Sukses Bersama Klinik Pertanian Organik Kembang Langit, Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Kegiatan bersama Menakertrans di Leles-Garut More »

Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Jajaran Komisaris Direksi, Staff, dan Rekan PT.Kembang Langit More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada tanaman Padi di Aceh More »

Kegiatan Pelatihan More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Keriting More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Rawit More »

Hasil Aplikasi Mengatasi lalat buah di tanah karo-SUMUT More »

Pengiriman Barang, Kegiatan Pelatihan More »

 

Monthly Archives: Agustus 2013

1 2 »

POLA PERTANIAN ORGANIK, TAK TERPURUK AKIBAT ‘MENGUATNYA’ DOLLAR

Nilai tukar rupiah terus melemah sepekan terakhir ini. Bank Indonesia menyatakan pelemahan ini terjadi akibat mekanisme di pasar  internal dan eksternal. Menteri Keuangan Chatib Basri memperkirakan pelemahan nilai tukar rupiah masih akan berlanjut hingga awal 2014 mendatang.
Pagi ini, Bloomberg mencatat nilai tukar rupiah melemah atas dolar AS dengan turun 23 poin atau 0,20 persen. Rupiah diperdagangkan di nilai tengah Rp 11.314 per dolar AS dengan pergerakan harian Rp 10.925- Rp 11.314 per dolar AS .
Sumber literatur diatas kami ambil dari :

 

1

Gambar 1. ( Mahasiswa pertanian Unsoed, Sdr. Arif Rachman, sedang  mengamati tanaman  tomat yang menggunakan tehnik pestisida organik ala KTO-KL, menjelang panen.)

Beberapa Harga pestisida kimiawi  pada saat ini, secara berangsur mulai  meninggi , kalaupun masih stabilnya beberapa harga pestisida saat ini karena berbagai faktor. Antara lain, barang yang merupakan stok lama. Kenaikan harga ini tentunya membebani biaya produksi pertanian.
2
Gambar 2. ( Produk -produk yang digunakan (selama musim tanam ini ) oleh Mitra kami di Cigasti,  Leles -Garut- Jawa Barat, ini di “dominasi” oleh pupuk dan insektisida organik ala KTO-KL).
Dalam hitungan petani, biaya komponen pestisida mencapai 25 – 40 persen dari total biaya produksi pertanian, bahkan dalam kondisi tertentu bisa lebih banyak.

3

Gambar 3. ( Menjelang panen ke-4, setelah panen I,II dan III, masing masing telah dipetik 700 kg, 1.32 ton, 1.7 ton dari  jumlah tanaman sekitar 3000-an batang.)

 Tingginya harga pestisida kimiawi tersebut disebabkan bahan aktif pestisida masih diimpor. Depresiasi nilai rupiah terhadap dolar Amerika menyebabkan harga pestisida kimiawi bisa menyebabkan semakin tidak terjangkau oleh petani.

4

Gambar 4. ( Harga jual tomat pada saat ini, sangat baik yaitu pada panen pertama Rp. 5500, panen II, Rp. 6500, panen ke III, Rp.7500.  Gambar diatas diambil pada  tanggal 27 Agustus 13, saat panen yang ke-4.)

5

Gambar 5. ( Pada saat ini, panen ke IV, hasil yang dicapai sekitar 1.3 Ton dan harga masih cukup tinggi yaitu  Rp.6500.  Keuntungan besar justru dicapai oleh petani MITRA KTO-KL, pada saat nilai dollar, menguat.)

6

Gambar 6. ( Walaupun ada (sedikit)  pestisida kimia yang digunakan, tentunya tidak akan  terlalu terpengaruh “signifikan” terhadap meningkatnya biaya produksi yang dikeluarkan. Hal ini disebabkan, sebagian sarana produksi yang digunakan, berasal dari produk yang tidak perlu di impor.)

Gambar 7. ( Mitra kami, bertopi, sedang mengemas  hasil panen,petikan ke-4.  Bisa dibayangkan apabila pengecoran dengan menggunakan pupuk kimia yang sedikit, dan hingga saat ini, dilakukan hanya sebanyak 6 kali saja. Pengecoran terakhir dilakukan pada tanggal 12 Juli 13. Pengecoran mengandalkan PROTEK-tan  dan pupuk CAS.)

7

Gambar 8. ( Terlihat dalam gambar, hasil yang dicapai pada petikan ke-4 ini,  mencapai 37 “kas”, bobot per kasnya sekitar 42-43 kg ( berat buah dengan menggunakan tehnik pupuk organik ala KTO-KL, lebih berbobot. Tonase bersih sekitar 1.3 Ton dengan harga Rp. 6.500, bisa dihitung keuntungan yang dicapai total oleh Mitra kami ini.)

8

Gambar 9. ( Hasil pertanian ,tomat…yang dikelola  dengan tehnologi berbasis organik, siap “kirim”.   Sayang…jumlahnya sedikit sehingga pasarannya baru sekitar pasaran dalam negeri, padahal secara kualitas, mutu produksi bisa masuk “grade” eksport ( berat per kg nya berisi 8-10 butir, berwarna merah segar, bijinya sedikit dan kadar air yang rendah, tidak lembek, kulit bersih dan merah mengkilat).)

9

Gambar 10. ( Bak  truk “engkel” sudah terisi tomat siap “eksport” ke kota.  Sedikit berandai – andai, seandainya tomat mitra kami ini, bisa diekspor ke luar negeri dengan pembelian kurs DOLLAR, alangkah berlipatnya hasil keuntungan yang didapat.  Biaya produksi minim, tetapi hasil produksi berlipat ganda.)

10

Gambar 11. ( Pengepakan buah tomat, sudah selesai, siap pulang menunggu “transferan”. Tampak raut wajah yang  “riang gembira ” dari mitra kami.  Sementara petani berbasis kimia pada saat ini, di “pusingkan” dengan “mulai” merangkak naiknya Pupuk dan PESTISIDA kimia, mitra kami ini, justru menikmati keuntungan yang besar.)

11

Gambar 12. ( Sdr. Arif Rachman Mahasiswa  Universitas Jend. Soedirman, Purwokerto, yang sedang PKL di KTO-KL, sedang mengkalkulasi biaya yang dikeluarkan oleh Mitra kami, yang menggunakan tehnik pertanian organik, KTO-KL,  selama musim tanam tomat ini. )

Total pengecoran hanya sekitar 6 kali, sedangkan penyemprotan dilakukan sekitar 10-11 kali saja, dan itupun penyemprotan terakhir dilakukan pada tanggal 15 Agustus yang lalu.

Sedikitnya jenis pestisida kimia yang digunakan (sebagaimana terlihat dalam gambar diatas) dan juga minimnya dosis  pestisida kimia yang digunakan , yang “nota bene” bahan-bahan import yang dibeli dengan kurs DOLLAR, menyebabkan biaya produksi tak “seberapa” berpengaruh terhadap “gonjang-ganjingnya”  MATA UANG DOLLAR, justru meningkatkan MATA PENCAHARIAN PETANI MITRA KTO-KL.
Dalam kondisi pertanian Indonesia saat ini dengan harga komponen pestisida yang tinggi, maka dapat diramalkan  dan dikhawatirkan bahwa usaha tani menjadi  MATA PENCAHARIAN yang tidak menguntungkan lagi  karena tidak dapat diandalkan sebagai sumber pendapatan yang layak. Kondisi tersebut tentu saja amat merugikan pembangunan bidang pertanian Indonesia.  Dengan demikian secara berangsur-angsur harus segera diupayakan pengurangan penggunaan pestisida kimiawi dan mulai beralih kepada jenis-jenis pestisida hayati (biopestisida) yang aman bagi lingkungan. Oleh karena itu, mari kita songsong MATA HARI , esok hari yang lebih cerah, dengan menerapkan POLA PERTANIAN BERBASIS ORGANIK, yang tak “guncang”  bahkan “malahan” BANGKIT ,akibat, fluktuasi nilai MATA UANG DOLLAR.
SEKALI LAGI, MITRA KAMI  MERASAKAN MANFAAT DAN MEMBUKTIKANNYA !!!

 

 

PANEN TOMAT DENGAN KUALITAS ‘SUPER’

Bagi anda yang sudah menggunakan tehnik pertanian berbasis organik ala KPO-KL, pernah merasakan betapa ‘padat dan berisinya’ kualitas buah yang diproduksi. Demikian pula yang dirasakan oleh mitra kami yang pada tanggal 22 Agustus yang lalu sedang panen .

1

Pekerja petik Mitra kami sedang mengangkut, produksi tomat yang menggunakan pestisida organik ala KPO-KL.

Beberapa tanaman ,bahkan roboh karena angin yang kencang dalam beberapa hari terakhir ini dan juga akibat tanaman “keberatan buah”.

3

Buah yang sebenarnya, sekalas varietas “permata”, ternyata ukurannya  “menjadi lebih besar”.

4

Kondisi menjelang pemetikan ke-3, buah tampak ada  “dimana-mana”, dari tangkai terbawah sampai tangkai keatas, dengan ukuran ‘ super’.

Dengan harga Rp. 7500 per kg nya, tentunya suatu kebahagian bagi petani Mitra dan juga kami sebagai “pendamping”  yang menggunakan tehnik berbasis insektisida organik ala KPO-KL.

5

Metode kpo-KL, ternyata berhasil meningkatkan kualitas buahnya.

6

Selain berukuran  lebih besar….

7

Tanaman tomat perlu di “sokong” bambu lebih banyak karena , “keberatan” .

8

Buah “ranum” yang siap panen. Dengan biaya produksi yang hanya sekitar Rp. 1500 per batangnya (dengan metode ala KTO-KL), tentunya hasil yang dicapai saat ini, sudah lebih dari cukup untuk “menutup” biaya yang dikeluarkan.

9

Mitra kami sedang mengemas kedalam peti”kas” tomat dengan senang hati, karena harga buah tomat yang sedang “baik”. Hasil yang didapat mencapai 43 “kas”/kotak peti kayu.

10

Semoga panen berikutnya, kualitas makin meningkat dan bobot dan harga juga makin “bersahabat” , wahai sahabat kami.

HAKEKAT KEMERDEKAAN BAGI PETANI

17 Agustus 1945 merupakan tanggal kemerdekaan RI , setiap tahun pula kita memperingatinya, baik sebelum, selama, dan sesudahnya. Peringatan itu ditandai dengan berbagai cara, dapat berupa pengibaran bendera di masing-masing rumah, kantor, dan instansi. Di beberapa sudut jalan dihiasi ornamen kemerdekaan dan dominasi warna merah putih. Perayaan pun di gelar mulai dengan pawai, lomba-lomba, sampai dengan pentas musik. Bagi pelajar dan aparatur negara tepat di hari H melaksanakan upacara bendera.

1

( Bagi petani, mengisi kemerdekaan kiranya cukup dengan mengupayakan produktiftas yang tinggi tetapi tanpa mengabaikan aspek ramah lingkungan.)

 Bagi peserta upacara masih mending, ada kesempatan untuk menghormat bendera, dapat  wejangan berbau patriotis dari inspektur upacara. Bagi yang tidak mengikuti –di luar pelajar dan aparatur negara- tiada kegiatan “resmi” yang dilakukan, peringatan dan perayaan sepertinya hanya biasa-biasa saja tidak ubahnya dengan hari lain.

2

( Seluruh gambar pada “makalah ” ini, kami ambil dari  lanjutan, pertanaman tomat dari mitra kami di Garut, pengambilan gambar dilakukan pada tanggal 15 Agustus 13.)

Bagi kita yang tidak mengikuti upacara ,jangan sampai Kita kehilangan makna peringatan kemerdekaan itu, seolah-olah kita tidak tahu –bahkan tidak mau tahu- bahwa kemerdekaan itu di dapat dengan susah payah dengan penuh pengorbanan cucuran darah, keringat, air mata bahkan nyawa.

3

( Perjuangan petani untuk mengisi kemerdekaan dengan mengupayakan agar negara ini, “merdeka” dari tidak kekurangan pangan, memang cukup berat).

Kemerdekaan merupakan harga mati, tak heran pada waktu itu istilah : “Kami cinta perdamaian tetapi kami lebih cinta kemerdekaan”, “Merdeka atau mati”, “Sekali merdeka tatap merdeka” merupakan istilah yang tidak asing bagi para pejuang dan rakyat pada waktu era perjuangan dulu.

( Apalagi, sebenarnya pada umumnya petani seolah “berjuang sendiri” untuk memenuhi kebutuhan pangan nasioanal.)

Setelah puluhan tahun mencapai kemerdekaan, terasa semangat kendur untuk mengisi dan mencapai tujuan kemerdekaan itu sendiri.
Kemiskinan, kebodohan, kesenjangan, dan ketidakadilan yang masih mendera kebanyakan rakyat mungkin yang menjadikan kurang memaknai arti kemerdekaan itu

4

( Seperti dalam hal ini, petani mitra kami, mungkin tidak akan merasakan, anggaran dari negara yang besarnya 15.5 Trilyun, yang dilaporkan  pada NOTA LAPORAN KEUANGAN NEGARA (RAPBN 2014), yang dianggarkan untuk sektor pertanian untuk  tahun  2014 ( masih lebih rendah dari anggaran pemilu 2014 yaitu sebesar 17.5 T…Wow).

Banyaknya pengangguran, pengemis di jalan, dan anak terlantar seolah- olah mereka tidak mempunyai negara yang mengurusinya, padahal hal tersebut merupakan amanat UUD 45 yang menjamin rakyatnya untuk cerdas dan sejahtera.

5

( Bahkan petani -petani pada umumnya tetap ikhlas, berjuang tanpa mengharap turunnya bantuan  yang diperuntukkan untuk meningkatkan produktifitas tanaman dan kualitas produksi tanaman.)

  Logika pemikiran  mempertanyakan, mengapa negeri yang dikaruniai kekayaan alam yang melimpah, tanah yang subur namun  belum  membuat sejahtera. Kita bahkan bisa  membandingkan dengan negara yang sumber daya alamnya minim tetapi mampu membuat rakyatnya hidup makmur.

6

( Termasuk dalam hal ini,secara tidak disadarinya, petani mitra kami yang sedang menanam komoditas tomat, sedang “berjuang” untuk menekan laju inflasi agar bisa dibawah 4,9 %).

Sudah saatnya, masyarakat  harus dilepaskan dari beban berat dan diberikan keringanan untuk hidup di “alam merdeka” seperti saat ini.

7

( Harga buah tomat yang dibeberapa daerah bisa mencapai lebih dari Rp.10.000 per kg nya, jelas akan memacu laju “naiknya”  inflasi secara umum.  Sementara itu petani mitra kami, berupaya, agar tanamannya yang rubuh akibat terpaan angin kencang agar bisa “naik” kembali, untuk menggapai “kemerdekaaan”.)

Saat ini kita masih dapat melihat segelintir para pejuang veteran yang masih tersisa. Dari situ kita dapat pelajaran bahwa dengan kondisi yang renta mereka dapat berdiri tegak sambil menghormat bendera merah putih dengan penuh semangat dan rasa bangga.

8

( Petani  secara tidak langsung dipacu, agar bisa menekan laju inflasi dengan meningkatkan produktifitas komoditas pertanian.)

Mengenai hal itu kita tidak perlu dipertanyakan dan diragukannya lagi. Padahal kita tahu bahwa negara masih belum menghargainya secara layak yang seharusnya mereka terima. Mereka tidak menuntut apa-apa, mereka menyadari bahwa negara ini masih belum makmur. Namun Semangat,pejuang-pejuang itu,  yang perlu kita contoh.

9

(Padahal kita ketahui penyebab inflasi terbesar adalah naiknya harga-harga komoditas pertanian.  Mungkin diantara kita yang bukan petani, berfikir, kenapa harga-harga komoditas pertanian pada akhir-akhir ini melambung tinggi? Perjuangan petani , untuk menerima,”kejadian  Alam” berupa terpaan angin kencang, merupakan salah satu penjelasannya. )

Memang Jaman telah berubah, saat ini merupakan jaman generasi pengisi kemerdekaan. Generasi yang tidak terlibat langsung dalam kancah perjuangan, generasi yang mewarisi kemerdekaan dari para pejuang.

10

( Ketahanan pangan yang selalu diidamkan dan didambakan,  memang tarasa berat untuk dicapai, bisa dibayangkan apabila kondisi tanaman seperti diatas ini, apabila tanaman “roboh ” dan harga komoditas nya pun “jatuh”. Untungnya pada saat ini, petani tomat mitra kami masih bisa diuntungkan dengan harga yang cukup tinggi.  Pada saat seperti saat inilah, sebanarnya petani mengalami ‘KEMERDEKAAN” sesaat)

Memaknai peringatan kemerdekaan boleh jadi memaknai kemerdekaan itu sendiri. Bagaimana memaknai kemerdekaan yang bisa dirasakan semua orang. Yang kita tahu bahwa kemerdekaan itu aman dan sejahtera. Karena setiap generasi mempunyai caranya sendiri memaknai kemerdekaan, hal tersebut tercermin jelas ketika peringatan kemerdekaan di setiap tahunnya.

11

( Kondisi tanaman yang rusak akibat kondisi cuaca yang ekstrim, gangguan hama, penyakit dan faktor tehnis lainnya, bisa mengoncangkan harapan pencapaian KETAHANAN PANGAN,apabila petani kehabisan Modal dan terlilit utang dan tidak bisa tanam lagi untuk musim tanam berikutnya? Kalau kondisi demikian terjadi, Rasanya memang petani, belum bisa menikmati ‘KEMERDEKAAN ‘.  Kalau sudah begini, alih-alih memikirkan ketahanan pangan dan menekan laju inflasi, untuk memikirkan agar budidaya bisa kembali modal saja sudah merupakan, “kemerdekaan”  tersendiri .)

Namun Kami  berharap sebagai generasi penerus menginginkan menemukan kembali makna kemerdekaan yang benar-benar menancap di sanubari, ia bagai mutiara yang hilang, suatu yang berharga dan kita berharap kembali.
Jangan sampai  kita kehilangan “ruh”/ semangat memahami arti kemerdekaan. Kita sebagai warga negara merdeka selayaknya mewarisi semangat para pejuang kemerdekaan itu, tanpa pamrih dan penuh dedikasi kepada bangsa dan negara.

 JAYALAH PERTANIAN INDONESIA, MERDEKALAH PETANI PETANINYA !!!