Sukses Bersama Klinik Pertanian Organik Kembang Langit, Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Kegiatan bersama Menakertrans di Leles-Garut More »

Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Jajaran Komisaris Direksi, Staff, dan Rekan PT.Kembang Langit More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada tanaman Padi di Aceh More »

Kegiatan Pelatihan More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Keriting More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Rawit More »

Hasil Aplikasi Mengatasi lalat buah di tanah karo-SUMUT More »

Pengiriman Barang, Kegiatan Pelatihan More »

 

Monthly Archives: Maret 2013

1 2 3 »

LALAT BUAH JERUK, TERKENDALIKAN

Mungkin diantara anda yang bertanya, judul ini, apa maksudnya? apa hubungannya? Tanaman tumpangsari cabai dengan Jeruk ?

Adapun maksud tulisan kami kali ini adalah, sebagaimana yang pernah kami paparkan, yaitu TANAMAN CABE  yang biasa kami bilang  ‘standar’ dalam tehnik berbudidaya tanaman pangan.  Tingkat kesulitannya, memang  sangat tinggi.  Dalam budidaya cabe,  hampir segala jenis HAMA dan PENYAKIT tanaman ada, dimana  tidak  ada  pada tanaman pangan lain .

1

Gambar 1. A. ( Beginilah sebagian besar kondisi tanaman jeruk di sentra pertanaman  Jeruk, di Tanah Karo, Sumut,saat ini.)

Dari penyakit pada bagian akar ( Nematoda, Fusarium, Pseudomonas, hama pengerek akar. Penyakit batang, busuk batang, pada buah, daun dan bahkan tunasnya pun tidak luput dari gangguan hama dan penyakit.  Selain itu ada satu lagi yang paling ditakuti petani  cabai pada saat ini yaitu penyakit yang disebabkan oleh Virus.

2

Gambar 1.B.( Kondisi tanaman  sepertinya ditelantarkan, karena daun dan buahnya, rontok.)

Pada kesempatan ini, yang kami ulas adalah hubungannya antara budidaya cabai dengan budidaya jeruk,khususnya dalam hal pengendalian hama LALAT BUAH,

20130325101111

Gambar 1.C. ( Tanaman ini, lebih parah lagi, hampir seluruh pertanaman tampaknya sudah tidak dipelihara lagi.  Kondisi tanaman ini, kerena secara ekonomis, tidak menguntungkan lagi.  Kalaupun dipelihara lagi, justru hanya menghabiskan anggaran saja. KALIMAT  yang paling tepat untuk mengomentari kondisi demikian  .

Ada beberapa pengalaman kami yang kami terapkan dalam mengatasi lalat buah pada cabe,  kemudian kami “tularkan” pengelaman tersebut untuk mengatasi lalat buah pada tanaman Jeruk.  Pada prinsipnya sama saja hanya yang berbeda adalah pada kadar/ dosis pupuk dan pestisida organiknya.

Gambar 1.D. ( Kondisi perkebunan yang lain, masih di Tanah Karo, yang diambil pada tanggal 25 Maret 12. Permasalahannya, setelah merasa prihatin tersebut, apa yang seharusnya dilalakukan ? Menyarankan pemberian insektisida kimia dosis tinggi? Pemasangan kelembu?  Pemberian perangkap ?Pelepasan Burung Jalak? Atau tanaman di tebang, dibakar dan di dilakukan PENANAMAN ULANG? )

Pada prinsipnya pengendalian hama lalat buah  kami  atasi dengan, sistem penolakan,/Repellen. Insektisida organik yang kami gunakan, sama dengan yang kami terapkan pada tanaman cabe, yaitu PESNATOR dan PROTEK-tan. Dalam hal ini kami tanpa menggunakan attractan, perangkap kuning, tanpa mengandalkan insektisida kimia, tetapi dalam hal ini yang kami andalkan adalah insektisida organiknya.

4

Gambar 2.A. (Sangat berbeda kontras, dengan pertanaman dengan seluruh gambar 1 diatas, pertanaman Jeruk Milik Keluarga Sentosa Sinuhaji, seluas 3 ha ran, kondisinya pada saat yang sama ( 25 Maret 13), sangat menjanjikan .

Kalau selama ini kami banyak menampilkan aplikasi pada tanaman cabe, bukan berarti tehnik pertanian organik ala KPO ini, tidak dapat dilakukan untuk tanaman lain.  Bisa saja kita meragukan, tingkat keberhasilan  penganggulangan lalat buah pada tanaman cabe/ masih meragukan, buah masih bertahan/ masih” sempat” menggantung pada tangkai , walau sudah terserang lalat buah, tetapi   pada  tanaman jeruk, buah yang terserang lalat buah biasanya langsung rontok.

5

Gambar 2.B.( Ada sedikit persamaan  antara gambar 1, dengan gambar 2. B, ini yaitu, sama-sama kekurangan daun, tetapi tanaman pada gambar ini perbedaannya,yaitu : BUAHNYA LEBAT.)

6

Gambar 2.C. ( Tanaman  yang dikelola oleh bapak Sentosa Sinuhaji, di Desa Sari Munthe, Tanah Karo ini, batangnya bahkan ‘memprihatinkan’, tetapi ngak mengapa yang penting buahnya JUGA LEBAT. Ini merupakan salah satu pembuktian , tanaman yang awalnya sudah akan meranggas, kembali pulih setelah aplikasi berbasis pertanian organik ala KPO.)

Pola pemupukan yang biasa kami terapkan pada tanaman cabe kami terapkan pula pada tanaman jeruk ini.  Penggunaan pupuk dari bawah, berupa PUPUK CAS,PROTEK-tan,  yang dikombinasikan dengan pupuk lainnya.  Sedangkan aplikasi dari “atas” untuk mengendalikan lalat buah ini, kami  menggunakan PESNATOR dan PROTEK-tan dan sedikit pestisida kimia.

7

Gambar 2.D. ( Kalau melihat hasil demikian, komentarnya bukan lagi memprihatinkan, tetapi menggembirakan.)

Sebagaimana yang telah kami kemukakan  pada tehnik pengendalian lalat buah pada tanaman cabe.

8

Gambar 2.E. ( Masih dalam lokasi yang sama,  buah sudah ranum, dan  beberapa hari lagi siap panen. )

9

Gambar 2.F. ( Kalau tanaman ini, memang juga  “mengkhawatirkan”, karena tanamannya kecil, tetapi buahnya “bergelayut” dimana -mana, khawatir PATAH rantingnya.)

“Rahasia”nya adalah, penggunaan PUPUK  CAS , dan PROTEK-tan, ternyata sangat manjur untuk mengendalikan LALAT BUAH, dari ‘BAWAH’.

10

Gambar 2.G. ( Dengan mengacu, tehnik budidaya tanaman cabe, dalam mengatasi Lalat buahnya, ternyata tanaman yang awalnya,nyaris saja seperti contoh tanaman Gambar 1, akhirnya kembali bisa produktif seperti terlihat pada gambar ini.)

Sedangkan tehnik aplikasi yang berbasiskan konsep pertanian organik ala,KPO dari ‘ATAS’, kami mengandalkan melalui semprotan PESNATOR, PROTEK-tan dan POCAniL.  Hasilnya seperti yang kita amati pada gambar pembahasan kali ini.

Rasa syukur yang dalam  kami panjatkan, karena tehnik pola pertanian organik, ala KPO,  yang selama ini sering diidentikkan dengan tanaman cabe, telah berhasil pula diterapkan pada tanaman jeruk .  Tehnik ini sudah pula kita terapkan  pada tanaman lainnya (padi, jagung, kedelai, tomat, melon, dan juga pada tanaman perkebunan lain).  Kami persembahkan hal ini , untuk saudara-saudara kami yang saat ini, sedang berbudidaya khusunya tanaman jeruk  dimana saja  dan tanaman pangan lain pada umumnya.

 

 

 

 

PETANI JERUK BERANGGAPAN : “INSEKTISIDA KIMIA SAJA TIDAK MAMPU APALAGI,INSEKTISIDA ORGANIK”.

Kami ulas lagi  pertanian berbasis organik ala KPO dalam mengatasi  Lalat buah  pada tanaman jeruk di Tanah Karo.  Kenapa kami begitu antusias mengulas perihal lalat buah ini, diantaranya adalah : Sebagai salah satu Pijakan Besar bagi kami, untuk semakin bersemangat memacu langkah, menuju LONCATAN yang lebih tinggi lagi.

1

Gambar 1.A. ( Gambar 1, pada  “halaman”  ini adalah hasil aplikasi dengan tehnik kimia yang menggunakan “senjata ”  insektisida kimia.  )

Bagaimana tidak…dimana tehnik tehnik tehnologi pertanian, yang diandalkan sebagai  “senjata”, ternyata “,”mati kutu” oleh LALAT BUAH ini.
2
Gambar 1.B.( Pengambilan gambar dilakukan oleh mitra kami,   di daerah , Tanah Karo, Sumatera Utara.)
Berbagai jenis insektisida  kimia dari jenis PERMETRIN  hingga ABAMEKTIN, malahan bertekuk lutut oleh hama yang sukanya melubangi buah jeruk ini.
3
Gambar 1.C. ( Tanaman yang menggunakan tehnologi “senjata kimia” yang lengkap, ternyata, menghasilkan kondisi tanaman yang seperti ini.)
Malahan sepertinya,”senjata kimia”  yang digunakan sebagai alat pembunuh hama lalat, berbalik menyengsarakan penggunanya.  Lebih tepat istilahnya, “SENJATA MAKAN TUAN”.

4

Gambar 1.D. ( Seluruh gambar dari 1.A s.d 1. F, diambil pada tanggal 25 Maret 13.)
“SENJATA KIMIA” yang digunakan ternyata lama-kelamaan, menyebabkan hama semakin kebal.  Setelah disemprot secara berulang-ulang, hama lalat bukannya mati malahan  seolah berkata : ” SIAPA TAKUT”. …
5
Gambar 1.E. ( Sepertinya kondisi tanaman seperti, “MATI SEGAN , HIDUP TAK MAU”.)
“Senjata kimia” yang digunakan ternyata  berdampak yang sangat luas, selain hamanya menjadi kebal dan  tidak mati  tetapi justru malahan  tanaman  jeruknya  banyak yang mati “terbakar”.

6

Gambar 1.F.( Bahkan saking sudah , putus asanya, petani kemudian melakukan ” tumpang sari dengan tanaman jagung,kubis dls.)

Dampak yang lebih luasnya lagi adalah :  “SENJATA KIMIA” yang diberikan dalam dosis tinggi, bisa meninggalkan ‘RESIDU yang TINGGI’ pada buah jeruk, akibatnya apabila kita mengkonsumsi jeruk yang berlumur ‘SENJATA KIMIA ‘ ini sama saja dengan istilah ‘ TUAN MAKAN SENJATA’.

7

Gambar 2.A. ( Sementara itu, aplikasi kami yang menggunakan, ‘SENJATA MANUAL ‘ yang sederhana dan  hanya berasal dari tanaman, ternyata mampu menghasilkan buah yang lebat,seperti gambar diatas ini. Tanaman  berbuah lebat sehingga perlu di’sokong’ bambu agar tidak patah.)

8

Gambar 2.B.( Kondisi tanaman yang lain,yang dipantau pada waktu dan lokasi yang sama.  Pengamatan dilakukan pada tanggal 25 Maret 13, di kebun Jeruk Bp. Sentosa Sinuhaji, di desa Sari Munthe, Munthe, Kab. Tanah Karo, Sumut.)

9

Gambar 2.C. ( Tampak dalam gambar, tanaman boleh kecil, tetapi buahnya sangat lebat, sehingga perlu di “sokong” dengan  “Bambu Runcing”.)

Ibarat sedang berperang, yang satu menggunakan ‘SENJATA KIMIA’ yang canggih, sementara yang satu lagi hanya menggunakan ‘SENJATA DARI TANAMAN’ , ‘SENJATA BAMBU yang DI RUNCINGKAN’…

tetapi dengan ‘SEMANGAT 45′, ternyata ‘SENJATA DARI TANAMAN’, bisa  juga diandalkan

10

Gambar 2.D.( Pengambilan gambar dari salah satu bagian “sudut” ranting, jeruk-jeruk yang mulai menguning.  Hal ini berbeda dengan pemandangan pada gambar 1, diatas yang melihatnya saja “NGERI-NGERI”. Sedangkan  Pemandangan yang ” SEDAP” dipandang mata, terlihat pada seluruh gambar 2.   )

11

Gambar 2.E. ( Batang tanaman boleh kecil, tetapi buahnya sangat lebatnya  bahkan sebelumnya, seluruh pertanaman jeruk ini, sudah tidak akan dipelihara lagi.)

Suatu upaya cukup berat, dilakukan oleh mitra kami di Medan ini, bagaimana tidak, awalnya jelas Bapak Santosa Sinuhaji, merasa ragu  untuk menerapkan  TEHNOLOGI PERTANIAN ORGANIK ALA KPO KL ini.
Petani berasumsi :   INSEKTISIDA KIMIA SAJA TIDAK MAMPU UNTUK MENGATASI LALAT BUAH INI, APALAGI ‘SEKEDAR HANYA’  INSEKTISIDA ORGANIK,
Namun setelah melihat hasil aplikasi insektisida organik ala KEMBANG LANGIT,seperti ini, TERBAYAR SUDAH KERAGUAN  sebelumnya.  Kami berharap, kedepannya…kita untuk tidak menganggap remeh… insektisida organik…

Sukses petani  berbasis organik ala KPO-KL

LALAT BUAH JERUK serta cara PENGENDALIANNYA

 Berbagai cara pengendalian hama lalat buah, yang menjadi kendala utama pada tanaman jeruk di Tanah Karo khususnya dan didaerah lain pada umumnya, telah dilakukan.  Salah satunya adalah dengan  cara menggunakan UMPAN PERANGKAP, yang bersifat ATTRACTANT.

Gambar 1. ( Saking sudah pusing tujuh keliling, petani jeruk di Tanah Karo, tepatnya di desa Kutambaru, Kec. Munthe, Tanah Karo, Sumut, petani memasang “umpan perangkap”, berupa air dimasukkan dalam plastik “es” kemudian dilumuri dengan  ” lem perangkap kuning”.)

Lalat buah tergolong hama bandel. Pengendalian hama dengan pengasapan, pembungkusan buah, dan penggunaan pestisida kimia, pemasangan umpan perangkap juga kurang memuaskan hasilnya. Ulat bahkan masih  tetap menyerbu  dan melubangi buah

1

Gambar 2.( Pengambilan gambar dilakukan pada tanggal 25 Maret 13.  Kita perjelas, dari dekat gambarnya, nampak gantungan-gantungan “ES LILIN”, untuk menjebak, agar lalat buah, tidak menyerang buah, tetapi hanya masuk perangkap.)

Pengendalian dengan pestisida kimia, RUPANYA SUDAH MENTOK, BETUL BETUL TIDAK BERDAYA LAGI.  “Anak cucu” Hama lalat buah, rupanya sudah terlalu terbiasa dengan racun kimia, sehingga sudah sangat kebal. Kami membeberkan fakta ini, karena hal ini memang terjadi saat ini.

2

Gambar 3.( Ternyata, hasilnya masih jauh dari harapan, namanya juga lalat buah, yang disenanginya tetap saja buah jeruk, bukan “es lilin”.  Memang banyak juga yang “masuk perangkap” tetapi yang masuk kedalam buah jeruk, jumlahnya jauh lebih banyak.)

Para ahli hama kemudian mengembangkan pestisida alami  (insektisida organik) yang bersumber dari bahan alami,berupa beberapa  tanaman “wangi”. Prinsip kerjanya bukan membunuh lalat buah tetapi bersifat penarik (attractant) ,umpan Perangkap, tetapi hasilnya masih tetap sama sebagaimana yang kita lihat pada gambar diatas. .. Lalat buah malahan semakin bertambah banyak.

3

Gambar 4. A.( Inilah  gambar hasil aplikasi yang mengunakan pengendalian hama secara organik ala KPO.  Sementara itu, pada  saat ini, serangan lalat buah, sudah demikian kronisnya,bahkan sudah banyak tanaman jeruk yang tidak lagi dipelihara, akibat petani jeruk sudah  “kehabisan akal”.)

Cara kerja tanaman “pengundang”  tersebut adalah sbb:  Tanaman tertentu  mengandung metil eugenol (C12H24O2). Lalat jantan suka makan zat itu untuk memikat lawan jenisnya. Lalat betina akan jatuh cinta pada lalat jantan ‘berparfum’ metil eugenol itu

4

Gambar 4.B.( Namun suatu keberkahan sendiri, bagi petani yang menggunakan  tehnik pertanian organik ala KPO, hasilnya sungguh sangat menakjubkan sekali.)

Ramuan tanaman atraktan biasanya  ditaruh dalam alat perangkap berupa plastik / botol air mineral yang dimodifikasi sedemikian rupa. Aroma racikannya akan mengundang lalat buah jantan masuk perangkap. Lalat pun terperangkap. Cairan ramuan itu bikin sayapnya lengket, sehingga tidak bisa terbang kemudian mati.

5

Gambar 4.C.( Semua gambar 4 ini, merupakan hasil  aplikasi dari mitra kami Bp. Sentosa Sinuhaji, di desa Munthe, Tanah karo,dibawah  arahan dan bimbingan Cabang kami Sdr. Handri S, dari Medan.)

Kedua langkah diatas, baik secara “dimatikan” dengan Insektisida kimia ataupun, dengan menggunakan tanaman attractant/ tanaman menurut istilah kami sama dengan jenis tanaman.

6

Gambar 4.D. ( Sebagian buah, sudah menguning, ini pertanda buah terbebas dari serangan lalat buah.)

Kami dari KTO, berupaya untuk memodifikasi tehnik pengendalian, baik dari atas  melalui penyemprotan maupun dari bawah ,melalui pengecoran.  Tehnik pengendaliannya pun,tidak menggunakan kedua cara tadi, tetapi kami lakukan dengan cara bukan ‘DIUNDANG DATANG ATAU DIMATIKAN’ tetapi dengan ‘ SISTEM PENOLAKAN’.  Hasilnya seperti yang terlihat dalam gambar 4, diatas ini.
7

Gambar 4.E.( Bagi warga, tanah karo dan sekitarnya saat ini, sulit sekali mendapatkan, tanaman jeruk bisa bertahan berbuah sampai berukuran besar apalagi bisa masak dan berwarna kuning.)

Tanaman-tanaman yang mengandung aroma “Parfum pemikat ‘cinta’ ” betul-betul kami hindari, jangan sampai terjadi “kontradiksi reaksi” antar tanaman sebagai pestisida nabatinya.

8

Gambar 4.F. ( TIdak sia-sia apa yang telah dilakukan oleh Mitra kami di Tanah karo ini, aplikasi yang awalnya “di lecehkan”,  karena metode nya yang agak berbeda dari kebiasaan.)

Selain itu, kami bahkan menganjurkan agar “parfum pemikat” disimpan jauh atau bahkan diluar lokasi yang sedang kami lakukan “pengusiran”.

9

Gambar 4.G. ( Kualitas buah yang  besar seperti ini dan tidak terserang lalat buah, dihargai lebih tinggi.)

Tehnik pengendalian hama lalat buah ini ,telah lama kami lakukan pada tanaman Jeruk  didaerah Garut dan sering pula  kami lakukan pengendalian lalat buah  pada tanaman cabe.  Hasil kesimpulan yang kami dapatkan  sama saja, HINDARI PENGGUNAAN “UMPAN BERACUN’ ini.  Pemberian umpan ini, justru menggoda “lalat jantan ” yang awalnya tidak ada ‘niat’ mampir akhirnya tergoda untuk hinggap pada buah jeruk.

10

Gambar 4.H. ( Pedagang pengepul, saat ini, telah berani memberi harga Rp. 11.000 per kg nya.)

Bahkan dua hari yang lalu, kami di kontak seorang mahasiswa yang akan melakukan penelitian perihal Lalat buah dengan  dua jenis bahan aktif sebagai attractant.  Kami kemudian menyarankan agar mengubah saja jenis penelitiannya, kita lihat realita yang terjadi saat ini. Apakah efektif penggunaan perangkap lalat buah ini?

11

Gambar 4.I. ( Kami berinovasi dalam hal ini, sistem pengendalian hama lalat buah, tidak kami lakukan dengan “mengundang” tetapi dengan sistem ” penolakan”.)

Memang penggunaan perangkap lalat buah ini, efektif untuk mengundang LALAT untuk masuk perangkap, tetapi yang terperangkap pada BUAH juga jauh lebih banyak.

12

Gambar 4.J. ( Pemilik kebun, Ibu Santosa Sinuhaji, merasa puas dengan hasil yang dicapai saat ini. Ukuran buah yang terbebas dari lalat buah serta berukuran besar, masuk kualitas I.)

Atau mungkin sebelum masuk umpan  perangkap, lalat buah ini, mampir dulu menikmati segarnya BUAH JERUK   dan kita kebagian sisanya.
dan ternyata ..dalam tehnik pengendalian hama secara organik pun,ternyata masih perlu diklasifikasikan antara yang bersifat ‘ATTRACTANT’  dan yang bersifat REPELLEN/menolak.  KPO memilih yang bersifat “mengusir “saja.  Bahkan tidak ada satupun, “Es Lilin” dan  “kemasan botol air mineral ” yang kami gantungkan pada lokasi ini.