Sukses Bersama Klinik Pertanian Organik Kembang Langit, Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Kegiatan bersama Menakertrans di Leles-Garut More »

Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Jajaran Komisaris Direksi, Staff, dan Rekan PT.Kembang Langit More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada tanaman Padi di Aceh More »

Kegiatan Pelatihan More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Keriting More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Rawit More »

Hasil Aplikasi Mengatasi lalat buah di tanah karo-SUMUT More »

Pengiriman Barang, Kegiatan Pelatihan More »

 
« 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 ... 157 »

Pintar Pintar Memilih Komoditas

Harga komoditas pertanian sampai saat ini pertengahan bulan Maret, masih saja Seret, tidak sedikit petani “gulung tikar”, benar benar tersungkur, dilain sisi katanya petani sejati tidak boleh , Patah semangat dan dilarang mengeluh dan menyalahkan siapapun .

Harga yang murah dan kondisi curah hujan yang tinggi hampir di seluruh Pulau Jawa dan Sebagian Sumatera, menyebabkan  banyak juga petani yang tak mampu lagi bertahan apalagi petani petani yang baru /Petani Dadakan yang tidak sedikit pula jumlahnya pada saat ini. Mitra kami Pak Waluyo,dari Purwosari  Di Perbatasan Lampung Tengah dan Lampung Timur, mempunyai inisiatif sendiri untuk menanam Melon Tanpa Net.

Tanaman Melon Golden yang ditanam pas diawal tahun 2019, Panen pada saat usia tanaman 75 hari dengan harga yang sangat Fantastis 15 ribu rupiah per kg nya . Sementara harga komoditas lain , tersungkur Melon Goldennya di hargai Tinggi. Apalagi rata rata per batangnya menghasilkan total kurang lebih 5 kg , dimana per batangnya di pelihara rata rata 3-4 buah ada juga yang 2 atau bahkan 5 butir per batangnya.

Rasa nya pun sangat super legiiit, dan berada di kisaran Brik 15/ (Skala tingkat kemanisan), data ini berdasarkan informasi yang kami dapatkan dari Mitra kami dari Lampung tersebut, Pak Waluyo ini,boleh percaya atau tidak, baru pertama kali nya tanam Melon, tetapi dengan metode Gas Rem Kopling yang beliau terapkan, ternyata hasilnya sangat memuaskan.

Mitra yang sudah 3 tahun bergabung dengan KPO KL sebelumnya pertanamannya lebih sering Cabe kubis, tetapi felling mitra kami ini tajam juga untuk berhenti tanam cabe  dan beralih ke Melon. (Melonnya dipelihara 5 buah).

(Dalam gambar dua batang  yang dipelihara 8 buah). Pola yang kami kembangkan ini memang “hulu”pada tanaman cabe yang kami jadikan standar dari pola tanaman cabe tersebut, kita upayakan agar mitra bisa juga untuk memelihara komoditas apapun termasuk,Melon Eksklusif ini.

(Berkumpul dan berdiskusi dengan beberapa petani petani senior dibidang Permelonan di Lampung Tengah). Semoga menjadi inspirasi bagi petani petani Melon Lainnya. Satu hal yang sangat kami tekankan lagi, tidak cukup hanya menggunakan Produknya tetapi juga diterapkan Metodenya. Karena produk KPO KL, sebagai sarana yang dirancang untuk menerapkan Metode nya.

Di usia 74 hari, sehari sebelum petik, kondisi daun bisa di katakan masih utuh dan bertahan dari Hama dan Penyakit di bulan bulan curah hujan tinggi seperti saat ini.Dengan memahamu metodenya diharapkan mitra mitra bisa bertanam komoditas apa saja,baik tanaman semusim atau tanaman tahunan, atau tanaman Hortikultura ataupun tanaman Serealia.

Untuk selanjutnya dari penguasaan metode tersebut diharapkan kita bisa berekspresi berinisiatif untuk menaman komoditas apa saja ,sambil membaca peluang yang ada dan juga pangsa peluang pemasarannya. Semoga sukses mitra tani semua , dimanapun

Metode nya Jelas, Hasil tidak Terlalu Meleset

Saat ini memasuki bulan Maret 2019, bertanam cabe masih bisa dikatakan sulit, bagaimana tidak, panen melimpahpun masih belum mampu mengejar faktor “kembali modal”.


Tetapi walaupun demikian harga yang rendah tidak menghalangi mitra mitra kami untuk terus berusaha, agar tanaman bisa bertahan dan sambil produktif. Tanaman mitra kami yang sejak awal tanam bahkan dari dua musim sebelumnya sudah menerapkan pola KPO KL, hingga saat ini tetap bertahan dan dipertahankan.

Harga dikisaran 10-12 rb, terbilang sudah agak menaik dibanding harga minggu minggu lalu. Semoga saja harapannya tanaman bisa bertahan sampai periode pemetikan ke dua nantinya.

Dalam perjalanannya mitra kami ini menerapkan pola Metode secara utuh, dari sejak pengolahan lahan sampai saat ini. Tidak ada keraguan dan hal ini penting , dan juga konsisten tidak terpengaruh dari kiri kanannya. Hal ini kami anggap prinsip , sama halnya juga apabila kita sedang menerapkan suatu cara dari manapun yang diperlukan adalah konsistensi.

Terlalu banyak informasi dan masukan dari sana sini, malahan membingungkan kita sendiri,mana langkah akhir yang kita akan putuskan untuk di ambil. Cara KPO KL dalam menjalankan metode nya adalah semisal dengan, mempelajari dan seperti “menghapalkan jalan” juga , kita terencana juga, didepan ada tanjakan belokan turunan atau jalan datar.

Dalam metode yang diterapkan ini pula kita biasanya sudah berusaha memprediksi dan memperhitungkan secara matang,beberapa langkah kedepan, apa yang akan dialami oleh tanaman apabila diberikan unsur unsur tertentu tersebut.

Dalam metode yang kami kembangkan ini pun kita sama sama akan bisa rasakan apabila ada komposisi yang di luar ” jalur” dipaksa untuk disisipkan, akan sangat terasa dampaknya. Jadi selain proses Gas Rem Kopling, hal hal tersebut tadi bisa kita rasakan sambil, melaju. Selamat menjalankan menerapkan Metode nya.. Semoga berhasil. Satu lagi mitra kami dari Pandeglang Banten sudah merasakannya. Sukses untuk petani ,Indonesia.

Ingin Sukses bertani,Kita pelajari Metode /Pola nya(Bukan Sekedar Produknya)

Pada hari Senin dan Selasa tanggal 11 dan 12 Maret 2019, kami kedatangan tamu dari Sragen , tepatnya dari Desa Taraman, kec .Sido Harjo Jawa Tengah. Dalam kesempatan ini kami memberikan Pemaparan perihal teori teori metode/Pola pertanian berbasik organik cara KPO KL,setelah itu kami  langsung untuk mengamati hasil penerapannya di Desa Warung Peuteuy Kec. Banyuresmi Garut.

Kami melihat langsung ke Lahan penerapan, pada tanaman pak Agus yang secara rutin kami sampaikan perkembangnnya dari awal penanamannya hingga saat ini tanaman cabe besar var. Dharmais ini berusia 100 harian. Pemaparan metode nya kita bahas secara gamblang dan jelas pada hari Pertama dan hari kedua kami ke lapangan pengamatan secara langsung.

Tamu kami dari Sragen ini mengelilingi kebun dan mengamati tanaman secara detail perihal hasil  penerapan metode /Pola kpo KL baik dari segi Produktivitas, segi kesehatan tanaman dari gangguan hama dan juga penyakitnya. Memang kami sangat menekankan penerapan pola/metodenya,karena pola/Metode itu kalau kita ibarat  dengan suatu kendaraan jenis baru, yang agak berbeda jenis instrumennya dan cara menggunakannya. Hal ini yang ingin kami sampaikan kepada mitra mitra kami ini.

Secara umum tanaman relatif jauh lebih sehat pada saat kami melakukan perbandingan dengan hasil yang diperoleh petani lain yang menggunakan cara metode konvensional, terutama dari segi produktivitas yang sangat menonjol perbedaanya. Dalam hal ini kami bukan sedang menggurui petani apalagi yang sudah berpengalaman /senior , tetapi karena kami dalam hal ini merealis “model baru”tersebut maka kami berkewajiban untuk menjelaskan cara menjalankan metodenya secara garis besarnya  dan untuk selanjutnya kami berharap petaninya sudah memahami dan lancar dalam penerapannya.

Memang dalam hal ini, kami menekankan pada petani tamu kami dari Desa Taraman ini (Pak Lilis , Pak Muzakir dan Pak Sutarno ) untuk menekankan pola Metode nya bukan sekedar Penggunaan produknya. Kebetulan dua musim sebelumnya pak Lilis (depan) sudah pernah menggunakan produk KPO KL tapi belum menggunakan Pola Metodenya.

Pak Lilis menjelaskan pengalamannya perbandingan pada musim pertama dan ketiga yang tidak menggunakan dengan musim kedua yang sudah menggunakan walau sekedar baru menerapkan produknya belum menerapkan pola metodenya. Terlihat hasil nya pada tanaman cabe besar pak Agus ini yang secara kualitas dan kuantitas berbeda hasilnya setelah menerapkan metode sejak awal tanam secara konsisten hingga saat ini.

Pada kesempatan ini kami berbicara secara langsung dengan petaninya, pak Agus dan melakukan pencatatan hasil panen dan juga menggali pengalaman pak Agus yang sudah menerapkan pola Metode dan bukan sekedar Produknya. Hasil yang diperoleh hingga petikan ke tiga ini sudah mencapai 1.4 ton (250 kg, 520 kg dan petikan ke3, 630 kg) dari total tanaman 3000 batang . Perbandingan pada petikan ke-3 , hasil tersebut selisih 6 kg  saja dengan hasil petani konvensional dengan jumlah tanamannya lebih banyak dua kali lipatnya ,6000 batang.

Semoga berhasil teman teman  petani bapak bapak dari Sragen yang kami harapkan nantinya menjadi petani petani pioner dalam  pertanian untuk dapat meningkatkan produksi pertanian dengan tetap mengindahkan keselarasan dengan Lingkungan. Aamiin…