Sukses Bersama Klinik Pertanian Organik Kembang Langit, Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Pimpinan KPO-KL Bpk. Rusli Gunawan SW, SH. (kiri) Bersama Bupati Garut Bpk. H. Rudi Gunawan, SH, MH dan Camat Leles Dra. Hj Rusmanah M.Si More »

Kegiatan bersama Menakertrans di Leles-Garut More »

Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Jajaran Komisaris Direksi, Staff, dan Rekan PT.Kembang Langit More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada tanaman Padi di Aceh More »

Kegiatan Pelatihan More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Keriting More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Rawit More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Pare/Paria More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Keriting More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada tanaman Tomat di-Bandung More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Keriting More »

Hasil Aplikasi Mengatasi lalat buah di tanah karo-SUMUT More »

Pengiriman Barang, Kegiatan Pelatihan More »

 
« 1 ... 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 ... 417 »

TIDAK SELAYAKNYA…TANAM “RUMPUT” …..DIBUAT RUMIT !!!

MOMENTUM : 11-12-13

Kalau kita mengamati klasifikasi tanaman padi,sbb :

Berdasarkan literatur Grist (1960), padi dalam sistematika tumbuhan diklasifikasikan kedalam

Divisio: Spermatophyta
Sub divisio: Angiospermae
Kelas: Monocotyledoneae,
Ordo: Poales,

Famili: Graminae

(Rumput-rumputan)

Genus: Oryza Linn
Species : Oryza sativa L.
Tanaman padi, yang termasuk famili Graminae, atau termasuk “keluarga” rumput-rumputan, jadi tidak selayaknya tanam rumput merupakan hal yang rumit dan sulit. Berdasarkan pengalaman kami yang membuat kerumitan tersebut adalah pola tanam kita sendiri.
Biasa kami perhatikan di daerah Jawa Barat bagian SELATAN, pola pemberian “obat”/pestisida sangat minim, hal yang sangat berbeda dengan pola pertanian padi di Bagian UTARA. Pola pertanian di wilayah pantura jawa barat, bahkan di seluruh Jawa, bisa dibilang sangat intensif penggunaan pestisida kimia dan pupuk kimianya, sehingga akibatnya bisa dirasakan seperti saat ini. Tanaman “rumput” tersebut menjadi sepertinya terlalu dimanjakan , sehingga “sakit” sedikit saja sudah harus diberi “OBAT”.
Demikian pula dengan pola makannya, sistem pertanian di Pantura Jawa terlalu diberikan makanan kimia yang terlalu banyak, sehingga makanan kimia tersebut bukannya menjadikan “rumput” tersebut menjadi sehat malahan menjadikan “rumput” tersebut menjadi ‘KEGEMUKAN/OBESITAS’ dan mudah terserang penyakit.
Logikanya sangat sederhana : Pemberian makanan yang terlalu banyak, jangankan makanan yang bersumber dari makanan kimia, makanan yang bersumber dari ALAMI pun, apabila berlebihan akan menyebabkan MASALAH yang tidak kecil, apalagi “makanan” yang sumbernya dari serba kimia ( UREA, NPK ,Kcl dan pupuk pupuk kimia lainnya.)
Oleh karena itu ,kami tidak heran kalau sekarang ini akibatnya pada tanaman padi yang terlalu berlebihan makanan/pupuk, akibatnya padi menjadi mudah terserang penyakit : “JANTUNG, KOLESTEROL, DIABETES , REMATIK dll ” he..he …
Kami mencoba untuk mengembalikan pola pertanian di daerah Jawa barat bagian Utara menjadi pola pertanian yang “tidak cengeng”/tidak dimanjakan.

Pada kesempatan ini, kami menggunakan varietas Inpari 10, usia tanaman hingga saat ini, 75 hari.

Penerapan aplikasi kami lakukan dengan mitra kami Bp. Andi Supardi yang beralamat di Blok Gendolong Desa Lajer Kec. Tukdana Kab Indramayu, Jawa Barat menggunakan metode pertanian berbasis organik ala Kembang Langit yang berupaya menjadikan tanaman padi kembali pada kebiasaanya sebagai tanaman rumput yang tidak perlu dimanjakan dan tidak dibuat “cengeng”.

1

1. Usia tanaman 13 hari. Ada dua pola pertanaman yang berbeda antara tanaman yang sebelah kiri menggunakan tehnik pertanain berbasis organik ala Kembang Langit, sedangkan sebelah kanan menggunakan tehnik konvensional , cara kimia murni

2

2.Usia tanaman satu bulanan, pengambilan gambar menghadap ke Utara

3

2.A. Usia tanaman satu bulan, sedang dibandingkan dengan tanaman tetangga yang menggunakan tehnik kimia murni (sebelah kiri)

4

3.A. Usia tanaman 68 Hari,pengambilan menghadap ke Utara ,pengambilan gambar pada tanggal 2-12-13 . Hingga saat ini, aplikasi semprotan sudah dilakukan sebanyak 7 kali. Insektisida kimia yang digunakan hanya menggunakan 0.3 mili per liternya. Interval penyemprotan 10 hari sekali, padahal kebiasaan petani setempat biasanya 5 hari sekali atau paling lambat 7 hari sekali.

5

3.B.latar belakang ada pohon mangga, pengambilan menghadap ke Selatan

6

3.C.Pemupukan sudah dilakukan selama 3 kali, yaitu usia 10 hari, 25 hari dan 40 hari

7

3.D.Kondisi tanaman hingga saat ini terbebas dari kresek daun dan penggerek batang.

8

3.E.Dosis Pupuk kimia yang digunakan sudah kami upayakan untuk ditekan/ dikurangi sebanyak 30-40 persenan. Kondisi tanaman masih segar bugar, dengan bulir yang lebat dan daun bendera masih hijau. Kalau mengamati kondisi tanaman padi seperti ini, kami sangat optimis dalam mengatasi hama penggerek batang ,penyakit kresek daun bahkan dari serangan TIKUS.

9

3.F.Luas tanaman padi yang menerapkan tehnik ini seluas 1/2 “bahu” (3500 m2). dengan mengamati kondisi tanaman seperti ini, sepertinya besar harapan kami bersama…. semoga saja, hasilnya memuaskan…

10

4. A. Gambar diatas kami terima pada tanggal 9 -12 -13, lokasi pengambilan gambar masih di lokasi yang sama. Tampak dalam gambar bulir tanaman “rumput” yang menggunakan pola “tidak dimanjakan” warna bulirnya lebih cepat matang /” duluan kuning” . Bahkan diperkirakan usia tanaman lebih cepat panen (usia 90 harian) , sedangkan menurut kebiasaan petani setempat biasanya pemanenan di usia 115 -125 harian.

11

4.B. tampak bulir tanaman padi lebih berisi (sebelah kiri dibandingkan tanaman padi yang dipola dengan tehnik diberi makanan kimia banyak(sebelah kanan ). Pemasangan plastik dimaksudkan bukan untuk memanjakan tanaman tetapi untuk menutupi agar tidak dimasuki tikus, namun ada informasi yang kami dapatkan yaitu lokasi Bp. Andi ini tidak dilakukan pemasangan “Gen set”/disetrum diwaktu malam hari , karena tikusnya ternyata tidak terlalu suka dengan tanaman “rumput” pak Andi ini.

12

4.C. Aplikasi semprotan hingga saat ini, baru dilakukan sebanyak 7 kali, hal ini tidak biasa dilakukan oleh petani di Pantura (biasanya jumlah aplikasi sudah lebih dari jumlah tersebut ) .

13

4.D . Dengan penanaman yang dilakukan pada hari yang sama, hanya berbeda “jam ” saja, “rumput” pak Andi dipindah tanam pada pagi hari sedangkan “rumput” tetangga ditanam sore harinya, terlihat sekali dan nyata perbedaannya.

Berdasarkan data yang kami dapatkan, negara Thailand merupakan pengekspor padi utama (26% dari total padi yang diperdagangkan di dunia) diikuti Vietnam (15%) dan Amerika Serikat (11%) sedangkan Indonesia merupakan pengimpor padi terbesar dunia (14% dari padi yang diperdagangkan di dunia) diikuti Bangladesh (4%), dan Brazil (3%).

Malu juga rasanya, kalau mengulas data ini, “tanaman rumput ” saja, harus sering gagal dan mengapa harus menjadi pengimpor “rumput” terbesar?

Kalau kata bang haji : ” TERLALUUU !!!

Semoga momentum tanggal 11-12-13 , ini kita jadikan saat yang tepat untuk mengembalikan ” tanaman rumput” ini, kembali ke habitat dan kebiasaanya semula, yaitu tanaman yang mudah tumbuh, mudah perawatannya dan tidak perlu dimanjakan. Selain itu tanggal 11-12-13, kita jadikan sebagai momentum untuk dijadikan standar capaian produksi tanaman “rumput” tersebut produktifitasnya 1112 ton atau berharap lebih dari 13 ton. Semoga , hasilnya tidak seperti saat ini yang hanya kisaran 4-5-6 tonan saja per hektarnya.