Sukses Bersama Klinik Pertanian Organik Kembang Langit, Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Kegiatan bersama Menakertrans di Leles-Garut More »

Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Jajaran Komisaris Direksi, Staff, dan Rekan PT.Kembang Langit More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada tanaman Padi di Aceh More »

Kegiatan Pelatihan More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Keriting More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Rawit More »

Hasil Aplikasi Mengatasi lalat buah di tanah karo-SUMUT More »

Pengiriman Barang, Kegiatan Pelatihan More »

 

Tag Archives: BUDIDAYA CABE

1 2 3 4 5 »

PETANI PEMULA BERTANAM DI ‘TANAH YANG LETIH’

Kembali kami tertarik untuk mengangkat ‘kisah’ petani pemula yang bercocok tanam cabe . Kali ini kisahya datag dari Desa Mekar Sari, Cikajang- Garut – Jawa Barat. Namanya , sdr. Khoer.  Awalnya sebelum bertani sdr. Khoer ini, bekerja disalah satu perusahaan swasta nasional di Jakarta, tetapi saat ini rupanya lebih tertarik untuk bertani.

Kali ini penanaman dilakukan di sekitar pekarangan( tampak bangunan sekolah dibelakangnya), istilah kami di Garut adalah “tanah jami’ tanah yang sudah “letih” dan cenderung dihindari karena sudah sering ditanami dan dianggap sudah tidak subur dan tidak mendukung.  Dengan demikian biasanya petani sekitar, berusaha mencari tanah keatas gunung ,membuka lahan baru lagi.

pp1

Ceritanya dimulai pada saat tanamannya pada saat usia sekitar 2 mingguan setelah tanam, ( penanaman tanggal 10 Okober 2016 ) mulai terkena virus kuning dan gejala keriting daun, sontak saja karena Sdr. Khoer yang  tergolong petani pemula , langsung searching ke abah google, dan menemukan website nya  KPO-Kembang Langit ( yang nota bene masih sekabupaten dengannya).

pp4

 Pertama kali sdr.Khoer  mengunjungi klinik kami, pada tanggal 25 Oktober 2016, kemudian sebulan kemudian, kami mengunjungi langsung ke kebun untuk dilakukan pengamatan langsung tanggal (26 Nov 2016).

Penerapan secara “utuh” saran dari KPO _KL, ternyata saat itu sudah mulai terlihat.  Modifikasi modifikasi yang “tidak perlu”, Hal ini, biasanya kalau petani yang sudah berpengalaman, metode kami banyak di ‘plintir’ dengan menambahkan pupuk insektisida maupun fungisida yang di luar “standar ‘KPO-KL.

IMG_20161202_093739

Pemantauan berikutnya kami secara langsung “terjun” ke lapangan pada tanggal  2 Desember 2016,  mengamati perkembangan tanaman mitra yang ‘disiplin” tanpa memodifikasi  standar /metode. Perkembangan tanaman tampaknya makin sehat.

pp7

Jarak dari kantor KPO-KL di Leles ke Cikajang yang tidak begitu jauh ( sekitar 30-40 km ), memudahkan juga kami untuk melakukan pemantauan secara intensif. Pada tanggal 12 januari 2017, kami melakukan ‘blusukan’ untuk memantau langsung, efek dari hasil penerapan metode KPO-KL.  Hasilnya, hingga tanaman berusia 3 bulanan, sangat memuaskan kami.

IMG_20161226_173003

Ada hal yang kami petik dari petani pemula ini, walaupun tanamannya hingga saat ini belum panen, tetapi hasil  yang sudah tampak menggembirakan bahkan saat ini, membawa teman teman petani pemula  sekampungnya.

IMG_20161226_173018

Memang agak berbeda dengan petani yang ‘sudah banyak tahu’ pestisida dan pupuk kimia, petani pemula seperti sdr. Khoer ini, tidak banyak “neko neko” dalam menerapkan metode kami, semoga saja teman teman lainya yang saat ini di ‘bawa’ olehnya bisa menyusul, menerapkan metode KPO-KL.

Kami berharap pada suatu saat nanti, walaupun masih pemula, tapi kami berharap banyak , suatu saat nanti, bisa menggugah dan mengubah ,pola tanam konvensional kimia murni yang banyak di gunakan di sekitaran Cikajang, Cibuluh dan sekitarnya.  Sebagaimana banyak diketahui daerah Cikajang ini merupakan salah satu sentra pertanian  hortikultura, terbesar di Garut  bahkan di Jawa Barat.

IMG_20170112_110313

Petani di Cikajang ini, sulit sekali menerima inovasi baru, karena sudah ‘terkungkung’ oleh adat istiadat bertani secara kimia sejak jaman “baheula”. Kami berharap dengan metode ini suatu saat nanti, ingin membuktikan bahwa bertani dengan cara demikian, bisa lebih menguntungkan dan bisa dilakukan di ‘tanah jami’yang selama ini dihindari oleh petani  lainnya.

INOVASI BERKELANJUTAN ( SEBUAH REFLEKSI DI AKHIR TAHUN 2016 )

Diakhir tahun 2016 ini, kami masih tetap setia untuk  terus memantau perkembangan tanaman mitra mitra kami, termasuk yang di daerah Mekarsari, Cikajang- Garut ( disekitaran hulu sungai Cimanuk -Garut ).

khoer1

Tanaman mitra kami, sdr. Khoer , saat ini tanggal 31 desember 2016, telah berumur 2 bulan 20 hari.

khoer-6

Kondisi tanaman cabe var. Sedayu ini, saat ini, tampak makin pulih dari permasalahan serangan virus kuning sebagaimana yang terjadi pada saat awal, di’rehabilitasi’ dengan cara KPO-K.

img_20161231_085545oh ya… dalam tahun 2016 ini telah beberapa kali kami mengadakan inovasi inovasi dalam hal tehnis budidaya termasuk diantaranya, pemupukan dasar tanpa menggunakan pupuk kimia sama sekali.

khoer2

Dan….kali ini inovasi kami yang akan kami sodorkan adalah, pola tanam, satu lobang diisi dengan 3-4 batang tanaman cabe. Perihal hasil memang belum kami dapatkan dan belum bisa mengambil suatu kesimpulan apalagi memberikan rekomendasi pada mitra mitra KPO-KL, tetapi setidaknya hingga saat ini, hasil yang diperoleh mitra kami ini, sangat memuaskan

img_20161231_090418

Selain itu, pola yang diterapkan oleh mitra kami ini, adalah pola ‘irit ajir’, dimana kebiasaan petani kebanyakan adalah menanam dengan satu tanaman satu ajir/kayu penyanggah, tetapi kali ini mitra kami mencoba mengubah pola tersebut.

img_20161231_085545

Pola nya per 3 meter hanya diberi 1 ajir saja, sedangkan sebagai penyanggahnya digunakan tali yang dipasang disamping tanaman yang dibentangkan disisi cabe tersebut.

img_20161231_085740

Kami berharap, pola ini nantinya bisa menjadi inspirasi mitra mitra yang lainnya, jadi bisa lebih irit ajir, karena yang ditanam memang cabe bukan ajir…hehe., selain itu dengan pola satu lobang  3-4 batang ini, akan menambah jumlah populasi tanaman dan harapannya , produktifitasnya pun bisa lebih tinggi.

Semoga saja inovasi inovasi antara kami dan mitra,  terus berlanjut  yang arahnya tentunya  makin meningkatkan produktifitas pertanian kita.

DARI SEBUAH PULAU DI ACEH

Ada hal yang menarik yang kami angkat dalam artikel kali ini yaitu lokasi penanaman dari Sebuah pulau di sebelah barat daratan pulau Sumatera .

Tepatnya di sebuah pulau yang berjarak sekitar 150 km dari lepas pantai barat Aceh yang juga pemekaran dari Aceh Barat. Namanya pulau Simeuleu.  Pulau ini, walaupun termsuk wilayah Aceh, tetapi untuk transportasi dan jarak lebih dekat dari Medan, Sumatera Utara.

img-20161226-wa021

Mitra baru kami kali ini adalah, seorang Guru, namanya Bp. Arwadin dari desa Sigulai, Kec. Seumeulu Barat, Seumelu. Aceh.

Bisa dibayangkan, jauhnya jarak dari Medan ke Pulau tersebut !!! Dari Medan ke Pelabuhan singkil ditempuh dengan 8 jam perjalanan kemudian naik kapal Pelabuhan singkil 10 jam, ke labuhan haji 10 jam dilanjutkan dari  pelabuhan Meulaboh 12 jam, dan perjalanan dilakukan malam hari dengan catatan tidak ada ombak besar, waw !!!

img-20161226-wa022

(Var yang digunakan oleh mitra kami dari Kepulauan ini, ada dua varietas yaitu Pm 999 dan Kiyo.)

Dalam penerapan kali ini, kami mencoba bersama sama mengelola pola KPO-KL sejak dari pengolahan lahannya.

img-20161226-wa020

Hingga saat ini tanggal 26 Desember 2016, tanaman yang ditanam pada tanggal 20 Oktober 2016 . berusia 2 bulan kurang semingguan.

img-20161226-wa017

Hingga saat ini kami bersyukur karena, mitra binaan kami kondisi tanamannya,sehat dan terhindar dari penyakit virus kuning, antraknose, dan layu.

img-20161226-wa019

Pembinaan dan pendampingan Total kami lakukan terhadap mitra mitra,  kami terus lakukan dimana ada “sinyal” disitu kami melakukan pendampingan .

img-20161226-wa015

Dan….kali ini, kami menjalin kemitraan menjalin Silaturahmi dengan mitra yang jauh dari Ujung Barat kepulauan Di Nangro Aceh Darussalam.

img-20161226-wa016

Semoga saja pak Guru Arwadin yang sebenarnya sudah kami kenal beberapa musim tanam sebelumnya berhasil dalam menggembangkan tanaman budidaya cabenya.

Kendala tranfortasi dan  suplay produk pendukung ke kepulauan tersebut, sehingga menyebabkan baru musim tanam kali ini beliau bisa bercocok tanam Ala KPO – KL.

SEMOGA BERHASIL pak Guru Arwadin, semoga kedepannya, Pulau Seumeulu bisa menjadi salah satu sentra tanaman cabe dan bisa meng”ekspor” hasilnya ke wilayah Aceh dan Sumatera Utara. Semoga saja pak Guru!!!