Sukses Bersama Klinik Pertanian Organik Kembang Langit, Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Kegiatan bersama Menakertrans di Leles-Garut More »

Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Jajaran Komisaris Direksi, Staff, dan Rekan PT.Kembang Langit More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada tanaman Padi di Aceh More »

Kegiatan Pelatihan More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Keriting More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Rawit More »

Hasil Aplikasi Mengatasi lalat buah di tanah karo-SUMUT More »

Pengiriman Barang, Kegiatan Pelatihan More »

 

Tag Archives: antraknose cabe

1 2 3 »

ANTRAKNOSE CABAI (2)

Kami kembali mencoba membahas, hasil dari perlakuan yang telah kami kelola bersama dengan mitra kami dari Tapanuli Selatan. Kami sengaja untuk memaparkan perkembangan dari daerah yang sama, karena mitra kami dari daerah tersebut saat ini, kami evaluasi sudah dapat mengendalikan penyakit yang biasanya meluluhlantakkan pertanaman cabe.

Kalau kita lihat gambar yang dikirim tertanggal 1 Januari 2018 diatas sekali lagi menunjukkan bahwa tanaman yang masih muda,karena terlihat dari kondisi batang yang sudah lumutan. (Usia tanaman hingga saat ini memasuki bulan ke 7).

Kondisi tanaman pada saat usia sekitar 6 bulanan , masih menunjukkan performa yang masih segar , yang mana tanaman hingga saat ini minggu pertama bulan Januari, sudah petik 1.2 kg per batangnya.

Adapun tehnik yang kami terapkan adalah dengan pengelolaan tanah dan tanaman seawal mungkin.Karena menurut paham kami, Antraknose itu sendiri terjadi akibat pengelolaan yang kurang tepat sejak awalnya.

Tarik ulur atau dalam bahasa istilah kami “Gas dan Rem” nya sudah harus terkontrol sejak awal penanaman. Pemberian perlakuan yang keliru pada suatu waktu, bisa berakibat fatal pada kondisi ketahanan tanaman.

Jadi penekanan dalam pengendalian Antraknose itu sendiri merupakan suatu proses Akumulasi dari perlakuan satu ke perlakuan berikutnya. Pemberian Pocanil (dari KPO-KL) plus penambahan fungisida kimia yang bersifat Sistemik dan Kontak dengan dosis cukup 0.3 mili/gram per liter air, selama ini cukup efektif dalam mengendalikan antraknose tersebut ( seperti terlihat dalam hasil penerapan kali ini).

Kita memerlukan agar tanaman tahan terhadap antraknose tetapi disatu sisi kita pun masih perlu perkembangan tunas yang terus meninggi agar bisa masuk dan bertahan untuk periode ke duanya.

Selain itu menekan populasi cendawan Colletotricum sp, perlu dilakukan dengan perlakuan Antagonis melalui penambahan Mikrobanya.

LIMA KALI TANAM CABE ,LIMA KALI GAGAL !!!

Sudah cukup lama kami tidak memantau perkembangan tanaman mitra kami dari  sebuah kepulauan di Aceh sana . Tepatnya dari kep. Seumelu. Jarak pulau ini cukup jauh, bahkan kalau ditempuh jarak waktunya sekitar satu hari satu malam dari Banda Aceh.

IMG-20170208-WA0079

Mitra kami ini pak   Guru Arwadin yang pernah kami tulis artikelnya di halaman web kami yang lalu. Dicerikan, pak Arwadin ini sebelum menggunakan metode KPO-KL ini, sudah lima kali tanam dan sudah lima kali pula gagal, dengan metode yang konvensional, secara kimia murni.

IMG-20170208-WA0100

Pada halaman artikel ini, seluruhnya diambil gambarnya oleh mitra kami dari kebunnya yang ditanami dengan cabe 3 varietas, yaitu Kiyo, Lado  dan TM. Jumlah tanaman kisaran 2500 batang dan ditanam pada tanggal 20 Oktober 2016.

IMG-20170208-WA0099

Seluruh gambar ini dikirimkan oleh mitra kami pada saat menjelang petikan ke 7, totalan kisaran yang telah dipetik mitra kami ini sudah mendekati 1000 kg. Petikan ke 5 dan ke -6, yang lalu berhasil panen 267 kg dan 245 kg.

IMG-20170208-WA0097

Menjelang petikan berikutnya masih terlihat buah masih banyak dan lebat, dan dengan harga minggu minggu lalu, dikisaran Rp.50.000 per kg, jelas biaya produksi sudah terlampaui.

IMG-20170208-WA0084

Kami ikut bangga dan senang karena mitra kami ini, yang sebelumnya sebelum mengenal metode bercocok tanam cara KPO-KL, mengalami kegagalan secara berturut turut, bahkan berdasarkan penuturan pak Guru di Madrasah tersebut, gagal sampai 5 kali.

IMG-20170208-WA0080

Kalau pada musim sebelumnya tanaman pak Arwadin gagal dalam mengendalikan patek/busuk buah, keriting daun/virus kuning dan layu, saat ini , penyakit penyakit tersebut, terhindarkan.

Semoga kelak di kepualuan Aceh yang nun jauh disana, beberapa musim tanam kedepan, sudah mampu berswasembada pangan diantaranya cabe beras dsb.  Perlu diketahui, selama ini, kepulaun Seumeulu ini, masih mendatangkan sebagian besar bahan pangan dari luar pulau.

pak arwadin

Semoga berhasil pak Guru, kita berbagi ilmu pada petani lain di pulau Seumeulu.  Bisa dibayangkan apabila faktor sumber daya manusianya sudah mumpuni, pulau ini bahkan bisa “ekspor’ ke Banda Aceh atau daerah lainnya.

Kami bermimpi dan berharap juga untuk pulau pulau lain di Indonesia, mampu ber swasembada pangan untuk pulaunya sendiri dan bisa mensuplay ke pulau lain, bahkan ke Negara Lain.

Semoga  segera cepat terwujud !!!

.

SAAT PATEK/ ANTRAKNOSE MULAI “REDA”

Kami bersyukur, karena dua hari yang.lalu tanggal 23 Agustus 2016, tanaman mitra kami dari lokasi Universitas Syah Kuala BandaAceh, perkembanganya kini mulai membaik lagi.

Azmi2

Tanaman cabe pak Azmi. yang saat ini berusia 85 hari sudah petik yang pertama kalinya.Setelah diterpa halangan “busuk buah” akibat cendawan Colletotricum sp, saat ini tanaman pak Azmi. saat ini sudah mulai memasuki fase penyembuhan.

azmi3(1)

Kondisi tanaman yang sempat terkena antraknose buah, akibat terlalu semangat dalam proses “ngegasnya”.

Pemberian POCAniL dari semprotan dan Kocoran, efeknya mulai terasa dalam mempercepat proses keringnya spora cendawan penyebab Antraknose tersebut.

azmi1

Setelah di istirahatkan total  dari proses ” ngegas”, saat ini proses ngegas secara “langsam” mulai di berikan . Protektan Pesnator,  Biopestis diberikan bersamaan dengan pupuk kimia kembali (Dosis rendah).

Semoga berhasil pak Azmi, proses latihan berkendaraan memang perlu latihan secara rutin, agar lancar…

Sukses petani Aceh Sukses Petani Indonesia.