26 April 2019

Bibit dari Pasar pun, Tetap Ok!!!

Kurang lebih tujuh tahun sudah , kami membangun kebersamaan dengan mitra kami dari Kalimantan Selatan ini, Bapak Guru Aswandi . Berbagai macam hasil hasil yang menurut kami sensasional , seperti tanaman,buncis   terong dan lain lainnya yang lebat dan tinggi. Penggunaan lahan bekas hingga lebih dari 9 kali musim tanam tanpa menggeser posisi bedengannya. Demikian juga hasil.hasilnya yang banyak kami muat artikelnya di web kami ini.

Saat ini mitra makin kreatif saja dengan memanfaatkan sisa sisa bibit belanjaan dari pasar, ya Bibit yang sudah tidak jelas dari turunan F1 mana atau lokal dari mana. Istilahnya hanya asal ambil saja. Selain itu uniknya lagi bedengan yang dipakainya pun, bedengan bekas penanaman cabe dan kembang kol misum sebelumnya.

Bedengan tanpa dirubah sama sekali, kedalam lubang tanam hanya di masukkan Mikvator 5-10 gram sudah cukup tanpa perlu pemberian pupuk kandang atau pupuk dasar apapun juga.

Kita akan coba terus mencoba mengamati hasil dari perkembangan tanaman bibit “abal abal “ini. Kami mencoba terus melakukan pengkajian pengkajian agar  variabel biaya pertanian makin rendah.

Tetapi kalau kita melihat posisi menumpuknya buah (maaf sengaja kami tidak merubah posisi Gambar ) makin terlihat buahnya  lebat, bukan sekedar lebaynya. Kami ingin terus memberikan pemahaman  pada mitra mitra bahwa dengan bibit apapun dengan menerapkan metode kpo KL ini (secara tepat) hasilnya pun bisa kita rasakan manfaatnya.

 

Bertani adalah ilmu praktek bukan ilmy sekedar teori, jadi salah besar komentar beberapa waktu lalu yang mengatakan metode ini tidak mencerdaskan petani. Hal ini kembali kami bantah dengan hasil hasil bukti nyata dilapangan. Kami memang agak malas melayani pihak pihak yang banyak berkomentar (Lebay, istilah anak sekarang) tanpa lebih dahulu menyelami metode tersebut hingga tuntas. Semoga kembali menjadi salah satu solusi  pertanian kita. Aamiin….