16 Oktober 2013

KEUNGGULAN HASIL PASCA PANEN, DENGAN PERTANIAN BERBASIS ORGANIK

Berikut ini kami sertakan hasil aplikasi yang kami dapatkan dari pengamatan pasca panen dari pola pertanian berbasis organik.  Keunggulan hasil aplikasi dengan tehnik pertanian organi tidak saja “terasa” pada saat PRA PANEN, tapi juga ternyata juga bisa dirasakan beberapa “saat” setelah proses pemanenan.  Berikut ini data dan faktanya.

Uji terap kami ambil dari mitra kami, Bapak Maemudin di Aceh, di

Desa Drieng Cudo Uenong, kec Tiro, Kab. Pidie.

1

Gambar 1. Pengamatan tanaman padi  pada Usia 35 harian. Hasil aplikasi dari awal penanaman hingga penen sudah kami  tampilkan pada web kami yang lalu.

2

Gambar 2. Terlihat nyata perbedaan dengan tampilan yang biasa setelah menggunakan tehnik pertanian berbasis pertanian organik. Bulir-bulir lebih berisi dan lebih “tunduk”. Bapak Azahari dari Balai Benih Induk Kec Tiro yang sedang mengamati hasil aplikasi dengan cara KPO.

3

Padi yang yang ditanam ada dua jenis yaitu Virietas Hybrida Adi Rasa dan Lokal Ciherang.

Kondisi tanaman 5 hari menjelang panen.

4

Sebagaimana yang telah kami laporkan, hasil tonase  varietas padi Hybrida yang didapat yaitu 11.5 ton /ha sedangkan padi Ciherang 9.5 ton /ha nya.

5

Pupuk kimia berhasil ditekan penggunaanya dari biasanya  dilokasi tersebut diperlukan pupuk kimia,9 kwintal per hanya saat ini hanya diperlukan kurang dari 6 kwintal  (sudah terjadi pengurangan 50 %  pupuk kimia).

6

Penggunaan insektisida kimia juga berkurang 75 %, dimana yang biasanya digunakan insektisida kimia  jenis BAHAN AKTIF : PYMETROZINE 50% yang awalnya digunakan sebanyak 4 botol pada musim tanam  ini hanya diperlukan 1 botol (50 ml) saja.

7

Selain itu Fungisida jenis dengan bahan aktif Difenokonasol kemasan 80 mili yang biasanya pada musim yang lalu diperlukan 5 botol untuk luasan 5500 m2, saat ini setelah digunakan pestisida organik ala KPO, menjadi hanya diperlukan 1 botol saja.

8

Selain itu penggunaan fungisida  yang biasanya dibutuhkan 1.5 kg, setelah menggunakan fungisida organik ala KPO hanya diperlukan 0.5 kg saja.

9

Selain data-data tehnis yang kami ungkapkan tersebut ada dampak lain yang “nilainya” sebenarnya tak terhingga dan tidak bisa di “nominalkan” dengan sekedar sejumlah rupiah.  Hasil yang tampak nyata yaitu tanah menjadi Gembur, sehingga memudahkan Mesin traktor “perontok” bulir padi, “bekerja”.

10

Padahal pada musim sebelumnya tanah sangat keras seperti “karang” saat ini sangat gembur bahkan cenderung seperti “pasir” karena gemburnya tanah.

11

Data lain yang kami terima adalah, setelah dijemur sehari hasil padi yang menggunakan tehnik kimia dari total 44 karung ( ukuran 35 kg)  terjadi susut sekitar 8 karung.

12

Sedangkan dari sampel yang diambil dari 18 karung  hasil yang menggunakan tehnik berbasis organik, padi yang susut setelah dikeringkan hanya sekitar 0.5 karung saja.

13

Contoh sampel yang akan dibawa ke kantor BBI  Kec. Tiro, menggunakan “becak bermotor” ala Pidie .

14

Selain itu padi setalah di giling menjadi Beras , dengan tehnik kimia dari 60 kg  menjadi 36 kg beras sedangkan yang menggunakan tehnik pertanian berbasis organik ala KTO dari 60 kg padi setelah digiling menjadi padi 42 kg.  Bisa dihitung selisih susutnya sekitar 6 kg. Cukup besar !!!

Kenapa hal ini terjadi, alasannya sederhana, bobot ,kualitas dari padi/beras yang menggunakan tehnik organik, pada umumnya kadar airnya RENDAH dan bulir  lebih PADAT BERISI sehingga lebih tahan pada saat proses PENGERINGAN dan PENGGILINGAN.  Selain itu sudah menjadi “rahasia bersama” bahwa padi yang banyak kadar bahan organiknya, RASANYA LEBIH PULEN dan HARUM.