Sukses Bersama Klinik Pertanian Organik Kembang Langit, Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Kegiatan bersama Menakertrans di Leles-Garut More »

Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Jajaran Komisaris Direksi, Staff, dan Rekan PT.Kembang Langit More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada tanaman Padi di Aceh More »

Kegiatan Pelatihan More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Keriting More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Rawit More »

Hasil Aplikasi Mengatasi lalat buah di tanah karo-SUMUT More »

Pengiriman Barang, Kegiatan Pelatihan More »

 

Monthly Archives: September 2018

1 2 3 »

Bertani kini ,Jadi Lebih Murah

 Biaya produksi dalam suatu usaha tani merupakan hal yang prinsip untuk mencapai keuntungan yang kita harapkan dalam kegiatan tersebut. Namun terkadang ada beberapa hal yang sebenarnya kegiatan tersebut bisa ditiadakan atau diminimalisir.

 Pada artikel ini Kami mencoba kembali membahas perkembangan tanaman Mitra kami Mas Ichsan dari Sleman Yogyakarta. Tanaman Mitra kami ini hingga saat ini sudah panen sekitar 900 kg dari jumlah tanaman kurang lebih 3000 batang.

Modal usaha yang dikeluarkan sudah jauh terlampaui di beberapa petikan yang lalu. Saat ini Mitra kami yang bekerja di pertanian hanya separuh waktu tinggal menikmati keuntungan demi keuntungan yang dicapai dari hasil pertanaman cabe rawit paritas Shyponnya.

 Hal yang mendasar untuk mengurangi biaya produksi dengan pola klinik pertanian organik kami ini adalah meniadakan pengolahan lahan untuk musim kedua dan seterusnya.  jadi selesai dari satu musim tanam bisa langsung dilanjutkan ke penanaman musim berikutnya.

 Cara ini sangat dihindari oleh petani petani dengan menggunakan teknik konvensional. Produktivitas  dari musim ke musim, dengan cara kami ini bukannya makin menurun tetapi justru semakin meningkat.

Hal ini bisa kita lihat dari tumbuh dan berkembangnya pertanaman Mitra kami dari Sleman Jogjakarta ini yang walaupun sudah memasuki musim ke-4 tanpa olah lahan kondisinya semakin subur saja.

 Perkembangan tunas mengiringi banyaknya buah yang dipanen dari minggu ke minggu.  selain daripada itu biaya operasional untuk pembelian pestisida dan pupuk kimia semakin dikurangi.

Budidaya itu perlu pembuktian, dan tidak hanya sekedar  teori yang berjejer panjang. Biaya irit, harga cabe makin pedas dan keuntungan berlipat.

24 September 2018 HARI TANI, MERUBAH CARA PANDANG BERTANI

Hampir setiap tahun , petani merayakan Hari Tani Nasional yaitu  setiap tanggal 24 September , walaupun pada eksistensinya hari Tani tersebut pada hakekatnya lebih menitikberatkan pada segi, agrarianya/redistribusi tanahnya.

Hal ini di lihat dari latar belakang sejarahnya yaitu Pada tahun 1960, Presiden RI Soekarno menetapkan Undang-Undang (UU) No. 5/1960–yang lebih dikenal dengan UU Pokok Agraria. UU ini menitikberatkan pada :  redistribusi tanah/ struktur agraria, air dan benih bagi rakyat tani Indonesia.

Tapi tidak ada salahnya kalau pada kesempatan ini, kita ambil semangatnya yaitu untuk  peningkatan kesejahteraan petani dan masyarakat pedesaan, dari segi lainnya selain perihal agrarianya.

Sambil membahas perihal hari tani ini, kami juga secara berkesinambungan untuk tetap dan konsisten dalam memberikan contoh contoh real agar petani bergerak maju dalam meningkatkan produksi walaupun secara luasan lahan tidak cukup bahkan bisa dibilang jauh dari mencukupi.

Semangat Hari Tani Nasional masih  relevankah  hingga saat ini? Kalau menilik dari korelasinya yaitu pada redistribusi agraria, air dan benih, maka harapan tersebut jauh “panggang dari api” . Kepemilikan Tanah  sebagai  modal dasar bertani, ternyata  rata-rata petani jauh dibawah 0.3 hektar per keluarga.

(Seperti halnya lahan yang digarap oleh mitra kami ini pak Tarsidi  Parigi -Pangandaran ini pun jauh dari luasan minimun standar 0,3 hektar . Namun kami tetap optimis memacu pertumbuhan tanaman cabe ini agar bisa mencapai 1.8-2  kg per batangnya.)

Lahan yang sempit hanya untuk sekitar 1400 batang tanaman , ketersedian air yang kurang dimusim kemarau dan kurangnya  fasilitas yang lainnya, tidak membuat petani mitra, menjadi  berkurang semangatnya, tetapi justru mitra terus berusaha agar tanamannnya sehat dan tetap berproduksi tinggi.

Kondisi tanaman sehat dan sudah 6 kali petikan ( untuk hasil timbangan akan kita bahas secara khusus ). Dalam hal ini KPO-Kl, tidak pilih pandang bulu, luasan yang tidak terlalu luas pun tetap kami layani dan kami perhatikan  perkembangannya secara mendetail dari waktu ke waktu dengan catatan ,mitra yang bersangkutan kooperatif dan mempunyai sikap yang teguh dan tidak menggunakan cara yang ‘bercabang- cabang’.

Petani  yang menjadi  sokoguru bangsa sudah selayaknya berhasil dan berkembang dari waktu kewaktu, walaupun itu terlepas dari minimmya Fasilitas baik sarana dan prasarana yang ada, petani kreatif akan terus maju dan berkembang.

Kegagalan demi kegagalan sudah terlalu sering kita dengar dari cara bercocok tanam petani kita, alasan lahan yang kurang luas dll nya tidaklah selayaknya menjadi alasan petani untuk tidak berhasil dalam pertaniannya. Kami bangga dengan mitra kami dari pantai selatan  Jawa barat ini, waluapun dengan segara keterbatasannya , beliau mulai mendongkrak semangat bertaninya atau bahkan harapannya kelak bisa menjadi leader dan mensupport petani lain disekitarnya.

Pola tradisional /konvensional  yang masih dianut  menjadi salah satu hambatan untuk menerima budaya dan teknologi baru dibidang pertanian . Sudah selayaknya petani menjadi seorang  seorang entrepreneur. Dan entrepreneur harus selalu membuka mata terhadap teknologi dan perkembangan baru. Mau menerima masukan baru, dengan ketulusan dan kerendahan hati, kami mengajak untuk bersama sama mengisi HARI TANI ini dengan semangat dan terus berinovasi agar pertanian kita , semakin bergerak dan menjadi ‘leader’ di dunia.

Kekayaan alam berupa, tanah yang subur sudah selayaknya kita mampu bersaing dalam dunia pertanian dengan bangsa lainnya. Selamat Hari tani kami ucapkan, maju bersama KPO_KL…..!!!

Petani Menjerit, di bawah ‘Titik Nadir”

Harga komoditas yang rendah dalam beberapa minggu terakhir ini menyebabkan banyaknya petani hortikultura yang merasakan dampaknya secara langsung.

Bahkan di beberapa tempat harga komoditas seperti cabai dan tomat sampai kepada Titik terendah yaitu sekitar Rp 1000 sampai Rp2.000 per kg nya. Hal ini Tentunya menyebabkan makin sulitnya tingkat kehidupan dan kesejahteraan petani Indonesia.

Tetapi di lain pihak harga pupuk dan pestisida terutama yang berbahan impor harganya justru makin menaik seiring dengan makin melambung nya nilai rupiah terhadap dolar. Untungnya petani-petani Mitra dari kpkl yang menggunakan pupuk dan pestisida berbasis produk dalam negeri tidak begitu signifikan terasa dalam hal biaya perawatannya.

Harga yang sangat rendah untuk beberapa komoditas menyebabkan banyak petani konvensional yang saat ini sulit untuk melanjutkan budidaya untuk musim berikutnya. Tidak demikian halnya untuk petani petani Mitra k p o k l yang konsisten dengan polanya pada saat ini Mitra masih bisa mendongkrak produktivitas dan hal ini bisa mengimbangi rendahnya harga harga sayuran hortikultura di pasaran.

Dalam kondisi demikian jeritan petani memang tak terbendung lagi. Harga rendah bahkan Titik terendah saat ini terasa dimana-mana kita sebagai petani berupaya untuk tidak berkeluh kesah dan berjuang untuk bisa Bangkit dari keterpurukan ini. Hal yang bisa dilakukan oleh petani diantaranya dengan meningkatkan produktivitas setinggi-tingginya.Hal yang dilakukan oleh Mitra kami saudara Ilyas dari Cilawu adalah dengan mempertahankan tingkat produktivitas tanaman tomatnya. Seperti dalam artikel ini hingga petikan ke-7 dari total  2.200 batang tanaman masih bisa mencapai 1,2 ton lebih per perpetikannya.

Petani kpo KL berjuang , untuk bangkit dari titik terendah , tetap fokus pada peningkatan produktivitas dari pada berkeluh kesah…