Sukses Bersama Klinik Pertanian Organik Kembang Langit, Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Kegiatan bersama Menakertrans di Leles-Garut More »

Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Jajaran Komisaris Direksi, Staff, dan Rekan PT.Kembang Langit More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada tanaman Padi di Aceh More »

Kegiatan Pelatihan More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Keriting More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Rawit More »

Hasil Aplikasi Mengatasi lalat buah di tanah karo-SUMUT More »

Pengiriman Barang, Kegiatan Pelatihan More »

 

Category Archives: KLINIK PERTANIAN ORGANIK

« 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 ... 132 »

Bertahan di Harga Cabe yang Murah

Sengaja kami masih membahas perihal harga , karena faktor harga  pasca panen ini sangat menentukan keberlanjutan dan bertahannya petani dalam berbudidaya tanaman, karena seberapa banyaknya produksi tanaman per batangnya tetapi kalau harga tidak mendukung, pada ujungnya petani akan ‘ meringis’ juga.

Kalau melihat performa tanaman mitra kami  pak Alham yang merupakan petani senior KPO KL,dari Bukittinggi ini sudah tidak diragukan lagi perihal produktifitasnya. Tanamannya pun  saat ini masih sehat bugar pada petikan ke 7.

Namun jelas tidak akan ‘tega’ mitra kami mencabut tanaman cabe nya ( seperti yang dilakukan oleh sebagian petani cabe ditempat lain) waluapun harga sedang anjlok saat ini. Pemeliharaan terus dilakukan, karena thooh  dengan cara KPO KL ini, biaya produksi tidak semahal cara konvensional.

Bertahan diharga yang murah kalau dalam rumus KPO_KL adalah dengan menerapkan cara ‘Kopling dan REm’ , dimana komposisi yang digunakan sangat irit dan sederhana.

Hasil ini real….mitra tani, tidak ada efek kamera atau melakukan  rekayasa ,Photo shop dalam hal ini, kami tampilkan hasil berdasarkan apa adanya saja dari mitra mitra kami di daerah. Merawat tanaman sambil menunggu berkurangnya stok hasil dari petani petani ” dadakan” dibeberapa tempat yang mendapat bantuan modal usaha sebanyak 30 jt per hektarnya (bantuan berupa  bibit, Pupuk dan Pestisida) pada pencairan bantuan bulan 8 tahun 2018 lalu.

Adapun komposisinya adalah dengan pengecoran, Protektan, Freshtan @ 7 tutup, Cas ,Pocanil,  dan Fungisida @ 7 sendok makan per drum 200 liter airnya, dosis ini tidak baku bisa naik atau turun tergantung kondisi tanamannya saja.

Bertahan bukan untuk dikeluhkan, biarlah import  7 kontainer ( campuran berbagai komoditas pertanian ( termasuk Cabe ) tiba di Pelabuhan Perak Surabaya, setiap hari . Cattan didapat dari sumber yang dapat kami percaya dari pelabuhan Perak). Petani harus lebih ‘prihatin ‘ dalam menerapkan pestisida dan pupuk kimia  dalam dosis minim saja agar biaya produksi dapat ditekan.

Bertahan dari serangan penyakit dan hama dengan meminimalkan penggunaan pestisida kimia dan memprioritaskan dalam penggunaan pestisida organik cara KPO-KL  sebagaimana yang di lakukan oleh mitra kami ini pak Alham yang sudah beberapa tahun bergabung dengan metode KPO-KL.

Bertani secara sistematis

Kami mencoba kembali memantau perkembangan tanaman mitra kami dari Pandeglang Banten, tepatnya di esa Bojen Kulon, Kec . Sobang  Kab. Pandeglang Banten, usia tanaman pada saat pengambilan gambar ini, pas berusia 111 Hari setelah tanam.

Ada hal menarik yang kami dapatkan berupa pelajaran berharga pada hasil penerapan kali ini yaitu, diantaranya, lokasi penanaman yang sangat dekat ke pantai hanya kisaran 6 km dari pantai dan ketinggian  mdpl nya hanya sekitar 7 meter dpl ( diatas permukaan laut). Adapun varietas yang digunakan adalah jenis yang biasa ditanam di dataran menengah keatas ( 500-700 mdpl), tetapi kali ini varietas tersebut ( Red kriss) ditanam di dataran rendah.

Sebenarnya sudah berulang kali kami lakukan  penanaman dengan “lintas adaptasi vareitas”, dan hingga saat ini sepertinya tanaman tidak lah , mendapatkan masalah yang serius, dan kami berharap untuk selanjutnyanya pun tanaman tetap sehat dan berbuah lebat.

Tehnik /metode yang kami kembangkan ini memang bukan metode yang antigagal, tetapi kami mencoba mengangkat dari waktu ke waktu, bukan juga berarti kami ‘kepedean’, hanya saja kami mencoba merunut langkah demi langkah dengan mengukur, baik itu asupan nutrisi maupun dalam hal penanggulangan penyakitnya.

Merunut  makanan berupa pupuk dari waktu ke waktu merupakan langkah untuk mengetahui seberapa batas ‘ambang kebutuhan’ yang ditolerir oleh tanaman. Melewati ambang batas kebutuhan, bisa kita sebut sebagai, “titik kulminasi”yang jangan sampai terlampaui. Peran dari petani  dalam membaca situasi dan menyimpulkan ‘skala prioritas’ penanggulangan merupakan langkah yang diperlukan dalam metode yang kami kembangkan ini.

Oleh karena itu menurut hemat kami bertani itu sangat bisa dirumuskan tetapi perumusannya dilakukan sambil berjalan, tidak dilakukan sebelum bertanam, selain itu pola bertaninya bisa dilakukan secara sistematis, terinci  satu per satu, sambil mengamati satu persatu reaksi dari unsur/variabel yang kita berikan. Pemberian satu saja jenis variabel yang ‘asing’  biasanya langsung terdeteksi dan bisa langsung terasa pada saat akan melakukan aplikasi berikutnya.

Dan lagi lagi… mitra Junior kami bisa merasakan efek bertanam secara sistematis cara kpo KL ini. Sangat mudah , tidak sulit dengan catatan, masuk dan total dalam aplikasinya. Variebel variebel yang kita berikan baik pupuk maupun pestisida ( organik dan kimia), kami sama sama rumuskan sambil berjalan. Bahasa sederhananya, mungkin bisa kita simpulkan demikian, petani menjadi terlatih dan bisa mengambil keputusan, apabila diberi perlakuan demikian akan “begini” dan apabila diberi perlakuan “begitu’ dampaknya akan demikian, dan seterusnya dan seterusnya.

Petani menjadi nyaman dalam menjalankannya, karena semua variabel kita analisa satu persatu, dan menjadi satu kesatuan yang terintegrasi tak terpisahkan. Cara cara demikian kita terus lakukan melalui suatu sistem yang sering kami ungkapkan sebagai , pola sistematis ,… GAS… REM … KOPLING. Sangat mudah, dengan catatan pula dilakukan secara konsisten. Semoga makin banyak petani yang sukses dengan pola tersistematis cara KPO_ KL ini, bertani menjadi lebih nyaman , indah, elok dan lebih savety. Sukses petani Pandeglang Banten dan petani lainnya  dimana pun. Salam KPO-KL.

Pengendalian Penyakit Layu , dilakukan sedari awal

 Pada akhir bulan september 2019 ini kami kembali melaporkan perkembangan tanaman percontohan dan penerapan dari Mitra kami Bapak Agus di daerah warung peuteuy Banyuresmi Garut.

.Tanaman yang ditanam pada tanggal 5 Des 2018 berdasarkan pengamatan kami, bisa dikatakan aman dan terhindar dari penyakit layu, baik layu Fusarium maupun layu Bakteri.

Tanaman pun karena faktor harga yang tidak berbeda jauh antara Cabe Merah dan Cabe Hijaunya, maka pemetikan /panen dilakukan, lebih awal (Dipanen hijau).

Penanggulangan masalah layu fusarium, memang sebaiknya dilakukan sejak awal, dengan cara memberikan jenis pupuk yang sesuai dan tidak over dosis.

Sebelum terjadinya faktor kelayuan pada tanaman langkah antisipasi dengan memberikan pola “Kopling” dilakukan agar tanaman tidak terlampaui “ambang batas”dari kebutuhan unsur tertentunya.

Pertanaman Cabe Besar ini pun di tumpangsarikan dengan tanaman kacang Panjang, yang hingga saat ini hasilnya sudah mencapai setara dg  dua ton lebih  per kg benihnya.

Adapun langkah “kopling” yang kami lakukan tersebut adalah sbb. Protektan, Freshtan @7 Tutup, Cas, Pocanil, @7 tutup plus Fungisida Sama 7 tutup juga.

Dan hasilnya hingga saat ini, tanaman terlihat aman dan terhindar dari kelayuan, sambil terus memantau jangan sampai dosis pupuk Kimia terjadi over supley yang sangat berpotensi menyebabkan kelayuan.