Sukses Bersama Klinik Pertanian Organik Kembang Langit, Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Kegiatan bersama Menakertrans di Leles-Garut More »

Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Jajaran Komisaris Direksi, Staff, dan Rekan PT.Kembang Langit More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada tanaman Padi di Aceh More »

Kegiatan Pelatihan More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Keriting More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Rawit More »

Hasil Aplikasi Mengatasi lalat buah di tanah karo-SUMUT More »

Pengiriman Barang, Kegiatan Pelatihan More »

 

Monthly Archives: April 2018

1 2 3 »

MENGOBATI CABE, KERITING DAUN

Banyak teori yang mengemukakan perihal penanggulangan masalah keriting daun pada tanaman sayuran diantaranya tanaman cabe keriting. Dalam hal ini kami dari klinik pertanian organik kembang langit memberikan hasil penerapan yang bisa dilihat hasilnya dalam 3 minggu aplikasi, berikut ini contoh yang bisa kita lihat.

Gambar 1A. Ambil beberapa tanaman dalam polybag kemudian diberi perlakuan sesuai metode yang ada dalam hal ini kami mencoba menerapkan pola kpo-kl pada tanaman cabe rawit lokal yang Kondisinya sudah “afkir”. Perlakuan pertama kami ambil gambarnya pada tanggal 28 Maret 2018.

Gambar 2.B. efektivitas suatu produk bisa diuji dalam skala yang kecil “dan dalam tempo yang singkat”. Hal ini bisa juga mitra-mitra lakukan dalam polybag sebelum mengelola tanaman dalam skala yang luas. Terlihat tanaman dalam kondisi rusak berat mulai ada perubahan setelah beberapa kali aplikasi dengan memberikan protektan  ,pesnator dan biopestis dengan dosis 1 sampai dengan 2 ml per liter air

1.C. Kondisi tanaman setelah 3 minggu perlakuan tampak makin membaik, padahal kondisi awal tanaman sangat “kering kerontang”. Perlakuan tambahan yang diberikan yaitu dengan penyemprotan insektisida decis dan insektisida jenis generic dengan merk Rizotin saja.

Gambar 2.A. kondisi yang sama pada gambar di atas ini menunjukkan tanaman yang sudah rusak pula ,kemudian kita akan mencoba mengobati tanaman yang keriting tersebut dengan produk pendukung dari klinik pertanian organik yaitu Protektan dan pesnator.

Gambar 2.B. Dua minggu setelah perlakuan kondisi tanaman mulai membaik fungisida tambahan yang kami berikan yaitu berbahan aktif simoksanil dan menkozeb ,dosis yang digunakan 1 gram per liter air.

Gambar 2.C. Diperlukan waktu 3 minggu untuk mempercepat pulihnya kondisi tanaman yang awalnya sudah keriting berat ini.

3.A. Metode ini, yang dilakukan dalam skala kecil bisa kita jadikan sebagai patokan untuk mencoba efektifitas dari berbagai produk “anti  kriting” sebelum kita aplikasikan di lapangan dalam jumlah yang luas.

3.B. Pada tanaman polybag nomor 3 ini pun, terlihat perubahan yang sangat signifikan dari kondisi awal tanaman yang juga mengalami hal yang sama yaitu keriting Tunas daunnya.”Tes drive” ini bisa dilakukan beberapa saat sebelum kita investasi tanaman dengan anggaran yang besar. Berbagai produk pendukung bisa diujicobakan dalam polybag polybag ukuran kecil dan hasil uji pra tanam ini bisa dijadikan patokan kita untuk memilih metode yang tepat sebelum kita ber investasi tanaman dalam jumlah yang besar.

Semoga bermanfaat

Tanaman Tinggi versus tanaman Pendek (2)

Sebagai pembanding untuk tanaman berikutnya Kami mencoba menampilkan hasil penerapan Mitra kami saudara Adiwarman dari Padang Panjang Sumatera Barat.

Tidak seperti halnya tanaman saudara datang dari Pesisir Selatan tanaman Mitra Muda kami ini secara fisik pertumbuhannya tidak terlalu tinggi tetapi dalam jumlah buah pertanaman terlihat sangat banyak.

 Memang ada istilah yang kita mau panen adalah buahnya bukan daunnya. Tetapi kalau tidak ada banyak daun Bagaimana mungkin terbentuk banyak buahnya.Sebenarnya  cukup mudah menghitung potensi  hasil suatu tanaman . Asumsi satu buah cabe , beratnya 7 gram, jadi kalau ada sekitar 100 buah, berarti berat  rata rata per batangnya di kisaran 700 gram.

Buahnya sampai menjuntai jatuh ke Mulsa, dan ukuran

Tanaman tinggi versus tanaman pendek

Ada hal yang agak menggelitik sehingga kami Menulis artikel seperti judul diatas tersebut. Secara alamiah kita pada umumnya sangat senang apabila memiliki tanaman yang jumlah percabangannya banyak sehingga dari percabangan tersebut kita harapkan bermunculan tangkai bunga pentil dan buah. Adapun harapan kita dengan makin meninggi nya percabangan Tunas tersebut diharapkan produktivitas pun semakin meningkat.

Kami mencoba membahasnya dari dua hasil yang berbeda antara tanaman mitra yang memiliki pertumbuhan dengan tunas yang banyak dibandingkan dengan tanaman Mitra lainnya yang tidak terlalu tinggi tetapi jarak antar ruas pun menjadi lebuh pendek. Tanaman yang pertama kami ambil contohnya dari tanaman Mitra saudara Tatang dari pesisir selatan Sumatera Barat. Sebagai pembanding nya kami ambil dari tanamannya saudara Adi dari daerah Kec. 2×11 Kayu Tanam, Kab.Padang Pariaman, masih di Sumatera Barat juga.

Tanaman ini jumlahnya 2000 lubang dengan jumlah tanaman 2 batang perlubangnya.

Tanaman pun sudah menghasilkan sekitar 1.8 ton dengan kondisi ruas atas masih cenderung bercabang dan berbuah. Walaupun buah agak sedikit memendek karena pola rem cara kpo KL sedang diterapkan.

Dengan jumlah petikan ke 18 hingga hari ini tanggal 24April 2018 ini, tanaman tampaknya masih mau “mengulur” dan memberi harapan berupa tunas tunas baru.

Dengan penambahan tunas dan tanaman terus meninggi, tidak usah khawatir akan jumlah aplikasi semprotan yang bertambah akibat bertambahnya percabangan yang baru .

Memang perawatan menjadi lebih ekstra tetapi apabila hasil juga meningkat, “why not”? Coba anda bayangkan tanaman apabila pertumbuhannya pendek dan buahnya dipanen tetapi jumlah petikan yang tidak banyak.

Kita justru berharap dengan adanya tunas baru yang berkembang terus kita harapkan ada lagi bakal buah yang akan muncul pad Periode berikutnya. Dengan perlakuan yang tepat berupa pemberian pestisida dari KPO KL dan dari kimia minim yang tetap ramah lingkungan. Semoga makin meningkat jumlah petikannya. Pak Tatang.