27 Januari 2017

SUDAH SAATNYA, PERUBAHAN MENDASAR PADA PERTANIAN, DI INDONESIA

Pertanian Indonesia benar-benar ada dalam kondisi kritis. Hal ini bisa dilihat dari ketidak mampuan bangsa kita dalam swasembada pangan. Beras,jagung,kedelai,sayur-sayuran dan buah-buahan bahkan singkong kita masih impor. Ada apa dengan pertanian kita?

PhotoGrid_1485519085086

(Gambar 1. Kami mencoba untuk andil dalam mengubah sistem pertanian bangsa kita yang sudah minded dengan cara cara bertanam yang menggunakan metode kimia. Dalam gambar 1,tampak mitra binaan kami Bpk Tatang Burhanudin dari Pesisir Selatan Sumatra Barat sedang mengunjungi kebun mitra kami lainnya Sdr.Khoer di desa Mekarsari Cikajang,Garut.)

PhotoGrid_1485519122379

(Gambar 2. Bpk Tatang Burhanudin datang berdua dengan Bpk Yulnasri juga dari Pesisir Slatan Sumatera Barat,untuk sengaja melihat perkembangan tanaman di Mekarsari Cikajang,Garut yang menggunakan metode berbasis organik cara KPO-KL)

Revolusi Hijau mentargetkan dan bertujuan untuk meningkatkan produksi pangan yang cepat untuk mengimbangi pertambahan penduduk yang sangat cepat. Berbagai cara diambil untuk memacu pertumbuhan tanaman pangan agar bisa mensuplay kebutuhan pangan umat manusia. langkah yang diambil diantaranya adalah dengan mendesain benih benih unggul yang produksinya sangat tinggi tetapi membutukan pupuk kimia yang banyak pula.

PhotoGrid_1485519066314

(Gambar 3. Tanaman hybrida “Varitas Sebayu” yang dikunjungi,yang menggunakan pola pengurangan pupuk dan pestisida kimia. Pada saat ini berusia 3,5 bulan,buah sudah mulai memerah walaupun masih 1-2 buah.)

Di satu sisi,program revolusi hijau yang dicanangkan memag berhasil membentuk benih-benih hybrida yang produktivitasnya tinggi. Walaupun disisi lain produktivitas benih hybrida tinggi, akan tetapi benih tersebut mudah terserang hama & penyakit,sehingga membuat kebutuhan akan pestisida kimia meningkat pula.)

PhotoGrid_1485523667158

(Gambar 4. KPO dalam hal ini berupaya menkolaborasikan antara keberadaan benih hybrida yang produktivitasnya tinggi tetapi ‘Disetting’ dengan kebutuhan pupuk & pestisida kimia yang rendah saja. Hasilnya sangat kami syukuri karea pertumbuhan tanaman sesuai harapan.)

PhotoGrid_1485519008632

(Gambar 5. Revolusi hijau memang memberi harapan dalam jangka waktu tertentu,produksi meningkat sampai suatu titik puncak. Tetapi setelah itu,secara berangsur-angsur produktivitas pertanaman mulai berkurang dari waktu ke waktu. Hal tersebut sudah kita rasakan saat ini. pupuk kimia dan pestisida digunakan dalam skala overdosis tetapi pertumbuhan tanaman kerdil dan banyak masalah.)

PhotoGrid_1485519105464

(Gambar 6. Revolusi hijau cenderung mengabaikan fungsi mikroorganisme yang ada dalam tanah. Revolusi hijau juga pada umumnya “Melompati keberadaan mikroba-mikroba tersebut dengan cara membuat pupuk kimia yang ‘siap saji’ tanpa menggunakan bantuan mikroba.” Malahan sebenarnnya mikroba yang ada dalam tanah “dinonaktifkan”.)

PhotoGrid_1485519034439

(Gambar 7. Hal yang sebaliknya dengan metode yang kami terapkan ini justru mengprioritaskan aktifnya kembali mikroorganisme pengurai yang ada dalam tanah sambil tetap memprioritaskan tercapainya produksi yang tinggi.)

Jadi sudah sepatutnyalah kita membanngun pertanian Indonesia dengan tidak mengadopsi metode Revolusi Hijau secara mutlak. Sepertinnya program Revolusi Hijau untuk tanah Indonesia yang terkenal subur & makmur  perlu direvolusi ulang.