12 September 2020

Hama Semakin Resisten

Daya tahan hama pengganggu tanaman kian waktu semakin kebal saja. Hal ini bisa terjadi akibat penggunaan insektisida yang tidak terbatas baik dalam dosisnya maupun interval aplikasi yang kiat rapat. Saat ini penggunaan insektisida kian ditinggikan dosisnya bahkan jauh dari ambang batas rekomendasi yang tertera. Selain itu interval anjuran yang biasanya seminggu sekali saat ini bisa saja aplikasinya menjadi setiap hari tanpa jeda. Hal ini tentunya akibat hama yang menjengkelkan belum pula terkendalikan.

Selain itu, petani juga sering mengoplos atau mencampur insektisida lebih dari tiga jenis per satu kali aplikasinya, hal ini tentunya bisa berdampak pula pada aspek kesehatan dan keseimbangan lingkungan . Oleh karenanya tidak mengherankan apabila terjadinya mutasi mutasi gen pada hama, seperti yang terlihat pada gambar diatas . Hama Spodoptera sp bermutasi menjadi ulat yang bentuknya menyeramkan. ( Gambar kami terima dari mitra Kediri, pada tanaman bawang petani lain yang menggunakan pola insektisida Kimia murni.)

Menurut kami penggunaan agen hayati dan juga insektisida yang bersifat menolak hama masih lebih efektif dibandingkan dengan praktek bercocok tanam yang ‘sarat racun’. Kesimpulan ini sama dengan yang dikatakan oleh pakar pakar hama dari IPB yang menyimpulkan bahwa,mengandalkan insektisida kimia telah terbukti tidak berhasil menyelesaikan masalah.

Tanaman Kembang kol yang kami sertakan ini adalah tanaman mitra baru kami dari daerah Copong Kab. Garut. Tanamannya selama ini sudah menggunakan insektisida kimia yang banyak ragamnya dan dosis yang ditinggikan. Bahkan sudah pernah menggunakan insektisida kelas wahid dalam harganya yaitu menggunakan insektisida yang mahal harganya hingga mencapai Rp. 350 rb per 250 ml nya. Wah ini sudah kebangetan…

(Justru seperti yang dikatakan oleh pakar pakar dari Departemen Proteksi Tanaman Institut Pertanian Bogor menyatakan penggunaan pestisida yang sudah di luar batas anjuran atau berlebihan justru akan memicu kekebalan pada hama tanaman) . Hal ini sudah terbukti saat ini.

Kami coba untuk men zoom kondisi crop tanaman, yang tampak sangat mengerikan, hama ulat larva instar pertama dan kedua bertebaran dimana mana bahkan selain di crop juga dibawah permukaan daunnya. Gambar dibawah ini. Sangat menyeramkan….

Paradigma yang berkembang saat ini di petani, Selama ini terjadi pemahaman yang menyesatkan bahwa penanganan hama penyakit seolah penggunaan insektisida atau racun adalah yang paling efektif padahal dengan semakin tinggi penggunaan racun, justru hama penyakit akan makin kebal.

Kondisi tanaman sangat memprihatinkan, sebelum menggunakan pola KPO. Hal yang perlu diingat lagi adalah pola bercocok tanam semacam itu sangat berat di modal. Belum lagi dengan harga jual yang tidak pasti bahkan sering kali harganya rendah sekali, potensi kerugian yang ditanggung petani semakin tinggi.

Merubah kebiasaan memang tidak mudah iklan pestisida baru secara masiv yang menjanjikan khasiat lebih baik justru bisa kita pertanyakan. Lho selama ini insektisida yang secara kualitas bahan aktifnya makin tinggi saja sudah demikian resistensi nya hama ini datang lagi merk merk baru yang katanya mengantikan insektisida lama yang dianggap sudah tidak efektif lagi.

(Dilain pihak mitra mitra kami dari daerah lain (al, Banten dan Magelang) berhasil panen dengan kualitas yang tinggi menyehatkan juga.)

Selama petani masih mengandalkan insektisida kimia sebagai pengendali hama nya kita tidak heran lagi suatu waktu, hama hama Semakin kebal dan insektisida yang akan muncul harganya pun akan lebih melambung lagi… Bisa dibayangkan hasil 100 kg harus kita sisihkan untuk membeli insektisida kimia yang harganya sampai 350rb per botolnya. Dus… Biaya tersebut hanya bisa digunakan untuk 1 sd 2 kali aplikasi saja apabila jumlah tanaman misalnya 3000 batang.