Sukses Bersama Klinik Pertanian Organik Kembang Langit, Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Kegiatan bersama Menakertrans di Leles-Garut More »

Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Jajaran Komisaris Direksi, Staff, dan Rekan PT.Kembang Langit More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada tanaman Padi di Aceh More »

Kegiatan Pelatihan More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Keriting More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Rawit More »

Hasil Aplikasi Mengatasi lalat buah di tanah karo-SUMUT More »

Pengiriman Barang, Kegiatan Pelatihan More »

 

Tag Archives: CABE

1 2 3 4 5 6 7 8 »

LALAT BUAH JERUK, TERKENDALIKAN

Mungkin diantara anda yang bertanya, judul ini, apa maksudnya? apa hubungannya? Tanaman tumpangsari cabai dengan Jeruk ?

Adapun maksud tulisan kami kali ini adalah, sebagaimana yang pernah kami paparkan, yaitu TANAMAN CABE  yang biasa kami bilang  ‘standar’ dalam tehnik berbudidaya tanaman pangan.  Tingkat kesulitannya, memang  sangat tinggi.  Dalam budidaya cabe,  hampir segala jenis HAMA dan PENYAKIT tanaman ada, dimana  tidak  ada  pada tanaman pangan lain .

1

Gambar 1. A. ( Beginilah sebagian besar kondisi tanaman jeruk di sentra pertanaman  Jeruk, di Tanah Karo, Sumut,saat ini.)

Dari penyakit pada bagian akar ( Nematoda, Fusarium, Pseudomonas, hama pengerek akar. Penyakit batang, busuk batang, pada buah, daun dan bahkan tunasnya pun tidak luput dari gangguan hama dan penyakit.  Selain itu ada satu lagi yang paling ditakuti petani  cabai pada saat ini yaitu penyakit yang disebabkan oleh Virus.

2

Gambar 1.B.( Kondisi tanaman  sepertinya ditelantarkan, karena daun dan buahnya, rontok.)

Pada kesempatan ini, yang kami ulas adalah hubungannya antara budidaya cabai dengan budidaya jeruk,khususnya dalam hal pengendalian hama LALAT BUAH,

20130325101111

Gambar 1.C. ( Tanaman ini, lebih parah lagi, hampir seluruh pertanaman tampaknya sudah tidak dipelihara lagi.  Kondisi tanaman ini, kerena secara ekonomis, tidak menguntungkan lagi.  Kalaupun dipelihara lagi, justru hanya menghabiskan anggaran saja. KALIMAT  yang paling tepat untuk mengomentari kondisi demikian  .

Ada beberapa pengalaman kami yang kami terapkan dalam mengatasi lalat buah pada cabe,  kemudian kami “tularkan” pengelaman tersebut untuk mengatasi lalat buah pada tanaman Jeruk.  Pada prinsipnya sama saja hanya yang berbeda adalah pada kadar/ dosis pupuk dan pestisida organiknya.

Gambar 1.D. ( Kondisi perkebunan yang lain, masih di Tanah Karo, yang diambil pada tanggal 25 Maret 12. Permasalahannya, setelah merasa prihatin tersebut, apa yang seharusnya dilalakukan ? Menyarankan pemberian insektisida kimia dosis tinggi? Pemasangan kelembu?  Pemberian perangkap ?Pelepasan Burung Jalak? Atau tanaman di tebang, dibakar dan di dilakukan PENANAMAN ULANG? )

Pada prinsipnya pengendalian hama lalat buah  kami  atasi dengan, sistem penolakan,/Repellen. Insektisida organik yang kami gunakan, sama dengan yang kami terapkan pada tanaman cabe, yaitu PESNATOR dan PROTEK-tan. Dalam hal ini kami tanpa menggunakan attractan, perangkap kuning, tanpa mengandalkan insektisida kimia, tetapi dalam hal ini yang kami andalkan adalah insektisida organiknya.

4

Gambar 2.A. (Sangat berbeda kontras, dengan pertanaman dengan seluruh gambar 1 diatas, pertanaman Jeruk Milik Keluarga Sentosa Sinuhaji, seluas 3 ha ran, kondisinya pada saat yang sama ( 25 Maret 13), sangat menjanjikan .

Kalau selama ini kami banyak menampilkan aplikasi pada tanaman cabe, bukan berarti tehnik pertanian organik ala KPO ini, tidak dapat dilakukan untuk tanaman lain.  Bisa saja kita meragukan, tingkat keberhasilan  penganggulangan lalat buah pada tanaman cabe/ masih meragukan, buah masih bertahan/ masih” sempat” menggantung pada tangkai , walau sudah terserang lalat buah, tetapi   pada  tanaman jeruk, buah yang terserang lalat buah biasanya langsung rontok.

5

Gambar 2.B.( Ada sedikit persamaan  antara gambar 1, dengan gambar 2. B, ini yaitu, sama-sama kekurangan daun, tetapi tanaman pada gambar ini perbedaannya,yaitu : BUAHNYA LEBAT.)

Bertahannya buah jeruk tidak jatuh/ rontok, sebagaimana yang biasa kami lakukan pada tanaman cabe.

6

Gambar 2.C. ( Tanaman  yang dikelola oleh bapak Sentosa Sinuhaji, di Desa Sari Munthe, Tanah Karo ini, batangnya bahkan ‘memprihatinkan’, tetapi ngak mengapa yang penting buahnya JUGA LEBAT. Ini merupakan salah satu pembuktian , tanaman yang awalnya sudah akan meranggas, kembali pulih setelah aplikasi berbasis pertanian organik ala KPO.)

Pola pemupukan yang biasa kami terapkan pada tanaman cabe kami terapkan pula pada tanaman jeruk ini.  Penggunaan pupuk dari bawah, berupa PUPUK CAS,PROTEK-tan,  yang dikombinasikan dengan pupuk lainnya.  Sedangkan aplikasi dari “atas” untuk mengendalikan lalat buah ini, kami  menggunakan PESNATOR dan PROTEK-tan dan sedikit pestisida kimia.

7

Gambar 2.D. ( Kalau melihat hasil demikian, komentarnya bukan lagi memprihatinkan, tetapi menggembirakan.)

Sebagaimana yang telah kami kemukakan  pada tehnik pengendalian lalat buah pada tanaman cabe, pada umumnya lalat buah sangat  senang menusuk  buah yang berkadar air tinggi.

8

Gambar 2.E. ( Masih dalam lokasi yang sama,  buah sudah ranum, dan  beberapa hari lagi siap panen. )

Persis dengan metode  menghindari  lalat buah dan cabe patek, buah yang cenderung “kosong” , , pada umumnya sangat disenangi lalat buah. Oleh karena itu upaya metode ‘ PENGEREMAN’ yang biasa kami utarakan pada  tanaman cabe, kami terapkan pula untuk mengatasi lalat buah pada jeruk ini.

9

Gambar 2.F. ( Kalau tanaman ini, memang juga  “mengkhawatirkan”, karena tanamannya kecil, tetapi buahnya “bergelayut” dimana -mana, khawatir PATAH rantingnya.)

“Rahasia”nya adalah, penggunaan PUPUK  CAS , dan PROTEK-tan, ternyata sangat manjur untuk mengendalikan LALAT BUAH, dari ‘BAWAH’.

10

Gambar 2.G. ( Dengan mengacu, tehnik budidaya tanaman cabe, dalam mengatasi Lalat buahnya, ternyata tanaman yang awalnya,nyaris saja seperti contoh tanaman Gambar 1, akhirnya kembali bisa produktif seperti terlihat pada gambar ini.)

Sedangkan tehnik aplikasi yang berbasiskan konsep pertanian organik ala,KPO dari ‘ATAS’, kami mengandalkan melalui semprotan PESNATOR, PROTEK-tan dan POCAniL.  Hasilnya seperti yang kita amati pada gambar pembahasan kali ini.

Rasa syukur yang dalam  kami panjatkan, karena tehnik pola pertanian organik, ala KPO,  yang selama ini sering diidentikkan dengan tanaman cabe, telah berhasil pula diterapkan pada tanaman jeruk .  Tehnik ini sudah pula kita terapkan  pada tanaman lainnya (padi, jagung, kedelai, tomat, melon, dan juga pada tanaman perkebunan lain).  Kami persembahkan hal ini , untuk saudara-saudara kami yang saat ini, sedang berbudidaya khusunya tanaman jeruk  dimana saja  dan tanaman pangan lain pada umumnya.

 

 

 

 

BUDIDAYA CABE, TERNYATA SANGAT KOMPLEK

Memelihara komoditas cabe memang menggiurkan,apalagi  bila mendengar harga cabe sedang melambung tinggi,pasti membuat “ngiler” kalau sudah berhitung dengan keuntungan.  Namun kenyataannya dilapangan tidaklah semudah/sesimpel yang kita bayangkan,ternyata bercocok tanam cabe keriting/lombok,hama dan penyakitnya begitu kompleks.  Jadi kami sarankan untuk anda yang mempunyai modal dan ingin berinfestasi dibidang buah pedas ini,hendaknya sedikit banyak nya mempelajari seluk beluk perihal tehnik bercocok tanamnya dan mempelajari hama dan penyakit apa saja yang biasa menjadi faktor pembatas keberhasilan dalam berbudidaya tanaman ini.

Mahasiswa UNIVERSITAS PADJAJARAN,FAKULTAS PERTANIAN,PROGRAM STUDI AGRIBISNIS,angkatan 2008,Sdr. RILVANU LUQMAN sedang mencari data langsung ke lokasi kebun yang diantaranya aspek perbandingan antara pengelolaan budidaya tanaman  secara tehnik alami /organik dengan tehnik kimia .   Selama ini kami lebih sering menampilkan hasil -hasil dengan tehnik kami,nah…berikut ini kami tampilkan dari beberapa titik /lokasi yang menggunakan tehnik kimia…LOKASI DIBAWAH INI, DIAMBIL MASIH DIDAERAH LELES GARUT,KP. LEUWENG TIIS,MELENCING,LELES GARUT. Tehnik yang digunakan,hampir seluruhnya menggunakan CARA KIMIA (Foto 1 – Foto 11).

LOKASI 1.PARAH…

Penelitian Sdr . Rilvanu,langsung terjun kelapangan memantau kondisi pertanaman cabe.  Lokasi ini milik petani yang sudah berpengalaman,karena bukan satu dua kali menaman tanaman cabe.  Karena saking berpengalamannya,sehingga sulit untuk merubah kepada tehnik yang berbasis organik.

LOKASI 2.  RUSAK.

Terkadang apabila tanaman sudah terkena hama dan penyakit,pestisida yang digunakan dosisnya di tinggikan. Namun apa yang terjadi,ternyata “obat ” /pestisida saja tidak cukup dalam mengendalikan hama dan penyakitnya.  Kami sangat yakin,sebab berdasarkan pemantauan kami dilapangan,tanaman “RUSAK” seperti ini bukannya tidak di obati,bahkan sudah diberi obat berdasarkan rujukan dari “toko obat”,untuk keriting ini obatnya,untuk patek itu obatnya,namun yang terjadi dilapangan seperti yang anda lihat ini…

LOKASI 3. HANCUR.

Bukan berarti kami anti kimia hanya penggunaanya yang di pola dan kami menggunakannya tidak sebagai PUPUK DAN PESTISIDA UTAMA,kami menggunakannya  ALA KADARNYA.

LOKASI  4. AMBURADUL.

Merubah pola dari konsep pertanian kimia ke konsep PERTANIAN ORGANIK/ALAMI,memang tidak mudah,hal ini disebabkan ada nya anggapan bahwa dengan tehnik KIMIA adalah sudah segalanya,bahkan ada anggapan PESTISIDA YANG BERHARGA MAHAL,SUDAH PASTI AMPUHNYA…Ini tidak bisa dipungkiri, ini adalah realita pada masyarakat tani kita pada umumnya…

LOKASI 5. ???

Kami tidak sedang mengada-ada,kalau anda saat-saat ini datang ke Garut,Leles, lebih dari 90 % tanaman,kondisinya seperti ini (gambar -gambar diambil 3 April 2012). Tanaman di atas,tampaknya hijau tapi buahnya jarang-jarang…

LOKASI 6. SAMA SAJA RUSAKNYA.

Kekomplekan perihal budidaya,disebabkan diantaranya adalah, Faktor PESTISIDA ternyata tidak cukup ampuh Bahkan pengertian memberi pupuk banyak,hasilnya pun pasti banyak…ternyata tidak sepenuhnya tepat.  Dalam beberapa kasus kerusakan justru kerena kelebihan pupuk…baik Pupuk Kimia ataupun Pupuk Kandang.

LOKASI 7.  BERANTAKAN.

LOKASI 8. HABIS HABISIN MODAL SAJA.

Tanaman ini adalah milik,seorang petani binaan dari suatu Formulator kimia besar…,kalau sudah begini sungguh sangat memprihatinkan teman,entah apalagi yang harus dijual untuk musim tanam berikutnya…Sementara untuk musim ini saja,tunggakan PUPUK DAN PESTISIDA KIMIA PADA TENGKULAK MAU TIDAK MAU HARUS DIBAYAR…

LOKASI 8.B. LOKASI TERLALU MENGANDALKAN KIMIA

Adanya sistem kerjasama antara petani dan TENGKULAK/ISTILAH DIDAERAH KAMI ” BANDAR” (yang didanai/ diberi pinjaman berupa produk oleh suatu PERUSAHAAN KIMIA) yang dibayar  pada saat panen (YAR NEN- BAYAR PANEN),juga menjadi salah satu kendala,untuk MENGUBAH SISTEM PERTANIAN BERBASIS KIMIA KE TEHNIK PERTANIAN BERBASIS ORGANIK.  Petani yang nota bene,kekurangan modal,menjadi tidak BERDAYA dan tidak ada pilihan untuk dalam menentukan tehnik dalam berbudidayanya,sehingga  penggunaan PUPUK DAN PESTISIDANYA,adalah  hanya yang disediakan oleh BANDAR TERSEBUT dan  akhirnya HASIL PERTANIANNYA,seperti yang kami tampilkan pada gambar-gambar ini.

Cara pengendalian hama dan penyakit pun ternyata tidak bisa diambil sampel per kasus/atau pertanaman saja,tetapi perlu pemantauan per luasan secara keseluruhan ,hama atau penyakit apa yang paling DOMINAN,yang sedang menyerang pertanaman cabe tersebut.  Mungkin anda akan berfikir,pernyataan ini agak sedikit “njilemet”, ya… memang…agak rumit,karena memang tehnik ini hasil observasi kami sendiri,berdasarkan  pengalaman team R & D kami dilapangan.  Seperti halnya dalam pengobatan suatu penyakit pada MANUSIA, pemberian obat tertentu bila kurang pas, justru bisa menimbulkan suatu penyakit baru /penyakit lainnya.

LOKASI 11. KASIHAN BARU 3 KALI PETIK SUDAH DITINGGALKAN PEMILIKNYA…(Gambar diambil 4 April 2012)

Tanaman dibawah ini,merupakan tanaman hasil aplikasi kami yang kami pantau hingga saat ini,usia 4 bulan,sudah petik 7 kali…

Pengambilan Gambar 5 April 2012.  Silahkan anda bandingkan…Warna daun,lebatnya buah,dan tinggi tanaman… dengan gambar-gambar yang kami tampilkan diawal…

Buah bagian atas pun tetap lebat…

MENGATASI KERDIL,VIRUS KUNING DAN KERITING PADA TANAMAN CABE

Penyakit virus kuning,kerdil dan keriting daun,merupakan salah satu penyakit yang paling ditakuti oleh petani cabe,pada saat ini. Karena apabila sudah menyerang,tingkat serangganya bisa membuat tanaman,tunas-tunasnya tidak berkembang sama sekali. Pertumbuhan tanaman menjadi kerdil  dan keriting.

Pada uji aplikasi pada saat ini,kami melanjutkan,pengamatan bulan yang lalu ( artinya tanaman masih tetap menggunakan tanaman yang dipantau  pada bulan lalu)

Tanaman Ini  tampak tumbuh subur setelah aplikasi PROTEK-tan,PESNATOR,dari atas dan dari bawah, lewat coran.

Ada satu hal yang sangat penting dalam mengatasi virus kuning,kerdil dan keriting daun,apalagi pada saat musim hujan seperti saat ini,yaitu  jangan memberikan pupuk kimia NITROGEN yang terlalu banyak.  Memang pupuk Nitrogen, diperlukan untuk pertumbuhan agar cepat besar, tetapi disisi yang lain,pemberian yang  berlebihan  bisa menyebabkan tanaman menjadi lemah.

Selain itu,pemberian NITROGEN juga menyebabkan tanaman seperti diberi AIR ES.Rasa pupuk NITROGEN,dingin seperti air ES. Akibatnya tanaman menjadi “kedinginan”.  Rasa yang dingin demikian,bisa berpotensi menyebabkan tanaman menjadi lemah dan mudah terkena virus.  Seperti kita ketahui,virus akan mudah terkena pada kondisi dingin.  Sebagai contoh,virus influensa semakin berkembang pada situasi dingin seperti pemberian air ES. Bisa kita lihat pada gambar diatas,kami menanam pada lokasi yang  tidak dilakukan pembongkaran tanah/tidak olah tanah kembali.  Hal ini terlihat dari berlumutnya bedengan.

Tinggi tanaman,sudah hampir mencapai tinggi orang dewasa,pertumbuhan yang subur. Daun tebal,kebiru-biruan,tetapi lentur. (ciri tanaman yang sehat),sedangkan apabila terlelu banyak NITROGEN,biasanya daun tanaman rapuh dan mudah terkena keriting daun.

Sekarang kita perhatikan kembali perbandingan antara tehnik kami dengan tanaman sebelah,yang menggunakan tehnik kimia secara murni.  Tampak tanaman sebelah/tetangga, dibawah pohon terlihat kerdil.  Tentunya ini adalah salah satu akibat penggunaan pupuk kimia yang berlebihan.  Petani mungkin beranggapan bahwa pemberian pupuk kimia NITROGEN yang banyak menyebabkan,tanaman jadi cepat besar dan cepat berbuah,tetapi ternyata hal ini tidak sepenuhnya benar.

Kita pantau lagi kondisi tanaman yang menggunakan tehnik kami yang menggunakan PROTEK-tan,PESNATOR yang disemprotkan dengan takaran 4 tutp PROTEK-tan dan 2 tutup PESNATOR. Selain itu kami melakukan pengecoran dengan PROTEK-tan dan PUPUK CAS.

Terlihat tanaman samping aplikasi/tehnik kimia,terlihat kerdil dan keriting.  Jadi jelas saran kami pemberian pupuk dan pestisida organik,ternyata hasilnya tidak mengecewakan.

Maaf dalam hal ini,kami tidak menjelaskan secara rinci dosis dan interval penyemprotan dan pemupukan ,karena hal ini akan sangat berbeda antara satu tanaman dengan tanaman lainnya,sangat dipengaruhi oleh iklim setempat,penyakit/hama lain yang menyertai,usia tanaman dan pupuk yang sudah diberikan dll. Jadi maksud kami saran aplikasi tidak bisa disamaratakan untuk setiap kasus tanaman.

Jadi,ada satu kesimpulan yang dapat kami berikan adalah untuk menghindari tanaman terkena Virus,keriting dan Kerdil adalah,jangan terlalu banyak memberikan pupuk NITROGEN,karena dapat mengakibatkan daun menjadi tipis dan rapuh,seperti diberi air ES,yang menyebabkan tanaman  ,kedinginan sehingga mudah terkena VIRUS KUNING/GEMINI. Sedangkan gejala dari tanaman yang terkena virus salah satunya adalah tanaman menjadi kerdil. Dan sebagai solusi antara lain adalah,tanaman diberikan pupuk dan pestisida organik,PROTEK-tan dan PESNATOR.