Sukses Bersama Klinik Pertanian Organik Kembang Langit, Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Kegiatan bersama Menakertrans di Leles-Garut More »

Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Jajaran Komisaris Direksi, Staff, dan Rekan PT.Kembang Langit More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada tanaman Padi di Aceh More »

Kegiatan Pelatihan More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Keriting More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Rawit More »

Hasil Aplikasi Mengatasi lalat buah di tanah karo-SUMUT More »

Pengiriman Barang, Kegiatan Pelatihan More »

 
« 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 ... 137 »

Menguji kadar bahan Kandungan , Pupuk Organik

Kali ini kami akan membahas hasil penerapan mitra kami dari Jogjakarta, tepatnya di desa Pundungan- Tirtomartani-Kalasan- Sleman. Kali ini mitra kami ini  Mas Ichsan Sleman ini, sudah 4 musim tanam ,menggunakan pola KPO-KL. Musim ke dua ketiga dan saat ini musim ke empat, sudah tanpa pupuk dasar  sama sekali, tanpa tambahan apa apa lagi.Pupuk hanya diberikan lewat kocoran saja. Hal ini sekaligus untuk menganalisa seberapa jauh, metode kpo KL bisa diterapkan walaupun tanpa penambahan pupuk organik dan pupuk kimia sebagai pupuk dasarnya sebagaimana yang biasa kita lakukan saat ini.

Tanaman mitra kami kali ini ditanam dilobang tanam yang sama, dan sudah dilakukan untuk ke 4 kalinya, tetapi tanpa penambahan pupuk kandang dan kimia sedikitpun. Penanaman di lakukan pada tanggal 5 Mei 2018, varietas Sypoon.

Walaupun tidak menggunakan pupuk kandang dan pupuk kimia sebagai dasaran, melalui perlakuan yang kami berikan tetap mengupayakan agar suplay unsur hara dan mengaktifkan unsur hara senantiasa terjaga. Tanpa repot dan tanpa perlu memberikan pupuk kandang dalam jumlah yang banyak sebagaimana yang biasa dilakukan oleh petani pada umumnya.

Dengan pola KPO-KL yang kami lakukan ini yaitu pemberian Pormik atau Micvator di awal masa tanam, kami maksudkan agar tanah tetap memiliki daya serap air dan daya tahan yang terus meningkat. Tanpa perlu media yang banyak lagi, kami mencoba agar tanah tetap mampu menahan agar air tidak tergenang atau air tidak terlalu cepat mengalir.

Pengurangan biaya sangat besar kami lakukan dengan metode ini, dimana pada lokasi yang sama tanpa membongkar posisi bedengan, kami mencoba agar tetap bisa mengharapkan produktivitas yang tinggi.

Selain itu, penghematan biaya produksi telah kita pangkas dengan jumlah yang sangat banyak sekali.

( Buah mulai melebat)

Tanpa mengesampingkan perbaikan ‘pori pori’ tanah dan memperkuat daya ikat agregat unsur hara, pemberian nutrisi siap serap ini, yaitu Micvator dan Pormik ini juga dapat berfungsi untuk menambah unsur hara MIKRO dan MIKROBA nya. Saat ini tanaman mitra sudah berusia 3 bulanan dan sudah mulai ada yang memerah.

Semoga saja tanaman mas Ichsan ini bisa lulus dari berbagai kendala, dan tidak kekurangan unsur hara walaupun tanpa pemberian pupuk dasar baik pupuk kandang maupun pupuk kimia untuk yang ketiga kalinya. Sukses petani Jogja….

Tehnik agar tanaman rajin berbuah

Tanaman yang rajin berbuah tentunya sangat didambakan oleh setiap orang yang bercocok tanam apalagi kalau tanaman tersebut sepertinya tidak berhenti berbuah, walaupun tidak pernah diberi pupuk buah secara khusus.

Tunas seolah olah terus naik dan berkembang keatas sambil membawa bunga dan buah seperti halnya tanaman mitra kami dari Nias ini.

Beberapa hal perlu diperhatikan agar tanaman mau terus berkembang dan berbuah diantaranya adalah, ketersediaan air, kecukupan unsur hara, Mikroba pengurai, ketersedian cahaya dan terutama adalah pada saat pengolahan lahan yaitu berupa,persiapan lahannya.

Tanaman pak Daci yang ditanam tanggal 27 Maret 2018 saat ini sudah panen lebih dari 20 kali, tetapi hingga saat ini diusia tanaman sudah lebih dari 4 bulan, cabe Lado beliau masih saja aktif berbuah.

Ketersediaan pupuk yang siap diserap oleh tanaman, juga merupakan hal yang penting diperhatikan. Padahal kebanyakan dari kita memberi makanan pada tanaman budidayanya masih berupa “beras” belum berupa “nasi”. Dalam prakteknya dalam hal ini kalau cara kpo KL adalah dengan memberikan Protektan dan Biopestis yang dilakukan secara di kocorkan dengan dosis hanya 1/2 mili saja per liter airnya.

Selain itu pemberian mikroba mikroba pengurai tidak kalah pentingnya dalam budidaya tanaman, tetapi terkadang karena praktek yang kurang tepat mikroba yang kita berikan justru “mati”karena tertekan oleh bahan kimia dengan dosis tinggi.

Dalam prakteknya , cara yang kami lakukan adalah dengan memberikan Micvator (dosis 2 gram per liter ) dan Freshtan (dosis 1/2 mili per liter) airnya.

MENGENDALIKAN LAYU FUSARIUM

Layu fusarium merupakan salah satu penyakit pada tanaman tomat dan cabe yang menjadi kendala dalam bercocok tanam.  Sekali terkena biasanya serangan merembet pada tanaman lainnya, dan disitulah kepanikan melanda petani. Oleh karena nya kami terbiasa untuk mengkondisikan seawal mungkin agar tanaman tidak mudah terserang penyakit layu yang mematikan tersebut.

Mungkin anda sudah jenuh dengan kasus yang berulang tersebut, dimana dari musim tanam satu ke musim tanam berikutnya, kasus demikian selalu saja hadir dan mendera pertanaman petani. Berbagai cara ditempuh baik dengan pemberian fungisida, bakterisida atau juga pemberian agen hayati semisal TRICHODERMA, sudah sering dilakukan, tetapi hasilnya, bahkan nihil.

Kami mencoba menerapkan metode KPO_KL dalam, menghambat pertumbuhan cendawan Fusarium oxysporum yang mematikan tersebut. Kami coba untuk praktek langsung , tanpa bla-bla-bla…, dalam teori dalam pengendaliannya. Semoga saja tanaman mitra kami ini yang ditanam tanggal 1 Juni 2018 yang saat ini memasuki usia 2 bulanan, bisa terhindar dari layu fusarium tersebut.

Tanaman tomat, varietas Selfi ini, hingga saat ini dan berharap kedepannyapun , terhindar dari layu fusarium tersebut. Lokasi penanaman di desa Cigadog, Cilawu. Garut. Tanaman tomat sudah mulai berbuah, tomat jenis Indeterminate ini, terus berkembang hingga, jumlah tangkai buah/’manggar’ nya ada yang dipelihara hingga 11-12 tangkai buah. Dan…yang kami syukuri hingga saat ini dari kurang lebih 3000 batang tanaman tomat ini, terhindar dari layu Fusarium. Pemberian pemupukan berupa pengocoran, CAS, Freshtan, Protektan  ( 0.5 gram/mili per liter air ) plus Fungisida bila diperlukan  ( 5 -7 sendok makan saja per drum 200 liter ) sangat efektif dalam menekan pertumbuhan cendawan tersebut.

Ketersedian makanan untuk tanaman jenis Indeterminate ini sangat banyak dan boros, apalagi kalau kita mencoba memelihara tangkai buah lebih dari 10 ‘manggar’, disinilah biasanya muncul dilema antara memberikan suplay makanan yang banyak dan resiko tanaman tanpa disadari sudah kebanyakan/ melewati ambang kebutuhannya. Dalam kondisi kelebihan pupuk tersebutlah pada umumnya tanaman menjadi, rawan terkena layu.

Mengukur kadar makanan yang cukup,( sebagaimana yang kami paparkan pada artikel sebelumnya ) dan kebutuhan agar buah yang bagian teratas tersuplay makanan agar buahnya membesar memang diperlukan pola’perasaan’ tidak bisa diukur sacara ‘saklek’ dan kaku, yaa… diperlukan “perasaan dan dirasa rasakan”. Istilahnya kalau, kurang pupuk, maka buah teratas kecil kecil dan tidak masuk kualitas super tetapi kalau kelebihan pun biasanya berdampak pada , kelayuan tanamannya.

Pemberian konsep berupa pola ,makan sekaligus pola antisipasi terhadap berbagai penyakit , termasuk penyakit  cendawan Fusarium kami lakukan secara terintegrasi, satu kesatuan.  Jadi ibaratnya sambil memberi makan sambil mengupayakan kondisi tanaman yang aman dan terhindar dari hama dan penyakit.

Pola pengendalian yang kami lakukan ini ibaratnya bukan hanya, berhasil di cara InVitro hanya di lab di CAWAN PETRI saja tapi langsung ke lapangan secara INVIVO. Mikroba mikroba, “jago lab”, kita tidak gunakan lagi tetapi kami menggunakan mikroba mikroba yang tahan banting dengan kondisi alam yang keras. Semoga saja kali ini pun , mitra kami ini , sdr. Ilyas berhasil dalam menanggulangi  penyakit layu Fusarium ini.

Semoga….Perjalanan masih cukup panjang….