19 Februari 2019

Seleksi Alamiah, Profesi Petani Hortikultura Sedang berlangsung

 Saat ini petani hortikultura bisa dikatakan sedang mengalami krisis harga yang berkelanjutan, belum ada tanda tanda kenaikan harga yang signifikan bagi petani. Hal ini tentunya sangat memprihatinkan dan menyebabkan petani di beberapa daerah sudah mengalami “kolaps”. Bagaimana tidak , salah satu komoditas unggulan  seperti cabe CMK, saat ini dipasar Induk Kramat Jati , harganya masih dikisaran 7000-8000  rb rupiah bisa kita bayangkan berapa harga pembelian dari petani nya????

Tapi kami dan Mitra mitra  KPO , selalu optimis walau berjalan ” tertatih tatih”, karena terpaan  begitu kencang ,dari pada berkeluh kesah, kami terus mendampingi petani mitra dari berbagai daerah yang masih terus bersemangat, walaupun kondisi tidak kondusif.

(Kami coba mengikuti perkembangan tanaman mitra kami dari Rokan Hilir , tepatnya di Manggala 25, Riau, tanaman terong varietas Milano, yang pindah tanamnya pada akhir bulan Desember 2018 .)

Prinsip bertani cara KPO KL, adalah ‘tidak ada petani yang ‘Jago’ apalagi Petani Master, atau “ahlinya ahli”, apalagi  tidak ada jaminan bertani itu ‘anti gagal’. Kami tidak sepaham dengan istilah istilah diatas.

Yang ada hanyalah faktor penguasaan medan, kehati hatian dan memahami instrumen instrumen dalam menerapkan suatu sistem/pola. Menempuh ‘perjalanan’ dengan kekurang hati hatian, bisa saja, masuk ‘jurang’. Jadi walaupun sudah ‘ahli nya ahli ‘ sekalipun bisa saja, terperosok apabila  kurang hati hati, misalnya pada saat momentum / saatnya ‘mengerem” tetapi tiba tiba masih di Gassss…

Masa  masa berat sedang di lalui oleh petani pada saat ini, harga yang rendah, perawatan yang relatif sulit di musim hujan, biaya produksi yang membengkak ditambah lagi serbuan produk produk luar yang terus membanjiri negeri kita, menyebabkan petani makin menjerit saja. Benar benar seleksi alam sedang terjadi, petani yang punya ‘skill’ mumpuni pun ada yang masih bisa bertahan ada juga yang tidak tahan, tetapi minimalnya bagi petani yang berpengalaman , walaupun harga jual rendah mereka pada umumnya masih bisa, minimal ” kembali modal’ , tidak sampai rugi.

Dilain pihak, petani ‘dadakan’ yang mengejar target panen di bulan bulan ‘basah’ seperti saat ini, tidak sedikit yang sudah “gulung tikar”. Sangat memprihatinkan , dunia pertanian hortikultura kita saat ini.

Kami mencoba untuk TIDAK membahas perihal hubungannya dengan ‘bulan bulan politik’ atau hal lainnya, karena kita saat ini hanya terus “berjuang sendiri’ , sambil menunggu  yang mempunyai kewenangan  melakukan kebijakan yang bijak bagi petani. Kita hanya bisa terus berjuang agar tanaman tetap baik , sehat dan berproduksi tinggi sambil terus menekan biaya produksi. Hal ini lah yang dapat kita lakukan .

(Di sisi lainnya….dengan harga terong saat ini di Rokan Hilir sekitaran 4000 per kg nya, mitra kami masih  bisa tersenyum, apalagi harga terongnya ada penambahan nilai jualnya karena kualitas produk yang masuk kategori Grade A/Super.)

Hal hal yang demikianlah yang kami lakukan bersama mitra, berusaha agar biaya dikurangi tetapi kualitas produksi tetap ….OK. Berjuang keras agar tidak masuk dalam kelompok yang tereleminasi. Seleksi alamiah , sedang berlangsung.

Tak ada waktu untuk meratapi atau bermuram durja, kita terus berusaha agar biaya bisa dibuat seirit mungkin , dalam contoh kejadian pada tanaman terong p. Refi di Rohil ini, biaya pupuk kimia dan pestisida kimia berhasil kita tekan penggunaannya.

Kami berharap musim tanam depan , areal tanam mitra mitra kpo KL bisa lebih luas dan  bisa  menambah untuk menanam komoditas komoditas lainnya. Salam Sukses mitra petani dimana pun. Selalu ada jalan, bila disertai usaha yang gigih dan  sambil terus ber Doa …tentunya.