24 September 2021

bertani masih berat…

Lama kami tidak memposting artikel pada web kami ini, hal ini dikarenakan selain sulitnya bertani di masa pandemi ini juga kami sedang fokus pada projeck kami di Jawa Tengah ( Wonogori, Klaten, Jepara dan Sukoharjo) untuk pengembangan Jagung dan tanaman padi .

Bertani hortikultura pada saat ini memang berat hal ini dikarenakan diantaranya,

  1. Harga hasil pertanian yang rata rata bernilai jual rendah.
  2. Petani banyak yang ‘gulungtikar’, demikian juga dengan pedagangnya.
  3. Siklus antara demand yang kecil dan suplay yang sebenarnya pun tidak seberapa banyak tetapi adanya import komoditas antara lain cabai masih terus saja berlangsung. (Kami punya bukti lapangan bagaimana import terus dilakukan. Pengepul bandar bandar di Wilayah Samarang Garut bukannya berkurang malah semakin bertambah. Jadi untuk tidak mengatakan Hoax).

Adapun proses pengepul import sebelum mendistribusikan produk cabai kering nya kepasaran, akan mengupahkan ke warga warga kampung (disekitaran Samarang dan Tarogong Garut) untuk memisahkan tangkai buah dengan buahnya.Tenaga upah yang diberikan itupun sangat murah kisaran 16 ribu rupiah per karungnya. 1 karung pengerjaannya sekitar seharian. Per rumah tangga bisa membawa berapa karung saja semampunya untuk di kerjakan di rumah masing masing.

Kami mencoba lagi memposting perkembangan tanaman baik untuk hortikultura,jagung, padi dan juga tanaman tahunan . Kita berharap kondisi berikutnya semakin membaik.

Pada tanaman serealia,Jagung juga menghadapi tantangan yang tidak kalah hebatnya,rencana penurunan harga jagung menjadi 4500 rupiah .Kalau hal ini sampai terjadi tentunya menjadi makin berat beban petani . Sementara’ itu biaya produksi makin meningkat, variabel berupa (harga benih, pupuk kimia ,obat obatan, upah kerja )semuanya mengalami kenaikan sementara itu rencana penurunan harga akan diberlakukan.

Rasanya minat bertani generasi muda makin memudar karena melihat dan mengamati kondisi agrobisnis dirasakan tidak memberikan keuntungan yang sepadan dengan tingkat pekerjaannya.

Hari ini tepat 24 Sep 2021 dirayakan sebagai ‘hari tani’ tapi masihkah sektor pertanian masih mampu memberikan kontribusi minimal bagi petani dan keluarganya?

Kebijakan kebijakan yang diberlakukan belum berpihak pada petani itu sendiri.Masihkah petani mampu mempertahankan lahan pertaniannya agar tidak dijual untuk sektor lain, atau hanya sekedar bertahan hidup?

Kami tidak pesismistis dari segi tehnis sangat optimis hanya saja faktor non tehnis tersebut yang tidak pro pada petani sehingga bertani saat ini masih terasa berat.

Namun demikian kami klinik pertanian organik Kembang Langit, terus mensupport petani agar tetap bisa maju dan berkembang disaat sulit seperti saat ini. Berikutnya mari kita garap lagi lahan kita agar bisa menekan biaya produksi dan menghasilkan produksi pertanian yang tetap tinggi.