4 Maret 2019

Bertani secara sistematis

Kami mencoba kembali memantau perkembangan tanaman mitra kami dari Pandeglang Banten, tepatnya di esa Bojen Kulon, Kec . Sobang  Kab. Pandeglang Banten, usia tanaman pada saat pengambilan gambar ini, pas berusia 111 Hari setelah tanam.

Ada hal menarik yang kami dapatkan berupa pelajaran berharga pada hasil penerapan kali ini yaitu, diantaranya, lokasi penanaman yang sangat dekat ke pantai hanya kisaran 6 km dari pantai dan ketinggian  mdpl nya hanya sekitar 7 meter dpl ( diatas permukaan laut). Adapun varietas yang digunakan adalah jenis yang biasa ditanam di dataran menengah keatas ( 500-700 mdpl), tetapi kali ini varietas tersebut ( Red kriss) ditanam di dataran rendah.

Sebenarnya sudah berulang kali kami lakukan  penanaman dengan “lintas adaptasi vareitas”, dan hingga saat ini sepertinya tanaman tidak lah , mendapatkan masalah yang serius, dan kami berharap untuk selanjutnyanya pun tanaman tetap sehat dan berbuah lebat.

Tehnik /metode yang kami kembangkan ini memang bukan metode yang antigagal, tetapi kami mencoba mengangkat dari waktu ke waktu, bukan juga berarti kami ‘kepedean’, hanya saja kami mencoba merunut langkah demi langkah dengan mengukur, baik itu asupan nutrisi maupun dalam hal penanggulangan penyakitnya.

Merunut  makanan berupa pupuk dari waktu ke waktu merupakan langkah untuk mengetahui seberapa batas ‘ambang kebutuhan’ yang ditolerir oleh tanaman. Melewati ambang batas kebutuhan, bisa kita sebut sebagai, “titik kulminasi”yang jangan sampai terlampaui. Peran dari petani  dalam membaca situasi dan menyimpulkan ‘skala prioritas’ penanggulangan merupakan langkah yang diperlukan dalam metode yang kami kembangkan ini.

Oleh karena itu menurut hemat kami bertani itu sangat bisa dirumuskan tetapi perumusannya dilakukan sambil berjalan, tidak dilakukan sebelum bertanam, selain itu pola bertaninya bisa dilakukan secara sistematis, terinci  satu per satu, sambil mengamati satu persatu reaksi dari unsur/variabel yang kita berikan. Pemberian satu saja jenis variabel yang ‘asing’  biasanya langsung terdeteksi dan bisa langsung terasa pada saat akan melakukan aplikasi berikutnya.

Dan lagi lagi… mitra Junior kami bisa merasakan efek bertanam secara sistematis cara kpo KL ini. Sangat mudah , tidak sulit dengan catatan, masuk dan total dalam aplikasinya. Variebel variebel yang kita berikan baik pupuk maupun pestisida ( organik dan kimia), kami sama sama rumuskan sambil berjalan. Bahasa sederhananya, mungkin bisa kita simpulkan demikian, petani menjadi terlatih dan bisa mengambil keputusan, apabila diberi perlakuan demikian akan “begini” dan apabila diberi perlakuan “begitu’ dampaknya akan demikian, dan seterusnya dan seterusnya.

Petani menjadi nyaman dalam menjalankannya, karena semua variabel kita analisa satu persatu, dan menjadi satu kesatuan yang terintegrasi tak terpisahkan. Cara cara demikian kita terus lakukan melalui suatu sistem yang sering kami ungkapkan sebagai , pola sistematis ,… GAS… REM … KOPLING. Sangat mudah, dengan catatan pula dilakukan secara konsisten. Semoga makin banyak petani yang sukses dengan pola tersistematis cara KPO_ KL ini, bertani menjadi lebih nyaman , indah, elok dan lebih savety. Sukses petani Pandeglang Banten dan petani lainnya  dimana pun. Salam KPO-KL.