Sukses Bersama Klinik Pertanian Organik Kembang Langit, Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Pimpinan KPO-KL Bpk. Rusli Gunawan SW, SH. (kiri) Bersama Bupati Garut Bpk. H. Rudi Gunawan, SH, MH dan Camat Leles Dra. Hj Rusmanah M.Si More »

Kegiatan bersama Menakertrans di Leles-Garut More »

Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Jajaran Komisaris Direksi, Staff, dan Rekan PT.Kembang Langit More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada tanaman Padi di Aceh More »

Kegiatan Pelatihan More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Keriting More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Rawit More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Pare/Paria More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Keriting More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada tanaman Tomat di-Bandung More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Keriting More »

Hasil Aplikasi Mengatasi lalat buah di tanah karo-SUMUT More »

Pengiriman Barang, Kegiatan Pelatihan More »

 

Monthly Archives: Februari 2013

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 »

‘UTAK-ATIK’ PUPUK

  Ibarat sedang menservis kendaraan, dalam dunia pertanian pun ternyata berdasarkan pola pemupukan yang biasa kami lakukan tehnik “mengutak-atik”   perlu dilakukan.  Berikut ini ada perbandingan antara “utak-atik “mesin dengan “utak- Atik ” pupuk pada  lahan pertanian.
Ilustrasinya sbb, Tugas utama karburator adalah mencampur Bahan Bakar  + Udara (O2).   Kira-kira  dengan  perbandingan range nya Bahan Bakar : O2 adalah  1 : 13-15, (ternyata mesin pun  membutuhkan udara untuk “bernafasnya”).  Pada dasarnya adalah bagaimana caranya agar  mesin  mendapatkan  suplai campuran sebesar itu.

Gambar 1. A. ( Kondisi tanaman yang diamati pada tanggal 2 Pebruari 13, diawal bulan Pebruari ini, kondisi tanaman yang meggunakan tehnik kimia murni, masih relatif “aman”.)

Terdapat gejala-gejala yang terjadi pada  mesin saat kekurangan Bahan Bakar  atau  sedang  kebanyakan Bahan Bakar.  Apabila mesin terasa  “Ngempos” adalah gejala mesin kehilangan tenaga,hal ini  bisa  disebabkan oleh karena mesin kekurangan Bahan bakar.  Ada lagi gejala mesin seperti  “Mberebet” ,hal ini diakibatkan karena  mesin yang sebenarnya terasa “padat”  dan  tenaga seperti tertahan dan kadang dibarengi dengan suara  seperti benturan logam kalo settingannya terlalu basah/terlalu banyak bahan bakar.

Gambar 1. B.   (Pengambilan gambar pada tanggal 2 Peb 13,  percobaan /demoplot ini dilakukan oleh salah satu perusahaan .  Kami sengaja tidak menyebut nama dan lokasi percontohan.  Terpampang secara jelas dilokasi percontohan , umbul-umbul dari perusahaan kimia tersebut, ini berarti pula, percontohan ini untuk di “pamerkan”/di demokan .)

Ini  ada suatu teori dasar tentang mesin.  Kompresi suatu mesin makin tinggi biasanya mengakibatkan  mesin makin panas yang berarti pula di butuhkan  suplai Bahan Bakar  lebih banyak agar mesin tidak  rusak.  Dalam dunia tehnik mesin  faktor Humidity (kelembaban) lingkungan ternyata  cukup berperan pula , makin tinggi kelembaban bisa berarti  campuran Bahan Bakar terkontaminasi air  yang  berarti pula  campuran  Bahan Bakar  dan O2 makin miskin, langkah yang biasanya diambil adalah , takaran bensin harus lebih  banyak.
Sedangkan apabila  Suhu lingkungan rendah   suhu kerja mesin menjadi ” turun” hal ini berarti  bensin harus dikurangi agar suhu kerja mesin jadi ideal.

Gambar 1.C.  (Masih dalam waktu dan yang tempat yang sama dengan gambar 1.A dan 1. B, hanya agak bergeser sedikit ke kiri dari gambar diatas.)

Perbandingan pada mesin kendaraan bermotor seperti diatas mungkin bisa menjadi pegangan kita bahwa pada mesin saja, “aliran” bahan bakar ternyata bisa menjadi sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan kondisi mesinnya itu sendiri,  demikian pula kiranya yang terjadi pada “mesin tanah” dan lingkungan yang mempengaruhi dalam budidaya tanaman.

Gambar 2.A. (  Kami bukan bermaksud “usil” dengan menampilkan hasil aplikasi ini, hanya karena di pinggir jalan ini, terpampang papan  demplot yang rupanya  secara sengaja dipasang .)

Dalam pemupukan  kita biasa memberikan Unsur N ( misalnya, pupuk  Nitrogen berupa : Urea dan ZA)   yang diperlukan tanaman untuk pertumbuhan, terutama untuk pembentukan batang dan daun. Secara khusus, unsur N berguna untuk pembentukan protein, lemak, dan enzim. Kekurangan unsur N dapat menyebabkan tanaman menjadi kurus dan kerdil.

.Gambar 2.B. ( Pengambilan gambar pada akhir bulan Pebruari 13,  bergeser sedikit dari gambar 2.A.  Kondisinya seperti ini.)

  Ternyata   berdasarkan keterangan  dari ahli mekanik,  kondisi mesin dan lingkungan ternyata mempengaruhi  SETTINGAN campuran Bahan Bakar dan Udara ( O2).   Perbandingannya dalam dunia pertanian pun ada beberapa “persamaan”.  Sebagai contoh  cara kerja bakteri  yang  juga memerlukan udara (O2) untuk “melancarkan”  tugasnya.  Kita kilas balik dulu, uraian kami terdahulu.

Gambar 2.C.  (Bergeser lagi lebih kekiri dari gambar 2.B.  Kondisi tanaman seperti tampak dalam gambar, dari pengambilan gambar awal, gambar 1.A.B.C, hingga saat ini, tidak lebih dari satu bulan, kondisi nya sebagaimana yang terlihat dalam gambar diatas.)

“Kasus ” yang terjadi dalam dunia pertanian adalah kurangnya   suplay udara  kedalam tanah  sebagai akibat   mengerasnya tanah  karena  akumulasi jumlah pupuk yang diberikan secara terus menerus.   Dilain pihak  pupuk nitrogen ,misalnya  Urea , tidak  bisa secara langsung dikonsumsi  oleh  tanaman  , tetapi harus diubah dulu menjadi senyawa nitrat.  Proses untuk menjadi nitrat diperlukan bakteri -bakteri tanah yang sifatnya AEROB ( perlu udara).  Sedangkan apabila tanahnya memadat,  bagaimana mungkin udaranya bisa  masuk ? Apa perlu dilakukan pengeboran?  Cukup  bikin “Mumet” bukan ?

Berikutnya kita beri contoh yaitu pupuk   Amonium Sulfat.  Pupuktersebut  dihasilkan dari reaksi antara amonia dan asam nitrat, persamaan reaksinya sbb:

NH3(g) + HNO3(aq) →NH4NO3(s)

Sebenarnya Pupuk  Amonium Sulfate   dapat dikonsumsi langsung oleh tanaman. Akan tetapi, kendalanya  adalah , pupuk tersebut bersifat asam sehingga tanah menjadi asam.  sedangkan dalam kondisi asam, beberapa jenis penyakit yang diakibatkan oleh cendawan berkembang dengan pesat.   karena apabila suplay  Amonium sulfat  berlebihan akibatnya  berdampak demikian sedangkan apabila kekurangan juga mengakibatkan , tanaman kurang berkembang tunas-tunasnya. dalam hal ini ternyata perlu kiranya dilakukan , tehnik “utak-atik Mesin tanah”
Pemberian  Pupuk ( “bahan bakar”)  yang  dipakai  sangat  bergantung  pula pada kesuburan tanah dan  keadaan tanaman yang akan diberi “Bahan bakar”.    Untuk itu,  menurut kami para petani  perlu  PEMAHAMAN  tentang  ‘”  MESIN TANAH”  dan cara ‘UTAK-ATIKNYA’ .  Sebab  kadar unsur hara yang terdapat di dalam tanah , jenis pupuk (kadar unsur hara dalam pupuk)  yang akan diberikan harus  cocok  dengan kondisi  tanaman pada saat sebelum di”utak-atik”.   Ternyata walaupun  pemakaian “bahan bakarnya  PERTAMAX”  apabila kurang tepat cara pengaturan “utak-atik bahan bakarnya”   akibatnya bisa fatal, sebagaimana yang  sering terjadi pada saat ini.   Atau mungkin anda pun mengalaminya?