Impor Cabai dihentikan,saatnya mengelola tanaman dengan baik

Tidak seperti halnya tahun tahun lalu ,tahun ini Menteri Perdagangan kita yg baru ternyata sangat peduli dengan petani kita. Hal ini dilansir beberapa media online dinyatakan bahwa Mendag /Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan,(sejak di Lantik per 15 Juni 2022), membiarkan petani agar tidak merugi dengan tidak melakukan impor Cabai khususnya.

Berita ini tentunya menggembirakan bagi petani petani cabai yang berhasil finish dalam mengelola tanamannya. Adapun petani yang belum berhasil panen bisa untuk kembali mengupgrade tehnologi agar bisa lebih baik lagi untuk musim berikutnya . Adanya penghentian impor cabai ini bisa kita jadikan momentum untuk penanaman cabai kembali di MT selanjutnya .

Berita dari berbagai daerah hal ini lah yang menyebabkan cabai langka dan mahal,suplay yang minim sementara demand nya tetap tinggi menyebabkan melonjaknya harga dalam beberapa bulan terakhir ini. Penyakit busuk buah/ Patek ,hal ini memprihatinkan karena sudah sekian tahun lamanya petani belum juga tuntas dalam melewati tantangan antraknose ini .

Disisi lain mitra kami dari Sukabumi Jawa Barat yang sudah kami kami angkat beritanya pada bahasan sebelumnya , sudah dapat untung lebih, istilahnya ‘Salipeteun’ atau istilahnya sudah mendapatkan keuntungan 2 kalinya dari modal Yang dikeluarkannya.

Walaupun baru petikan ke 9 kali (dengan harga yang semakin menaik) mitra berhasil lulus dari serangan Patek / busuk buah dengan menerapkan pola KPO KL ini. Mitra senior ini berhasil panen sesuai harapan .

Empat gambar berikutnya ini merupakan hasil penerapan dari mitra kami dari Sumatera Utara, sebagai mitra senior beliau sukses juga dalam mengelola tanamannya dengan jumlah petikan 8 kali ,hasilnya pun sudah sangat menggembirakan. Perihal Patek sebenarnya bisa ditekan/ dikendalikan dengan menggunakan Pocanil ( Semprotan dan Kocor) plus kombinasi dengan pupuk Cas ( khusus kocor). Dengan mengubah pola dan menambahkan sedikit produk tersebut,tanaman secara cepat dapat diatasi masalah Pateknya.