Sukses Bersama Klinik Pertanian Organik Kembang Langit, Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Pimpinan KPO-KL Bpk. Rusli Gunawan SW, SH. (kiri) Bersama Bupati Garut Bpk. H. Rudi Gunawan, SH, MH dan Camat Leles Dra. Hj Rusmanah M.Si More »

Kegiatan bersama Menakertrans di Leles-Garut More »

Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Jajaran Komisaris Direksi, Staff, dan Rekan PT.Kembang Langit More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada tanaman Padi di Aceh More »

Kegiatan Pelatihan More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Keriting More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Rawit More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Pare/Paria More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Keriting More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada tanaman Tomat di-Bandung More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Keriting More »

Hasil Aplikasi Mengatasi lalat buah di tanah karo-SUMUT More »

Pengiriman Barang, Kegiatan Pelatihan More »

 

KEPANIKAN DALAM PERTANIAN

Dari pengamatan kami, memasuki tahun 2013 hingga saat ini kami melihat adanya  “kepanikan” dalam hubungannya dengan dunia pertanian.  Petani panik karena tanamannya banyak yang gagal panen , konsumen  juga panik karena harga hasil produk pertanian yang melambung tinggi demikian juga dengan pemerintah mengalami hal yang sama.  Sampai -sampai  Presiden , kemarin tanggal 19 Peb 13, meminta para menteri dan gubernur untuk mewaspadai, mengendalikan, dan melakukan stabilisasi harga sejumlah sembako yang mengalami kenaikan yang kurang wajar.  Presiden , memerintahkan Menteri Perdagangan  untuk terus mengecek pergerakan harga  KOMODITAS PERTANIAN  dan mengendalikan jika ada hal yang tidak wajar dengan mengajak para gubernur .

Gambar 1.(Kondisi tanaman yang terserang virus kuning,tetapi dengan KETENANGAN dan tidak panik, kami mencoba untuk melakukan pembenahan. Pengambilan gambar dilakukan pada tanggal 24 Januari 13.)

 Sudah menjadi hukum pasar ,  bahwa kenaikan harga  beberapa komoditas pertanian  yang terjadi seperti saat ini adalah  sebagai dampak dari ketidakseimbangan antara kuota produksi dan tingginya permintaan masyarakat terhadap  komoditas tersebut. Harga beberapa  komoditas pertanian di dalam negeri dari tahun ke tahun kenyataannya terus mengalami kenaikan. Kenaikan harga tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya sangat berhubungan erat dengan kenaikan permintaan, jumlah pasokan yang berkurang, serta impor dan harga  yang berlaku di pasar internasional. Kenaikan pemintaan komoditas  menjadi naik, apalagi jika tidak diimbangi dengan pasokan yang cukup maka lonjakan kenaikan harga akan semakin meningkat tajam.  Apabila hal ini terjadi, maka makin berpotensi menambah kepanikan di semua lini.

Gambar 2.( Gambar diambil 3 minggu kemudian,ternyata tanaman tetap bisa berbunga dan berbuah,walaupun memang tidak 100% setidaknya,kondisi tanaman yang sudah terserang Virus dapat berprodiksi kembali.  Gambar diambil pada tanggal 19 Peb 13.  Bisa diperhatikan sampel tanaman tidak berubah, dicirikan dengan DAUN SOBEK di seblah kiri gambar.)

Agar kepanikan tidak berkelanjutan, hal itu tentunya sangat memerlukan komitmen tinggi dari pengambil kebijakan dan hasil kebijakan tersebut hendaknya dapat lebih komprehensif, baik mempertimbangkan sisi nilai produksi maupun jumlah konsumsinya. Dibarengi dengan upaya menekan biaya produksi agar terjadi efisiensi serta menciptakan kepastian harga dengan menjaga stabilitas harga di tingkat pasar konsumen, agar tidak terjadi gejolak ataupun fluktuasi kenaikan harga yang pada akhirnya memberatkan masyarakat. Memang hal tersebut tidak bisa hanya dengan kebijakan kulit sisi hilir, tetapi harus dapat menyentuh pada akar masalahnya dengan memetakan secara lebih terperinci baik data-data dan perhitungan yang tepat dan cermat mengenai jumlah produksi dan tingkat konsumsi masyarakat di wilayah tertentu di Indonesia sehingga dapat menjadi pedoman untuk mengambil kebijakan antisipatif baik saat ini maupun ke depan dalam mengatasi dan menjaga stabilitas gejolak tingkat harga komoditas produk- produk pertanian . ( kata-katanya agak puyeng…ya…Kalau ahli ekonomi pertanian bilangnya begini…)

Gambar 3.( Bapak Ena,sedang membuangi buah-buah yang terserang busuk buah, baik akibat patek, lalat buah maupun karena curah hujan yang terlalu tinggi,akhir-akhir ini.  Serangan tidak membuat mitra kami ini “bermuram durja”, raut wajahnya tetap “sumringah” dan yang terpenting lagi ,jaga kestabilan emosi  agar tetap TIDAK PANIK.)

Menyikapi maraknya impor sejumlah komoditas hortikultura yang menimbulkan polemik di masyarakat,kami  berpendapat bahwa  sebenarnya impor bukanlah satu-satunya jalan terbaik untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri.  Sebenarnya masih banyak jalan yang bisa diupayakan untuk memenuhi kebutuhan sayur dan buah-buahan  masyarakat  Indonesia selain keputusan untuk melakukan impor. Yang paling penting dan harus diupayakan adalah pemberdayaan para petani kita yang notabene adalah petani – petani kecil, agar mereka bisa menghasilkan produk-produk hortikultura yang berkualitas dan produktivitas yang tinggi. Karena hortikultura adalah kualitas. Tanpa kualitas yang bagus, produk kita tidak akan pernah bisa diterima oleh konsumen, baik dari dalam maupun luar negeri.
Gambar 4.( Buah yang terserang busuk semacam ini, wajar saja, sangat mustahil kalau tidak ada, hanya dengan langkah-langkah penanggulangan seperti mengurangi “GAS” dan mulai  “MENEKAN REM ” agak “DALAM” , dengan tehnik yang tepat ,masalah seperti ini tidak perlu membuat kita , panik.)
Sebagaimana yang kita ketahui walaupun memang sudah  ada penghentian  SEMENTARA  impor terhadap  13 komoditas hortikultura  ( Dasar hukumnya adalah Permentan Nomor 60 Tahun 2012 tentang Rekomendasi Impor Produk Hortikultura dan Permendag Nomor 60 tahun 2012 tentang Ketentuan Impor Produk Hortikultura yakni:  kentang, kubis, wortel, cabe, nanas, melon, pisang, mangga, pepaya, durian, krisan, anggrek dan heliconia ) yang  berlaku sejak Januari hingga Juni 2013,   tetapi dalam waktu yang tidak lama setelah  penetapan larangan Impor tersebut tiba-tiba harga beberapa komoditas melambung tinggi.  Jadi pertanyaan kenapa hal ini terjadi?   Tujuan pemerintah sudah baik  dengan maksud melindungi petani karena pada saat -saat seperti  ini ( bulan Januari- Juni ) memang musim PANEN.   Namun sudah kah pula diperhitungkan bahwa pada bulan JANUARI -PEBRUARI ini, banyak petani yang sebenarnya  selain produksi hortikulturanya kurang berkualitas bahkan banyak pula hingga  GAGAL PANEN ?  Curah hujan yang tinggi  bisa menjadi salah satu penyebabnya.  Kami tidak berharap ‘pencanangan’ penghentian  impor   yang  sifatnya SEMENTARA karena terjadinya  gagal panen di berbagai daerah yang sifatnya SEMENTARA justru  menjadi ‘PROGRAM  SANGAT SEMENTARA/ SESAAT  SAJA‘.   Kondisi di ‘lapangan’ yang tidak mendukung bisa menjadikan tidak berjalannya program PENGHENTIAN  IMPOR SEMENTARA  tersebut.

Gambar 5.( Gugur satu -tumbuh seribu,itu lah motto yang selalu kami gunakan.  Dengan “gugur”nya (rontok bunga/buah),ternyata bisa berdampak luar biasa yaitu makin banyak tunas-tunas baru yang tumbuh, dan akhirnya tinggal menjaga agar buah- buah tersebut dapat bertahan hingga panen.  seperti dalam gambar ini, buah cabe yang dikelola ala pertanian organik ,KTO, buah sepertinya TUMBUH DIMANA-MANA.)

Kami sangat menghargai pemerintah dalam melindungi petani dari serbuan produk impor di bidang hortikultura, walaupun baru ditargetkan berlaku untuk 6 bulan, namun berdasarkan data “pasien” yang masuk ke klinik kami, sepertinya kami kurang begitu yakin  penghentian impor sementara ini bisa berlangsung sesuai rencana.  Kepanikan petani yang tanaman budidayanya terserang busuk buah, busuk daun,virus , kualitas buah yang rendah dan keriting daun selain itu  kepanikan baik dari pemerintah yang kami ulas diatas  serta kepanikan dialami pula oleh ibu rumah tangga yang anggaran belanja  “sambelnya” harus diberi tambahan  .

Gambar 6. ( Kerimbunan tanaman juga perlu diperhatikan agar sorotan  sinar matahari  yang kurang,bisa di manfaatkan secara optimal. Usia tanaman hingga saat ini sudah memasuki usia 2. 5 bulan.)

Menarik bagi kita untuk mengikuti perkembangan kasus pelarangan impor produk hortikultura ini. Ada yang pro dan ada pula yang kontra .  Pihak yang  pro mengatakan, ini demi membangun dan mengembangkan hortikultura lokal, agar menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Yang kontra bilang, pemerintah dinilai terlalu terburu-buru. Pemerintah seharusnya membenahi dulu dan membina petani agar mampu menghasilkan produk bermutu dan kontinyu dan kemudian menyusun struktur perdagangan dan distribusi produk hortikultura.Komoditas hortikultura berbeda dengan tanaman pangan.  Produk hortikultura seperti sayur, buah-buahan, tanaman hias dan bunga, mempunyai sifat musiman, respirasi /penguapan tinggi, cepat layu dan mudah rusak. Membuat petani kurang tertarik untuk membudidayakannya.  Belum lagi biayanya yang tinggi, karena harus dibudidayakan secara intensif. Padahal, sebenarnya bisnis hortikultura sangat  menguntungkan, apabila kita mengatahui tehnik-tehnik pengelolaanya.

Gambar 7. ( Tampilan buah tanaman, yang mulai ‘MELEBAT’ seperti ini perlu pula diikuti dengan kewaspadaan yang ekstra,karena rintangan semakin banyak, ” tikungan tajam juga menurun”.)

Berdasarkan info  yang kami dapatkan, tak kalah seru adalah pertarungan Indonesia di kancah internasional. “Amrik”  melalui WTO menggugat pengaturan impor ini. Meskipun diduga protes “amrik “  ini ditunggangi oleh China dan Australia. Pasalnya nilai impor hortikultura Indonesia dari “Amrik”  hanya 120 juta dollar AS per tahun, tidak lebih dari 12 persen dari total impor hortikultura.  Dan kini, Thailand mulai latah mengikuti langkah Amrik. Dikabarkan Negeri Gajah Putih berupaya melobi Indonesia agar mencabut larangan impor hortikultura.

Gambar 8. ( Dengan  kondisi tunas tanaman yang terus berkembang, tentunya tidak terlalu menghawatirkan walaupun ada buah yang terkena busuk.)

Beberapa ahli  bicara terkait masalah ini antara lain Bustanul Arifin dalam Analisis Ekonomi Kompas (4/2) yang berjudul “Diplomasi Hortikultura Dimulai dari Dalam Negeri”, mengatakan bahwa, kekuatan diplomasi yang paling tangguh adalah apabila ditopang oleh soliditas kebijakan ekonomi di dalam negeri dan dukungan penuh masyarakat…, para perumus kebijakan bidang pertanian dan perdagangan wajib mewujudkan struktur perdagangan dan distribusi produk hortikultura di dalam negeri selain itu, diperlukan bantuan dana untuk petani hortikultura.  Tapi menurut kami sebenarnya  dukungan pembiayaan bagi petani hortikultura memang diperlukan tapi  tidak cukup sampai disitu.  Coba anda bayangkan apabila petani diberi modal  100 juta per kelompok tani,untuk berbudidaya tanaman  JERUK ,tetapi karena tehnik budidaya yang kurang tepat, akibatnya tanamannya rusak  diserang  LALAT BUAH sehingga tidak  tertanggulangi (  Seperti saat ini yang terjadi dibeberapa sentra tanaman jeruk,antara lain di Tanah Karo,Sumut. )    Jadi menurut kami,  merupakan langkah fundamental adalah  upaya perbaikan kualitas dan pengembangan produk  dan strategi harga agar lebih bersaing melalui peningkatan produktivitas tanaman.   yang  jadi pertanyaan… Langkah-langkah tehnis bagaimana yang harus dilakukan?

wGambar 9. ( Dengan kondisi tanaman seperti diatas ini, menurut kami kondisi tanaman sangat aman.  Kami selalu menanamkan agar petani tidak panik dalam melakukan “adventure”nya.   Memang bagi petani pemula, apabila ada “tikungan tajam,jalan berlubang  atau turunan  sedikit saja,biasanya langsung menjadi panik,tetapi bagi  “pengemudi”  yang sudah berpengalaman , “OFF ROADER”  terkadang justru secara sengaja  mencari   “JALAN LAIN” , berupa jalan  yang terjal, mendaki gunung,jalan licin dan berbatu.  Situasi  “MEDAN”  yang sulit demikian justru menjadi ajang REFFRESSING.  Tidak merasakan kepanikan  sama sekali.)

Pada dasarnya,  ada tiga hal yang perlu diperhatikan untuk menyiasati agar opsi impor tidak selalu menjadi opsi utama pemerintah dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri, yaitu: penguasaan teknologi, transfer teknologi yang disertai dengan pemberdayaan petani, dan supply management dimana pemerintah harus memperhatikan masalah pemasaran produk-produk yang dihasilkan oleh para petani, terutama dalam hal pengendalian harga jual.  “Teknologi diarahkan kepada perbaikan kualitas, kuantitas, dan kontinuitas produk yang dihasilkan oleh para petani serta supply management juga harus dikendalikan agar petani tidak selalu dalam pihak yang kalah.   Hingga saat ini masalah transfer teknologi dan pemberdayaan petani masih kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Pemberdayaan petani harus dimulai dari penguasaan teknologi hingga pada masalah pemasarannya.   Dengan sistem pemberdayaan petani yang tepat, maka petani akan lebih terpacu untuk menghasilkan produk-produk hortikultura yang berkualitas dan berdaya hasil tinggi.  Opsi impor pun tidak akan menjadi opsi utama lagi dan membuka peluang untuk melakukan ekspor.
Permasalahan mendasar lainnya adalah  terbatasnya atau bahkan tidak adanya tenaga penyuluh pertanian khusus dibidang hortikultura.   Yang ada sekarang ini adalah para penyuluh tanaman pangan seperti padi dan jagung. Hal ini juga menjadi salah satu penghambat sulitnya melakukan transfer teknologi kepada para petani hortikultura,   dengan fakta yang ada ini…apakah kita masih bisa berharap  PENGHENTIAN KOMODITAS HORTIKULTURA bisa berjalan sesuai rencana?  Jangan-jangan program ini hanya membuat pemerintah  sendiri  dan ibu-ibu yang mengelola  komoditas pertanian untuk kebutuhan sehari-harinya …malahan menjadi PANIK …

 

12 Responses to KEPANIKAN DALAM PERTANIAN

  1. Agil says:

    Thailand koar-koar karena buah berduri berbau tajam di stop impornya oleh RI hahaha….panik minta tulung-tulung ama Amerika
    Sementara dinas terkait urusan pertanian masih digoyang dengan urusan sapi hehehe…panik juga + kedelai juga masih meresahkan hlo
    Akibat dari kebijakan ini para importir yang “katanya” resah karena dapur uangnya disenggol pemerintah juga…panik…teriak-teriak jerit-jerit tulung-tulung (tanpa pernah ingat pada saudaranya yang bernama petani lokal)
    Sebenarnya boleh juga kebijakan stop impor SEMENTARA ini, tapi ya maklum karena tahun ini dan tahun depan adalah tahun-tahun penting di Indonesia.
    Yang jelas sih sarat kepentingan hehehe

    Salam Tani Organik jos!!!

  2. agus says:

    Bismillah.
    Saya sangat setuju sekali pk jauhar, memang tidak disadari dari element yang diaggap kecil yang disebut :petani” bisa membuat keaadaan negeri menjadi sedemikian rupa.

    • klinikta says:

      Kurang lebih 50 % penduduk indonesia adalah petani, Elemen penentu roda pembangunan. Petani “panik” kami yakin ,panik pula negeri ini !!!

  3. hari says:

    Kami jga lagi panik ni pak, puluhan hektar sawah kami diserang tikus.Umumnya pada saat ini padi udah berusia 2 bulanan dan udah mulai keluar bulir. bagaimana pengendaliannya pak?

    • klinikta says:

      Wah kalau sudah terkena… sulit juga ya pak, tikusnya sudah didalam. Tapi coba bapak Lihat,ini untuk pengalaman ke depannya… bahwa serangan TIKUS MULAI MERAJALELA justru beberapa hari SETELAH DIBERI pupuk SUSULAN.

  4. amin says:

    Lha terus untuk pengendaliannya supaya aman dari serangan tikus bagaimana?

    • klinikta says:

      Kami biasa menggunakan PESNATOR plus dikombinasikan dengan pengelolaan pupuk yang tidak terlalu banyak pupuk NITROGENNYA, kami perbanyak unsur lain selain NITROGEN, garis besarnya demikian pak Amin.

  5. widodo says:

    pak tlg kirim sy resep untuk mengaplikasikan pupuk/obat kimia dg produk kembang langit terutama untuk penyakit busuk batang dan layu, krn selama ini untuk tanaman cabe kami ketika mulai merah, maka layu dan patek selalu mengikuti, dan kami belum bisa berhasil mengendalikan penyakit tsb sampai 80%.mohon dikirimi rincian cara memacu pertumbuhan dan menghindari penyakitnya, agar tanaman bisa spt punya kang ujang, terima kasih. salam ORGANIK

    • klinikta says:

      Untuk busuk batang bisa digunakan, Pocanil dan Dithene M, sambil dibawah kita kurangi pupuk Nitrogennya, kalau ada gambarnya bisa dikirimkan ke email kami,nanti kita bahas bersama,sertakan juga pupuk dan pestisida yang terakhir digunakan.

  6. syahrul aqso says:

    hehee..baru latihan mengemudi bang,jangan kan tikungan tajam plus turunan dan jalan berlubang..liat kiri kanan jalan pun masih latihan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


5 + = tujuh

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

12 Responses to KEPANIKAN DALAM PERTANIAN

  1. Agil says:

    Thailand koar-koar karena buah berduri berbau tajam di stop impornya oleh RI hahaha….panik minta tulung-tulung ama Amerika
    Sementara dinas terkait urusan pertanian masih digoyang dengan urusan sapi hehehe…panik juga + kedelai juga masih meresahkan hlo
    Akibat dari kebijakan ini para importir yang “katanya” resah karena dapur uangnya disenggol pemerintah juga…panik…teriak-teriak jerit-jerit tulung-tulung (tanpa pernah ingat pada saudaranya yang bernama petani lokal)
    Sebenarnya boleh juga kebijakan stop impor SEMENTARA ini, tapi ya maklum karena tahun ini dan tahun depan adalah tahun-tahun penting di Indonesia.
    Yang jelas sih sarat kepentingan hehehe

    Salam Tani Organik jos!!!

  2. agus says:

    Bismillah.
    Saya sangat setuju sekali pk jauhar, memang tidak disadari dari element yang diaggap kecil yang disebut :petani” bisa membuat keaadaan negeri menjadi sedemikian rupa.

    • klinikta says:

      Kurang lebih 50 % penduduk indonesia adalah petani, Elemen penentu roda pembangunan. Petani “panik” kami yakin ,panik pula negeri ini !!!

  3. hari says:

    Kami jga lagi panik ni pak, puluhan hektar sawah kami diserang tikus.Umumnya pada saat ini padi udah berusia 2 bulanan dan udah mulai keluar bulir. bagaimana pengendaliannya pak?

    • klinikta says:

      Wah kalau sudah terkena… sulit juga ya pak, tikusnya sudah didalam. Tapi coba bapak Lihat,ini untuk pengalaman ke depannya… bahwa serangan TIKUS MULAI MERAJALELA justru beberapa hari SETELAH DIBERI pupuk SUSULAN.

  4. amin says:

    Lha terus untuk pengendaliannya supaya aman dari serangan tikus bagaimana?

    • klinikta says:

      Kami biasa menggunakan PESNATOR plus dikombinasikan dengan pengelolaan pupuk yang tidak terlalu banyak pupuk NITROGENNYA, kami perbanyak unsur lain selain NITROGEN, garis besarnya demikian pak Amin.

  5. widodo says:

    pak tlg kirim sy resep untuk mengaplikasikan pupuk/obat kimia dg produk kembang langit terutama untuk penyakit busuk batang dan layu, krn selama ini untuk tanaman cabe kami ketika mulai merah, maka layu dan patek selalu mengikuti, dan kami belum bisa berhasil mengendalikan penyakit tsb sampai 80%.mohon dikirimi rincian cara memacu pertumbuhan dan menghindari penyakitnya, agar tanaman bisa spt punya kang ujang, terima kasih. salam ORGANIK

    • klinikta says:

      Untuk busuk batang bisa digunakan, Pocanil dan Dithene M, sambil dibawah kita kurangi pupuk Nitrogennya, kalau ada gambarnya bisa dikirimkan ke email kami,nanti kita bahas bersama,sertakan juga pupuk dan pestisida yang terakhir digunakan.

  6. syahrul aqso says:

    hehee..baru latihan mengemudi bang,jangan kan tikungan tajam plus turunan dan jalan berlubang..liat kiri kanan jalan pun masih latihan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


sembilan − = 2

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>