Sukses Bersama Klinik Pertanian Organik Kembang Langit, Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Kegiatan bersama Menakertrans di Leles-Garut More »

Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Jajaran Komisaris Direksi, Staff, dan Rekan PT.Kembang Langit More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada tanaman Padi di Aceh More »

Kegiatan Pelatihan More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Keriting More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Rawit More »

Hasil Aplikasi Mengatasi lalat buah di tanah karo-SUMUT More »

Pengiriman Barang, Kegiatan Pelatihan More »

 
« 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 ... 157 »

Bertanam Sayuran di Lahan Bekas Tambang Batubara

Bertanam di lahan bekas Batubara memang memiliki kekhasan sendiri, berbeda dg bertanam di lahan yang kondisi subur. Kadar “radiasi”dari Logam logam berat, mesti dipertimbangkan  betul.

(Link terkait)

https://youtu.be/JyfNrD0Cp1A

Unsur unsur Logam berat tersebut bisa jadi menghambat masuk dan terserapnya unsur unsur lain yang semestinya di serap oleh tanaman.

Usia tanaman per 19 Pebruari 2019 sudah memasuki bulan ke 4, dan kondisi di Samarinda pada saat ini pun sudah beberapa hari, tidak Turun Hujan, kondisi lahan agak Kering.

Untungnya penambahan beberapa mikroba (Protektan, Mikvator dan Freshtan) yang mas Syafak berikan juga pemberian unsur unsur mikro sebagai penetralisir( Pemberian Pupuk Pormik dan ‘Pupuk CAS ‘dari KPO ), reaksi kimia logam logam berat juga kami berikan agar, unsur hara esensial lainnya dapat “dicerna”dengan mudah oleh tanaman.

Pertumbuhan tanaman secara keseluruhan, terlihat  sehat dan panen secara rutin dilakukan . Perihal harga untungnya di Samarinda Kaltim ini, tidak lah se”ngedrop” didaerah lainnya seperti di pulau Jawa dan Sumatera. Rawit masih bisa dijual eceran dengan Harga, dikisaran 15 rb sd 20 ribuan. Total hasil analisa usaha tani, cabe rawit ini yang kami terima informasi langsung dari Mitra, sudah jauh diatas BEP (Break event Point), artinya modal sudah tertutupi bahkan sudah menguntungkan.

Kami berharap , hal ini bisa menjadi inspirasi bagi petani petani lainnya, yang tekstur dan kondisi lahannya menyerupai lahan mitra kami di Samarinda ini. Kita optimis, lahan lahan yang biasanya terbengkalai  bekas galian tambang batubara pun ,bisa kita tanami dan menjadikannya sebagai lahan produktif sebagai mana lahan lahan ditempat lainnya.

 

 

Seleksi Alamiah, Profesi Petani Hortikultura Sedang berlangsung

 Saat ini petani hortikultura bisa dikatakan sedang mengalami krisis harga yang berkelanjutan, belum ada tanda tanda kenaikan harga yang signifikan bagi petani. Hal ini tentunya sangat memprihatinkan dan menyebabkan petani di beberapa daerah sudah mengalami “kolaps”. Bagaimana tidak , salah satu komoditas unggulan  seperti cabe CMK, saat ini dipasar Induk Kramat Jati , harganya masih dikisaran 7000-8000  rb rupiah bisa kita bayangkan berapa harga pembelian dari petani nya????

Tapi kami dan Mitra mitra  KPO , selalu optimis walau berjalan ” tertatih tatih”, karena terpaan  begitu kencang ,dari pada berkeluh kesah, kami terus mendampingi petani mitra dari berbagai daerah yang masih terus bersemangat, walaupun kondisi tidak kondusif.

(Kami coba mengikuti perkembangan tanaman mitra kami dari Rokan Hilir , tepatnya di Manggala 25, Riau, tanaman terong varietas Milano, yang pindah tanamnya pada akhir bulan Desember 2018 .)

Prinsip bertani cara KPO KL, adalah ‘tidak ada petani yang ‘Jago’ apalagi Petani Master, atau “ahlinya ahli”, apalagi  tidak ada jaminan bertani itu ‘anti gagal’. Kami tidak sepaham dengan istilah istilah diatas.

Yang ada hanyalah faktor penguasaan medan, kehati hatian dan memahami instrumen instrumen dalam menerapkan suatu sistem/pola. Menempuh ‘perjalanan’ dengan kekurang hati hatian, bisa saja, masuk ‘jurang’. Jadi walaupun sudah ‘ahli nya ahli ‘ sekalipun bisa saja, terperosok apabila  kurang hati hati, misalnya pada saat momentum / saatnya ‘mengerem” tetapi tiba tiba masih di Gassss…

Masa  masa berat sedang di lalui oleh petani pada saat ini, harga yang rendah, perawatan yang relatif sulit di musim hujan, biaya produksi yang membengkak ditambah lagi serbuan produk produk luar yang terus membanjiri negeri kita, menyebabkan petani makin menjerit saja. Benar benar seleksi alam sedang terjadi, petani yang punya ‘skill’ mumpuni pun ada yang masih bisa bertahan ada juga yang tidak tahan, tetapi minimalnya bagi petani yang berpengalaman , walaupun harga jual rendah mereka pada umumnya masih bisa, minimal ” kembali modal’ , tidak sampai rugi.

Dilain pihak, petani ‘dadakan’ yang mengejar target panen di bulan bulan ‘basah’ seperti saat ini, tidak sedikit yang sudah “gulung tikar”. Sangat memprihatinkan , dunia pertanian hortikultura kita saat ini.

Kami mencoba untuk TIDAK membahas perihal hubungannya dengan ‘bulan bulan politik’ atau hal lainnya, karena kita saat ini hanya terus “berjuang sendiri’ , sambil menunggu  yang mempunyai kewenangan  melakukan kebijakan yang bijak bagi petani. Kita hanya bisa terus berjuang agar tanaman tetap baik , sehat dan berproduksi tinggi sambil terus menekan biaya produksi. Hal ini lah yang dapat kita lakukan .

(Di sisi lainnya….dengan harga terong saat ini di Rokan Hilir sekitaran 4000 per kg nya, mitra kami masih  bisa tersenyum, apalagi harga terongnya ada penambahan nilai jualnya karena kualitas produk yang masuk kategori Grade A/Super.)

Hal hal yang demikianlah yang kami lakukan bersama mitra, berusaha agar biaya dikurangi tetapi kualitas produksi tetap ….OK. Berjuang keras agar tidak masuk dalam kelompok yang tereleminasi. Seleksi alamiah , sedang berlangsung.

Tak ada waktu untuk meratapi atau bermuram durja, kita terus berusaha agar biaya bisa dibuat seirit mungkin , dalam contoh kejadian pada tanaman terong p. Refi di Rohil ini, biaya pupuk kimia dan pestisida kimia berhasil kita tekan penggunaannya.

Kami berharap musim tanam depan , areal tanam mitra mitra kpo KL bisa lebih luas dan  bisa  menambah untuk menanam komoditas komoditas lainnya. Salam Sukses mitra petani dimana pun. Selalu ada jalan, bila disertai usaha yang gigih dan  sambil terus ber Doa …tentunya.

Mengapa harga Cabe Murah???

Beberapa bulan terakhir ini, harga cabe besar maupun cabe kecil, harga terus anjlok seanjlok anjloknya. Hal ini memang diluar  dugaan karena harga yang biasanya sedang bagus dan tinggi tingginya bagi petani cabe, dan bahkan banyak petani kami  yang sukses luar biasa, dengan harga yang fantastis di bulan bulan Basah seperti saat ini. Namun tidak demikian halnya saat ini, cabe malahan di beberapa tempat tidak dipanen , bahkan ada yang membuang cabe dijalanan, mencabut tanaman produktif dan ada pula yang tidak memetik buahnya dan membiarkan tanaman terlantar di kebun. Menyedihkan …..

Kami mencoba menelusuri kenapa harga menjadi, hancur seperti begini ????  Akhirnya kami menemukan “setitik” informasi  walaupun berdasarkan pengamatan “mikro’  akan  tetapi hal ini bisa kami anggap sebagai perwakilan/ representatif  dan mewakili kondisi secara umum. Kami menemukan hal yang tidak lumrah di daerah Sukajadi dan Mekarwangi , Tarogong Kaler Garut- Jawabarat, yaitu proses pemisahan tangkai cabe keriting kering dengan buahnya . Jenis Cabe nya agak tidak lazim ,karena berukuran tanggung antara ukuran cabe rawit dan cabe keriting. Kegiatan ini di desa  tersebut telah berlangsung sejak bulan November 2018.

Setiap hari ada “bandar’ cabe kering yang mengirimkan ratusan karung goni kecil untuk diupahkan kepada warga setempat dengan bayaran Rp. 12.000 per karungnyanya.  Cabe  kering ini dikembalikan lagi  ke Pengepul setelah dipisahkan tangkai dan buahnya. Investigasi  kami pun berlanjut ke pasar Tradisional dan menemukan ber “bal bal” cabe  kering impor ,  yang berasal dari India- dan  dari negara   Asia Lainnya. Harga cabe kering tsb, dikisaran 35 rb per kg nya, dan ternyata jenis cabe ini  digemari “emak emak” Karena warna nya yang merah menyala pada saat pengolahan dan  jelas cabe tahan di penyimpanan.  (1 kg cabe kering oven,  ini hampir setara dengan 3-4 kg basah.)

Tidak ada unsur apapun dalam hal ini, kami independent dan tidak mau masuk ke’ranah politik’  hanya saja, imbas pada petani yang kami prihatinkan, sehingga kami terus mencoba mencari tahu kenapa sampai begini?? Belum lagi informasi yang kami dapatkan yaitu pemberian benih benih gratis di Akhir tahun 2018, kepada gapoktan gapoktan sehingga petani yang selama ini bukan, yang secara traisional bertanam cabe ikut ikutan menanam cabe.

Bahkan saat ini dg Sangat terbuka diperdagangkan di Bisnis Online T**o P***a. Bisa mitra buka di Link, mencari cabe kering Impor…. Akan kita temu kan, Cabe Kering impor tanpa Tangkai dari India yang bentuknya sama dengan cabe yang di pisahkan tangkainya di Garut tadi.  Ada apa ini??? Kami prihatin saja dg jerih payah yang dilakukan oleh petani , banting tulang siang dan Malam merawat tanamannya agar tetap bisa bertahan dari kondisi alam, dari cuaca ekstrim di bulan basah dan juga dari Hama dan penyakit, tetapi pada saat berhasil menangulangi hal tsb , datanglah membanjiri produk dari luar yang merusak harga pasaran.

Belum lagi, baru baru ini  adanya Kenaikan ongkos Cargo udara yang di sinyalir mengalami kenaikan yang sangat tinggi menyebabkan tertumpuk /tertundanya pengangkutan dari  satu daerah ke daerah lain yang selama ini secara reguler sudah biasa dilakukan.

Sementara itu, di sentra sentra Cabe di Jawa Barat, termasuk Garut yang selama ini memasok kebutuhan Ibu Kota , Cibitung dan pasar pasar besar lainnya, saat ini belum panen Raya. Musim penghujan dan awal penanaman baru di mulai rata rata diawal bulan November 2018,jadi jelas ….bulan Pebruari di Sentra sentra Cabe Jawa Barat, (yang secara tradisional petani petani merupakan memang petani petani penanam cabe) belum memasuki masa panen raya.

Namun demikian hal ini bukan untuk dikeluhkan, petani sejati akan tetap tegar menghadapi terpaan gelombang harga “tsunami “ini, semoga saja mitra mitra tani bisa lulus dari ujian ditahun tahun sulit , seperti saat ini.

Seperti halnya mitra kami , Pak. Alham dari Bukit Tinggi Sumbar, yang saat ini per awal Pebruari 2019, sudah memasuki petikan ke 4, tetap bertahan di harga murah meriah dengan memacu produksi dan bertahan agar tanaman panjang usia tanamnya. Tak ada kata untuk putus harapan, karena harapan selalu ada bagi  petani yang ber jiwa yang optimis kepada Kekuasaan  Yang Maha Pengatur.