Predator Hama, sang pembantu petani.

Di alam ini sudah ada keseimbangan termasuk juga dalam rantai makanannya. Hanya sejak kita dipacu untuk menyeimbangkan antara ledakan jumlah penduduk dengan sumber pangan yang lajunya kurang bisa mengimbangi. Pada saat itulah rekayasa varietas genjah dan produktifitas nya tinggi.

Selain tanaman padi, persilangan jenis jenis, hybrida juga dilakukan pada Kedelai, Jagung bahkan pada tanaman hortikultura, termasuk cabai rawit .

Namun dibalik produktivitas dan juga cepatnya masa panen terdapat titik lemah, yaitu tanaman rentan sekali terkena hama dan penyakit. Titik lemah ini menjadikan tanaman untuk berpotensi produksi tinggi harus berjuang berat menghadapi masivnya serangan hama dan penyakit tersebut. Sejatinya di alam ada musuh musuh nya hama sebagai predator hama yang memangsa hama dalam kondisi netral.

Kondisi netral yang dimaksud adalah tidak terkontaminasinya lingkungan oleh residu pestisida kimia. Seperti yang tertera dalam gambar diatas, yang kami ambil dari buku ‘Sahabat petani(padi) Serangga, Laba laba dan Patogen Mikroba Penolong Petani’.

Dalam buku tersebut penelitian di lakukan pada tanaman padi tetapi hal demikian terjadi pula pada tanaman lain. Sebenarnya banyak Serangga predator yang memangsa hama pengganggu tanaman. Hal ini kurang di sadari petani dan memang kondisi yang membuat petani tidak mempedulikan lagi akan hal ini.

Padahal seandainya petani mau merubah cara berpikirnya bahwa pengendalian hama dengan cara itu dampak negatifnya pun besar selain itu dengan menggunakan pestisida kimia ini lambat laun dapat memusnahkan predator hama.

Sebenarnya yang kami lakukan dari aplikasi ke aplikasi kondisi tanaman mitra dari Jogja ini menggunakan pola yg mendukung datangya predator hama. Aroma yang tidak berbau kimia menyebabkan predator hama seneng mendekat dan membantu kita dalam mengendalikan berbagai jenis hama.

Banyak jenis predator pemangsa hama yang di contohkan dalam buku ini antara lain jenis kepik, capung dan laba laba ada juga yang bertugas sebagai pemangsa telur. Namun semua itu tidak akan bisa berdampingan dengan pola yang mengandalkan kimia dalam pengendalian hama nya.

Sementara itu mitra kami yang menggunakan pola pengendalian berbasik organik cara KPO KL, Pestisida kimianya diberikan dalam dosis hanya 0.3 gram /mili saja per liter airnya sehingga dalam dosis yang dibawah ambang batas ini, serangga yang berperan sebagai pemangsa hama dapat hidup berdampingan dengan kita bahkan membantu kita.

Hal ini yg tidak disadari petani karena petani terobsesi insektisida apa yang paling kuat daya bunuhnya sehingga kalau hama belum terlihat mati atau kering di tanaman belum merasa puas, disadari atau tidak ada predator hama yang ikut tumbang dengan Aplikasi dosis tinggi atau bahkan bahan aktifnya yang berdaya bunuhnya tinggi. Makin lama makin tidak terasa dosis makin ditinggikan juga bahan aktifnya yang kian dahsyat… Hmmmm