Sukses Bersama Klinik Pertanian Organik Kembang Langit, Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Kegiatan bersama Menakertrans di Leles-Garut More »

Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Jajaran Komisaris Direksi, Staff, dan Rekan PT.Kembang Langit More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada tanaman Padi di Aceh More »

Kegiatan Pelatihan More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Keriting More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Rawit More »

Hasil Aplikasi Mengatasi lalat buah di tanah karo-SUMUT More »

Pengiriman Barang, Kegiatan Pelatihan More »

 
« 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 ... 133 »

MENGENDALIKAN LAYU FUSARIUM

Perkembangan tanaman pak Daci dari Nias Selatan. Saat ini sudah 8 kali pemetikan. Kami maklumi karena baru kali ini lah mitra kami ini, menanam tanaman cabe keriting.

Tanaman mitra kami ini, terus kami pantau dari waktu di sela sela pemantauan tanaman tanaman mitra kami yang lainnya dari Seluruh Indonesia.

Usia usia tanaman yang sedang panen seperti tanamannya pak Daci ini yang mulai kita fokuskan adalah dalam hal mengantisipasi penyakit Busuk buah dan Layu Fusarium. Tanaman mitra kami ini untuk masalah keriting daun, Virus kuning , hama thrips dan tungau sudah terlewati dan  dengan mulus dilalui.

Mungkin anda sudah biasa mengendalikan layu Fusarium dengan beberapa langkah diantaranya dengan menggunakan Fungisida kontak/ sistemik, untuk menekan pertumbuhan spora Fusarium Oxysporum atau justru dengan menggunakan Cendawan Tricoderma , tetapi hasilnya masih nihil?

Sulitnya pengendalian Spora Fusarium terutama yang berbentuk klamidospora yang biasanya tersebar di dalam tanah di sekitar perakaran tanaman yang sudah terinfeksi. Akar tanaman yang sudah terinfeksi klamidospora kemudian spora akan masuk ke dalam jaringan xilem dan akan menghambat mengalirnya air dan nutrisi yang diperlukan oleh tanaman.

.Ternyata usut punya usut, spora baik yang berbentuk Klamidospora, Mikrokonidia maupun yang makrokonidia sudah membentuk imunitas tersendiri baik oleh fungisida kimia maupun oleh cendawan antagonis semisal Tricoderma. Hal ini sudah sering kita rasakan kekurangefektifannya pada saat ini.

Kami coba mengembangkan metode baru dalam pengendaliannya yaitu ,dengan penggunaan mikroba khusus dalam menekan perkembangbiakan Klamidospora yang biasa “berkeliaran” disekitar akar tanaman yang telah terinfeksi.

Cukup dengan dosis 70 gram CAS per 150-200 liter air Plus PROTEK-tan , dan sedikit fungisida kontak atau sistemik dengan dosis yang sama pula, dalam beberapa kali hasil yang telah kami lakukan ternyata efektif dalam mengendalikan spora jenis Klamidospora penyebab layu Fusarium. Silahkan…untuk di  terapkan dan dapatkan perbedaan hasil dengan yang biasa dilakukan.

 

 

Ulat Bawang, Tehnis dan cara mengendalikannya

Seminggu setelah hari raya, 23 Juni 2018, kami berkesempatan bertemu sekaligus mengamati secara langsung, hasil hasil penerapan cara kpo-KL oleh mitra mitra di desa Gerih -Ngawi dan desa Baluk- Magetan ,Jatim . Ada beberapa catatan yang kami dapatkan terutama pada tanaman cabe, tomat, padi dan bawang Merah. Pada kesempatan ini kami akan membahas khususnya bawang merah terlebih dahulu.

Tanaman yang kami pantau adalah tanaman bawang merahnya pak Khairul yang pada saat itu telah berusia 57 hari, dan bahkan tanamannya sudah diborong/ditebas oleh pengepul . Padahal informasi yang kami dapatkan saat ini tanaman bawang merah di sekitaran desa Gerih Ngawi sedang terjadi wabah serangan ulat bawang yang sedang masif.

Mitra kami ini yang pada awal April 2018, berkunjung ke ‘saung KPO-KL’ ini, untuk mengikuti pelatihan singkat, tanamannya termasuk yang ‘selamat dan lulus’ dari gangguan ulat grayak, Spodoptera exigua . Zona aman sudah terlampaui, biasanya tanaman bawang apabila sudah lebih dari 50 hst termasuk, zona aman dan relatif buah sudah membentuk walaupun belum sempurna.

Hama Ulat Bawang biasanya  mencapai puncaknya pada minggu keempat atau kelima setelah tanam, jadi masa masa rawannya adalah pada usia 1 bulan- 1 bulan setengah, apabila petani tidak cermat dalam mengatasinya, maka tanaman bisa terjadi kerusakan secara meluas.

Untungnya seperti yang terlihat pada  gambar artikel ini, tanaman bawang pak.H. Khairul bisa tertanggulangi dan terhindar dari hama ulat tersebut. Adapun cara yang kami lakukan adalah dengan penyemprotan Pesnator  ( insektisida hayati dari KPO-KL) yang ditambahkan dengan insektisida kimia  sebanyak dua macam ,dan itupun dengan dosis yang rendah.

Sedangkan bersamaan dengan itu, penanggulangan penyakit busuk daun dibagian  ‘ujung’ juga perlu dilakukan secara bersamaan dan dalam hal ini yang kami prioritaskan adalah dengan penggunaan, POCAnIL.

Semoga makin berhasil, mitra mitra KPO-KL dimana pun khususnya petani di Magetan dan Ngawi…

Pengendalian hama dan penyakit dengan mikroorganisme


 

Sebagaimana sudah sering kami kemukakan bahwa yang membantu dalam proses tumbuh dan kembangnya pertanaman cara KPO-KL adalah, ‘mahluk halus’ yang tak kasat mata biasa.  Sebenarnya banyak mahluk halus yang bisa membantu pertanian kita dan alam Indonesia sangat kaya akan mahluk halus tersebut. Secara khusus yang kami gunakan adalah Rhizobacterium. Memang jenis Rhizobakterium ini banyak sekali jenisnya bahkan banyak yang belum tereksploitasi dan tentunya banyak yang belum pula terpublikasikan.

( Baiklah sambil kita mengulas perihal mikroba aktivator tersebut kita ikuti perkembangan tanaman mitra kami dari Kep. Nias Selatan , berupa tanaman cabenya Bp. Daci).

(Tanaman yang ditanam pada tanggal 27 Maret 18 , saat ini sudah makin berkembang dengan buah yang mulai tampak lebat pula).

Sebagaiamana yang kita ketahui, rhizobakterium  dibedakan menjadi dua macam  yaitu , Rhizobakterium yang bisa membantu untuk mempercepat pertumbuhan tanaman dan yang kedua adalah yang sangat berbahaya karena termasuk Rhizobakterium yang merugikan tanaman yang biasa disebut ‘deleterious rhizobcterium. Nah antara keduanya jangan sampai bercampur dan bersatu dalam proses fermentasinya. Apalagi mikroba “deleterious”, mendominasi sehingga ‘mendelete’ menghapus mikroba yang ‘baik’.

(Kami syukuri karena walaupun pak Daci ini petani pertama kali bertanam cabe, tetapi tanaman var. Ladonya sudah ada tanda tanda seperti tanaman petani yang sudah berpengalaman. Hingga saat ini, tanaman berusia 2 bulan lebih 1 minggu).

Mikroba yang terkandung dalam Protektan, Pesnator, Cas dan Pocanil yang diaplikasikan melalui semprotan dan kocoran sebenarnya dapat meningkatkan kualitas pertumbuhan tanaman melalui penambahan  hormon pertumbuhan,kemampuan fiksasi nitrogen dari udara, dan  menghasilkan ‘senyawa’  tertentu yang dapat menekan pertumbuhan, patogen tanaman . 

( Tanaman cabe pak Daci, sehat dengan bantuan  “makhluk halus”, semoga untuk seterusnya tanaman beliau ini, bisa makin membaik dan terhindar pula dari serangan hama dan penyakit).

Banyak sekali jenis mikroba yang tersedia di alam dan belum termanfaatkan, dengan tehnologi yang dimiliki team riset dari  kpo -KL, berupaya untuk mengeksplororasi beberapa jenis yang digunakan untuk fungsi fungsi tersebut diatas. 

Pada tanaman mitra kami ini, kami mencoba memberikan pupuk N dengan  dosis yang rendah saja, hal ini dikarenakan Mikroba yang terkandung baik dalam Protektan dan Biopestis, selain berfungsi sebagai menekan Mikroba penyebab penyakit juga  berfungsi sebagai Fiksasi N2 /Nitrogen. Oleh karena itu tidak perlu lagi pemberian pupuk N dalam dosis tinggi.

Pada saat ini gambar yang tertera diatas, mikroba yang ada dalam Pocanil, mulai di aktifkan…. Bergerak dan berkembang biak dilahan setelah di aplikasikan. Mereka “mikroorganisme tersebut secara aktif menekan pertumbuhan Cendawan Colletotricum sp, penyebab busuk buah /patek.

Agen hayati berupa mikroba tersebut akan terus berkembang biak, asalkan tidak diberi pupuk dan pestisida dosis tinggi. Semoga berhasil pak Daci, seperti mitra mitra KPO-KL yang telah lebih dahulu sukses dengan metode ini.

“Berjalan terus tetap hati hati “….