27 Juni 2020

Dampak Pestisida kimia yang berlebihan….

Saat ini sebenarnya sudah terjadi ‘kesesatan’ akan pemahaman dalam penaggulangan hama dan penyakit tanaman . Petani menganggap bahwa seakan akan aplikasi dengan pestisida kimia adalah yang paling utama dan paling unggul padahal dalam kenyataannya semakin meningkatnya penerapan insektisida /fungisida kimia , justru hama penyakit makin resisten dan tidak bekerja secara efektif lagi.

Belum lagi biaya produksi akibat tingginya harga pestisida menyebabkan biaya produksi makin meningkat pula. Jadi jangan heran apabila harga yang murah seperti saat ini, banyak petani yang mengeluh… rugi rugi dan rugi….

Namun tidak demikian halnya dengan mitra kami dari Bogor yang berdasarkan informasi dari mitra kami tersebut, yang menyatakan bahwa tanamannya yang pada saat petikan ke 9, biaya modal usaha nya sudah …IMPAS.

Baik selanjutnya kita beralih ke mitra senior kami dari Sumatera Utara, yang sudah faham betul dengan cara kerja pestisida organik cara KPO yang diterapkannya selama lebih dari 5 tahun.

Disaat harga cabai anjlok mitra justru menanam dan saat ini kondisi tanamannya sudah mendekati usia masa panen.Biaya yang murah meriah terutama lagi khasiat yang sudah dirasakan oleh mitra senior kami ini menyebabkan mitra konsisten dengan pola yang diterapkannya.

Mitra kami ini tetap berjalan “berlenggang kangkung” enjoy-nyantai dan rileks saja tanpa dibebani permasalahan tanaman yang berlebihan. Biaya produksi murah, hama penyakit terkendalikan dan hasil memuaskan. Inilah hal ideal yang diharapkan oleh petani tentunya.

Berdasarkan informasi dari pakar IPB , penggunaan pestisida kimia yang terus menerus dalam dosis dan jumlah jenis yang banyak jelas akan membuat predator hama alami menjadi musnah dan berpotensi menyababkan ledakan hama. Selain itu dari segi kesehatan jelas sekali dampaknya ( dilain kesempatan kita coba mengupasnya).

Petani lebih banyak percaya akan informasi dari marketing pestisida sehingga mereka lupa tentang pentingnya pengendalian hama dan penyakit secara terpadu terutama tentang cara bagaimana kita bisa melakukan penyelamatannya secara alami. Saat ini hal ini sudah tidak begitu di gubris lagi….

Kaidah kaidah pertanian yang ramah lingkungan saat ini sudah tidak diindahkan lagi, yang dilakukan lebih ke yang bersifat ‘hantam kromo’….Berfikirnya…ada hama , harus langsung dimatikan langsung KO… Makanya tidak heran apabila saat ini ada insektisida yang harganya bisa sampai 350 rb per 250 mili nya. Petani berfikir, harga mahal…pastilah hama akan mati….

( Per tanggal 25 Juni 20 ,kondisi tanaman mitra sehat dan aman dari hama penyakit).

Yang tragis lagi adalah bagi pihak petaninya sendiri dengan harga insektisida sedemikain mahalnya masih saja diburu, mungkin karena rasa penasarannya untuk mematikan hama yang memang ‘dibuat menjadi bandel’. Bisa kita bayangkan dengan harga 350 rb ini setara dengan beras 35 kg !!! Terkadang ini habis dalam satu kali aplikasi belum lagi apabila di mix dengan pestisida lainnya. Suka terheran heran dengan cara berfikir petani….