1 Juli 2020

Harga cabai mengapa murah?

Dampak dari Covid 19 memang luar biasa segala aspek kehidupan terkena imbasnya, demikian juga dalam bidang pertanian. Beberapa komoditas pertanian harganya anjlok seanjlok anjloknya, memang diperlukan kesabaran ekstra bagi pelaku pertanian dalam menghadapi musibah bersama ini.

Namun yang kami sayangkan adalah dalam kondisi demikian masih saja ada yang ‘bermain’ dengan mendatangkan hasil pertanian dari luar ke pasar lokal.

Ini bukan isapan jempol semata tetapi ini real terjadi terutama untuk komoditas cabe. Berdasarkan hasil investigasi kami pada tanggal 30 Juni 2020, didaerah Cilame, Desa Sukajadi Kec. Tarogong Kaler Garut, kami menemukan praktek ‘petik cabe’ di malam hari.

Petik cabe dimalam hari ini karena biasanya warga masyarakat disodori cabe impor yang masih menyatu antara cabe kering dengan tangkainya,dan setelah selesai proses pemisahan tangkai kemudian disetorkan kembali pada bandarnya. Adapun upahnya per kg sekitar 2000 rupiah.

Jumlah yang disebar per 2 hari sekali ratusan karung yang disebar ke warga di desa tersebut. Ini baru satu desa belum lagi yang disebar di desa, kecamatan atau kabupaten lainnya.

Contoh cabe kering hasil pemisahan dengan tangkainya yang siap untuk disetorkan ke Bandar, dan proses berikutnya siap membanjiri kepasar pasar lokal. Cabe ini saat ini banyak masuk ke pasar pasar lokal karena rasanya lebih pedas melebihi cabe cabe lokal. Hanya saja yang kita agak sesalkan yaitu dalam kondisi prihatin seperti saat ini masih saja masuk produk produk import sehingga makin membuat petani cabe khususnya, mengelus dada… Prihatin…