Sukses Bersama Klinik Pertanian Organik Kembang Langit, Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Kegiatan bersama Menakertrans di Leles-Garut More »

Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Jajaran Komisaris Direksi, Staff, dan Rekan PT.Kembang Langit More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada tanaman Padi di Aceh More »

Kegiatan Pelatihan More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Keriting More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Rawit More »

Hasil Aplikasi Mengatasi lalat buah di tanah karo-SUMUT More »

Pengiriman Barang, Kegiatan Pelatihan More »

 

Monthly Archives: Januari 2017

1 2 3 »

SUDAH SAATNYA, PERUBAHAN MENDASAR PADA PERTANIAN, DI INDONESIA

Pertanian Indonesia benar-benar ada dalam kondisi kritis. Hal ini bisa dilihat dari ketidak mampuan bangsa kita dalam swasembada pangan. Beras,jagung,kedelai,sayur-sayuran dan buah-buahan bahkan singkong kita masih impor. Ada apa dengan pertanian kita?

PhotoGrid_1485519085086

(Gambar 1. Kami mencoba untuk andil dalam mengubah sistem pertanian bangsa kita yang sudah minded dengan cara cara bertanam yang menggunakan metode kimia. Dalam gambar 1,tampak mitra binaan kami Bpk Tatang Burhanudin dari Pesisir Selatan Sumatra Barat sedang mengunjungi kebun mitra kami lainnya Sdr.Khoer di desa Mekarsari Cikajang,Garut.)

PhotoGrid_1485519122379

(Gambar 2. Bpk Tatang Burhanudin datang berdua dengan Bpk Yulnasri juga dari Pesisir Slatan Sumatera Barat,untuk sengaja melihat perkembangan tanaman di Mekarsari Cikajang,Garut yang menggunakan metode berbasis organik cara KPO-KL)

Revolusi Hijau mentargetkan dan bertujuan untuk meningkatkan produksi pangan yang cepat untuk mengimbangi pertambahan penduduk yang sangat cepat. Berbagai cara diambil untuk memacu pertumbuhan tanaman pangan agar bisa mensuplay kebutuhan pangan umat manusia. langkah yang diambil diantaranya adalah dengan mendesain benih benih unggul yang produksinya sangat tinggi tetapi membutukan pupuk kimia yang banyak pula.

PhotoGrid_1485519066314

(Gambar 3. Tanaman hybrida “Varitas Sebayu” yang dikunjungi,yang menggunakan pola pengurangan pupuk dan pestisida kimia. Pada saat ini berusia 3,5 bulan,buah sudah mulai memerah walaupun masih 1-2 buah.)

Di satu sisi,program revolusi hijau yang dicanangkan memag berhasil membentuk benih-benih hybrida yang produktivitasnya tinggi. Walaupun disisi lain produktivitas benih hybrida tinggi, akan tetapi benih tersebut mudah terserang hama & penyakit,sehingga membuat kebutuhan akan pestisida kimia meningkat pula.)

PhotoGrid_1485523667158

(Gambar 4. KPO dalam hal ini berupaya menkolaborasikan antara keberadaan benih hybrida yang produktivitasnya tinggi tetapi ‘Disetting’ dengan kebutuhan pupuk & pestisida kimia yang rendah saja. Hasilnya sangat kami syukuri karea pertumbuhan tanaman sesuai harapan.)

PhotoGrid_1485519008632

(Gambar 5. Revolusi hijau memang memberi harapan dalam jangka waktu tertentu,produksi meningkat sampai suatu titik puncak. Tetapi setelah itu,secara berangsur-angsur produktivitas pertanaman mulai berkurang dari waktu ke waktu. Hal tersebut sudah kita rasakan saat ini. pupuk kimia dan pestisida digunakan dalam skala overdosis tetapi pertumbuhan tanaman kerdil dan banyak masalah.)

PhotoGrid_1485519105464

(Gambar 6. Revolusi hijau cenderung mengabaikan fungsi mikroorganisme yang ada dalam tanah. Revolusi hijau juga pada umumnya “Melompati keberadaan mikroba-mikroba tersebut dengan cara membuat pupuk kimia yang ‘siap saji’ tanpa menggunakan bantuan mikroba.” Malahan sebenarnnya mikroba yang ada dalam tanah “dinonaktifkan”.)

PhotoGrid_1485519034439

(Gambar 7. Hal yang sebaliknya dengan metode yang kami terapkan ini justru mengprioritaskan aktifnya kembali mikroorganisme pengurai yang ada dalam tanah sambil tetap memprioritaskan tercapainya produksi yang tinggi.)

Jadi sudah sepatutnyalah kita membanngun pertanian Indonesia dengan tidak mengadopsi metode Revolusi Hijau secara mutlak. Sepertinnya program Revolusi Hijau untuk tanah Indonesia yang terkenal subur & makmur  perlu direvolusi ulang.

BERTANAM , tidak bisa DI COPAS,( “COPY PASTE”)…

Kami mencoba melanjutkan pemantauan pertanaman mitra kami disebuah pulau yang nun jauh di seberang sana di pulau Semeuleu salah satu kepulauan Nangro Aceh Darussalam.

(Gambar dikirim tanggal 21 Januari 2017)

IMG-20170121-WA0021

Saat ini mitra kami pak Guru Arwadin  sudah menjelang petikan ke 2. Kondisi tanamannya saat ini,  masih segar bugar.

IMG-20170121-WA0019

Pak Arwandin sebelumnya sudah 5 kali tanam cabe dengan cara menggunakan sepenuhnya obat obatan yang tersedia di toko pertanian dan hasilnya 5 kali pula , mengalami kegagalan total.

IMG-20170121-WA0023

Ada secercah harapan setelah musim tanam ini mitra baru kami ini,  beralih ke pola pertanian yang kami kembangkan ini. Pola dimana saat kita bertanam seperti kita masuk ke lahan baru seperti halnya kita masuk “medan area” /jalan yang asing sama sekali.

IMG-20170121-WA0018

Pada saat memasuki areal baru tersebut kita sebagai “pengemudi”..kita tidak tahu sama sekali,  kandungan unsur hara yang ada dalam tanah,  tidak tahu tingkat keasamannya,  tidak tahu mikroba apa yang terkandungnya yang menguntungkan atau yang merugikan. Bahkan secara umum kita tidak tahu tekstur tanahnya.

IMG-20170120-WA0054

(Gambar diatas diambil oleh pak Arwadin  Tanaman petani lain diluar KPO-KL, lokasi di kecamatan yang sama dg lokasi penanamannya.Kondisi tanaman 4 kali petikan yang sudah dipenuhi oleh penyakit patek) .

Kondisi alam dan tanah yang berbeda pada setiap wilayah , menjadikan kita harus siap siap untuk menghadapi,  “medan area” yang berbeda pula.

IMG-20170120-WA0049

Dari ketidaktahuan awal tersebut sudah selayaknyalah kita untuk “test drive” terlebih dahulu,   “meraba raba ” dulu,  jalan yang akan kita lewati.

Tidak akan sama pola yang akan kita terapkan dengan pola yang lampau karena wilayah /tingkat kesuburan tanah yang tentunya berbeda.

Jadi menurut kami pola pemupukan akan berbeda untuk setiap wilayah,  tidak bisa di Copy paste secara mutlaq.

Semoga sukses pak Arwadin,  mitra baru KPO KL.

PETANI PEMULA BERTANAM DI ‘TANAH YANG LETIH’

Kembali kami tertarik untuk mengangkat ‘kisah’ petani pemula yang bercocok tanam cabe . Kali ini kisahya datag dari Desa Mekar Sari, Cikajang- Garut – Jawa Barat. Namanya , sdr. Khoer.  Awalnya sebelum bertani sdr. Khoer ini, bekerja disalah satu perusahaan swasta nasional di Jakarta, tetapi saat ini rupanya lebih tertarik untuk bertani.

Kali ini penanaman dilakukan di sekitar pekarangan( tampak bangunan sekolah dibelakangnya), istilah kami di Garut adalah “tanah jami’ tanah yang sudah “letih” dan cenderung dihindari karena sudah sering ditanami dan dianggap sudah tidak subur dan tidak mendukung.  Dengan demikian biasanya petani sekitar, berusaha mencari tanah keatas gunung ,membuka lahan baru lagi.

pp1

Ceritanya dimulai pada saat tanamannya pada saat usia sekitar 2 mingguan setelah tanam, ( penanaman tanggal 10 Okober 2016 ) mulai terkena virus kuning dan gejala keriting daun, sontak saja karena Sdr. Khoer yang  tergolong petani pemula , langsung searching ke abah google, dan menemukan website nya  KPO-Kembang Langit ( yang nota bene masih sekabupaten dengannya).

pp4

 Pertama kali sdr.Khoer  mengunjungi klinik kami, pada tanggal 25 Oktober 2016, kemudian sebulan kemudian, kami mengunjungi langsung ke kebun untuk dilakukan pengamatan langsung tanggal (26 Nov 2016).

Penerapan secara “utuh” saran dari KPO _KL, ternyata saat itu sudah mulai terlihat.  Modifikasi modifikasi yang “tidak perlu”, Hal ini, biasanya kalau petani yang sudah berpengalaman, metode kami banyak di ‘plintir’ dengan menambahkan pupuk insektisida maupun fungisida yang di luar “standar ‘KPO-KL.

IMG_20161202_093739

Pemantauan berikutnya kami secara langsung “terjun” ke lapangan pada tanggal  2 Desember 2016,  mengamati perkembangan tanaman mitra yang ‘disiplin” tanpa memodifikasi  standar /metode. Perkembangan tanaman tampaknya makin sehat.

pp7

Jarak dari kantor KPO-KL di Leles ke Cikajang yang tidak begitu jauh ( sekitar 30-40 km ), memudahkan juga kami untuk melakukan pemantauan secara intensif. Pada tanggal 12 januari 2017, kami melakukan ‘blusukan’ untuk memantau langsung, efek dari hasil penerapan metode KPO-KL.  Hasilnya, hingga tanaman berusia 3 bulanan, sangat memuaskan kami.

IMG_20161226_173003

Ada hal yang kami petik dari petani pemula ini, walaupun tanamannya hingga saat ini belum panen, tetapi hasil  yang sudah tampak menggembirakan bahkan saat ini, membawa teman teman petani pemula  sekampungnya.

IMG_20161226_173018

Memang agak berbeda dengan petani yang ‘sudah banyak tahu’ pestisida dan pupuk kimia, petani pemula seperti sdr. Khoer ini, tidak banyak “neko neko” dalam menerapkan metode kami, semoga saja teman teman lainya yang saat ini di ‘bawa’ olehnya bisa menyusul, menerapkan metode KPO-KL.

Kami berharap pada suatu saat nanti, walaupun masih pemula, tapi kami berharap banyak , suatu saat nanti, bisa menggugah dan mengubah ,pola tanam konvensional kimia murni yang banyak di gunakan di sekitaran Cikajang, Cibuluh dan sekitarnya.  Sebagaimana banyak diketahui daerah Cikajang ini merupakan salah satu sentra pertanian  hortikultura, terbesar di Garut  bahkan di Jawa Barat.

IMG_20170112_110313

Petani di Cikajang ini, sulit sekali menerima inovasi baru, karena sudah ‘terkungkung’ oleh adat istiadat bertani secara kimia sejak jaman “baheula”. Kami berharap dengan metode ini suatu saat nanti, ingin membuktikan bahwa bertani dengan cara demikian, bisa lebih menguntungkan dan bisa dilakukan di ‘tanah jami’yang selama ini dihindari oleh petani  lainnya.