11 Mei 2020

Budidaya Kubis ( Pengendalian hama Ulat)

Berikut ini kami membahas tanaman kubis, agar tidak di “cap’ bahwa di KPO itu hanya prioritas untuk tanaman cabe saja. Pada kali ini tanaman mitra kami dari Jawa Timur, jumlah tanaman kisaran 15 rb batang, varietas yang digunakan dari ‘Kapal Terbang”.

Sebagaimana biasa kami selalu menyarankan mitra untuk bertanam dengan pola tumpang sari dan kali ini sebelum kubis ditanam didahului dengan tanam Bawang daun atau Daun bawang. Lokasi penanaman di bawah tanaman ,Jeruk.

Konsekuensi dari tumpang sari adalah diantaranya hama bersama, seperti dalam contoh kejadian tanaman mitra kami ini yaitu setelah dan menjelang panen bawang daun hamanya bermigrasi ke tanaman Kubis yang memang kondisinya sedang renyah renyahnya.

Serangan hama sedang “menggila” sehingga hama dari bentuk telur dan larva instar awal dan imagonya secara aktif menyerang cikal bakal Crop ( Croccidolomia binotalis dan juga ada yang menyerang daun ulat jenis Plutella xyllostela.

Namun karena mitra sudah mulai makin faham akan bercocok tanam, serangan hama demikian di tanggulangi dengan secara rileks dan yang penting memang adalah tidak panik.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama filenya adalah 20200511_131223.jpg

Kami menampilkan hasil screenshoot untuk penerapan mitra kami tersebut yaitu dengan memberikan PESNATOR diatas dosis anjuran rata rata. Biasanya untuk PESNATOR ini kami berikan hanya 0.5 mili per liter airnya pada saat ada kendala emergency kami memberikan dosis agak ekstra 250 mili per 200 liter air ( kur leb 1 milian per liter airnya) . Hasilnya ? Ternyata hama Ulat langsung KO tidak lama setelah diaplikasikan.

Singkat cerita ….Tanaman kembali berseri dan berkembang secara normal dan sehat proses ‘ recovery ‘ berjalan cepat dan tanaman tampak membuka lebar tanpa terlihat lagi bekas bekas gangguan hama ulat.

Walaupun dinaikkan dosis ini masih sangat logis karena masih jauh dibandingkan dengan dosis insektisida kimia yang pada saat ini anjurannya sudah ada yang mencapai 2 sd 3 mili per liter airnya . Itu pun sudah banyak yang ulat nya , kebal.

Tehnis budidaya yang kami kembangkan ini terbilang efektif karena hama tidak dibuat kebal , tidak dikejar kejar mati, tapi dengan cara ‘mengusirnya’ tetapi ulat /hama yang bertahan di tanaman lambat laun akhirnya pun tidak tahan dan yang tetap membandel, biasanya mati juga.

Bersambung……