Sukses Bersama Klinik Pertanian Organik Kembang Langit, Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Pimpinan KPO-KL Bpk. Rusli Gunawan SW, SH. (kiri) Bersama Bupati Garut Bpk. H. Rudi Gunawan, SH, MH dan Camat Leles Dra. Hj Rusmanah M.Si More »

Kegiatan bersama Menakertrans di Leles-Garut More »

Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Jajaran Komisaris Direksi, Staff, dan Rekan PT.Kembang Langit More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada tanaman Padi di Aceh More »

Kegiatan Pelatihan More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Keriting More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Rawit More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Pare/Paria More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Keriting More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada tanaman Tomat di-Bandung More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Keriting More »

Hasil Aplikasi Mengatasi lalat buah di tanah karo-SUMUT More »

Pengiriman Barang, Kegiatan Pelatihan More »

 

“DAUN BENDERA” PADI SEBAGAI ‘PATOKAN’

Pada kesempatan ini, kami akan membahas salah satu dari bagian daun tanaman padi yang biasanya dijadikan “parameter” akan produktifitas /berhasil atau tidaknya budidaya tanaman padi pada suatu periode.

Gambar 1. A. ( Berikut ini, kami sertakan hasil aplikasi pada tanaman padi, yang pindah tanamnya dilakukan pada tanggal 17 Mei 13.  Sedangkan gambar diatas diamati pada tanggal 12 juni 13. Perbandingan dilakukan, sebelah kanan menggunakan tehnik kimia murni, sebelah kiri menggunakan tehnik  insektisida organik ala KPO-KL, pengambilan gambar dari Timur ke Barat.)

Pada dasarnya,daun tanaman padi tumbuh pada batang dengan susunan yang berselang-seling,satu daun pada tiap buku.

Tiap daun terdiri atas :
1.Helaian daun merupakan bagian yang menempel pada buku melalui
pelepah daun dan bentuknya memanjang seperti pita.
2.Pelepah daun merupakan bagian yang membungkus ruas di atasnya dan
helaian daun ruas berikutnya.
3.Telinga daun (auricle) terletak pada dua sisi pangkal helaian daun
4.Lidah daun (ligula) yaitu struktur segitiga tipis yang terletak pada
perbatasan antara helaian daun dan upih tepat di atas telinga daun
5.Daun bendera adalah daun teratas dan biasanya terletakdi bawah malai

1

Gambar 1.B. (Varietas yang digunakan mitra kami, adalah Var hybrida jenis SL-8, SHS.  Dilain pihak, terdapat Perbedaan  waktu ,pindah tanam selisih sekitar 3-4 harian , lebih dahulu yang menggunakan tehnik kimia murni.  Pengambilan gambar dilakukan pada tanggal 27 Juli 13, pada saat usia tanaman 70 harian.  Saat ini, perbandingan masih terus dilakukan, tampak sebelah kiri, warna daun bendera masih hijau, dibandingkan dengan pola sebelah kanan, yang menggunakan tehnik kimia murni.)
Pada tanaman padi, daun bendera biasanya, akan dijaga agar selalu sehat agar pengisian bulir padi lebih  optimal sampai pangkal malai.

2

Gambar 1.C.( Pengambilan gambar masih dari arah yang sama, dari Timur ke Barat, hanya “mundur” ke petakan ke 3.  Perbandingan kiri dan kanan, juga dilakukan, kondisi hampir sama dengan kondisi gambar 1.B. Pada petakan pertama,diatas.)

Tehnik yang kami lakukan untuk meningkatkan produksi biasanya, adalah dengan mempertahankan daun bendera agar tetap hijau hingga menjelang panen, meskipun malai sudah menguning.

3

Gambar 1.D.( Masih dalam petakan ketiga, pengambilan gambar dilakukan untuk mengamati kondisi tanaman  secara umum , yang  menggunakan tehnik pertanian berbasis fungisida organik ala KPO-KL. Tanaman terbebes dari serangan  kresek daun. )

Apabila Daun bendera tetap berwarna hijau sampai menjelang panen, proses fotosintesis berjalan penuh sehingga pengisian bulir lebih sempurna . Di samping itu  rendemennya pun meningkat, kualitas gabah lebih baik.

4

Gambar 1.E. ( Pengambilan gambar ke sebelah kiri, mitra kami membandingkan dengan tehnik kimia ( sebelah kiri) sedangkan sebelah kanan yang menggunakan tehnik pupuk organik ala KPO-KL).

Pada   fase, “masak susu”  yang  terjadi setelah tanaman berbunga, biasanya  bulir mulai diisi dengan karbohidrat yang diproduksi dalam DAUN BENDERA.

5

Gambar 1.E.( Pengambilan gambar dilakukan dari “bawah”, perbandingan kiri (tehnik pestisida organik ala KTO) dengan sebelah kanan menggunakan pestisida kimia murni), hasilnya berupa pembentukan  dan warna bulir yang mulai terlihat agak berbeda.)

Bulir akan terus diisi sampai bulir mencapai ukuran yang maksimum, meskipun demikian tidak semua bulir akan berisi penuh, hanya bunga yang telah berkecambah dan DAUN BENDERA yang mampu “bertahan” yang akan menjadi bulir..

6

Gambar 1.F.( Tampak walaupun, warna bulir masih hijau/ masih “muda” tetapi bulir sudah merunduk.  Ada suatu hikmah/pelajaran yang bisa diambil dari bulir ini, yaitu : Masih Muda, sudah berisi tetapi “merunduk”  dengan  “kerendahan  hati”. Yang Muda yang “merunduk”.)

  Fase “masak penuh”  adalah fase yang diharapkan , Hal yang penting pada fase ini ialah bagaimana mengusaha supaya pemasakan yang merata pada bul;ir padi. Sebagaimana yang anda lihat dalam fase masak susu, beberapa bulir padi hampir mencapai fase masak penuh, beberapa masih berada dalam fase masak susu, dan ada juga beberapa yang masih berada pada fase berbunga.

7

Gambar 2.A. (Pada tanggal ,02 juli 13, Mitra kami melakukan pengamatan dan perbandingan dengan tanaman padi yang menggunakan pola berbasis kimia murni.  Sebelah kiri bedengan menggunakan tehnik kimia, sedangkan sebelah kanan bedengan menggunakan tehnik pertanian berbasis organik ala KPO-KL. Pengambilan gambar dari Barat ke Timur.)

Dengan daun yang hijau terutama daun bendera maka proses fotosintesis akan maksimal. Dan ini akan berpengaruh kepada panjang  dan pengisian malai.


8

Gambar 2.B. ( Selanjutnya pengamatan pada tanggal ,14 juli 13.  Kondisi tanaman yang menggunakan cara kimia murni, pertumbuhannya saat ini, (memang) lebih pesat dan lebih cepat (sebelah kiri bedengan), dibandingkan dengan pola yang menggunakan cara berbasis organik (kanan).

Kita  sering memperhatikan DAUN BENDERA yang masih  hijau ,maka isi malai akan semakin baik, semakin BERISI DAN MERUNDUK.

9

Gambar 2.C. ( Namun,  seminggu kemudian pada tanggal ,22 juli 13, perbandingan masih dilakukan dalam “titik”  yang sama dengan gambar 2.B.  kondisi tanaman yang menggunakan tehnik  berbasis organik, ( sebelah kanan bedengan ) mulai  “mengejar” tampak “seragam” dalam pembentukan bulirnya.)

Dan apabila kita perhatikan lagi,ketika daun bendera suatu malai sudah kuning maka gabah yang dihasilkan biasanya kurang bernas.

10

Gambar 2.D.( Pengamatan pada tanggal 27 Juli 13, disaat usia tanaman yang menggunakan tehnik KPO, 70 hari.  Ada yang bisa dijadikan bahan pengamatan, yaitu berupa :  Dalam kondisi usia tanaman yang hampir sama, terlihat, DAUN BENDERA, tanaman padi yang menggunakan tehnik KPO, MASIH BERTAHAN, berwarna HIJAU,apabila dibandingkan dengan tanaman disekelilingnya yang menggunakan tehnik kimia murni.)
Pada Masa peralihan dari fase vegetatif ke generatif ( usia 30-40 han). Dalam kondisi ini tanaman sedang membutuhkan nutrisi yang tinggi. Hal ini ditandai dengan keluarnya daun bendera atau padi bunting. Artinya malai padi akan segera keluar. Pada fase demikian, biasanya pengaturan pola pemupukan.  Istilah kami, “gas masih diberikan ” tetapi sudah agak di”rem-rem” sedikit.

11

Gambar  2.E.( Masih pada “titik” lokasi dan tanggal yang sama, 27 Juli 13, Pengambilan gambar agak di”zoom”kan.  Kalau mengamati perbandingan kondisi seperti gambar seperti diatas ( kiri, tehnik kimia murni)  dengan (kanan, tehnik berbasis organik ala KPO-KL.), bisa diamati kondisi DAUN BENDERANYA dan juga kondisi bulirnya.)
Tapi, kita juga harus melihat kondisi daun tanaman padi tersebut,bila kondisinya masih hijau terutama daun benderanya,maka aplikasi untuk pupuk NITROGENnya ini ,biasanya dikurangi dan memperbanyak kandungan Phosfat , Calsium  dll (intinya selain Nitrogen).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


satu × 8 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


sembilan − 3 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>