Sukses Bersama Klinik Pertanian Organik Kembang Langit, Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Kegiatan bersama Menakertrans di Leles-Garut More »

Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Jajaran Komisaris Direksi, Staff, dan Rekan PT.Kembang Langit More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada tanaman Padi di Aceh More »

Kegiatan Pelatihan More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Keriting More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Rawit More »

Hasil Aplikasi Mengatasi lalat buah di tanah karo-SUMUT More »

Pengiriman Barang, Kegiatan Pelatihan More »

 

Monthly Archives: Maret 2013

1 2 3 4 »

LALAT BUAH JERUK, TERKENDALIKAN

Mungkin diantara anda yang bertanya, judul ini, apa maksudnya? apa hubungannya? Tanaman tumpangsari cabai dengan Jeruk ?

Adapun maksud tulisan kami kali ini adalah, sebagaimana yang pernah kami paparkan, yaitu TANAMAN CABE  yang biasa kami bilang  ‘standar’ dalam tehnik berbudidaya tanaman pangan.  Tingkat kesulitannya, memang  sangat tinggi.  Dalam budidaya cabe,  hampir segala jenis HAMA dan PENYAKIT tanaman ada, dimana  tidak  ada  pada tanaman pangan lain .

1

Gambar 1. A. ( Beginilah sebagian besar kondisi tanaman jeruk di sentra pertanaman  Jeruk, di Tanah Karo, Sumut,saat ini.)

Dari penyakit pada bagian akar ( Nematoda, Fusarium, Pseudomonas, hama pengerek akar. Penyakit batang, busuk batang, pada buah, daun dan bahkan tunasnya pun tidak luput dari gangguan hama dan penyakit.  Selain itu ada satu lagi yang paling ditakuti petani  cabai pada saat ini yaitu penyakit yang disebabkan oleh Virus.

2

Gambar 1.B.( Kondisi tanaman  sepertinya ditelantarkan, karena daun dan buahnya, rontok.)

Pada kesempatan ini, yang kami ulas adalah hubungannya antara budidaya cabai dengan budidaya jeruk,khususnya dalam hal pengendalian hama LALAT BUAH,

20130325101111

Gambar 1.C. ( Tanaman ini, lebih parah lagi, hampir seluruh pertanaman tampaknya sudah tidak dipelihara lagi.  Kondisi tanaman ini, kerena secara ekonomis, tidak menguntungkan lagi.  Kalaupun dipelihara lagi, justru hanya menghabiskan anggaran saja. KALIMAT  yang paling tepat untuk mengomentari kondisi demikian  .

Ada beberapa pengalaman kami yang kami terapkan dalam mengatasi lalat buah pada cabe,  kemudian kami “tularkan” pengelaman tersebut untuk mengatasi lalat buah pada tanaman Jeruk.  Pada prinsipnya sama saja hanya yang berbeda adalah pada kadar/ dosis pupuk dan pestisida organiknya.

Gambar 1.D. ( Kondisi perkebunan yang lain, masih di Tanah Karo, yang diambil pada tanggal 25 Maret 12. Permasalahannya, setelah merasa prihatin tersebut, apa yang seharusnya dilalakukan ? Menyarankan pemberian insektisida kimia dosis tinggi? Pemasangan kelembu?  Pemberian perangkap ?Pelepasan Burung Jalak? Atau tanaman di tebang, dibakar dan di dilakukan PENANAMAN ULANG? )

Pada prinsipnya pengendalian hama lalat buah  kami  atasi dengan, sistem penolakan,/Repellen. Insektisida organik yang kami gunakan, sama dengan yang kami terapkan pada tanaman cabe, yaitu PESNATOR dan PROTEK-tan. Dalam hal ini kami tanpa menggunakan attractan, perangkap kuning, tanpa mengandalkan insektisida kimia, tetapi dalam hal ini yang kami andalkan adalah insektisida organiknya.

4

Gambar 2.A. (Sangat berbeda kontras, dengan pertanaman dengan seluruh gambar 1 diatas, pertanaman Jeruk Milik Keluarga Sentosa Sinuhaji, seluas 3 ha ran, kondisinya pada saat yang sama ( 25 Maret 13), sangat menjanjikan .

Kalau selama ini kami banyak menampilkan aplikasi pada tanaman cabe, bukan berarti tehnik pertanian organik ala KPO ini, tidak dapat dilakukan untuk tanaman lain.  Bisa saja kita meragukan, tingkat keberhasilan  penganggulangan lalat buah pada tanaman cabe/ masih meragukan, buah masih bertahan/ masih” sempat” menggantung pada tangkai , walau sudah terserang lalat buah, tetapi   pada  tanaman jeruk, buah yang terserang lalat buah biasanya langsung rontok.

5

Gambar 2.B.( Ada sedikit persamaan  antara gambar 1, dengan gambar 2. B, ini yaitu, sama-sama kekurangan daun, tetapi tanaman pada gambar ini perbedaannya,yaitu : BUAHNYA LEBAT.)

Bertahannya buah jeruk tidak jatuh/ rontok, sebagaimana yang biasa kami lakukan pada tanaman cabe.

6

Gambar 2.C. ( Tanaman  yang dikelola oleh bapak Sentosa Sinuhaji, di Desa Sari Munthe, Tanah Karo ini, batangnya bahkan ‘memprihatinkan’, tetapi ngak mengapa yang penting buahnya JUGA LEBAT. Ini merupakan salah satu pembuktian , tanaman yang awalnya sudah akan meranggas, kembali pulih setelah aplikasi berbasis pertanian organik ala KPO.)

Pola pemupukan yang biasa kami terapkan pada tanaman cabe kami terapkan pula pada tanaman jeruk ini.  Penggunaan pupuk dari bawah, berupa PUPUK CAS,PROTEK-tan,  yang dikombinasikan dengan pupuk lainnya.  Sedangkan aplikasi dari “atas” untuk mengendalikan lalat buah ini, kami  menggunakan PESNATOR dan PROTEK-tan dan sedikit pestisida kimia.

7

Gambar 2.D. ( Kalau melihat hasil demikian, komentarnya bukan lagi memprihatinkan, tetapi menggembirakan.)

Sebagaimana yang telah kami kemukakan  pada tehnik pengendalian lalat buah pada tanaman cabe, pada umumnya lalat buah sangat  senang menusuk  buah yang berkadar air tinggi.

8

Gambar 2.E. ( Masih dalam lokasi yang sama,  buah sudah ranum, dan  beberapa hari lagi siap panen. )

Persis dengan metode  menghindari  lalat buah dan cabe patek, buah yang cenderung “kosong” , , pada umumnya sangat disenangi lalat buah. Oleh karena itu upaya metode ‘ PENGEREMAN’ yang biasa kami utarakan pada  tanaman cabe, kami terapkan pula untuk mengatasi lalat buah pada jeruk ini.

9

Gambar 2.F. ( Kalau tanaman ini, memang juga  “mengkhawatirkan”, karena tanamannya kecil, tetapi buahnya “bergelayut” dimana -mana, khawatir PATAH rantingnya.)

“Rahasia”nya adalah, penggunaan PUPUK  CAS , dan PROTEK-tan, ternyata sangat manjur untuk mengendalikan LALAT BUAH, dari ‘BAWAH’.

10

Gambar 2.G. ( Dengan mengacu, tehnik budidaya tanaman cabe, dalam mengatasi Lalat buahnya, ternyata tanaman yang awalnya,nyaris saja seperti contoh tanaman Gambar 1, akhirnya kembali bisa produktif seperti terlihat pada gambar ini.)

Sedangkan tehnik aplikasi yang berbasiskan konsep pertanian organik ala,KPO dari ‘ATAS’, kami mengandalkan melalui semprotan PESNATOR, PROTEK-tan dan POCAniL.  Hasilnya seperti yang kita amati pada gambar pembahasan kali ini.

Rasa syukur yang dalam  kami panjatkan, karena tehnik pola pertanian organik, ala KPO,  yang selama ini sering diidentikkan dengan tanaman cabe, telah berhasil pula diterapkan pada tanaman jeruk .  Tehnik ini sudah pula kita terapkan  pada tanaman lainnya (padi, jagung, kedelai, tomat, melon, dan juga pada tanaman perkebunan lain).  Kami persembahkan hal ini , untuk saudara-saudara kami yang saat ini, sedang berbudidaya khusunya tanaman jeruk  dimana saja  dan tanaman pangan lain pada umumnya.

 

 

 

 

PETANI JERUK BERANGGAPAN : “INSEKTISIDA KIMIA SAJA TIDAK MAMPU APALAGI,INSEKTISIDA ORGANIK”.

Kami ulas lagi  pertanian berbasis organik ala KPO dalam mengatasi  Lalat buah  pada tanaman jeruk di Tanah Karo.  Kenapa kami begitu antusias mengulas perihal lalat buah ini, diantaranya adalah : Sebagai salah satu Pijakan Besar bagi kami, untuk semakin bersemangat memacu langkah, menuju LONCATAN yang lebih tinggi lagi.

1

Gambar 1.A. ( Gambar 1, pada  “halaman”  ini adalah hasil aplikasi dengan tehnik kimia yang menggunakan “senjata ”  insektisida kimia.  )

Bagaimana tidak…dimana tehnik tehnik tehnologi pertanian, yang diandalkan sebagai  “senjata”, ternyata “,”mati kutu” oleh LALAT BUAH ini.
2
Gambar 1.B.( Pengambilan gambar dilakukan oleh mitra kami,   di daerah , Tanah Karo, Sumatera Utara.)
Berbagai jenis insektisida  kimia dari jenis PERMETRIN  hingga ABAMEKTIN, malahan bertekuk lutut oleh hama yang sukanya melubangi buah jeruk ini.
3
Gambar 1.C. ( Tanaman yang menggunakan tehnologi “senjata kimia” yang lengkap, ternyata, menghasilkan kondisi tanaman yang seperti ini.)
Malahan sepertinya,”senjata kimia”  yang digunakan sebagai alat pembunuh hama lalat, berbalik menyengsarakan penggunanya.  Lebih tepat istilahnya, “SENJATA MAKAN TUAN”.

4

Gambar 1.D. ( Seluruh gambar dari 1.A s.d 1. F, diambil pada tanggal 25 Maret 13.)
“SENJATA KIMIA” yang digunakan ternyata lama-kelamaan, menyebabkan hama semakin kebal.  Setelah disemprot secara berulang-ulang, hama lalat bukannya mati malahan  seolah berkata : ” SIAPA TAKUT”. …
5
Gambar 1.E. ( Sepertinya kondisi tanaman seperti, “MATI SEGAN , HIDUP TAK MAU”.)
“Senjata kimia” yang digunakan ternyata  berdampak yang sangat luas, selain hamanya menjadi kebal dan  tidak mati  tetapi justru malahan  tanaman  jeruknya  banyak yang mati “terbakar”.

6

Gambar 1.F.( Bahkan saking sudah , putus asanya, petani kemudian melakukan ” tumpang sari dengan tanaman jagung,kubis dls.)

Dampak yang lebih luasnya lagi adalah :  “SENJATA KIMIA” yang diberikan dalam dosis tinggi, bisa meninggalkan ‘RESIDU yang TINGGI’ pada buah jeruk, akibatnya apabila kita mengkonsumsi jeruk yang berlumur ‘SENJATA KIMIA ‘ ini sama saja dengan istilah ‘ TUAN MAKAN SENJATA’.

7

Gambar 2.A. ( Sementara itu, aplikasi kami yang menggunakan, ‘SENJATA MANUAL ‘ yang sederhana dan  hanya berasal dari tanaman, ternyata mampu menghasilkan buah yang lebat,seperti gambar diatas ini. Tanaman  berbuah lebat sehingga perlu di’sokong’ bambu agar tidak patah.)

8

Gambar 2.B.( Kondisi tanaman yang lain,yang dipantau pada waktu dan lokasi yang sama.  Pengamatan dilakukan pada tanggal 25 Maret 13, di kebun Jeruk Bp. Sentosa Sinuhaji, di desa Sari Munthe, Munthe, Kab. Tanah Karo, Sumut.)

9

Gambar 2.C. ( Tampak dalam gambar, tanaman boleh kecil, tetapi buahnya sangat lebat, sehingga perlu di “sokong” dengan  “Bambu Runcing”.)

Ibarat sedang berperang, yang satu menggunakan ‘SENJATA KIMIA’ yang canggih, sementara yang satu lagi hanya menggunakan ‘SENJATA DARI TANAMAN’ , ‘SENJATA BAMBU yang DI RUNCINGKAN’…

tetapi dengan ‘SEMANGAT 45′, ternyata ‘SENJATA DARI TANAMAN’, bisa  juga diandalkan

10

Gambar 2.D.( Pengambilan gambar dari salah satu bagian “sudut” ranting, jeruk-jeruk yang mulai menguning.  Hal ini berbeda dengan pemandangan pada gambar 1, diatas yang melihatnya saja “NGERI-NGERI”. Sedangkan  Pemandangan yang ” SEDAP” dipandang mata, terlihat pada seluruh gambar 2.   )

11

Gambar 2.E. ( Batang tanaman boleh kecil, tetapi buahnya sangat lebatnya  bahkan sebelumnya, seluruh pertanaman jeruk ini, sudah tidak akan dipelihara lagi.)

Suatu upaya cukup berat, dilakukan oleh mitra kami di Medan ini, bagaimana tidak, awalnya jelas Bapak Santosa Sinuhaji, merasa ragu  untuk menerapkan  TEHNOLOGI PERTANIAN ORGANIK ALA KPO KL ini.
Petani berasumsi :   INSEKTISIDA KIMIA SAJA TIDAK MAMPU UNTUK MENGATASI LALAT BUAH INI, APALAGI ‘SEKEDAR HANYA’  INSEKTISIDA ORGANIK,
Namun setelah melihat hasil aplikasi insektisida organik ala KEMBANG LANGIT,seperti ini, TERBAYAR SUDAH KERAGUAN  sebelumnya.  Kami berharap, kedepannya…kita untuk tidak menganggap remeh… insektisida organik…

Sukses petani  berbasis organik ala KPO-KL

LALAT BUAH JERUK: DIPASANG KELAMBU, TETAP HASILNYA “KELABU”…

Perihal pengendalian hama lalat buah pada tanaman jeruk bukan hanya sekedar memprihatinkan tetapi  sudah amat sangat memprihatinkan.  Berbagai cara telah dilakukan,antara lain penggunaan insektisida kimia, hasilnya ternyata tidak sesuai dengan yang diharapkan.  Penggunaan perangkap kuning, Atractant  malahan serangan makin menjadi-jadi,  penggunaan musuh alami cenderung juga tidak membuahkan hasil.  Bahkan bagi petani yang berkantong tebal, melakukan upaya yang ekstrim lagi, yaitu berupa pemasangan kain kelambu/kasa untuk menghindari masuknya lalat kedalam areal perkebunan jeruk. Sudah demikian kroniskah,perihal serangan hama lalat yang suka melubangi buah jeruk ini.   Berikut ini kami ingin menggambarkan memang masalah lalat buah jeruk  di Tanah Karo ini, telah menjadi pembahasan hingga ke tingkat mentri. 
  Berikut ini beritanya yang kami sadur dari  ” start berita ” ( Tulisan berwarna orange.)

1

Gambar.1.A.(  Petani  Sudah demikian, ” kelebakan” petani jeruk di Tanah Karo ini,sehingga dilakukan Pemasangan kelambu khusus,agar  lalat buah ,tidak masuk keareal perkebunan.  )

Starberita – Kabanja, Dampak serangan hama lalat buah yang menyerang perkebunan jeruk di Karo, tidak hanya merusak citra dan kualitas produk jeruk itu sendiri, tapi juga mengganggu proses ekspor ke pasar luar negeri, ternyata sudah menjadi perhatian serius Menteri Pertanian RI.

2

Gambar 1.B. ( Bagi petani yang mempunyai modal besar, seperti yang dilakukan oleh salah satu petani jeruk di  Desa Bulan Julu, Kec. tiga Panah, Tanah Karo, Sumatera Utara ini, pemasangan dianggap sangat perlu dilakukan. Karena tehnik pengendalian lainnya dianggap sudah tidak efektif lagi.)

Persoalan hama lalat buah di Tanah Karo harus sesegera mungkin diselesaikan. Eksistensi jeruk Karo yang lebih dikenal dengan “jeruk Brastagi”

3

Gambar 1.C.( Diperkirakan biaya yang diperlukan untuk ‘mengelambui’ lahan ini,sekitar Rp.16 juta / ha nya sedangkan dalam satu tahun, perlu dilakukan dua kali penggantian.)

 Hal ini ditegaskan Direktur Perlindungan Hortikultura Deptan RI, Ir Soesilo MSi didampingi Kadis Pertanian Sumut, Ir M Roem S MSi dan Kadis Pertanian Karo, Agustoni Tarigan SP, kepada Bupati Karo, DR (HC) Kena Ukur Karo Jambi Surbakti, disela-sela meninjau kebun jeruk milik Warga Tarigan di desa Kacinambun, kebun jeruk milik Mimpin Ginting di desa Manuk Mulia, Kecamatan Tigapanah dan di perkebunan jeruk milik Daniel Ginting desa Sukamandi, Kecamatan Merek, Minggu (15/1).

4

Gambar 1.D.( Tetapi informasi yang kami dapatkan, walaupun sudah dipasang kelambu, ternyata lalat buah, masih saja menyerang buah dan menyebabkan buah jeruk, rontok sebelum matang.)

“Kalau sudah berita-berita di koran menyebut hama lalat buah menyerang tanaman jeruk di Karo, Pak Menteri “panas-dingin”, Pak. Kenapa hama lalat buah itu tidak diselesaikan. Itu sangat mengganggu proses ekspor sayur-mayur dan buah kita. Pak Menteri terus mendesak kita agar masalah hama lalat buah ini terus kita tangani. Jeruk Karo bukan masalah UPT di Karo saja. Tapi jeruk Karo menjadi masalah UPT Internasional juga Pak,” tegas Soesilo.

5

Gambar 1.E. ( Berdasarkan pengamatan, Selain bunga /buah jeruk  tetap  rontok sebelum matang, pembentukan bunga dan buah baru pada tanaman jeruk  yang diberi kelambu, cenderung sedikit.)

Masalahnya bukan sebatas tingkat menteri saja, tapi kalau tidak segera diselesaikan akan menimbulkan image buruk di pasar internasional. “Niat kami adalah bagaimana lalat buah dapat diselesaikan dengan cara benar sesuai dengan apa jenis varitasnya, dan bagaimana menanganinya secara teknologi. Apa yang telah dilakukan selama ini, bagaimana dampaknya dan apa yang harus dilakukan, apa kendalanya. Mudah-amudahan dengan kerjasama ini dapat kita selesaikan dengan ramah lingkungan dan meningkatkan sekolah lapangan bagi petani,”tegasnya.

6

Gambar 2.A. ( Sementara itu, hasil aplikasi kami yang dilakukan di desa Sari Munthe ,Kecamatan Munthe, Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara, tanpa pemberian kelambu pun ternyata hasilnya, buah jeruk siap petik/panen, dalam beberapa hari kedepan.  Semoga…)

Informasi yang sampai ke Kementerian Pertanian, bahwa pihak Singapore meriject (menolak) ekspor buah atau sayur-mayur dari Tanah Karo dan dari Sumut pada umumnya, karena tingginya residu pestisida. “Karenanya, melalui program ramah lingkungan, produk pertanian dari Kabupaten Karo akan bebas dari pestisida dan dapat diekspor sekaligus dapat bersaing dengan buah impor, yang saat ini membanjiri pasar lokal. Potensi produk lokal harus kita benahi. Kita kembali ke back nature sebagaimana program dunia,”harap Soesilo sambil mengamati buah jeruk yang sebagian diserang hama lalat buah di perladangan Warta Tarigan didampingi Jainuddin Ginting, selaku Kepala Desa Kacinambun dan petani Peringeten Sembiring yang sempat berdialog dengan Soesilo.

7

Gambar 2.B. ( Semua gambar 2,  pada bagian ini, merupakan hasil aplikasi dengan menggunakan insektisida organik ala KTO, dimana menerapkan sistem pengendalian secara “penolakan”. Penggunaan Protektan,Pesnator, Pocanil dan CAS, ternyata  efektif mengatasi lalat buah ini.)

Sementara itu, Bupati Karo DR (HC) Kena Ukur Karo Jambi Surbakti, dalam sambutannya berterimakasih atas atensi pihak Menteri Pertanian yang disampaikan melalui Direktur Perlindungan Hortikultura dan pihak Dinas Pertanian Sumut. Menurut bupati, bahwa sebelum terjadinya serangan lalat buah jeruk, Tanah Karo tidak pernah merasakan krisis ekonomi, termasuk krisis moneter terjadi 1998 silam.

8

Gambar 2.C. (Ibarat pengendalian agar, tidak digigit nyamuk, bisa dilakukan Pertama, pengendalian secara kimia, disemprot dengan obat nyamuk semprot,dimatikan.  Kedua bisa juga ditempat tidur dipasang kelambu,agar nyamuk tidak masuk yang ketiga, pakai obat nyamuk Oles, dibalurkan di beberapa bagian tubuh.  Cara ke-3, inilah yang kami pilih.  Hasilnya seperti gambar 2 ini.)

“Namun saat ini, petani Karo dalam kondisi terpuruk. Beragam penyakit menyerang tanaman, termasuk jeruk. Disisi lain harga selalu cepat berfluktuatif mengikuti selera pasar yang lebih sering merugikan petani. Faktor utama penyebab serangan lalat buah belum dapat diketahui secara pasti. Namun, penyebab lain diduga karena faktor kebersamaan petani membasmi serangan hama lalat buah juga belum terwujud. Selain itu, pengawasan masuknya pupuk dan beragam pestisida ke Kabupaten Karo perlu ditingkatkan,”jelasnya.

9

Gambar 2.D.( Jumlah buah yang rontok, berdasarkan pengamatan Mitra kami di Tanah Karo, dari luasan 1 HA, hanya kurang dari 20 butir saja. )  

Ia menilai pupuk tertentu atau pestisida tertentu pas untuk suatu solusi mengobati suatu penyakit pada tanaman, ternyata malah menjadi lebih parah. Kadang petani membeli suatu pupuk untuk meningkatkan kesuburan suatu tanaman, ternyata setelah dipupuk, tanaman semakin gersang, layu dan mati.

10

Gambar 2.E. ( Tim KPO tidak kenal lelah , untuk mengatasi serangan hama lalat buah ini, dan hasilnya seperti yang kita saksikan bersama saat ini.)

“Tahun 2011, sekitar Rp1,250 milyar dianggarkan untuk penanganan serangan hama lalat buah secara massal. Nyatanya, banyak petani tidak melakukan. Bahkan menolak bila petugas melakukan pemasangan perangkap di perkebunan jeruknya. Jadi serba salah. Kalau pemerintah tidak memperhatikan, rakyat bilang pemerintah tidak perduli. Kalau kita lakukan pembasmian, rakyat (petani) tidak mengikuti. Jadi ini bagai kiasan, “maju-mundur kena”, cetus Karo Jambi didampingi Agustoni Tarigan, SP mengakhiri.(RTA/andalas/MBB)

11

Gambar 2.F.( Pengambilan gambar tanggal 25 Maret 2013, Buah tumbuh dengan sehat, tidak gugur dan tidak membusuk.  Buah aman terkendali, mudah-mudahan,setelah  melihat gambar ini dan  bisa melihat hasil aplikasinya secara langsung di Desa Sari Munthe, kita tidak “panas-dingin” lagi.)

Bagaimana tidak membuat ‘panas dingin’ serangan Bractocera dorsalis ini, kalau kita memperhatikan siklus hidupnya yang relatif cepat dan beranak pinak dalam jumlah yang banyak.  Pada lalat betina  mempunyai alat peletak telur (ovipositor) yang cukup kuat untuk menembus kulit buah . Telur berwarna putih berbentuk bulat panjang yang diletakkan secara berkelompok 2-15 butir di dalam buah kemudian  menetas di dalam buah jeruk,menjadi larva.

12

Gambar 2.G.( Ny. Sinuhaji, sangat puas dengan hasil yang dicapai saat ini, ” semoga  dapat hasil yang melimpah ,Bu”
 Siklus hidupnya hanya sekitar 25 harian (TIDAK SAMPAI SATU BULAN). Serangga betina dapat meletakkan telur 1 – 40 butir/buah/hari dan dari satu ekor betina dapat menghasilkan telur 1.200 – 1.500 butir,  Stadium telur 2 hari, larva 6 – 9 hari. Larva akan membuat lubang keluar untuk meloncat dan melenting dari buah masuk ke dalam tanah dan menjadi pupa di dalam tanah. Pupa berumur 4 – 10 hari dan menjadi serangga dewasa. Kemudian siap menyerbu dalam jumlah yang sudah  bertambah lebih banyak.  Ini yang disebut dalam peribahasa  ‘ MATI SATU TUMBUH SERIBU’.
Kalau memperhatikan siklus hidup dari lalat buah ini, betapa luar biasanya serangan hama buah ini.  Bisa dibayangkan apabila , hama sudah terlanjur masuk/berada didalam kelambu sebelum dilakukan penutupan.  “Monster ” ini, akan berkembang biak didalam kelambu, karena walaupun disemprot insektisida kimia.
Selain itu,walaupun tanaman jeruk ini melakukan penyerbukan sendiri, tetapi sebenarnya tidak menutup kemungkinan dengan bantuan serangga, bisa saja tanaman jeruk ini melakukan penyerbukan  secara silang.  Tetapi kalau serangga  “penghulunya”  terhalang KELAMBU, akhirnya pembentukan bunga dan buah menjadi terhambat.  Itulah sebabnya, pembentukan buah juga menjadi sedikit.