5 September 2012

SISTEM BERBASIS PERTANIAN ORGANIK MEMILIKI DAYA TAHAN , PADA MUSIM KEMARAU

 Musim kemarau seperti saat ini,memang menjadi kendala untuk setiap komoditas pertanian,bahkan ada beberapa informasi diwilayah pantura jawa yang “mengarit” tanaman padinya sebelum melakukan panen akibat tanamannya “puso”.   Kemarau yang panjang betul-betul terasa,jangankan untuk tanaman untuk kebutuhan sehari-hari saja untuk makan dan minum air sudah sulit didapatkan.  Irigasi-irigasi kering,bahkan ada beberapa  PLTA di Jawa Tengah yang sudah menghentikan kegiatannya akibat debit air yang berkurang drastis.

1.( Pengamatan yang kami lakukan di lahan aplikasi penerapan tehnik berbasis pertanian organik yang kami lakukan di wilayah Kamojang Kab. Bandung,tampak dalam gambar pekerja kebun Bp. Tata Supita berdiri disamping tanaman yang juga mengalami kekurangan air.)

Pada saat seperti ini,air menjadi bahan yang mahal,namun petani tidak mempunyai pilihan. Biaya yang dikeluarkan tidak sedikit,tanaman yang sedang dibudidayakan harus tetap diupayakan agar terairi,walaupun dengan menambah biaya ekstra untuk menjaga agar tanaman tetap bertahan dan berproduksi tinggi.

2.(Seluruh pengambilan gambar di halaman ini,dilakukan pada tanggal 3 September 12.  Pada gambar 2 diatas ini, kami kembali melakukan perbandingan pengamatan antara tehnik yang menggunakan sistem berbasis pertanian organik ala kembang langit dengan tehnik kimia murni).

Kami dalam hal ini ,ingin mengungkapkan bahwa dengan tehnik berbasis pertanian organik ala KPO-KL, tanaman memiliki ketahanan lebih dibandingkan dengan tehnik berbasis kimia.

3.(Kami mengambil gambar lebih dekat ,untuk tanaman yang meggunakan tehnik pertanian berbasis kimia,tampak tanaman terserang hama dan penyakit yang kompleks.  Penyakit yang paling menonjol adalah layu fusarium,keriting daun,virus kuning dan daun tanaman seperti terbakar ).

4.(Pengamatan kami,geser lebih kekanan,tampak tanaman sudah “tak berdaya”).

Keritingnya daun biasanya membuat petani “Out of Control”, ada informasi dari mana saja biasanya diikuti,bahkan ada yang menyarankan disemprot daunnya dengan menggunakan, pupuk NPK, akibatnya bisa dirasakan… tanaman semakin mengeriting.  Ada juga yang menyarankan insektisidanya diperbanyak/ditinggikan dosisnya,hasilnya bisa ditebak, tanaman makin “terbakar”.

5.(Pengamatan kami geser ke belakang “saung”,masih dalam satu lokasi,tampak dalam lokasi ini, tanaman “tetangga” tidak lebih hijau dibandingkan tanaman sendiri.6.(Kalau bapak/ibu,melihat hasil-hasil aplikasi yang terus kami tampilkan dari waktu kewaktu hingga tanaman berproduksi seperti saat ini,mungkin anda bertanya mengapa bisa tanaman bisa bertahan walaupun perlu perjuangan untuk mendapatkan air?).

7.(Buah tomat dan buah cabe,berbuah lebat selain itu daun tanaman, masih bertahan hijau kebiruan,buah bagian atas pun, “lumayan”besar -besar).

Demikian pula pemberian fungisida dan pupuk daun yang bersumber dari bahan kimia, malahan bisa memberi efek daun tanaman makin mengeras dan kaku.  Dalam kondisi begini tanaman, biasanya daya serap daun terhadap nutrisi menjadi tidak efektif lagi.

8.(Buah tomat bagian bawah ,sudah petik beberapa kali).

Pada saat musim kemarau seperti saat ini,tidak menutup kemungkinan terjadi serangan penyakit seperti busuk daun atau bahkan busuk buah/patek.  Adanya serangan penyakit seperti ini,biasanya mempercepat “GAME OVER” nya tanaman budidaya.

9.(Buah cabe siap petik,  dengan kondisi kekurangan air,yang patut disyukuri adalah tanaman cabe memberikan hasil,walaupun buahnya ada yang tidak “lurus-lurus”,maklum kadar cairan yang kurang).