29 Agustus 2013

POLA PERTANIAN ORGANIK, TAK TERPURUK AKIBAT ‘MENGUATNYA’ DOLLAR

Nilai tukar rupiah terus melemah sepekan terakhir ini. Bank Indonesia menyatakan pelemahan ini terjadi akibat mekanisme di pasar  internal dan eksternal. Menteri Keuangan Chatib Basri memperkirakan pelemahan nilai tukar rupiah masih akan berlanjut hingga awal 2014 mendatang.
Pagi ini, Bloomberg mencatat nilai tukar rupiah melemah atas dolar AS dengan turun 23 poin atau 0,20 persen. Rupiah diperdagangkan di nilai tengah Rp 11.314 per dolar AS dengan pergerakan harian Rp 10.925- Rp 11.314 per dolar AS .
Sumber literatur diatas kami ambil dari :

 

1

Gambar 1. ( Mahasiswa pertanian Unsoed, Sdr. Arif Rachman, sedang  mengamati tanaman  tomat yang menggunakan tehnik pestisida organik ala KTO-KL, menjelang panen.)

Beberapa Harga pestisida kimiawi  pada saat ini, secara berangsur mulai  meninggi , kalaupun masih stabilnya beberapa harga pestisida saat ini karena berbagai faktor. Antara lain, barang yang merupakan stok lama. Kenaikan harga ini tentunya membebani biaya produksi pertanian.
2
Gambar 2. ( Produk -produk yang digunakan (selama musim tanam ini ) oleh Mitra kami di Cigasti,  Leles -Garut- Jawa Barat, ini di “dominasi” oleh pupuk dan insektisida organik ala KTO-KL).
Dalam hitungan petani, biaya komponen pestisida mencapai 25 – 40 persen dari total biaya produksi pertanian, bahkan dalam kondisi tertentu bisa lebih banyak.

3

Gambar 3. ( Menjelang panen ke-4, setelah panen I,II dan III, masing masing telah dipetik 700 kg, 1.32 ton, 1.7 ton dari  jumlah tanaman sekitar 3000-an batang.)

 Tingginya harga pestisida kimiawi tersebut disebabkan bahan aktif pestisida masih diimpor. Depresiasi nilai rupiah terhadap dolar Amerika menyebabkan harga pestisida kimiawi bisa menyebabkan semakin tidak terjangkau oleh petani.

4

Gambar 4. ( Harga jual tomat pada saat ini, sangat baik yaitu pada panen pertama Rp. 5500, panen II, Rp. 6500, panen ke III, Rp.7500.  Gambar diatas diambil pada  tanggal 27 Agustus 13, saat panen yang ke-4.)

5

Gambar 5. ( Pada saat ini, panen ke IV, hasil yang dicapai sekitar 1.3 Ton dan harga masih cukup tinggi yaitu  Rp.6500.  Keuntungan besar justru dicapai oleh petani MITRA KTO-KL, pada saat nilai dollar, menguat.)

6

Gambar 6. ( Walaupun ada (sedikit)  pestisida kimia yang digunakan, tentunya tidak akan  terlalu terpengaruh “signifikan” terhadap meningkatnya biaya produksi yang dikeluarkan. Hal ini disebabkan, sebagian sarana produksi yang digunakan, berasal dari produk yang tidak perlu di impor.)

Gambar 7. ( Mitra kami, bertopi, sedang mengemas  hasil panen,petikan ke-4.  Bisa dibayangkan apabila pengecoran dengan menggunakan pupuk kimia yang sedikit, dan hingga saat ini, dilakukan hanya sebanyak 6 kali saja. Pengecoran terakhir dilakukan pada tanggal 12 Juli 13. Pengecoran mengandalkan PROTEK-tan  dan pupuk CAS.)

7

Gambar 8. ( Terlihat dalam gambar, hasil yang dicapai pada petikan ke-4 ini,  mencapai 37 “kas”, bobot per kasnya sekitar 42-43 kg ( berat buah dengan menggunakan tehnik pupuk organik ala KTO-KL, lebih berbobot. Tonase bersih sekitar 1.3 Ton dengan harga Rp. 6.500, bisa dihitung keuntungan yang dicapai total oleh Mitra kami ini.)

8

Gambar 9. ( Hasil pertanian ,tomat…yang dikelola  dengan tehnologi berbasis organik, siap “kirim”.   Sayang…jumlahnya sedikit sehingga pasarannya baru sekitar pasaran dalam negeri, padahal secara kualitas, mutu produksi bisa masuk “grade” eksport ( berat per kg nya berisi 8-10 butir, berwarna merah segar, bijinya sedikit dan kadar air yang rendah, tidak lembek, kulit bersih dan merah mengkilat).)

9

Gambar 10. ( Bak  truk “engkel” sudah terisi tomat siap “eksport” ke kota.  Sedikit berandai – andai, seandainya tomat mitra kami ini, bisa diekspor ke luar negeri dengan pembelian kurs DOLLAR, alangkah berlipatnya hasil keuntungan yang didapat.  Biaya produksi minim, tetapi hasil produksi berlipat ganda.)

10

Gambar 11. ( Pengepakan buah tomat, sudah selesai, siap pulang menunggu “transferan”. Tampak raut wajah yang  “riang gembira ” dari mitra kami.  Sementara petani berbasis kimia pada saat ini, di “pusingkan” dengan “mulai” merangkak naiknya Pupuk dan PESTISIDA kimia, mitra kami ini, justru menikmati keuntungan yang besar.)

11

Gambar 12. ( Sdr. Arif Rachman Mahasiswa  Universitas Jend. Soedirman, Purwokerto, yang sedang PKL di KTO-KL, sedang mengkalkulasi biaya yang dikeluarkan oleh Mitra kami, yang menggunakan tehnik pertanian organik, KTO-KL,  selama musim tanam tomat ini. )

Total pengecoran hanya sekitar 6 kali, sedangkan penyemprotan dilakukan sekitar 10-11 kali saja, dan itupun penyemprotan terakhir dilakukan pada tanggal 15 Agustus yang lalu.

Sedikitnya jenis pestisida kimia yang digunakan (sebagaimana terlihat dalam gambar diatas) dan juga minimnya dosis  pestisida kimia yang digunakan , yang “nota bene” bahan-bahan import yang dibeli dengan kurs DOLLAR, menyebabkan biaya produksi tak “seberapa” berpengaruh terhadap “gonjang-ganjingnya”  MATA UANG DOLLAR, justru meningkatkan MATA PENCAHARIAN PETANI MITRA KTO-KL.
Dalam kondisi pertanian Indonesia saat ini dengan harga komponen pestisida yang tinggi, maka dapat diramalkan  dan dikhawatirkan bahwa usaha tani menjadi  MATA PENCAHARIAN yang tidak menguntungkan lagi  karena tidak dapat diandalkan sebagai sumber pendapatan yang layak. Kondisi tersebut tentu saja amat merugikan pembangunan bidang pertanian Indonesia.  Dengan demikian secara berangsur-angsur harus segera diupayakan pengurangan penggunaan pestisida kimiawi dan mulai beralih kepada jenis-jenis pestisida hayati (biopestisida) yang aman bagi lingkungan. Oleh karena itu, mari kita songsong MATA HARI , esok hari yang lebih cerah, dengan menerapkan POLA PERTANIAN BERBASIS ORGANIK, yang tak “guncang”  bahkan “malahan” BANGKIT ,akibat, fluktuasi nilai MATA UANG DOLLAR.
SEKALI LAGI, MITRA KAMI  MERASAKAN MANFAAT DAN MEMBUKTIKANNYA !!!