Sukses Bersama Klinik Pertanian Organik Kembang Langit, Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Kegiatan bersama Menakertrans di Leles-Garut More »

Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Jajaran Komisaris Direksi, Staff, dan Rekan PT.Kembang Langit More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada tanaman Padi di Aceh More »

Kegiatan Pelatihan More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Keriting More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Rawit More »

Hasil Aplikasi Mengatasi lalat buah di tanah karo-SUMUT More »

Pengiriman Barang, Kegiatan Pelatihan More »

 

Category Archives: AGENDA PELATIHAN PERTANIAN ORGANIK

« 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 ... 16 »

KEBANGKITAN PETANI

Pelatihan pertanian berbasis  organik ala klinikpertanianorganik, Kembang Langit semakin diminati, hal ini kami jadikan sebagai momentum, untuk bangkitnya pertanian kita dari keterpurukan sebagaimana yang terjadi seperti saat ini. 

2

Peserta Pelatihan Gel X.

3

Tidak mudah memang bangkit dari keterpurukan dibidang pertanian seperti saat ini,  memang  jalan untuk menemukan apa yang jadi harapan petani,apalagi di masa kini ,hanya para petani yang memiliki  keterampilan,wawasan yang luas, kondisi yang  tangguh akan tahan cobaan dan  mampu bangkit dari  aktifitas profesi petani  sebagai dampak kemajuan tekhnologi di dunia ini.  Perlu ilmu dan  SEMANGAT atas apa yang dilakukan demi bangkitnya petani dan pertanian  di masa depan.

4

Gambar 1.Peserta pelatihan Gel X,yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Melalui peringatan Harkitnas  yang biasa diperingati secara seremonial oleh anak-anak sekolah ,pada tanggal 20 mei , marilah kita kenang kembali bagaimana semangat perjuangan The Founding Fathers, kita, untuk diambil sebagai teladan bagi kita. Mereka telah berjuang tanpa pamrih, penuh pengorbanan, kesabaran dan keberanian mengusir penjajah dari bumi pertiwi ini. Harkitnas ini harus mampu melecut kembali nilai kebersamaan sebagai bangsa dalam menghadapi globalisasi dengan menggelorakan rasa bangga dan Cinta Tanah Air.

5

Gambar 2. (Peserta pelatihan kali ini, jumlahnya seperti makin tidak terbendung, dari kuota yang kami tetapkan yakni hanya 10 peserta, saat ini mencapai 21 orang.)

Menyambut hari kebangkitan nasional ini, perlu kiranya untuk menghapus anggapan profesi petani adalah  sebagai pekerja kelas dua .  Oleh karena itu  perlu langkah  penguatan pertanian  tersebut harus dimulai dari sumber daya manusianya. Caranya ? Salah satunya adalah  dengan memberikan berbagai pendidikan   dan pelatihan pengelolaan produksi maupun pascapanennya. Penguatan ini harus dimulai dari hulu sampai hilir. 

6

Gambar 3. ( Peserta pelatihan pertanian berbasis organik ala KTO pada bulan mei ini dilakukan  dua hari menjelang hari kebangkitan Nasional, yaitu pada tanggal 17-18 Mei 13.)

Saat ini posisi profesi petani di masyarakat amat rendah. Kumuh, berlumpur, gurem, tradisional, orang-orang miskin, dan tidak bergengsi. Semua itu merupakan apresiasi masyarakat secara umum terhadap dunia pertanian saat ini.  Apalagi selama ini, generasi muda telah banyak melihat/mengamati, oragn tuanya yang berprofesi sebagai petani, lebih sering mengalami kerugian daripada keuntungan.  Ini pula yang membuat generasi muda menjauhi profesi petani. Mereka memilih bekerja di sektor jasa, perdagangan maupun menjadi pegawai negeri.

7

Gambar4. Peserta pelatihan kali ini berasal dari berbagai pelosok negeri,  , Sdr. Imam Budi Yuwono, dari Timbang Leksono, Wonosobo, Jateng.  Bp. Fathul Arifin BBS , Cilegon -Banten, M. Arif Kota Baru, Cikampek Karawang.  Bp. Wawan Koswara, Cianjur- Jabar, Bp. SYarifuddin, Duren Sawit- Jak-tim)

Kami berharap banyak dengan adanya pelatihan ini,walau secara singkat, dan dilanjutkan dengan komunikasi secara intensif dikemudian hari, harapannya kelak adalah : Menjadi petani bukanlah pekerjaan yang memalukan, tetapi dapat disejajarkan dengan pekerja di bidang jasa lainnya.

8

Gambar 5. ( Ada pula peserta pelatihan yang berasal dari ujung timur, dari Lhokseumawe, Aceh yaitu Bp. Ruslan Ismail, selanjutnya peserta dari Sukabumi, yaitu kang Ade Indra, Kang Iip Syarifudin    dari Sukarame , Tasikmalaya, Kang Habib ( sebagai reporter gadungan) ,he he dari , Selaawi Limbangan,Garut, Kang Bunyamin Cigedug, Garut, Bapak Sholeh (petani senior dari Kec, Cipeundey- Bandung Barat)

Dari segi ekonomi, pertanian masih ditempatkan sebagai subordinasi sektor industri dan sektor ekonomi lain. Pertanian diposisikan tak lebih sebagai bantalan rem inflasi. Keberhasilan pembangunan ekonomi selalu diukur dari keberhasilan pemerintah dalam menekan angka inflasi.

9

Gambar 6. Suasana sedang rehat, makan dengan menu spesial, sambel “peraman ” he eh.)

Untuk meningkatkan daya tarik bekerja di sektor pertanian, selain dengan pendirian sekolah menengah kejuruan pertanian atau meningkatkan  SDM-nya, dalam hal ini KPO, telah melakukannya secara berkesinambungan.  Langkah utama yang juga perlu dilakukan adalah peningkatan kesejahteraan petani. Di sini diperlukan proteksi terhadap kepentingan petani yang masih lemah. Di negara-negara maju seperti Amerika, Jepang dan sejumlah negara di Eropa, pemerintah amat gigih membela petaninya. Berbagai bentuk proteksi berupa hambatan tarif dan nontarif bagi produk pertanian diterapkan guna mencegah masuknya berbagai komoditi serupa yang berpotensi mematikan petani.

10

Gambar 7. ( Disela-sela acara makan siang ini, kang Habib  (berbatik coklat) sedang melakukan “siaran pandangan mata”  untuk diangkat ke youtube he  he.)

Sementara kebijakan pemerintah Indonesia justru mengurangi berbagai proteksi dan subsidi untuk petani. Petani sepertinya dibiarkan tergilas oleh persaingan pasar bebas WTO. Kita tidak ingin melihat petani dijadikan tumbal berbagai kebijakan pemerintah. Apresiasi pada tingkat wajar, itulah kata paling tepat untuk mengangkat harkat dan martabat mereka. Wajar sebenarnya, harapan petani untuk mendapatkan kestabilan harga,upaya penghentian import beberapa komoditas pertanian sudah sesuai dengan harapan petani, tinggal implemantasinya di lapangan, penjagaan dan pengawasan perlu dilakukan secara ketat.

Gambar 8. Makan sambil lesehan pun terasa ‘nikmat’, suasana kekeluargaan dan kebersamaan sangat terasa.

Belakangan ini kita ikut gembira dengan bergairahnya buah lokal di pasaran sebagai dampak langsung dari kebijakan pelarangan impor buah. Di banyak tempat pasar-pasar tradisional sudah tidak dijejali buah-buahan impor yang serta merta menyebabkan harga buah lokal terpelanting dan tak mampu bersaing. Akibatnya para petani pun menjadi tidak pula bergairah untuk mengembangkan sektor ini secara lebih baik. Apalagi di saat masa panen tiba, over produksi menjadikan buah lokal ini makin terjerembab nasibnya.

Gambar 9. Peserta lainnya berasal dari Puring – Kebumen yaitu Mas Agus Sobari dan Mas Sajino, sedangkan dari Pabedilan Cirebon, terdiri dari H. Basuki Yusuf, H. Warl, kang Jejen,  Bp. Tito, Bp. Candi, Bp. Sugandi.  Kang Fauzan Askuri Tarogong dan Bp. Rahmat dari kali salak -Batang- Jateng.

Tampilan buah impor yang rata-rata cantik dan menarik memang sering lebih tampak menggoda bagi pembeli dengan harga yang relatif tidak mahal. Selain itu jumlah produk impor jauh lebih banyak dari produk lokal. Tahun 2011 saja nilai buah impor yang masuk ke indonesia mencapai USD 700 juta. Bisa dibayangkan betapa negeri ini kebanjiran produk dari luar. Hal ini mau tidak mau akhirnya meminggirkan produk-produk lokal yang sebenarnya secara kualitas juga tidak kalah bagus. Perilaku dan kebijakan pasar yangmemberi ruang luas  akan beredarnya produk impor yang besar-besaran tersebut pada gilirannya pula semakin mempersempit ruang gerak produk lokal. Dan sebagai implikasinya  petani  buah lokal pun tak bisa berkutik .

11

Gambar 10. Kang Dadang, sedang memberikan praktek-praktek sederhana untuk melakukan uji tanah.

Pelarangan buah impor di berbagai pasar tradisional faktanya mampu mendongkrak pamor buah lokal secara signifikan, sebuah keadaan yang sudah selayaknya bisa menjadi cermin bagi perlindungan produk-produk dalam negeri untuk mampu BANGKIT demi ikut memutar roda ekonomi bangsa. Petani produsen akan menjadi semakin lega bernafas dan memiliki kesempatan untuk memperbaiki mutu produk pada fase-fase selanjutnya.

12

Gambar 11. Peserta pelatihan begitu samanagat dan antusias menyimak pemaparan materi yang diberikan.

Ibarat sebuah pertandingngan tinju, pada ring yang bernama perdagangan bebas pasti akan mempertontonkan sebuah adegan pertarungan yang sungguh tidak seimbang, karena berbagai petinju dari berbagai level dan kelas yang berbeda bertemu di sana.

13

Gambar 12.  Dengan metode pelatihan yang sederhana ini, kami berharap petani baik yang pemula maupun yang sudah senior menjadi termotivasi dan bangga menjadi petani. KPO memang baru bisa memberi motivasi untuk bangkit dari segi tehnologi pertanian nya yang berbasis organik, untuk selanjutnya, ‘bagian’ yang memiliki kewenangan dibidang tersebut.

Contohnya bagaimana petani bawang kita, dibrebes pada hari Kebangkitan Nasional ini, memperingatinya dengan melakukan demontrasi turun ke jalan, menyuarakan agar dilakukan  penghentian impor bawang secara besar-besaran, Begitu pula misalnya apabila apel Malang harus ber’tempur”  dengan apel New Zealand di atas ring dengan mengatas-namakan free market. Tanpa aturan main yang proporsional apel Malang akan  babak belur di pasaran dan makin lama makin terpuruk. Akibatnya petani apel Malang juga tidak akan  bergairah dan hanya pasrah terhadap nasib malang yang musti ditanggungnya.

Gambar 13. Keberhasilan dan kesuksesan semoga didepan mata…dan tidak jauh lagi….

Sampai saat ini, meski sudah tidak banyak beredar di pasar tradisional, produk-produk buah impor masih dapat ditemui di supermarket-supermarket yang disupplay langsung oleh para importir yang sudah memiliki kontrak dengan jaringan pasar modern. Tentu kita berharap apa yang terjadi di pasar tradisional tersebut juga akan dapat “menular” ke pasar-pasar modern itu. Sehingga dengan demikian  bukan saja buah lokal akan mampu berdaulat di negerinya sendiri, namun juga makin siap untuk benar-benar bertarung di “ring” yang sehat dan menjadi semakin “mungkin” untuk bergerak secara lebih leluasa, bahkan hingga mampu nyebrang   ke  benua yang lain.

14

Gambar 14. Kita bangkit bersama, dari keterpurukan akibat cara bercocok tanam yang tidak tepat.

Dengan terkondisikannya ruang gerak seperti ini, yang diuntungkan bukan saja akan pemerintah dan konsumen pada umumnya, tapi tentu juga petani yang karenanya menjadi makin termotivasi untuk mengembangkan sektor pertanian  sebagai sandaran hidup yang layak bagi mereka. Sebaliknya, dengan “berkuasanya” buah impor yang paling diuntungkan tak lain adalah segelintir orang yang mampu menjadi jembatan bagi masuknya produk-produk luar negeri (importir).

15

Gambar 15. Kita kibarkan panji, kebangkitan petani dan pertanian kita.

Semoga keadaan seperti ini benar-benar mampu dikawal dengan serius oleh pemerintah sehingga akan dapat memberi manfaat yang seluas-luasnya untuk bukan saja memperbaiki tingkat produksi petani dan menguntungkan pengusaha lokal, namun juga akan mampu membangkitkan sektor pertanian  secara luas.
Kita  harus menjadi pejuang dan petarung yang tangguh bagi kejayaan bangsa. Karena sesungguhnya. Kita semua telah mewarisi darah dan jantung para pejuang yang gagah berani melawan musuh penjajah.
 Tidak ada bangsa yang akan maju tanpa perjuangan keras. Tidak ada bangsa yang akan maju tanpa pengorbanan. Dan Tuhan tidak akan merubah nasib suatu bangsa, kecuali mereka berusaha merubah diri mereka masing-masing.
Banyak para pejuang bangsa hari ini, yang Insya Allah tetap setia berkarya dibarisan para pembangun negeri ini. Termasuk ,Para petani  yang telah berjuang dengan tulus dan ikhlas, membangun bangsa ini , dari ketidakberdayaan tehnologi pertanian berbasis kimia  yang diperkenalkan bangsa asing, plus aturan-aturan perdagangan pasca panennya.

Secara perlahan tapi pasti KTO sedang mempersiapkan, pejuang-pejuang dibidang pertanian untuk menghadapi pasar global ,WTO  World Trade Organization (Organisasi Perdagangan Dunia)

  Ayo  sahabat kita Segera kembali   berjuang dan bangkit bersama !!!

 

 

 

 

JADWAL PELATIHAN PERTANIAN BERBASIS ORGANIK, GELOMBANG X

.

Dalam rangka lebih menyebarluaskan metodelogi,tehnik pertanian organik ala Klinikpertanianorganik   KEMBANG LANGIT,
kami kembali mengadakan pelatihan berbasis pertanian organik.
Bagi anda yang berminat,baik perorangan maupun kelompok,silahkan menghubungi     kami.
 Sdr. S. Jauhar   di  081222932134.
Pelatihan kami lakukan sekali dalam sebulan
Jumlah peserta  dibatasi  , untuk  10  peserta, per gelombang.
PELATIHAN  KALI  INI (Gelombang X ), AKAN DILAKSANAKAN PADA  MINGGU KEDUA,BULAN  Mei  2013  :
Tempat,  di Balai Pelatihan Klinikpertanianorganik,kembang langit

Jl. Raya Tutugan, Haruman, Leles,kab. Garut, Jabar.
Pada tanggal  17-18 Mei  2013
HARI  JUM’AT dan SABTU
Hari Jumat di Mulai Jam 14.00 – 17.30 dan Hari Sabtu ,Jam 09 – 17.30.
(Diharapkan  satu jam sebelum acara pelatihan dimulai,peserta sudah berada ditempat)
Untuk pelatihan pertanian berbasis organik,ala kembanglangit ini ,Kami tidak memungut  biaya pelatihan dan penginapan.
( sedangkan akomodasi ,makan  dan transportasi dan lain sebagianya ditanggung peserta,besarnya biaya makan  dll,selama pelatihan 2 (dua ) hari, Rp. 100.000,-).
Bisa ditransfer ke Rek Mandiri no 1310007639653 atau Rek BCA  4460194518,  an : Ir. S. Jauharman.
( Paling lambat 3 hari sebelum acara pelatihan, biaya akomodasi ini sudah kami terima.  Setelah transfer mohon agar segera di konfirmasikan ( foto/ scan bukti tranfer/struk di kirimkan ke email  kembanglangit01@yahoo.co.id . Kami tidak  melayani  nomor rekening lain  Selain nomor rekening diatas.  Hati-hati penipuan mengatas namakan KPO.)
Hal ini pun  kami jadikan  sebagai tanda  Registrasi  dan berarti  pula anda telah  mem “booking” tempat.
Kirimkan biodata anda ( sesuai KTP)  ke alamat email kami, kembanglangit1@yahoo.com.
Kesempatan terbatas, kami harapkan,biodata sudah masuk  ,paling lambat 3 hari sebelum acara pelatihan.
Pendaftaran secara otomatis kami tutup apabila kuota telah terpenuhi.
DEMIKIAN INFORMASI YANG DAPAT KAMI SAMPAIKAN .

PELATIHAN GELOMBANG IX, MELEBIHI KUOTA

Puji syukur ke hadirat Ilahi, karena respon dan antusias petani -petani dan ‘calon’ petani terhadap konsep pertanian berbasis organik, yang KPO  persembahkan,kian hari kian diminati.  Hal ini ditunjukkan oleh makin banyaknya minat untuk mempelajari, tehnik pertanian organik  ala Kembang Langit ini.  Seperti halnya pada pelatihan Gelombang IX, kali ini.  Peserta yang datang dari Jauh dan dalam jumlah yang tidak bisa kami “bendung”.  Peserta kali ini, berjumlah 18 orang.  Dari jumlah  yang biasanya hanya 10 orang dari kuota kami.

1

Gambar 1 .A. Peserta Gelombang IX, pada saat berfose bersama.  Berdiri dari kiri-kanan :

Bp.. Riaditya D. Aryadi ( Balikpapan), Bp. Dadang Purwa Gelar (KTO) , Bp. Adi Nugroho (Surakarta), Bp. S. Jauhar (KPO), Bp.Frengky Handinata ( Dumai-Riau), Bp. Rusli Gunawan (KPO), Bp. Mariyo ( Bantul- Jogjakarta),Bp.  Chilmi Prawoto (Kediri), Bp. Ahmad Zaini (Paiton-Probolinggo) , Bp. Wan Ali Rahman ( Natuna), Bp. Tarmizi ( Natuna),Bp. Iyan Radiyana (Bandung), Bp. Alextrino ( Bekasi).

2

Gambar 1.B.( Jongkok, dari kiri ke kanan, Bp. Yunan Zaqi ( Jogja), Sdr. Arif Rahman ( Unsoed- Purwokerto), Bp. Nur S. Jatmiko ( Jogja),  Sdr. Eko Susanto ( Karang Anyar- Solo), Bp. Suhardiyana.)  Sebenarnya ada 3 peserta lagi yang tidak “nampang”, karena sudah pulang duluan, yaitu : Bp. Rahmat ( Bandung), Sdr. Hikmat  dan Sdr.  Agus R. ( Pameungpeuk- Garut selatan.)

3

Gambar 2. ( Kunjungan ke “lapang” langsung.   Jalan- jalan, di pematang sawah,   Ingat  seperti film-film  jaman perjuangan dulu.  Diiringi pekik ” MERDEKA “.)

4

Gambar 2.B. Dengan pematang yang sempit, menuju lokasi percontohan, benar-benar merupakan suatu bentuk perjuangan.

5

Gambar 2.C. Peserta mengamati langsung percontohan yang di kelola oleh Kang Dadang.

6

Gambar 2.D. (Bp. Sopandi sedang aplikasi pestisida organik  ala KPO, dilahan Kang Dadang, Cabe sudah 2 kali petikan.)

7

Gambar 2.E. ( Dengan kondisi yang “terus” tergenang  pada saat musim hujan seperti pada gambar diatas ini,  ada peserta pelatihan yang mengomentari, kang Dadang ini, termasuk petani yang  “NEKAD”.)

8

Gambar 2.E. ( Peserta pelatihan mengamati langsung, jadi  hasil aplikasi kami ,bukan “rekayasa”. Ada apa Bang Arya (peserta dari Balikpapan), sampai tertawa terbahak-bahak demikian? he he.)

9

Gambar 3.A. ( Pemaparan materi oleh, Bp. Rusli Gunawan (KPO) didalam ruangan.)

10

Gambar 3.B. ( Pemaparan materi oleh S. Jauhar (KPO) .)

Gambar 3.C. ( Dari berbagai daerah bertemu di KPO, JawaBarat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Pulau Sumatera dan Kalimantan bertemu dan bersilaturahmi sekaligus ajang berbagi pengalaman antara petani.)

11

Gambar 3.D. ( Pak Iyan, dengan seksama, menyimak pemaparan materi, atau lagi ngantuk Nih? he he.)

12

Gambar 3.E. ( Mas Ahmad Zaini, petani pemula yang sangat antusias mempelajari ilmu terapan pertanian organik ala KPO.)

13

Gambar 3.F. ( Peserta dari Pulau Sumatera, tepatnya dari  Natuna, Bp. Wan Ali, Bp. Tarmizi dan Bp. Frengky dari Dumai.   Kami  merasa  mendapat kehormatan besar , peserta dari Jauh yang mengunjungi klinik kami. Semoga berhasil  saudara-saudara kami dan dapat bermanfaat ilmunya.)