Sukses Bersama Klinik Pertanian Organik Kembang Langit, Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Pimpinan KPO-KL Bpk. Rusli Gunawan SW, SH. (kiri) Bersama Bupati Garut Bpk. H. Rudi Gunawan, SH, MH dan Camat Leles Dra. Hj Rusmanah M.Si More »

Kegiatan bersama Menakertrans di Leles-Garut More »

Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Jajaran Komisaris Direksi, Staff, dan Rekan PT.Kembang Langit More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada tanaman Padi di Aceh More »

Kegiatan Pelatihan More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Keriting More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Rawit More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Pare/Paria More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Keriting More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada tanaman Tomat di-Bandung More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Keriting More »

Hasil Aplikasi Mengatasi lalat buah di tanah karo-SUMUT More »

Pengiriman Barang, Kegiatan Pelatihan More »

 

KPO(Klinikpertanianorganik),INDEPENDEN !!!

Ditahun 2013 yang diistilahkan sebagai tahun POLITIK, kami KPO , tidak ingin dan tidak tertarik untuk ikut-ikutan terjun kedunia politik.  Kenapa hal ini kami ulas ?  Karena ada beberapa petani yang bertanya dan ingin mengetahui lebih jauh perihal “posisi” KPO, dalam suasana hiruk -pikuk dunia politik saat ini, terutama menghadapi PILKADA dan PILPRES 2014.
K ami ingin menegaskan dan menjelaskan posisi kami, KPO ….INDEPENDEN.  Arti kata dari Independen sendiri kurang lebih bisa diartikan,  MERDEKA,BEBAS,TIDAK TERGANTUNG PIHAK LAIN,BERDIRI SENDIRI atau MANDIRI (tentunya bukan juga nama salah satu  “merk” Bank… )

Gambar 1.( Kami mengambil contoh tanaman Bp. Ena,di Kampung Sayuran ,Leles- Garut, pengambilan gambar pada tanggal 6 Desember 12,pada saat 2 hari setelah pindah tanam.  Bp. Ena ini hanya salah satu contoh dari puluhan juta petani di Indonesia yang mengurus  lahan pertaniannya secara Mandiri.   Tenaga, permodalan bahkan tehnik bercocok tanamnya dilakukan secara  “Independen”.)

 Kami mandiri, bahkan untuk membentuk  suatu lembaga semacam  LSM saja kami  tidak terfikirkan, apalagi condong kesalah satu partai peserta pemilu .  Dari segi financial pun ,kami Independen,  kami   tidak dapat anggaran / dana dari manapun  baik dari pemerintah apalagi dari luar negeri.

Gambar 2.( Kondisi tanaman satu bulan kurang dua hari,penanaman tanggal 4 Desember 12.  Kami mencoba untuk membantu mengarahkan  dalam hal teknik kepada  bapak Ena dan ternyata beliau puas dengan  hasil yang dicapai.  Dalam kesempatan lain kami akan tampilkan contoh profil petani  “independen” lain yang tidak mendapat bimbingan dari siapapun.   Nanti kami perlihatkan betapa memprihatinkannya nasib petani “independen”  ( melakukan segala sesuatunya  dengan sendiri ) tersebut.    )

Berlatar belakang dari rasa keprihatinan saja,kami bergerak dan terus bergerak secara  mandiri,bebas bergerak tanpa ada ikatan dari pihak manapun.  Pemberitaan akhir-akhir ini perihal komoditas pertanian, SAPI …makin menambah keprihatinan kami.  Mengapa negeri ini,terus mengimpor produk-produk hasil pertanian.   Sedangkan sumber daya alamnya,melimpah…
Kalau mengutip ,kata-kata Seorang “RAJA”   yang sedang aktif  promosi untuk menjadi  PRESIDEN …. biasa menyebutnya… dengan istilah : “TERLALU…. “

Gambar 3.(Usia tanaman yang dikelola Bp. Ena pada tanggal 19 januari ini,pas berusia  1.5 bulan.  Memberi pencerahan ,mencerdaskan petani dengan tehnik-tehnik yang tepat adalah tugas utama dari pemerintah.   Penguasa memiliki lembaga-lembaga Riset yang seharusnya,hasil penelitian tersebut sampai kepada petani melalui “tangan-tanganya” didaerah.  Tetapi pada kenyataannya Pak Ena ,belum pernah mendapatkan arahan dari “petugas” yang berwenang (lebih tragisnya lagi,beliau belum sempat “kenalan”). Apakah anda juga mengalami hal yang demikian ? Kalau demikian  wajar saja kalau hasil produksi pertanian kita,tidak bisa diandalkan.  Gagal “maning” -gagal ‘maning” (Red.  Gagal lagi). Jalan “simple” nya…Tidak usah tanam/bertani…cukup beli saja/impor. )

Sebagai ilustrasi saja ,pada tahun  2010,  Indonesia mengimpor tomat sebanyak 10.429 ton, bawang merah 64.247 ton, bawang putih 367.007 ton, cabe 18.358 ton , kentang 50.384 ton, bawang daun juga diimpor sebanyak 454 ton, begitu juga kacang merah 225 ton dan buncis 7.751 ton sementara sayuran lainnya mencapai 266.436 ton.  Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik, impor buah sayuran Indonesia pada tahun 2012 mencapai USD 411,5 juta atau setara Rp 3,7 triliun, ck.. ck.. ck…Jumlah yang tidak sedikit…
K ami tidak tertarik untuk ikut-ikutan pada  “POLITIK DAGANG SAPI”, kita menjadi mengetahui,kenapa arus import “menjadi” sulit dibendung.   Kalau “fee” untuk  memuluskan  aliran  import daging  adalah sebeser Rp. 5000/kg nya  , tinggal menghitung saja berapa total yang diterima ” makelar impor”.  Ini baru contoh  satu komoditas saja bagaimana dengan komoditas lainnya?  Kalau kita jalan-jalan ke pasar tadisional, ada yang mengatakan bahwa…   saat ini komoditas yang belum  impor mungkin  hanya ….JENGKOL dan PETE .  Ada yang berminat menjadi importir Jengkol dan Pete ?

wGambar 5.( Usia tanaman pada saat gambar diambil,dua bulan kurang satu minggu. Kondisi daun tanaman ‘HIJAU KE BIRU-BIRUAN‘ ,suatu warna ideal untuk  kondisi helai daun, tetapi jangan dikira kami sedang mengkampanyekan warna kontestan partai peserta pemilu. Sama- sama sekali tidak….)

Memang tidak mudah untuk mengelola TANAH dan AIR yang bernama Indonesia yang memiliki lebih dari 17.000 pulau.
Berikut ini hanya sebuah iustrasi saja. Ada seseorang  diwarisi oleh orangtuanya modal berupa, uang  1 Milyar dan lahan berupa sebuah PULAU KECIL , yaa… taruhlah…pulau berukuran 100 ha saja.  Dengan potensi alam yang subur,akhirnya sang ahli waris memutuskan untuk berinfestasi pada tanaman padi dan hortikultura, tetapi  karena  tehnik dasar budidayanya beliau  tidak punya…Bisa  dibayangkan dengan kondisi demikian apa yang akan terjadi ? Pertama -tama yang akan berdatangan  adalah “makelar-makelar” sarana produksi yang menawarkan produk penunjang yang katanya berkualitas.   Kemudian akan berbondong-bondong lagi  datang, tehnisi-tehnisi  yang menawarkan jasa tehnis  yang mengatakan  dan menawarkan  tehnik A,B, atau  tehnik C.  Karena sang “AHLI WARIS” ini,tidak mengetahui sama-sekali tentang tehnik/ilmunya,akhirnya …apa yang dikatakan oleh “tim tehnis” kemungkinan besar pasti akan  diikutinya.  Kira-kira apa yang akan terjadi dengan modal 1 Milyar tersebut?  Kami yakin…pasti ” Beres”…tak tersisa…
Mungkin hal ini juga terjadi pula  daerah -daerah di Negara kita yaa? Dana Anggaran ada, “lahan” ada,tetapi kurang cakap mengelolanya, akhirnya hidup konsumtif… “belanja dan belanja” dalam skala luas…Impor.

Gambar 6.(Ukuran buah dibagian pangkal pertama  pun ,sudah sepanjang botol kemasan Protektan.  Apabila kurang hati-hati dalam pemberian pupuk,biasanya buah pada pangkal percabangan  pertama ini, Rontok.  Kerontokan bunga,busuknya buah  dalam skala luas bisa menyebabkan IMPORT terus berlangsung…)

Kalau menganalisa data IMPORT diatas saja,betapa prihatinnya kita,negara AGRARIS  seperti  “PULAU BESAR” ,INDONESIA tanahnya  yang  SUBUR MAKMUR…koq semua komoditas pertanian hampir seluruhnya  IMPORT.
Dengan potensi yang ada di “lahan pulau Indonesia” Sudah sepatutnya  yang kita prioritaskan  adalah SEKTOR PERTANIAN …
Disaat seperti sekarang  ini yang dibeberapa daerah dimana sedang hangatnya masa-masa kampanye PILKADA, masing-masing calon KADA ,sedang aktif mempromosikan program-programnya termasuk dibidang pertanian.  Beberapa tahun yang lalu ada satu daerah yang awal masa kampanyenya menggembar-gemborkan Program pertanian organik,tetapi setelah sudah mendekati masa akhir jabatannya…Programnya   “terasa”… tidak menyentuh sama sekali,khususnya dalam sektor pertanian organik.   Dalam acara Debat Kandidat CaGub  di salah  satu stasiun televisi, kami dengar sudah ada lagi  CaGub  dari  satu partai yang men-JANJI-kan konsep pertanian berbasis organik.   Cagub yang lainnya mengatakan APBD untuk desa akan  di”setting”  dengan anggaran yang besar.  Kita tunggu dan pantau…sajauh mana  kiprahnya dalam menepati  janjinya.

Gambar 7. ( Walaupun varietas yang kami gunakan untuk aplikasi kali ini adalah varietas yang “katanya” tingkat kelayuannya  tinggi, tetapi hingga saat ini dari 6000 batang yang ditanam, kami sangat syukuri, hanya satu tanaman saja  tanaman yang  layu,itupun karena tersenggol,bukan karena penyakit.  Curah hujan  dan  tingkat kelayuan yang tinggi dalam skala yang luas juga bisa menyebabkan dilakukannya impor  secara berkesinambungan. )

Kami tidak peduli siapaun yang memimpin daerah  atau yang memimpin “TANAH DAN AIR ” Indonesia yang penting harapan kami  adalah kepeduliannya pada sektor pertanian.  Kami tidak berharap seperti saat ini, komoditas pertanian hampir seluruhnya dari luar negeri.  Kalau bicara kualitas dan kuantitas “produk lokal”  sebenarnya sangat mungkin untuk ditingkatkan, hanya saja ada tidaknya keinginan dari “stake holder” untuk melakukannya.  Jangankan Padi,beras, sayuran, daging sapi  dan buah bahkan sarana produksi  seperti PUPUK dan PESTISIDA nya pun  sebagian besar import.    Bisa kita lihat dari label kemasan  pupuk kimia,begitu fasihnya petani mengucapkan suatu merk seperti : KCl Jerman, KCl Kanada , KCl Australia,NPK Norwegia, KNO Perancis, KNO Belgium dll, bahkan untuk pestisida kimia hampir seluruhnya DARI LUAR ” NAGREG” (Red. Nama daerah di Bandung Timur)… eh Negri…Dengan kondisi yang demikian Siapkah  sang  pemegang kebijakan melepas begitu saja “angpau ” dari importir produk kimia  ini?

Gambar 8. ( Sdr. Edwin dan Sdr. Dimas, Alumni  pelatihan Gelombang II dan juga merupakan  pengusaha tani muda yang berasaal dari Lembang -Bandung datang untuk bersilaturahmi ke KPO,sekaligus memantau hasil aplikasi  terbaru dari KPO. Seandainya masing-masing  dari setiap petani diseluruh Indonesia  sudah “cakap” mengelola tanamannya   sendiri dan adanya  keinginan kuat dari pemerintah ,kami yakin, petani lokal akan bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri dan  arus impor akan bisa dibendung. )

Sebagian nyaring bersuara   menganjurkan untuk meningkatkan penggunaan produk  lokal dan  lebih mengutamakan produk petani lokal dibandingkan komoditas impor,tetapi mereka juga yang memberi perlakuan istimewa terhadap IMPORTIR produk dari  “luar”.   Karena kami tidak mengatas namakan atas siapapun, independen (Mandiri) …KPO berupaya bersuara lantang ,menyuarakan suara “hati kami”.  Kami juga tidak sedang membangun PARTAI KE 11, atau PARTAI PETANI… Tidak sama sekali,kami hanya ingin agar petani-petani yang diwarisi lahan,seberapa pun luasnya, bisa mengelola LAHAN /TANAHNYA .  Dana yang ada berapapun besarnya 1 juta apalagi 1 Milyar ,seperti contoh “cerita AHLI WARIS ” diatas ,  bisa  MEMANFAATKAN  sumberdaya yang  dimilikinya  seOPTIMAL mungkin.  Kami sangat yakin apabila,petani sudah paham TEHNIKNYA , petani akan bergerak dengan sendirinya  bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri dan  tidak akan terpengaruh oleh  siapapun  pemimpinnya.   Toh kenyataannya,pada saat ini pun,petani bergerak sendiri ,mandiri dan independen.

Gambar 9.(Tanaman yang “pas” pada tanggal 4 Pebruari ini,berusia 2 bulan,  tampak berbuah lebat .  Walaupun dibeberapa bagian ada tunas tanaman yang berwarna “KUNING”,walaupun didaerah ini yang “menang ” bukan warna “KUNING “.)

Kami KTO,hanya sebuah klinik, yang tidak akan kemana-mana mencari “pasien”.  Kami juga ‘ TIDAK berpihak KEMANA-MANA tapi  kami   berupaya untuk  ada DIAMANA-MANA’.  Kami hanya berupaya  Mengobati tanaman  dan berkeinginan untuk  peduli dan memberikan sumbangsih  sebisa kami  dalam rangka membenahi  tehnik pertanian yang “salah’ urus  yang menyebabkan pertanian kita begitu terpuruk.
Kami juga tidak akan mendukung salah satu warna bendera/ partai .  Kami melakukan hal ini karena keprihatinan  dan kepedulian .  TANAH dan AIR BUMI PERTIWI  yang  terkenal subur makmur ini,   ternyata tidak termanfaatkan  dan HANYA MENGANDALKAN “KRAN”  IMPOR saja. 
Mungkin tepat juga perkataan teman seperjuangan kami,Bp. Ibo, penggiat  padi organik di Tasikmalaya yang mengatakan : 
PILKADA dan PILKABE beda-beda TIPIS.   PILKADA kalau sudah JADI biasanya LUPA, sedangkan kalau PILKABE kalau LUPA…biasanya…   Oleh karenanya kami menyarankan saudara-saudara petani,dimana saja berada,untuk tidak terlalu “ngotot” mendukung salah satu calon KADA ( kepala daerah), apalagi  sampai  “ngontok-ngontokan”.  Toh …kalau pun yang kita dukung  SUDAH JADI…biasanya LUPA…
 MANDIRI / INDEPENDEN  itu… TERNAYATA   INDAH … NYAMAN … LELUASA   …dan TIDAK ADA KEKANGAN

2 Responses to KPO(Klinikpertanianorganik),INDEPENDEN !!!

  1. Marno says:

    Maaf p saya mau tanya tanaman saya uda umur 70 hari bisa nggak di pupuk lagi? Pupuk apa aja yg bisa di pakai dan brapa dosisnya untuk 1 drum, pupuk yang untuk mencegah patek, soalnya tanaman saya bekas di bedengan tanaman kemaren. Trims

    • klinikta says:

      Hal seperti ini banyak terjadi dalam pertanian kita pak, ada semacam pomeo bahwa, tanaman cukup diberi kocoran 4-5 kali saja,karena kalau terus diberikan pemupukan tanaman rawan layu. Sekarang kita umpamakan manusia, apakah kalau sudah berusia 70 tahun tidak perlu di beri makan? Tentu tidak pak, tanaman tua pun perlu makan hanya yang perlu dipertimbangkan adalah JENIS DAN DOSISNYA…,bukannya berhenti makan… Untuk kasus tanaman bapak, bisa di kirimkan contoh tanamannya ke email kami pak Marno. Kami tunggu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


2 × = sepuluh

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

2 Responses to KPO(Klinikpertanianorganik),INDEPENDEN !!!

  1. Marno says:

    Maaf p saya mau tanya tanaman saya uda umur 70 hari bisa nggak di pupuk lagi? Pupuk apa aja yg bisa di pakai dan brapa dosisnya untuk 1 drum, pupuk yang untuk mencegah patek, soalnya tanaman saya bekas di bedengan tanaman kemaren. Trims

    • klinikta says:

      Hal seperti ini banyak terjadi dalam pertanian kita pak, ada semacam pomeo bahwa, tanaman cukup diberi kocoran 4-5 kali saja,karena kalau terus diberikan pemupukan tanaman rawan layu. Sekarang kita umpamakan manusia, apakah kalau sudah berusia 70 tahun tidak perlu di beri makan? Tentu tidak pak, tanaman tua pun perlu makan hanya yang perlu dipertimbangkan adalah JENIS DAN DOSISNYA…,bukannya berhenti makan… Untuk kasus tanaman bapak, bisa di kirimkan contoh tanamannya ke email kami pak Marno. Kami tunggu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


7 − = satu

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>