Sukses Bersama Klinik Pertanian Organik Kembang Langit, Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Kegiatan bersama Menakertrans di Leles-Garut More »

Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Jajaran Komisaris Direksi, Staff, dan Rekan PT.Kembang Langit More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada tanaman Padi di Aceh More »

Kegiatan Pelatihan More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Keriting More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Rawit More »

Hasil Aplikasi Mengatasi lalat buah di tanah karo-SUMUT More »

Pengiriman Barang, Kegiatan Pelatihan More »

 
« 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 ... 138 »

24 September 2018 HARI TANI, MERUBAH CARA PANDANG BERTANI

Hampir setiap tahun , petani merayakan Hari Tani Nasional yaitu  setiap tanggal 24 September , walaupun pada eksistensinya hari Tani tersebut pada hakekatnya lebih menitikberatkan pada segi, agrarianya/redistribusi tanahnya.

Hal ini di lihat dari latar belakang sejarahnya yaitu Pada tahun 1960, Presiden RI Soekarno menetapkan Undang-Undang (UU) No. 5/1960–yang lebih dikenal dengan UU Pokok Agraria. UU ini menitikberatkan pada :  redistribusi tanah/ struktur agraria, air dan benih bagi rakyat tani Indonesia.

Tapi tidak ada salahnya kalau pada kesempatan ini, kita ambil semangatnya yaitu untuk  peningkatan kesejahteraan petani dan masyarakat pedesaan, dari segi lainnya selain perihal agrarianya.

Sambil membahas perihal hari tani ini, kami juga secara berkesinambungan untuk tetap dan konsisten dalam memberikan contoh contoh real agar petani bergerak maju dalam meningkatkan produksi walaupun secara luasan lahan tidak cukup bahkan bisa dibilang jauh dari mencukupi.

Semangat Hari Tani Nasional masih  relevankah  hingga saat ini? Kalau menilik dari korelasinya yaitu pada redistribusi agraria, air dan benih, maka harapan tersebut jauh “panggang dari api” . Kepemilikan Tanah  sebagai  modal dasar bertani, ternyata  rata-rata petani jauh dibawah 0.3 hektar per keluarga.

(Seperti halnya lahan yang digarap oleh mitra kami ini pak Tarsidi  Parigi -Pangandaran ini pun jauh dari luasan minimun standar 0,3 hektar . Namun kami tetap optimis memacu pertumbuhan tanaman cabe ini agar bisa mencapai 1.8-2  kg per batangnya.)

Lahan yang sempit hanya untuk sekitar 1400 batang tanaman , ketersedian air yang kurang dimusim kemarau dan kurangnya  fasilitas yang lainnya, tidak membuat petani mitra, menjadi  berkurang semangatnya, tetapi justru mitra terus berusaha agar tanamannnya sehat dan tetap berproduksi tinggi.

Kondisi tanaman sehat dan sudah 6 kali petikan ( untuk hasil timbangan akan kita bahas secara khusus ). Dalam hal ini KPO-Kl, tidak pilih pandang bulu, luasan yang tidak terlalu luas pun tetap kami layani dan kami perhatikan  perkembangannya secara mendetail dari waktu ke waktu dengan catatan ,mitra yang bersangkutan kooperatif dan mempunyai sikap yang teguh dan tidak menggunakan cara yang ‘bercabang- cabang’.

Petani  yang menjadi  sokoguru bangsa sudah selayaknya berhasil dan berkembang dari waktu kewaktu, walaupun itu terlepas dari minimmya Fasilitas baik sarana dan prasarana yang ada, petani kreatif akan terus maju dan berkembang.

Kegagalan demi kegagalan sudah terlalu sering kita dengar dari cara bercocok tanam petani kita, alasan lahan yang kurang luas dll nya tidaklah selayaknya menjadi alasan petani untuk tidak berhasil dalam pertaniannya. Kami bangga dengan mitra kami dari pantai selatan  Jawa barat ini, waluapun dengan segara keterbatasannya , beliau mulai mendongkrak semangat bertaninya atau bahkan harapannya kelak bisa menjadi leader dan mensupport petani lain disekitarnya.

Pola tradisional /konvensional  yang masih dianut  menjadi salah satu hambatan untuk menerima budaya dan teknologi baru dibidang pertanian . Sudah selayaknya petani menjadi seorang  seorang entrepreneur. Dan entrepreneur harus selalu membuka mata terhadap teknologi dan perkembangan baru. Mau menerima masukan baru, dengan ketulusan dan kerendahan hati, kami mengajak untuk bersama sama mengisi HARI TANI ini dengan semangat dan terus berinovasi agar pertanian kita , semakin bergerak dan menjadi ‘leader’ di dunia.

Kekayaan alam berupa, tanah yang subur sudah selayaknya kita mampu bersaing dalam dunia pertanian dengan bangsa lainnya. Selamat Hari tani kami ucapkan, maju bersama KPO_KL…..!!!

Petani Menjerit, di bawah ‘Titik Nadir”

Harga komoditas yang rendah dalam beberapa minggu terakhir ini menyebabkan banyaknya petani hortikultura yang merasakan dampaknya secara langsung.

Bahkan di beberapa tempat harga komoditas seperti cabai dan tomat sampai kepada Titik terendah yaitu sekitar Rp 1000 sampai Rp2.000 per kg nya. Hal ini Tentunya menyebabkan makin sulitnya tingkat kehidupan dan kesejahteraan petani Indonesia.

Tetapi di lain pihak harga pupuk dan pestisida terutama yang berbahan impor harganya justru makin menaik seiring dengan makin melambung nya nilai rupiah terhadap dolar. Untungnya petani-petani Mitra dari kpkl yang menggunakan pupuk dan pestisida berbasis produk dalam negeri tidak begitu signifikan terasa dalam hal biaya perawatannya.

Harga yang sangat rendah untuk beberapa komoditas menyebabkan banyak petani konvensional yang saat ini sulit untuk melanjutkan budidaya untuk musim berikutnya. Tidak demikian halnya untuk petani petani Mitra k p o k l yang konsisten dengan polanya pada saat ini Mitra masih bisa mendongkrak produktivitas dan hal ini bisa mengimbangi rendahnya harga harga sayuran hortikultura di pasaran.

Dalam kondisi demikian jeritan petani memang tak terbendung lagi. Harga rendah bahkan Titik terendah saat ini terasa dimana-mana kita sebagai petani berupaya untuk tidak berkeluh kesah dan berjuang untuk bisa Bangkit dari keterpurukan ini. Hal yang bisa dilakukan oleh petani diantaranya dengan meningkatkan produktivitas setinggi-tingginya.Hal yang dilakukan oleh Mitra kami saudara Ilyas dari Cilawu adalah dengan mempertahankan tingkat produktivitas tanaman tomatnya. Seperti dalam artikel ini hingga petikan ke-7 dari total  2.200 batang tanaman masih bisa mencapai 1,2 ton lebih per perpetikannya.

Petani kpo KL berjuang , untuk bangkit dari titik terendah , tetap fokus pada peningkatan produktivitas dari pada berkeluh kesah…

Bertani , Secepatnya Raih BEP nya, Break even Point, “Batas Titik impas dari Modal.”

Dalam suatu usaha apapun termasuk di bidang pertanian , titik impas dari permodalan yang ditanamkan dalam seluruh biaya operasional dan hasil yang didapatkan hingga waktu tertentu, merupakan patokan kita untuk mendapatkan surplus berupa keuntungan untuk masa perawatan budidaya berikutnya.

Seperti halnya mitra kami dari Sleman- Jogja ini,  hingga petikan 10-11 semua titik impas permodalan yang didapatkan dari awal olah lahan hingga saat ini sudah terlampaui.  Tanaman  rawit yang jumlahnya 3000 batang ini, sudah menghasilkan 700 kg hingga petikan ke 11, per tanggal 12 September 2018

Kondisi setelah pemetikan, tanaman masih segar bugar walaupun informasi yang kami dapatkan bahwa di daerah Sleman pada pertengahan bulan September ini, sangat ekstrem panas. Kami terbiasa setiap mitra yang menggunakan pola/sistem kpo-KL, hal yang pertama kali kami tanyakan  pada saat panenan sedang berlangsung adalah :’ apakah sudah kembali uang permodalan yang sudah dikeluarkan untuk usaha  biaya produksinya?’.

Kondisi tanaman masih sangat ‘ ok’  hingga dipertengahan bulan september 2018 ini. Ada hal yang kami merasakan suatu keuntungan bagi mitra mitra kpo KL yang konsisten dalam aplikasi ke aplikasi  musim berikutnya. Makin lama bedengan di gunakan, maka kondisi tanah makin siap untuk ditanami dan tanpa olah lahan kembali. Hal ini tentunya akan mengurangi biaya produksi khususnya dalam hal , pengolahan LAHAN DASAR, tanpa PUPUK KANDANG DAN TANPA PUPUK KIMIA lagi.

Seperti lahan mitra kami ini,  Mas Ichsan yang sudah menggunakan lahan bekas di 3 musim sebelumnya, beliau langsung tanam di musim ke 4 ini , tanpa olah lahan sama sekali. secara kalkulasi sudah akan sangat mengurangi biaya produksinya.  Oleh karena itu, biaya operasional akan makin cepat tertutupi.

Lahan mas Ichsan yang berada didesa Pundungan- Kalasan- Tirtomartani – Sleman -Jogja ini, sebelumnya sudah ditanami cebe kemudian tanaman pare dua periode tanam dan saat ini di lanjutkan dengan penanaman cabe rawit. Hal unik lainnya yang jadi catatan kami adalah, penamanan yang berdasarkan standar kpo-KL adalah pindah lobang tanam di musim berikutnya, tetapi justru dalam ‘polanya ‘ mas ichsan, titik tanam tidak berpindah  sama sekali.

Tanaman yang ditanam  di awal bulan Mei 18, saat ini sudah berumur 4.5 bulan dan  pemantaunnya kami lakukan secara intensif melalui komunikasi whatsap ini, kondisi nya masih sangat stabil dan relatif aman dari layu – antraknose dan hama penyakit lainnya. Kami sama sama berharap untuk masa masa panen  berikutnya , tinggal meraih keuntungannya saja.

Beberapa bulan ini memang harga cabai, seperti ‘terjun bebas’ untuk rawit jenis Sypon ini sendiri dihargai dikisaran 8000-9000 rupiah per kg nya, tetapi dengan keuletan mitra untuk terus bertahan di kondisi ekstrem dan di harga yang murah akhirnya,  BEP , sudah terlampaui secara cepat  dan berikutnya  kita semua berharap, harga cabe “mau” bersahabat dengan petani  sambil berusaha agar produktivitas tanaman  ini makin bertambah baik pula.