Sukses Bersama Klinik Pertanian Organik Kembang Langit, Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Kegiatan bersama Menakertrans di Leles-Garut More »

Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Jajaran Komisaris Direksi, Staff, dan Rekan PT.Kembang Langit More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada tanaman Padi di Aceh More »

Kegiatan Pelatihan More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Keriting More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Rawit More »

Hasil Aplikasi Mengatasi lalat buah di tanah karo-SUMUT More »

Pengiriman Barang, Kegiatan Pelatihan More »

 

Mengapa harga Cabe Murah???

Beberapa bulan terakhir ini, harga cabe besar maupun cabe kecil, harga terus anjlok seanjlok anjloknya. Hal ini memang diluar  dugaan karena harga yang biasanya sedang bagus dan tinggi tingginya bagi petani cabe, dan bahkan banyak petani kami  yang sukses luar biasa, dengan harga yang fantastis di bulan bulan Basah seperti saat ini. Namun tidak demikian halnya saat ini, cabe malahan di beberapa tempat tidak dipanen , bahkan ada yang membuang cabe dijalanan, mencabut tanaman produktif dan ada pula yang tidak memetik buahnya dan membiarkan tanaman terlantar di kebun. Menyedihkan …..

Kami mencoba menelusuri kenapa harga menjadi, hancur seperti begini ????  Akhirnya kami menemukan “setitik” informasi  walaupun berdasarkan pengamatan “mikro’  akan  tetapi hal ini bisa kami anggap sebagai perwakilan/ representatif  dan mewakili kondisi secara umum. Kami menemukan hal yang tidak lumrah di daerah Sukajadi dan Mekarwangi , Tarogong Kaler Garut- Jawabarat, yaitu proses pemisahan tangkai cabe keriting kering dengan buahnya . Jenis Cabe nya agak tidak lazim ,karena berukuran tanggung antara ukuran cabe rawit dan cabe keriting. Kegiatan ini di desa  tersebut telah berlangsung sejak bulan November 2018.

Setiap hari ada “bandar’ cabe kering yang mengirimkan ratusan karung goni kecil untuk diupahkan kepada warga setempat dengan bayaran Rp. 12.000 per karungnyanya.  Cabe  kering ini dikembalikan lagi  ke Pengepul setelah dipisahkan tangkai dan buahnya. Investigasi  kami pun berlanjut ke pasar Tradisional dan menemukan ber “bal bal” cabe  kering impor ,  yang berasal dari India- dan  dari negara   Asia Lainnya. Harga cabe kering tsb, dikisaran 35 rb per kg nya, dan ternyata jenis cabe ini  digemari “emak emak” Karena warna nya yang merah menyala pada saat pengolahan dan  jelas cabe tahan di penyimpanan.  (1 kg cabe kering oven,  ini hampir setara dengan 3-4 kg basah.)

Tidak ada unsur apapun dalam hal ini, kami independent dan tidak mau masuk ke’ranah politik’  hanya saja, imbas pada petani yang kami prihatinkan, sehingga kami terus mencoba mencari tahu kenapa sampai begini?? Belum lagi informasi yang kami dapatkan yaitu pemberian benih benih gratis di Akhir tahun 2018, kepada gapoktan gapoktan sehingga petani yang selama ini bukan, yang secara traisional bertanam cabe ikut ikutan menanam cabe.

Bahkan saat ini dg Sangat terbuka diperdagangkan di Bisnis Online T**o P***a. Bisa mitra buka di Link, mencari cabe kering Impor…. Akan kita temu kan, Cabe Kering impor tanpa Tangkai dari India yang bentuknya sama dengan cabe yang di pisahkan tangkainya di Garut tadi.  Ada apa ini??? Kami prihatin saja dg jerih payah yang dilakukan oleh petani , banting tulang siang dan Malam merawat tanamannya agar tetap bisa bertahan dari kondisi alam, dari cuaca ekstrim di bulan basah dan juga dari Hama dan penyakit, tetapi pada saat berhasil menangulangi hal tsb , datanglah membanjiri produk dari luar yang merusak harga pasaran.

Belum lagi, baru baru ini  adanya Kenaikan ongkos Cargo udara yang di sinyalir mengalami kenaikan yang sangat tinggi menyebabkan tertumpuk /tertundanya pengangkutan dari  satu daerah ke daerah lain yang selama ini secara reguler sudah biasa dilakukan.

Sementara itu, di sentra sentra Cabe di Jawa Barat, termasuk Garut yang selama ini memasok kebutuhan Ibu Kota , Cibitung dan pasar pasar besar lainnya, saat ini belum panen Raya. Musim penghujan dan awal penanaman baru di mulai rata rata diawal bulan November 2018,jadi jelas ….bulan Pebruari di Sentra sentra Cabe Jawa Barat, (yang secara tradisional petani petani merupakan memang petani petani penanam cabe) belum memasuki masa panen raya.

Namun demikian hal ini bukan untuk dikeluhkan, petani sejati akan tetap tegar menghadapi terpaan gelombang harga “tsunami “ini, semoga saja mitra mitra tani bisa lulus dari ujian ditahun tahun sulit , seperti saat ini.

Seperti halnya mitra kami , Pak. Alham dari Bukit Tinggi Sumbar, yang saat ini per awal Pebruari 2019, sudah memasuki petikan ke 4, tetap bertahan di harga murah meriah dengan memacu produksi dan bertahan agar tanaman panjang usia tanamnya. Tak ada kata untuk putus harapan, karena harapan selalu ada bagi  petani yang ber jiwa yang optimis kepada Kekuasaan  Yang Maha Pengatur.