7 September 2020

Antara pertanian Organik, Kimia dan Semi Organik

Kondisi pertanian saat ini ikut terimbas akibat dampak dari COVID-19, harga produk produk hasil pertanian harganya masih saja rendah.Namun demikian sambil menunggu harga produk hasil pertanian membaik penerapan pola untuk mengeduksi petani tetap kami lakukan.

Ada pertanyaan kenapa produk organik KPO masih menggunakan Kimia? Menarik untuk kita bahas kembali. Seperti biasa pembahasan kami sertakan dengan hasil progress penerapan kami hingga saat ini

Kita bahas dulu pada pertanian berbasik kimia, metode ini saat ini sangat terasa sekali dalam hal penurunan efektifitas daya kerja dari pestisida yg digunakan. Hal ini terlihat pada penggunaan dosis yang digunakan petani, dosis anjuran dalam kemasan sudah tidak di hiraukan lagi. Apalagi pada saat terjadi serangan penyakit pada iklim yg ekstrem.

(Perubahan nyata terlihat pada pola penerapan yang dilakukan mitra kami) .

Dosis anjuran seolah tidak diabaikan lagi, bahkan sering sekali kita mendengar pertanyaan dari petani kenapa insektisida merk X ini sekarang sudah tidak efektif lagi?

Banyak asumsi dari petani al, yang mengatakan bahwa sekarang pestisida merk X tersebut kadarnya sudah dikurangi, petani tidak mempertimbangkan bahwa hama sudah bermutasu dan memberikan reaksi resistensi.

Sementara itu metode murni organik/Full organik pun nasibnya tidak kalah dramatisnya. Masih ingat pencanangan Go Organik di era SBY tahun 2010?Apakah saat ini ada hasil secara signifikannya?

Era dipemerintahan selanjutnya pun hampir sama. Program pencanangan 1000 desa Organik pun sepertinya jauh panggang dari api.

Mengacu dari itu kami mencoba memberikan solusi, dengan mengkolaborasikan kedua metode tersebut dengan memprioritaskan Organik sebagai leadernya adapun pupuk dan pestisida kimia hanya sebatas pelengkap saja.

Hasilnya seperti yang kami uraikan dari website kami ini semenjak tahun 2010 hingga saat ini, dan hasilnya pun konsisten.