatkan,dari mitra kami.)

4

Gambar 1.D. (Walaupun cuaca agak mendung, masih tampak  kondisi tanaman jeruk saat ini yang diamati, tanaman rimbun  dengan buah yang lolos dari serangan lalat buah, tanpa harus ‘replanting’.  Sebagai informasi saja, saat ini pihak perbankan di wilayah Karo, kalau mengetahui calon Nasabahnya dari petani Jeruk , maka pihak perbankan tidak meloloskan  kreditnya.   Sebegitu parahnya kondisi yang dihadapi petani Jeruk ini.)

Dengan adanya berita tersebut, kami ikut merasa prihatin.   Kami berupaya sekemampuan kami, untuk “memecahkan”  masalah lalat buah yang sudah berlangsung cukup lama ini.   Tehnik-tehnik pengendalian LALAT BUAH, pada CABE ,sebagai tanaman PARAMETER KPO,kami coba terapkan pada tanaman JERUK.  Hasilnya sebagaimana yang terlihat pada gambar-gambar yang kami tampilkan saat ini.  Hasil capaian seperti ini, sungguh sangat menggembirakan, masalah serangan LALAT BUAH  yang selama ini menjadi kendala utama..

5

Gambar 1. E. ( Bapak Hendra, sebagai Pelaksana lapangan, yang menerapkan metode Klinik Tani Organik, .  Komentar Bp. Hendra,  Tanaman Jeruk musim ini yang menggunakan metode pertanian organik, Kembang Langit, hasilnya sangat jauh berubah dari musim tanam yang lalu, sudah menunjukan tingkat hasil yang cukup memuaskan.  Biasanya pada saat memasuki  usia  6-7 bulan , pembentukan bunga dan buah sudah rontok dan dijadikan  PUPUK KOMPOS.  Kejadian KOMPOSISASI  dari JERUK BUSUK, akibat lalat buah   saat ini sedang marak terjadi, pada tanaman jeruk  yang sedang dibudidayakan di Tanah Karo.)

  Menurut kami, Sebenarnya disinilah   yang  paling tepat  penerapan  ISTILAH  :   “JERUK MAKAN JERUK”.  Bukan sekedar istilah-istilahan, tetapi dalam arti sebenarnya.  Memprihatinkan…. Sungguh !!! Jeruk yang sesungguhnya  dimakan untuk manusia, malahan dimakan kembali oleh tanaman Jeruk.
Proses penanggulangan, secara tehnis  LALAT BUAH  ini, sebenarnya pengaruhnya bisa sangat luas.  Setidaknya  dari tehnik pengendalian serangan Lalat buah ini, bisa lebih memangkas anggaran khusus, APBD.   Selain itu terhindar dari Eradikasi Massal, yang bisa  memusnahkan produk buah kebanggan Masyarakat Tanah Karo dan Sumatera Utara secara umum.
Kami berharap pula pertanian Jeruk Tanah Karo ini, segera bangkit ,   agar serbuan buah impor yang selama ini masih tetap marak,bisa agak teredam.    Menurut keterangan dari Ketua umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia ( GAPMMI) Adhi Lukman ,  (detik finance, selasa 12/2/2013.) : “Adhi menuturkan, untuk produksi minuman dengan jenis jus hingga saat ini masih menggunakan bahan baku impor. Selain karena kualitas buah lokal yang belum memenuhi standard, kuantatitasnya pun masih menjadi kendala untuk industri.  “Sekarang jus buah, konsentrat masih banyak impor karena dalam negeri tersedia tapi kuantitas dan kualitas belum skala industri sehingga kontinuitas tidak bisa diandalkan,” paparnya.   Suata tentangan tersendiri, tentunya.
Kenapa kondisi HULUNYA belum siap?   Kenapa Kualitas dan kuantitas tanaman Jeruk yang ada   belum  masuk standar  industri?  Memang masih perlu waktu untuk menjawabnya.   Tetapi….Seandainya saja… petani jeruk bisa mengoptimalkan potensi hasil pertanamannya , dengan salah satu tehnik pengendalian LALAT BUAH ini, bukan tidak mungkin, JERUK lokal  bisa jadi TUAN DI ‘ RUMAH  SENDIRI’.
Kita tunggu hasil-hasil pantauan berikutnya pada tanaman jeruk ini, hingga saat inj hasilnya sudah “nyaris” teratasi, setidaknya hasil yang didapat oleh, mitra kami di Tanah karo, sudah  jauh lebih baik dibandingkan dengan hasil yang dicapai oleh  petani jeruk lainnya yang saat ini mengalami “kerontokan” yang luar biasa.  Semoga berhasil  saudaraku… dan bisa menjadi solusi bersama untuk petani lainnya.  

SEMOGA BERHASIL….

 

 

PERTANIAN BERBASIS ORGANIK !!! OPTIMIS !!!

Ada perbedaan mendasar antara konsep pola pertanian organik dengan pola pertanian berbasis kimia,beberapa hal bisa kami cirikan sbb:

Gambar 1.A.  ( Hasil aplikasi yang menggunakan  Pola pertanian kimia murni.)

Tampak  dari tinggi ajir yang digunakan, pola tehnik pertanian kimia menggunakan ajir yang pendek, karena “mungkin” berdasarkan pengalaman yang lalu-lalu, sudah di “vonis”  tanaman tidak akan tinggi sehingga dianggap tidak perlu untuk memakai ajir penyanggah yang tinggi.

Gambar 1.B. ( Hasil aplikasi tanaman yang menggunakan tehnik pertanian organik ala KPO,pengambilan gambar waktunya  sama dengan gambar 1.A.  Demikian pula  usia tanaman kedua perbandingan ini, selisih kurang dari satu minggu.)

Bisa diperhatikan jenis ajir penyanggah yang digunakan,  pola pertanian organik ala KPO menggunakan ajir “OPTIMIS”.  Bisa dibandingkan dengan  tinggi ajir pada gambar 1.A.

Gambar 2.  ( Jenis-jenis pupuk dan pestisida yang menggunakan pola KPO, bisa diperhatikan produk “pendamping” yang digunakan.)

Walaupun dengan produk yang “murah meriah”,  petani binaan KPO, sangat optimis menyongsong hari depan pertanian yang lebih  “cerah ceria”.

Gambar 3.A. ( Pengambilan gambar pada tanggal 1 Maret 13, kondisi saat ini tanaman yang menggunakan pola berbasis kimia.)

Sepengamatan kami petani berbasis kimia  pada umumnya baru OPTIMIS dalam mengelola pertaniannya apabila produk yang digunakannya diatas Rp. 100.000,-  per 100 mili liternya.

Gambar 3.B.( Pengambilan gambar kami geser sedikit ke kanan dari gambar 3.A.  Tanaman kondisi nya membuat TIDAK OPTIMIS lagi…)

Sebenarnya keTIDAK OPTIMISAN petani berbasis kimia sudah terjadi sejak AWAL SEBELUM TANAMAN DI TANAM.
Dalam hal ini, mungkin juga anda bisa merasakan sendiri,  belum juga lahir ” si Jabang Bayi” obat-obatan sudah dipersiapkan, seolah-olah ,nanti “bayi” setelah lahir  begitu OPTIMIS , pasti akan sakit.  Hal ini dicirikan dengan obat-obatan kimia sudah dipersiapkan dalam jumlah yang banyak  sebelum tanaman di pindah tanam.

Gambar 3.C.( Pengamatan kami geser lebih kekanan lagi, kondisi tanaman ,seperti yang terlihat dalam gambar ini…kami persilahkan anda untuk menilainya sendiri.)

Selain  contoh-contoh diatas ada beberapa hal yang kami catat dari cara konsultasi yang dilayangkan ke “redaksi” KPO.  Petani-petani yang awalnya sudah terbiasa dengan pola pertanian berbasis kimia, cendreung pertanyaan dan komentarnya, kurang OPTIMIS.  Diantaranya  adalah sbb:   ” Saat ini tanaman saya berumur 2 bulan,  dari 5000 tanaman yang sedang di budidayakan,  SUDAH ADA YANG TERSERANG  LAYU 3 batang.”  Kita bisa merasakan “nilai rasa ” dari kata SUDAH , dalam kata-kata diatas…kesannya seperti dan seolah-olah, ada kekawatiran yang sangat mendalam,  dan kesan TIDAK OPTIMIS, bahwa tanamannya  yang  lain dan masih sehat, akan mengalami hal yang sama.

Gambar 3. D.( Kondisi tanaman saat ini yang menggunakan tehnik pertanian organik ala KPO, tanaman SUDAH  petik satu kali.   Dalam hal ini kami menggunakan kata ” SUDAH” sebagai rasa kepuasan  dan optimis akan hasil yang telah dan yang akan  dicapai, dan kami tidak menggunakan kata ‘BARU’ panen satu kali.)

Perbedaan yang mendasar dengan yang kami kembangkan justru, kami mewanti-wanti agar “tidak panik” dan tetap optimis.  Dalam beberapa tulisan kami yang lalu, hal seperti ini, kita anggap bahwa kondisi perjalanan sedang ada “tikungan tajam”.  Tinggal ” rem-rem dikit dan banting stir”.

Gambar.3.E. ( Tinggi tanaman yang menggunakan tehnik pertanian organik ala KPO, sudah mulai “mengejar” ajir tanaman.   Suatu optimisme,  sudah mulai tampak.)

Dengan tehnik pertanian organik ala KPO ini, kami biasa menyarankan agar tetap optimis, dalam setiap “langkah-langkah ” aplikasi, adanya kendala kendala seperti busuk batang, busuk buah, busuk daun dllnya, kita anggap sebagai ” rintangan” untuk menguji  “ketangkasan mengemudi”.    Pengemudi yang tangkas biasanya lebih optimis dan akan bisa memangkas waktu tempuh dari waktu rata-rata yang biasa dijalani.  Dalam hal ini pun kami harapkan petani yang memahami tehnik-tehnik pertanian organik ala KPO,  bisa lebih OPTIMIS, dalam menjalani hari-hari  dalam mengelola pertaniannya. 

Gambar 3.F.( Kita lihat bagian bawah dari buah tanaman yang  “bergelayut” dengan lebatnya.)

Apabila Pola pertanian  berbasis  kimia , tampaknya makin tidak  optimis,  setidaknya dari hasil yang didapat  dari gambaran diatas yang menunjukkan tanaman kerdil,  terserang layu dan juga penyakit lainnya.  Sementara itu  kami makin optimis dengan apa yang telah kami capai hingga saat ini.  Kami mencoba mengajak anda untuk tetap optimis, minimal di mulai dari POLA PIKIR terlebih dahulu untuk selanjutnya kita aplikasikan dengan  langkah-langkah nyata dilapangan.  Hasil  aplikasi yang akan menjawabnya.
Setidaknya bisa kita jadikan “pegangan ”  kata orang bijak yang mengatakan  dan  mencirikan suatu ke OPTIMISAN   :
“GELASNYA SUDAH TERISI SETENGAH, BUKAN GELASNYA BARU TERISI SETENGAH”

PELATIHAN PERTANIAN ORGANIK ,GELOMBANG VI

Peserta pelatihan organik ala KTO,kembang langit kali ini, berasal dari Lampung- Jawa Barat- Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pelatihannya sendiri dilaksanakan  di kliniktaniorganik- KEMBANG LANGIT, pada tanggal 11-12 Januari 13, di Leles – Garut – Jawa Barat.

Gambar 1. Berdiri dari kiri -ke kanan peserta pelatihan gelombang VI, Mas  Tri Suseno (Solo), Bp. Hari  Hermanto (Jakarta), Adi Muhadi ( Pringsewu – Lampung), Agil Mahardika (Solo), Kang Alimuddin ( Karang Tengah- Garut),  Bp. Trijono ( Solo), Kang Supriatna/Upri ( Sucinaraja- Garut), Bp.Suhadi ( Banyuwangi-Jatim), Bp. Sitam (Boyolali-Jateng), Kang Wawan Warman ( Sucinaraja- Garut), dan kang Arikenda (  Ujung Berung – Bandung).

Gambar 2. Selain di dalam ruangan,kami melakukan pula kunjungan ke kebun percontohan yang menggunakan tehnik,KTO.  Peserta bisa langsung mengamati secara nyata hasil aplikasi contoh pertanian organik ala KTO.

.

.

.

Gambar 3.Suasana pada saat  pelatihan dilangsungkan.

Gambar 4. Bp. Rusli Gunawan (KTO),sedang memberikan  pencerahannya dalam merubah pola pikir,ke konsep pertanian organik

Gambar  5. Pada acara pelatihan kali ini ada yang agak berbeda yaitu Sdr. Ujang ( Bertopi hitam)  ” Straring”    dalam percontohan kami selama ini,datang langsung dan bertukar pengalaman dengan para peserta pelatihan.

Gambar 6.   Petani-petani Senior, Bp. Tri (kiri) dan Bp. Sitam (kanan),tetapi walaupun senior  semangat beliau untuk bergerak dan mengorganikkan pertanian indonesia,masih tetap tinggi,tidak kalah oleh semangat petani  muda.

Sukses pak, semoga sesampainya di tempat masing-masing bisa melaksanakan dan mempraktekkan ILMU  yang kita dapatkan.

  Mari kita bekerja sama bahu membahu,walaupun kita bergerak secara “bergerilya”  kami yakin suatu waktu kita akan bergerak dan terus bergerak  sehingga  makin banyak yang mendorong    langkah kita,saudara-saudaraku…