14 Desember 2019

Hasil Produksi PADI 13.3 Ton /ha nya

Hasil yang diluar dugaan kami bersama dengan usaha yang intensif perawatan yang telaten dan penggunaan pupuk dan pestisida yang tepat akhirnya mitra kami Bapak ‘Wakil ‘ Tori/ Bpk Satori dari desa Tanjung Mulya , Muara, Cilamaya Wetan Karawang berhasil panen pada tanggal 10 Desember 2019 dan mendapatkan produksi padi yang diatas rata rata,13.3 Ton per hektarnya.

Terlihat pada gambar Ibu Satori beberapa hari menjelang panen, berdiri pada areal tanaman padi Mekongga nya yang secara berkala menggunakan metode KPO KL. Areal ini termasuk yang di beri bantuan oleh CSR nya Pertamina Gas Karawang. Pendampingan secara berkala di pantau oleh Klinik Pertanian Organik Kembang Langit.

Pindah tanam di lakukan pada tanggal 5 September 2019 sebagaimana kami posting pada artikel sebelumnya. Ada Pengamatan yang unik hingga usia 17 hari ini yaitu rumput tidak tumbuh dan tikus tidak mau mendekat. Aplikasi yang kami lakukan adalah metode standar , yaitu sbb : PROTEKTAN ( untuk hama bersayap ) , PESNATOR ( Untuk hama Ulat/Sundep dan HPP/Klintingan) , BIOPESTIS ( untuk hama tanah dan hormon pertumbuhan) @2 Tutup beserta POCANIL ( untuk Pengendalian penyakitnya/Kresek daun dan BLAST dll ) 1-2 sendok makan per tangki 17 liter airnya.

Hingga usia 35 hari rumput tidak tumbuh/ Tikus menjauh, anakan banyak. Adapun penambahan pestisidanya hanya insektisida ba,SIPERMETRIN DAN DIMOHIPO dengan dosis 1 sendok teh saja per tangki 17 liter airnya. Komposisi bahan tersebut di campurkan bersama sama antara produk Organik KPO KL dengan kimia. Pengurangan besar besaran pada sisi Pestisida kimianya yaitu inseknya berkurang drastis, tanpa hormon kimia sama sekali dan juga tanpa fungsida hingga usia 40 harian.

Hingga usia 45 hari ( Pengamatan tanggal 20 OKt 2019), tanaman padi mitra kami ini tidak tersentuh herbisida kimia sama sekali dan juga tidak dilakukan proses ‘Matun” membuang rumput secara manual. Kondisi tanaman hingga usia tersebut sudah aman dari rumput karena tanaman padi sudah rimbun dan tidak memberi peluang rumput untuk tidak tumbuh lagi. Keuntungan yang didapat adalah tanpa herbisida tersebut adalah tanaman tidak melewati proses stressing akibat herbisida .

Pengamatan pada awal Nov 2019, usia tanaman 2 bulanan. Gulma benar benar bersih tanaman lulus tanpa herbisida , pengurangan biaya terjadi lagi. Padi tak terganggu, sehingga proses tumbuh kembangnya berjalan mulus tanpa hambatan berarti. Pemberian pupuk PORMIK SEBAGAI PUPUK DASAR menyebabkan tanaman padi hingga usia 15 hari tampak segar seperti sudah dipupuk saja, padahal pemupukan pertama baru kami berikan pada usia 15 hari tersebut.

Masih pengamatan pada awal bulan Nov 2019, tampak malai tumbuh seragam . Hingga saat ini sebenarnya kami masih meneliti , efek mana yang paling kuat reaksinya untuk menekan gulma /rumput /eceng di sawah ini. Namun yang jelas pada setiap penggunaan pupuk kimia 50 kg nya kami gunakan pupuk CAS 1 bungkus. Oh..yaa.. sebagai catatan pada awal tanam sawah tidak kami berikan kapur pertanian/dolomit sama sekali.

Pengamatan kami bersama bp. Satori dan Bp Tarda bersama tim KPO -KL, dilokasi Muara Cilamaya Wetan Karawang. Biaya ‘matun’ atau pemberian herbisida dalam pertanaman padi sebenarnya cukup besar dan efek stresnya yang bisa justru menjadi faktor sakitnya jaringan tanaman. Jelas disini beberapa variabel biaya produksi tereduksi dengan metode baru ini, dan biaya tentunya menjadi hemat.

Dan…..tibalah saat saat menjelang panen pada tanggal 10 Desember 2019, bulir tampak bernas, bahkan per ‘karung Jago ‘ bisa sampai rata rata 70 kiloan. Bulir menjadi berbobot, dan tentunya hasil akhirnya jauh diatas rata rata. hasil umum varietas Mekongga ini dibawah 10 kg kami beserta gapoktan tani Muara, memberikan hasil yang mengembirakan 13.3 ton per hektarnya, selain itu beberapa variabel biaya produksi kita kurangi pula. Semoga makin banyak mitra yang berhasil mencapai hasil yang sama.

(Suasana pada saat panen raya, Kelompok tani Binaan KPO KL di Cilamaya Wetan yang di Support oleh PERTAMINA, GAS, di Lokasi Cilamaya Wetan pula.)

.

.