Sukses Bersama Klinik Pertanian Organik Kembang Langit, Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Pimpinan KPO-KL Bpk. Rusli Gunawan SW, SH. (kiri) Bersama Bupati Garut Bpk. H. Rudi Gunawan, SH, MH dan Camat Leles Dra. Hj Rusmanah M.Si More »

Kegiatan bersama Menakertrans di Leles-Garut More »

Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Jajaran Komisaris Direksi, Staff, dan Rekan PT.Kembang Langit More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada tanaman Padi di Aceh More »

Kegiatan Pelatihan More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Keriting More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Rawit More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Pare/Paria More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Keriting More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada tanaman Tomat di-Bandung More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Keriting More »

Hasil Aplikasi Mengatasi lalat buah di tanah karo-SUMUT More »

Pengiriman Barang, Kegiatan Pelatihan More »

 
« 1 ... 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 ... 464 »

MENGATASI “KRESEK DAUN” PADI, DENGAN TEHNOLOGI “HI-TECH”

Kresek daun pada tanaman padi, saat ini masih saja  menjadi kendala utama dalam budidaya tanaman padi .  Pada artikel kali ini, kami mencoba untuk mengupas cara pengendalian penyakit kresek daun ini dengan pola pengendalian  berdasarkan metode KPO-KL. Sebagaimana yang kita ketahui, penyakit Kresek ini diakibatkan oleh Bakteri, mereka bersifat sistemik artinya mereka tumbuh dan berkembang didalam jaringan pengangkutan utama pada tanaman. Pada saat tanaman terinfeksi bakteri, bakteri tersebut terangkut keseluruh bagian tanaman dan pada saat itu daun secara meluas  juga menjadi terinfeksi. Sehingga ujung daun dan bagian tepi daun serta daerah – daerah jaringan pengangkutan berubah warnanya menjadi kuning kemudian coklat.

Penyakit kresek menjadi masalah umum yang serius, karena banyak petani yang tidak tahu gejalanya secara tepat, banyak petani yang beranggapan yang kurang tepat, petani beranggapan  bahwa penyakit ini disebabkan oleh serangga  hama,  sehingga banyak petani yang menggunakan insektisida untuk mengendalikannya akibatnya upaya pengendaliannya seolah menjadi  sia-sia.

padi wah

( Usia tanaman pada saat diambil gambarnya , berusia 64 hari.)

Sebagai ilustrasi dalam mengendalikan penyakit ini, kami sertakan hasil aplikasi terbaru di Bulan Pebruari 2014, yang kami telah dan sedang terapkan di ujung barat, bumi pertiwi, tepatnya di Bumi Serambi Mekah, di Aceh .  Seluruh gambar yang kami lampirkan di artikel ini, diambil pada hari sabtu tanggal 22 Pebruari 2014.

Ciri dan akibat dari serangan kresek daun , bisa terjadi sebagai berikut,  bagian pucuk Tanaman dan tepi daun akan mengering, proses fotosintesa tidak dapat maksimal, sehingga produksi yang dicapai tidak maksimal, berat gabah kurang bernas/ mentes, banyak butir hijau dan butir hampa, gabah warnanya menjadi kusam, tidak mengkilat.

padi pak Murdani2

(Keseragaman munculnya bulir pun bisa diamati, tetapi kami tetap mewaspadai terjadinya serangan penyakit kresek daun) .

Pada judul artikel diatas kami, ingin mengulas, dalam hal pengendalian penyakit kresek daun dengan tehnologi “Hi-tech”. Kita sangat terbiasa menganggap bahwa pertanian merupakan tehnologi yang “LOW-TECH” ( bukan dibaca “LOTEK” , makanan sayuran khas dari  Jawa Barat.)

padi pak murdani var bbb

(Dalam hal ini pun kami selalu mengunakan pembanding antara tanaman yang menggunakan tehnik KPO-Kl dengan yang tidak.  Sebelah kiri tidak menggunakan sedangkan sebelah kanan menggunakan tehnik KPO-KL.  Usia tanaman sama.)

Bahkan sering dianggap tehnologi yang “kampungan” dan mudah dilakukan oleh siapa saja, tetapi kenyataanya? Justru karena dianggap tehnologi yang mudah, hasilnya jauh dibawah harapan.  Bahkan untuk tanaman padi, yang termasuk tanaman famili “rumput” sekalipun.

padi pak murdani pidie

( Masih gambar yang sama dengan yang diatas,perbandingan kami lakukan.)

Tetapi menjadi pertanyaan besar sekali, kenapa koq, bidang pertanian yang dianggap tehnologinya “kampungan”, hasilnya sebagian besar belum menggembirakan?

padi pak murdani tea

(Tanaman tumbuh subur dengan varietas lokal yang digunakan adalah varietas B3.

Mungkin petani kita,  belum memehami secara tepat,  bahwa saat ini, benih yang digunakan sebagian besar adalah , dari jenis /varietas  yang di “produksi” secara HITECH.  Demikian pula pupuk kimia nya, sebagiannya sudah di buat dengan tehnologi tinggi. Sebagai contoh saja, pupuk kimia dalam bentuk NITRAT ( KALIUM NITRAT ataupun KALSIUM NITRAT.)

padi pak murdani 5

(Bisa kita amati kondisi bulir yang mulai  berisi dan merunduk di usia 64 hari.)

Pupuk pupuk tersebut adalah pupuk yang dibuat dengan tehnologi tinggi, bahkan hingga saat ini, negara kita baru bisa impor pupuk pupuk yang mengandung NITRAT tersebut dan belum bisa memproduksi pupuk jenis tersebut.   Negara-negara pengimportnya diantaranya, Prancis dan Belgia.

padi pak murdani 4

(Bulir padi mulai tampak serentak,walaupun usianya baru 64 hari.)

Sedangkan Pupuk yang digunakan oleh petani pada umumnya, pupuk yang bukan berupa NITRAT, tetapi masih berbentuk AMONIUM. Sebagaimana yang kita ketahui ,dalam SIKLUS NITROGEN, tanaman baru bisa menyerap “makanan” apabila NITROGEN dalam bentuk NITRAT.

padi pak murdani 3

(Aplikasi  pengendalian hama dan penyakitnya kami lakukan  dengan menggunakan pestisida organik.)

NITROGEN dalam bentuk AMONIUM, perlu diubah dulu dalam bentuk NITRIT kemudian diubah lagi menjadi NITRAT. Sedangkan perubahan bentuk Nitrogen ini, hanya akan bisa apabila ada bakteri- bakteri yang “mendorongnya”.

padi pak mur

(Gambar diatas adalah, “teman”nya ,mitra kami di Pidie Aceh.)

Nah… dalam hal ini, kami memang tidak menggunakan Nitrogen kimia dalam bentuk NITRAT, tetapi masih dalam bentuk AMONIUM, tetapi kami menambahkan ‘bakteri-bakteri” yang kami “dorong” untuk mengubah bentuk NITROGEN tersebut.  Jadi, apakah ini bukan suatu bentuk tehnologi   ” HITECH”  ?

padi p. Murdani

(Beliau merupakan, petugas THL-TBPP, di Kecamatan Pidie, Aceh.)

Kami mencoba mengelola pemberian pupuk NITRAT, yang tidak mahal dan tanpa olahan pabrik tetapi mengandalkan bakteri pendukung yang tersedia.   Secara tidak langsung pemberian pola ini, bisa mengatasi terjadinya serangan “kresek ” daun pada tanaman padi, karena kadar nitrat yang kami berikan dengan tehnologi KPO-KL kadarnya tidak berlebihan.