1 Maret 2013

PERTANIAN BERBASIS ORGANIK !!! OPTIMIS !!!

Ada perbedaan mendasar antara konsep pola pertanian organik dengan pola pertanian berbasis kimia,beberapa hal bisa kami cirikan sbb:

Gambar 1.A.  ( Hasil aplikasi yang menggunakan  Pola pertanian kimia murni.)

Tampak  dari tinggi ajir yang digunakan, pola tehnik pertanian kimia menggunakan ajir yang pendek, karena “mungkin” berdasarkan pengalaman yang lalu-lalu, sudah di “vonis”  tanaman tidak akan tinggi sehingga dianggap tidak perlu untuk memakai ajir penyanggah yang tinggi.

Gambar 1.B. ( Hasil aplikasi tanaman yang menggunakan tehnik pertanian organik ala KPO,pengambilan gambar waktunya  sama dengan gambar 1.A.  Demikian pula  usia tanaman kedua perbandingan ini, selisih kurang dari satu minggu.)

Bisa diperhatikan jenis ajir penyanggah yang digunakan,  pola pertanian organik ala KPO menggunakan ajir “OPTIMIS”.  Bisa dibandingkan dengan  tinggi ajir pada gambar 1.A.

Gambar 2.  ( Jenis-jenis pupuk dan pestisida yang menggunakan pola KPO, bisa diperhatikan produk “pendamping” yang digunakan.)

Walaupun dengan produk yang “murah meriah”,  petani binaan KPO, sangat optimis menyongsong hari depan pertanian yang lebih  “cerah ceria”.

Gambar 3.A. ( Pengambilan gambar pada tanggal 1 Maret 13, kondisi saat ini tanaman yang menggunakan pola berbasis kimia.)

Sepengamatan kami petani berbasis kimia  pada umumnya baru OPTIMIS dalam mengelola pertaniannya apabila produk yang digunakannya diatas Rp. 100.000,-  per 100 mili liternya.

Gambar 3.B.( Pengambilan gambar kami geser sedikit ke kanan dari gambar 3.A.  Tanaman kondisi nya membuat TIDAK OPTIMIS lagi…)

Sebenarnya keTIDAK OPTIMISAN petani berbasis kimia sudah terjadi sejak AWAL SEBELUM TANAMAN DI TANAM.
Dalam hal ini, mungkin juga anda bisa merasakan sendiri,  belum juga lahir ” si Jabang Bayi” obat-obatan sudah dipersiapkan, seolah-olah ,nanti “bayi” setelah lahir  begitu OPTIMIS , pasti akan sakit.  Hal ini dicirikan dengan obat-obatan kimia sudah dipersiapkan dalam jumlah yang banyak  sebelum tanaman di pindah tanam.

Gambar 3.C.( Pengamatan kami geser lebih kekanan lagi, kondisi tanaman ,seperti yang terlihat dalam gambar ini…kami persilahkan anda untuk menilainya sendiri.)

Selain  contoh-contoh diatas ada beberapa hal yang kami catat dari cara konsultasi yang dilayangkan ke “redaksi” KPO.  Petani-petani yang awalnya sudah terbiasa dengan pola pertanian berbasis kimia, cendreung pertanyaan dan komentarnya, kurang OPTIMIS.  Diantaranya  adalah sbb:   ” Saat ini tanaman saya berumur 2 bulan,  dari 5000 tanaman yang sedang di budidayakan,  SUDAH ADA YANG TERSERANG  LAYU 3 batang.”  Kita bisa merasakan “nilai rasa ” dari kata SUDAH , dalam kata-kata diatas…kesannya seperti dan seolah-olah, ada kekawatiran yang sangat mendalam,  dan kesan TIDAK OPTIMIS, bahwa tanamannya  yang  lain dan masih sehat, akan mengalami hal yang sama.

Gambar 3. D.( Kondisi tanaman saat ini yang menggunakan tehnik pertanian organik ala KPO, tanaman SUDAH  petik satu kali.   Dalam hal ini kami menggunakan kata ” SUDAH” sebagai rasa kepuasan  dan optimis akan hasil yang telah dan yang akan  dicapai, dan kami tidak menggunakan kata ‘BARU’ panen satu kali.)

Perbedaan yang mendasar dengan yang kami kembangkan justru, kami mewanti-wanti agar “tidak panik” dan tetap optimis.  Dalam beberapa tulisan kami yang lalu, hal seperti ini, kita anggap bahwa kondisi perjalanan sedang ada “tikungan tajam”.  Tinggal ” rem-rem dikit dan banting stir”.

Gambar.3.E. ( Tinggi tanaman yang menggunakan tehnik pertanian organik ala KPO, sudah mulai “mengejar” ajir tanaman.   Suatu optimisme,  sudah mulai tampak.)

Dengan tehnik pertanian organik ala KPO ini, kami biasa menyarankan agar tetap optimis, dalam setiap “langkah-langkah ” aplikasi, adanya kendala kendala seperti busuk batang, busuk buah, busuk daun dllnya, kita anggap sebagai ” rintangan” untuk menguji  “ketangkasan mengemudi”.    Pengemudi yang tangkas biasanya lebih optimis dan akan bisa memangkas waktu tempuh dari waktu rata-rata yang biasa dijalani.  Dalam hal ini pun kami harapkan petani yang memahami tehnik-tehnik pertanian organik ala KPO,  bisa lebih OPTIMIS, dalam menjalani hari-hari  dalam mengelola pertaniannya. 

Gambar 3.F.( Kita lihat bagian bawah dari buah tanaman yang  “bergelayut” dengan lebatnya.)

Apabila Pola pertanian  berbasis  kimia , tampaknya makin tidak  optimis,  setidaknya dari hasil yang didapat  dari gambaran diatas yang menunjukkan tanaman kerdil,  terserang layu dan juga penyakit lainnya.  Sementara itu  kami makin optimis dengan apa yang telah kami capai hingga saat ini.  Kami mencoba mengajak anda untuk tetap optimis, minimal di mulai dari POLA PIKIR terlebih dahulu untuk selanjutnya kita aplikasikan dengan  langkah-langkah nyata dilapangan.  Hasil  aplikasi yang akan menjawabnya.
Setidaknya bisa kita jadikan “pegangan ”  kata orang bijak yang mengatakan  dan  mencirikan suatu ke OPTIMISAN   :
“GELASNYA SUDAH TERISI SETENGAH, BUKAN GELASNYA BARU TERISI SETENGAH”