Sukses Bersama Klinik Pertanian Organik Kembang Langit, Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Kegiatan bersama Menakertrans di Leles-Garut More »

Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Jajaran Komisaris Direksi, Staff, dan Rekan PT.Kembang Langit More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada tanaman Padi di Aceh More »

Kegiatan Pelatihan More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Keriting More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Rawit More »

Hasil Aplikasi Mengatasi lalat buah di tanah karo-SUMUT More »

Pengiriman Barang, Kegiatan Pelatihan More »

 

Tag Archives: busuk daun

1 2 »

TETAP MEWASPADAI, BUSUK DAUN DAN LAYU FUSARIUM

Di akhir akhir bulan Maret 2014 ini,ditempat kami masih sering terjadi curah hujan yang sangat tinggi, dan dalam aplikasi kali ini, kami tetap mewaspadai terjadinya serangan penyakit Busuk daun dan juga layu fusarium.    IMG_20140319_132725Semua gambar dalam artikel kami kali ini, diambil pada tanggal 19 Maret 14 .

IMG_20140319_132737Usia tanaman tomat yang dikelola oleh mitra kami Kang Heri ini berusia 55 hari.

IMG_20140319_132818Walaupun ada serangan busuk daun dan layu fusarium, namun tingkatannya masih dalam taraf wajar.

IMG_20140319_132859Lokasi tanaman yang ber ada di desa tambak sari Leuwi Goong -Garut  ini, terus kami upayakanpengendaliannya dengan metode KPO-KL.

IMG_20140319_132946Selain menggunakan Pocanil sebagai fungisida organiknya, kami juga menambahkan fungisida kimia baik yang sitemik maupun yang kontak dengan dosis jauh dibawah anjuran.

IMG_20140319_132957Kang Heri, tampak berseri seri ditangah tengah tanaman tomatnya.

IMG_20140319_133112Ada sedikit catatan yang kami lakukan dalam mengandalikan  kedua jenis penyakit yang sangat ditakuti oleh petani ini, prinsip kami yaitu : Bisa saja sistem pengelolaannya,bisa kontradiksi /berlawanan satu sama lainnya.IMG_20140319_133233( Buah tomat sudah mulai membentuk sebesar telur ayam)

Lho koq bisa saling bertentangan? karena metode yang kami gunakan dalam mengendalikan kedua penyakit ini  bukan hanya dari aplikasi “atas” saja tetapi juga perlu “managemen’ dari pupuk bawahnya.

Metode KPO-KL solusinya.

 

“MENEKAN “BUSUK DAUN Phythophthora infestans….DENGAN FUNGISIDA yang RENDAH

Pengamatan lanjutan yang kami lakukan pada tanaman tomat, mitra kami di Kp. Cigasti, Kec Leles- Kab Garut, hingga saat ini terus berlanjut.

1

Seluruh gambar dibawah ini, diamati pada tanggal 17 Juli 13.

2

Pengambilan gambar kami “geser” dari baris  terluar sebelah Timur ke Barat.

3

Kami sangat bersyukur, hingga saat ini, tanaman mitra kami yang telah berusia 49 hari,  aman dari serangan penyakit Busuk daun- Phytophthora infestans.

4

Pembentukan bunga dan buah terus berlangsung, sambil “didorong” sedikit-sedikit” dengan pupuk GAS.

Kami bergeser lagi, sambil mengamati kondisi tanaman, ukuran buah sudah sekitar ukuran bola tenis meja.

5

Kami berupaya agar tanaman aman dari serangan penyakit   busuk daun yang kalau ditempat kami dikenal dengan istilah  penyakit “Lodoh” ini.

6

Upaya yang kami lakukan adalah “tetap” dengan pemberian pupuk Nitrogen dosis yang sangat rendah.

7

Hingga saat ini, pengecoran telah dilakukan sebanyak tiga kali, dan baru pada pengecoran ke-3, pada hari sabtu yang lalu diberikan pupuk yang mengandung Nitrogen kimia.  Dosis pupuk Nitrogen yang diberikan pun tergolong sangat rendah . selabihnya kami memberikan untuk pengecoran berupa  PROTEK-tan dan  CAS

Sangat kami syukuri adalah, perkembangan ukuran buah dan pertumbuhan tanaman secara umum, tidak “terlambat” walaupun tidak di “Gas ” secara berlebihan.

8

Kami bergeser lagi kebagian lain pada kebun ini, aplikasi pemberian pupuk Nitrogen kami upayakan “lewat atas” /semprotan dengan pemberian Pupuk daun organik yang berasal dari Protektan  dan Pesnator.

9

Jadi memang selain berfungsi sebagai penolak hama, Protektan dan pesnator ini, kami gunakan untuk  “mendongkrak” pertumbuhan walaupun dengan meminimalkan penggunaan pupuk Nitrogen dari “bawah”/Pengecoran.

Kami dan Mitra kami tentunya berharap, tanaman tomat ini, bisa lolos dari serangan penyakit busuk daun, Phytophthora sp yang saat ini, diwilayah kami sedang mewabah….

10

Dalam penggunaan fungisida pun , rendah / tangki 17 liternya, sementara itu penggunaan Pocanil pun hanya 1 sendok makan peres pula. Konsep kami yang mengutamakan kondisi tanaman yang sehat, terus kami jalankan dan kami berharap hingga kedepannya, penyakit “lodoh” busuk daun ini, bisa diantisipasi walaupun dengan tidak terlalu mengandalkan penggunaan Fungisida kimia.

Kami berharap  aplikasi ini… Sukses….Semoga berhasil…

KEMERDEKAAN PETANI

 

Salah satu,ciri kemerdekaan petani,adalah  : TERBEBAS DARI  “JAJAHAN” PRODUK ASING,memang idealnya adalah bisa 100 %,walau itu baru sekedar MIMPI.  Namun  kalau  justru hampir 100 %  berbagai komoditas  adalah hasil Impor,hal ini sungguh TERLALU.  Mungkin anda sepakat,dalam menyambut hari KEMERDEKAAN RI ,kami merenung, dimanaletak KEMERDEKAAN PETANI,setelah 67 tahun Indonesia MERDEKA?

Dalam  kesempatan ini,kami  “menyunting”,suatu berita dari, detik.com (detikfinance),yang kami sertakan dengan gambar-gambar hasil aplikasi kami.  Sengaja kami menyertakan  gambar hasil aplikasi ini untuk,mengungkapkan ,kami bukan hanya sekedar berbicara, tetapi kami berharap,hasil aplikasi ini menunjukkan dan sebagai bukti ,agar bisa menjadi suatu alternatif  SOLUSI.

RI Kebanyakan Impor Pangan, Situs Kementerian Pertanian Dibobol!

Ardhi Suryadhi – detikfinance

Jumat, 27/07/2012 15:42 WIB

Browser anda tidak mendukung iFrame

Screenshot Situs Deptan yang diretas

Jakarta - “Masak kedelai, singkong, buah-buahan, beras, sampai garam saja milih impor. Ganti saja nama departemennya jadi kementerian impor Republik Indonesia”.

Kalimat di atas memang terdengar bernada sarkasme. Namun itulah sindiran yang dilontarkan peretas yang menyusup ke situs Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Jumat (27/7/2012).

Situs yang beralamat di www.deptan.go.id itu diketahui telah diretas pelaku yang mengatasnamakan dirinya sebagai betutu@pitulasan. Memang, tampilan yang ‘dipermak’ bukan di halaman depan, melainkan cuma di salah satu halamannya.

Namun yang menarik, pelaku meninggalkan pesan yang isinya menyindir pemerintah terkait berbagai bahan makanan yang harus disediakan melalui jalur impor.

“Pak, negara ini ahli pertaniannya banyak. Profesor di universitas-universitas dan juga ipb kan banyak. Presidennya juga doktor lulusan IPB, mbok ya apa-apa jangan impor. Masak Kedelai, Singkong, Buah-buahan, Beras, sampe Garam aja milih impor. Ganti aja nama departemennya jadi kementerian impor Republik Indonesia. Apa udah tinggal masa balik modal??…”

“Sial bener jadi rakyat, kemarin lombok dimahalin, manut. apa-apa dimahalin manut juga.. andalannya cuma tahu tempe.. eh susah juga.. apes-apes.. makan apa ya??,” tulisnya.

Memang, belakangan isu soal krisis pangan dan ketergantungan terhadap produk impor menjadi perbincangan di tengah masyarakat. Hal ini semakin memuncak kala terjadinya kelangkaan kedelai. Akibatnya, tahu tempe menghilang di pasaran.

(Seluruh,redaksi diatas semuanya kami “angkat” dari berita detikfinance.)

1.(Seluruh gambar dibawah ini,gambar 1-10,semuanya diambil dari hasil pengamatan yang  bisa dibilang 100 % menggunakan  sarana produksi yang berasal dari  “LUAR”.  Sebagai  titik pengambilan kami berpatokan dengan “saung”/rumah tunggu   lahan milik “tetangga”.  Pengambilan gambar dilakukan pada tanggal 26 Mei 12).

2.( Pada saat berikutnya,tanggal 3 Juni 12,kami ambil gambar dari depan “saung”,tanaman masih hijau dan pertumbuhannya pun,cukup pesat.  Memang dengan tehnik kimia ini,biasanya menunjukkan reaksi awal pertumbuhan  yang pesat, hanya perlu diwaspadai,pertumbuhan cepat ini seperti “kamuflase” saja artinya  kecepatan tumbuh tersebut,seolah menyimpan “bom waktu”).

3.(Pengamatan selanjutnya dilakukan pada tanggal 2 Juli 12, tampak tanaman didepan “saung” yang menggunakan tehnik kimia murni,awalnya jauh meninggalkan pertumbuhan yang menggunakan tehnik berbasis pertanian organik ala kembang langit,sebelah kiri gambar).

4. (Pengamatan pada tanggal 15 Juli 12,tampak tanaman didepan saung,masih hijau “berseri”,seolah akan memberikan hasil yang  melimpah….)

5.(Namun apa yang terjadi ??? Pengamatan yang dilakukan tepat pada tanggal 17 Agustus 12,satu bulan dari pengamatan gambar 4,pengambilan gambar masih disekitar “saung” tersebut,hasilnya tampak seperti di atas)

6.(Kami bergeser sedikit,ke kanan dari gambar 5 diatas, hasilnya seperti tampak dalam gambar…memprihatinkan….,BOM WAKTU MELEDAK…,tanaman menguning,keriting daun dan diperparah lagi tanaman layu). Ini kasus -kasus yang sering dialami petani diseluruh bumi pertiwi,jadi jangan berharap berbicara swasembada pangan,apabila hal ini berulang terus ditingkat budidaya.)

7.(Bergeser lagi sedikit ke kanan,hampir seluruh tanaman,menguning dan rusak total.  Kalau sudah begini,wajar saja apabila kualitas dari produksi tanaman yang dibudidayakan,sangat rendah dan kalah bersaing dengan produk komoditas dari ‘NEGARA LUAR’.  Sekali lagi jangan berbicara ,swasembada pangan,apabila tehnis budidaya saja,masih belum terpola dengan baik).

8.(Bergeser terus kekanan dari gambar 7,tanaman hancur lebur,padahal tanaman cabe baru petik 2 kali dan tomat baru petik 3 kali. Kalau begini,pantes saja kalau Cabe,beras ,kedelai dan komoditas pertanian lainnya kita harus mengimpor dari negara ASING.  Sungguh memprihatinkan,SARANA PRODUKSINYA (PUPUK DAN PESTISIDANYA) KITA  IMPORT DAN KARENA PRODUKTIFITASNYA PUN RENDAH, SEHINGGA TIDAK MENCUKUPI WALAU SEKEDAR MEMENUHI KEBUTUHAN SENDIRI,AKHIRNYA UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN PANGAN DALAM NEGERI PUN , HAMPIR SEMUA KOMODITAS PERTANIAN,HARUS MENGIMPOR PULA). Sungguh Tragis nasib,NEGERA AGRARIS INI….Berapa trilyun dana yang dikeluarkan untuk mengimpor sarana produksi seperti pupuk dan pestisida dan berapa trilyun dana yang dihamburkan untuk membeli/mengimpor  “NASI RAMES” ( Beras,tahu,tempe,bumbu-bumbu <bawang,cabe ,garam dll>,daging,telur,ayam dll).

9. (Pengambilan gambar sama dengan sudut pada gambar 2,diatas,dari depan saung “tetangga”. Pengamatan pada tanggal 17 agustus 12.  Inilah yang terjadi pada hasil aplikasi yang terlalu mengandalkan produk impor. Tehnik aplikasi yang menggunakan tehnik  pertanian berbasis organik pun bukannya tanpa kendala dilapangan,hanya tingkat serangan hama (seperti Thrips,tungau,lalat buah,ulat ) dan penyakit (seperti Layu fusarium,virus kuning,busuk daun dan busuk bauah/patek) tidak seberat yang menggunakan tehnik “ASING”.

10.(Kami mengambil gambar lagi,dari sisi “saung”,tampak disamping saung ini,tanamannya juga mengalami “nasib” yang sama.  )

Kalau sudah begini,KAPAN KEMERDEKAAN UNTUK PETANI TERASAKAN,APABILA PADA SAAT BERCOCOK TANAM,mayoritas SARANA PRODUKSI YANG DIGUNAKAN DARI NEGARA “LUAR”,DAN PADA SAAT PANEN PUN HASILNYA RENDAH DAN DIPERPARAH LAGI,DILAKUKANNYA IMPOR  KOMODITAS PERTANIAN YANG MENYEBABKAN HARGA -HARGA,TERJUN BEBAS.  SUDAH JATUH TERTIMPA TANGGA, TERTUSUK PAKU  DAN  TERPUKUL PALU.