13 Maret 2013

LALAT BUAH JERUK ,DI TANAH KARO SUMUT… MULAI TERATASI !!!

Tanaman/buah  jeruk, memang tidak termasuk salah satu  komoditas hortikultura yang mendapatkan “proteksi” dari arus impor , hal ini mungkin  karena  kuantitas dan kualitas yang  belum memenuhi harapan, akhirnya hingga saat ini buah jeruk  impor  makin  membanjiri pasar -pasar  domestik.   Salah satu faktor yang menyebabkan produktifitas  rendah adalah serangan LALAT BUAH.
Masalah lalat buah ini, betul-betul telah membuat  “pusing tujuh keliling”… Bagaimana tidak, Informasi terbaru yang kami terima, sampai-sampai ada petani dari Tanah Karo  yang langsung mendatangi salah seorang  GURU BESAR  Hama tanaman di sebuah  PERGURUAN TINGGI  menanyakan perihal solusi  yang sebaiknya dilakukan untuk mengatasi Lalat buah ini.  Tetapi jawabannya, sebagai berikut :
Tanaman Jeruk yang sudah terkena disarankan untuk  DITEBANG,DIBAKAR dan  diLAKUKAN TANAM ULANG….Dalam hal ini kami mau menggaris bawahi  bahwa  betapa sulitnya mengatasi hama lalat buah ini.  Sampai -sampai harus  “REPLANTING”….Kalau semua petani melakukan hal ini, TAMAT lah sudah salah satu komoditas Hortikultura kebanggaan Tanah Karo, Sumatera Uatara, bahkan salah satu buah  kebanggan bangsa ini.

1

Gambar 1.A . ( Hasil aplikasi  pada tanaman Jeruk dalam mengendalikan Lalat Buah,  di desa Sari Munthe ,Kecamatan Munthe, Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara.  Pengambilan gambar pada tanggal 11 Maret 13.    Buah sebagian sudah ada yang menguning, harapannya sekitar 1-2 bulan lagi,  mudah-mudahan “lancar sampai tujuan”.  Padahal sebelumnya pemilik kebun ini, sudah mau mengganti tanaman jeruknya dengan yang lain.)

2

Gambar 1.B. (  Sungguh hasil yang sangat menggembirakan, karena kondisi buah sudah terbentuk 70-80 %, dengan tingkat kerontokan bunga dan buah hanya sekitar 5 persen saja.    Pembentukan buah sudah sebesar bola tenis.    Luasan tanaman sekitar 3 ha.  Sedangkan pembanding pada saat ini, sudah menjadi masalah utama di daerah ini, adalah serangan  Lalat buah dan  menjadi kendala utama.)

Berita selanjutnya :  Banyak pekebun yang gagal panen hingga 90%.  Dengan  potensi hasil  produksi jeruk bisa mencapai 40 ton per hektar tiap tahun.  Tetapi ternyata  hasil panen hanya  sekitar 5 ton dan harga jual lima ribu rupiah per kilogram, bisa ketahuan berapa kerugian yang dialami pekebun jeruk,” urai Usaha Barus dengan mimik prihatin. “Akibatnya banyak pekebun memilih menelantarkan kebun mereka, takut biaya produksi menguap tanpa hasil.

3

Gambar 1. C.  ( Berdiri di samping tanaman jeruk yang sudah berbuah lebat, Bapak Santosa, sebagai pemilik kebun  Jeruk ini. Dalam pengendalian lalat buah , berbasis pertanian organik ala KPO KL, kami tidak menganjurkan pemasangan umpan perangkap  meutil euganol.  Kami juga tidak perlu menyarankan pemasangan kelambu pada setiap tanaman seperti yang sudah dilakukan oleh petani di  desa seberaya,tiga panah, Kab. Tanah karo. ).  Bahkan lebih ekstrim lagi ada petani yang  memberikan perlakuan dengan cara dikelambui untuk luasan  satu ha.  Demikian Informasi yang kami dapatkan,dari mitra kami.)

4

Gambar 1.D. (Walaupun cuaca agak mendung, masih tampak  kondisi tanaman jeruk saat ini yang diamati, tanaman rimbun  dengan buah yang lolos dari serangan lalat buah, tanpa harus ‘replanting’.  Sebagai informasi saja, saat ini pihak perbankan di wilayah Karo, kalau mengetahui calon Nasabahnya dari petani Jeruk , maka pihak perbankan tidak meloloskan  kreditnya.   Sebegitu parahnya kondisi yang dihadapi petani Jeruk ini.)

Dengan adanya berita tersebut, kami ikut merasa prihatin.   Kami berupaya sekemampuan kami, untuk “memecahkan”  masalah lalat buah yang sudah berlangsung cukup lama ini.   Tehnik-tehnik pengendalian LALAT BUAH, pada CABE ,sebagai tanaman PARAMETER KPO,kami coba terapkan pada tanaman JERUK.  Hasilnya sebagaimana yang terlihat pada gambar-gambar yang kami tampilkan saat ini.  Hasil capaian seperti ini, sungguh sangat menggembirakan, masalah serangan LALAT BUAH  yang selama ini menjadi kendala utama..

5

Gambar 1. E. ( Bapak Hendra, sebagai Pelaksana lapangan, yang menerapkan metode Klinik Tani Organik, .  Komentar Bp. Hendra,  Tanaman Jeruk musim ini yang menggunakan metode pertanian organik, Kembang Langit, hasilnya sangat jauh berubah dari musim tanam yang lalu, sudah menunjukan tingkat hasil yang cukup memuaskan.  Biasanya pada saat memasuki  usia  6-7 bulan , pembentukan bunga dan buah sudah rontok dan dijadikan  PUPUK KOMPOS.  Kejadian KOMPOSISASI  dari JERUK BUSUK, akibat lalat buah   saat ini sedang marak terjadi, pada tanaman jeruk  yang sedang dibudidayakan di Tanah Karo.)

  Menurut kami, Sebenarnya disinilah   yang  paling tepat  penerapan  ISTILAH  :   “JERUK MAKAN JERUK”.  Bukan sekedar istilah-istilahan, tetapi dalam arti sebenarnya.  Memprihatinkan…. Sungguh !!! Jeruk yang sesungguhnya  dimakan untuk manusia, malahan dimakan kembali oleh tanaman Jeruk.
Proses penanggulangan, secara tehnis  LALAT BUAH  ini, sebenarnya pengaruhnya bisa sangat luas.  Setidaknya  dari tehnik pengendalian serangan Lalat buah ini, bisa lebih memangkas anggaran khusus, APBD.   Selain itu terhindar dari Eradikasi Massal, yang bisa  memusnahkan produk buah kebanggan Masyarakat Tanah Karo dan Sumatera Utara secara umum.
Kami berharap pula pertanian Jeruk Tanah Karo ini, segera bangkit ,   agar serbuan buah impor yang selama ini masih tetap marak,bisa agak teredam.    Menurut keterangan dari Ketua umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia ( GAPMMI) Adhi Lukman ,  (detik finance, selasa 12/2/2013.) : “Adhi menuturkan, untuk produksi minuman dengan jenis jus hingga saat ini masih menggunakan bahan baku impor. Selain karena kualitas buah lokal yang belum memenuhi standard, kuantatitasnya pun masih menjadi kendala untuk industri.  “Sekarang jus buah, konsentrat masih banyak impor karena dalam negeri tersedia tapi kuantitas dan kualitas belum skala industri sehingga kontinuitas tidak bisa diandalkan,” paparnya.   Suata tentangan tersendiri, tentunya.
Kenapa kondisi HULUNYA belum siap?   Kenapa Kualitas dan kuantitas tanaman Jeruk yang ada   belum  masuk standar  industri?  Memang masih perlu waktu untuk menjawabnya.   Tetapi….Seandainya saja… petani jeruk bisa mengoptimalkan potensi hasil pertanamannya , dengan salah satu tehnik pengendalian LALAT BUAH ini, bukan tidak mungkin, JERUK lokal  bisa jadi TUAN DI ‘ RUMAH  SENDIRI’.
Kita tunggu hasil-hasil pantauan berikutnya pada tanaman jeruk ini, hingga saat inj hasilnya sudah “nyaris” teratasi, setidaknya hasil yang didapat oleh, mitra kami di Tanah karo, sudah  jauh lebih baik dibandingkan dengan hasil yang dicapai oleh  petani jeruk lainnya yang saat ini mengalami “kerontokan” yang luar biasa.  Semoga berhasil  saudaraku… dan bisa menjadi solusi bersama untuk petani lainnya.  

SEMOGA BERHASIL….