Sukses Bersama Klinik Pertanian Organik Kembang Langit, Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Kegiatan bersama Menakertrans di Leles-Garut More »

Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Jajaran Komisaris Direksi, Staff, dan Rekan PT.Kembang Langit More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada tanaman Padi di Aceh More »

Kegiatan Pelatihan More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Keriting More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Rawit More »

Hasil Aplikasi Mengatasi lalat buah di tanah karo-SUMUT More »

Pengiriman Barang, Kegiatan Pelatihan More »

 

Monthly Archives: November 2012

SARAN KAMI,LAKUKAN PERBANDINGAN : CARA PERTANIAN ORGANIK DENGAN CARA KIMIA

Karena tehnik  pertanian organik ala kliniktaniorganik  merupakan tehnik  baru, oleh karenanya kami sangat menyarankan agar pada setiap aplikasi,selalu dilakukan perbandingan.  Hal ini,kami anggap perlu,karena  banyak sekali faktor pembatas yang bisa menghambat produksi.

1

(Gambar 1. Pengambilan gambar pada saat pengamatan awal,usia tanaman  sekitar 1 bulan lebih,gambar diambil pada tanggal 26 Mei 12).

Perbandingan bisa dilakukan antar tanaman milik kita sendiri atau dibandingkan dengan tanaman milik “tetangga sebelah”.  Seperti dalam lokasi diatas,perbandingan dilakukan  antara tehnik pertanian organik ala kliniktaniorganik,dengan tehnik kimia.

2

(Gambar 2. Seperti tampak dalam gambar,pengambilan gambar masih dari “sudut” yang sama dengan pengambilan gambar 1. diatas. Hasilnya terlihat,tanaman yang menggunakan tehnik kimia (sebelah kiri) ,ajir penyanggah tanamannya sudah dicabut,ini artinya tanaman sudah tidak di pelihara lagi.)

Perlakuan  dengan adanya PEMBANDING ini,kami anggap perlu sebab bisa saja “kebelumberhasilan” suatu  tehnik budidaya disebabkan oleh baik FAKTOR NON TEHNIS atupun FAKTOR TEHNIS.

3

(Gambar 3. Kunjungan lapang peserta pelatihan,yang sedang mengamati tanaman cabe “tua” yang masih produktif.  Usia tanaman yang bisa beretahan ini,dapat kami ambil kesimpulan  bahwa tanaman bisa terbebas dari Antraknose /busuk buah,terhindar dari lalat buah, layu fusarium  keriting daun dan virus kuning.)

Beberapa faktor non tehnis tersebut  diantaranya adalah :

1.  KONDISI CUACA  yang SANGAT PANAS , TERIK dan KETERSEDIAAN AIR yang MINIM.

Kondisi  yang ekstrim panas demikian sangat memungkinkan menggagalkan tanaman  yang sedang dibudidayakan.

4

(Gambar 4. Tunas-tunas tanaman juga berkembang lagi,apalagi saat ini,musim hujan “tlah tiba”.)

2. CURAH HUJAN yang terlalu TINGGI pun ,sangat bisa meluluhlantakkan tanaman kita.

5

(Gambar 5. Usia tanaman sudah 7 (tujuh) bulanan.  Walaupun harga saat ini sedang “drop” tetapi  karena tanaman sudah  memberikan hasil yang jauh di atas BEP (Break even point)/titik impas,jadi harga yang  “kurang bersahabat” pun tidak menjadi masalah. )

3. RESURJENSI (LEDAKAN ) HAMA DAN PENYAKIT,yang  terjadi pada suatu waktu,yang SERANGANNYA  tidak “terbendung”.

6

(Gambar 6. Hal lain yang tidak akan ditemui pada tehnik pertanian kimia adalah,adanya  serangga “penolong petani”. Capung.  Saat ini,serangga ini,sudah hampir punah. Mungkin keturunan kita sudah tidak akan mengenal lagi,  serangga ini, karena ikut terbunuh oleh petisida kimia.  Padahal sebenarnya serangga ini,secara aktif  memangsa hama-hama pengganggu tanaman.)

4. KESALAHAN APLIKASI, bisa berupa JENIS PESTISIDA, PUPUK , HERBISIDA  ATAUPUN  DARI DOSIS dan INTERVALNYA yang belum tepat.

7

(Gambar 7.  Serangga  CAPUNG ini,merupakan indikator bahwa,lokasi tempat dia hinggap adalah  tempat yang steril dari bahan kimia.  Serangga ini juga,biasanya menjadi perameter kebersihan AIR.    Apabila serangga Capung ini,hinggap di suatu lokasi sumber air,hal ini menunjukkan  bahwa AIR yang  dihinggapinya tidak  tercemar.)

5. FAKTOR BENIH YANG SUDAH TIDAK STERIL.   Benih yang sudah terkontaminasi sejak awal pun,bisa menjadi faktor “pembatas” produktifitas tanaman.

8

(Gambar 8.  Daun tanaman cabe masih hijau dan,dibawah tanaman cabe,sudah menyusul tanaman kubis yang sedang berkembang.  Alangkah “nyamannya” bertani sistem pertanian organik ala kliniktaniorganik.)

6.  Tidak kalah pentingnya adalah, TINGKAT  KESUBURAN  dan PENCEMARAN TANAH yang berbeda PADA SUATU LOKASI.  Hal ini tentunya akan memberikan hasil yang berbeda pula

6 (enam)  faktor diatas yang kami deskripsikan,bisa menjadikan  petani “gigit jari”,sebaik apapun  TEHNIK dan SARANA PRODUKSI YANG DIGUNAKAN, oleh karena itu, kami sangat menyarankan :  Pada  setiap aplikasi  : DILAKUKAN  PERBANDINGAN ,BAIK ANTARA TEHNIK YANG MENGGUNAKAN SISTEM BERBASIS PERTANIAN ORGANIK ala KLINIKTANIORGANIK DENGAN YANG MENGGUNAKAN TEHNIK KIMIA.

Sebagai bahan EVALUASI UNTUK  TEHNIK ….BERIKUTNYA !!!

PELATIHAN TANI ORGANIK GELOMBANG IV

Pelatihan pertanian organik ala kembang langit,gelombang IV telah kami lakukan pada tanggal 9-10 November 12.

Pada pelatihan kali ini,peserta berasal dari,Jawa Barat,Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Tampak peserta pelatihan kali ini,dari Kiri Bp. Anin ( Sukabumi), Sdr. Sifa (Garut), Sdr. Nurdiana (Tasikmalaya), Bp. Imam (Kebumen) dan Bp. Adif (Blitar) .

Pada kesempatan ini,jumlah peserta agak terbatas karena ada beberapa peserta yang menunda waktu pelatihannya ke waktu pelatihan berikutnya.

Suasana pelatihan yang berlangsung santai dan suasana kekeluargaan sangat terasa.

Pak Adif ( Berkaos Merah putih,yang merupakan petani pemula) jauh-jauh datang dari Blitar- Jatim,untuk mengikuti pelatihan,agar hasil pertaniannya,tidak seperti petani pada umumnya yang sering “GAGAL MANING-GAGAL MANING” ha ha.

Bp. Dadang Purwa Gelar  S.P.,sedang memberikan materi yang berhubungan dengan tanah dan kesuburannya.

Pada hari Kedua,kami bersama dengan Peserta pelatihan,memantau hasil aplikasi dilapangan yang telah menggunakan tehnik pertanian organik ala kliniktaniorganik.

Peserta mengamati tanaman Bp. Tata Supita yang hingga saat ini,walaupun telah berusia 7 bulanan,masih tetap produktif.

Sementara tanaman cabe Bp. Upit kamojang masih dipelihara,tanaman yang menggunakan tehnik kimia,Ajir/bambu penyanggah tanamannya sudah dicabut.

SEMANGAT KEPAHLAWANAN DIBIDANG PERTANIAN

Tepat tanggal 10 November  pada tahun 1945,beberapa bulan setelah diproklamirkannya kemerdekaan R.I terjadi Pertempuran Surabaya,Jawa Timur  yang  merupakan peristiwa sejarah perang antara pihak tentara Indonesia dan pasukan Belanda. Pertempuran ini adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan satu pertempuran besar dan berat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesiayang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme.

Pada tanggal 24 November 1945, warga Bandung selatan,rela berkorban  dan  “membumihanguskan” segala harta dan rumahnya,karena ketidakrelaan  bila Kota Bandung dimanfaatkan oleh pihak Sekutu dan NICA,sebagai Markas.

Tanggal 20 November 1946, I Gusti Ngurah Rai  melakukan perlawanan hebat yang dikenal sebagai perang Puputan Margarana di Pulau dewata  yang  menyebabkan  gugurnya pahlawan demi membela TANAH AIR.

Demikian pula perlawanan terhadap imperialis kolonialisme,terjadi diseluruh pelosok , untuk membela BUMI PERTIWI,jangan sampai dikuasai oleh  “KOMPENI”.

Dalam kesempatan ini,yang kita peringari sebagai hari PAHLAWAN,kami  mencoba mengulasnya dari segi SEMANGAT KEPAHLAWANAN yang merupakan mata rantai yang tidak boleh putus.

Mungkin anda sepakat dengan kami,bahwa Pengertian PAHLAWAN, bisa kita perluas yaitu,bukan hanya orang yang memanggul senjata. Minimal semangat para pendahulu kita yang RELA BERKORBAN DIRI,HARTA BAHKAN NYAWA nya ,demi kepentingan orang banyak,harus terus kita gelorakan.  IBARAT semangat  ‘API  yang TIDAK KUNJUNG PADAM”.

 

1

(Hasil yang memuaskan, walaupun dengan kondisi tanaman  yang sempat ” tertimpa”  musim kemarau yang cukup panjang, pengamatan 6 Nov 2012, Usia tanaman 93 hari,sudah petik  7 kali.)

Saat ini,memang secara fisik,  “Kompeni-kompeni”,tersebut sudah tidak “bercokol”,di tanah air kita,tetapi  secara disadari atau tidak  mereka tetap “menjajah” kita.  Khususnya di bidang pertanian, Apa anda  merasakan pula hal ini?

2

 (Pengamatan pada saat Usia  tanaman 64 Hari, 8 Okt 12.  Tehnik dasar yang digunakan adalah berbasis petisida dan pupuk organik .)

Produk -produk baik benih, pupuk maupun pestisida Made in  Luar Negeri  secara gencar,menguasai negeri ini . Bahkan ketidakadilan terjadi. Mereka “menumpahkann” produk-produk kimia nya kenegiri ini,sementara hasil produksi dari negeri kita,secara ketat, diukur tingkat residunya untuk bisa masuk kriteria standar , ekspor  ke negeri mereka.

3

( Hasil pengamatan setelah 72 hari, dilakukan pada tanggal 16 okt 12. Hasil demikian sebenarnya apabila dibandingkan dengan hasil aplikasi berbasis pertanian kimia  ala “mereka”,jauh lebih elok.)

Hal ini lah yang terjadi saat ini. Ketergantungan pada produk-produk  kimia,walaupun hasilnya makin hari makin terasa dampak negatifnya. Sudah banyak penggiat-penggiat yang konsen dibidang pertanian organik,yang memaparkan tentang dampak dari serangan BOMBARDIR ,pupuk kimia pada tanah dan  SERANGAN  SECARA BERTUBI-TUBI dengan PESTISIDA KIMIA yang mereka miliki.

4

(Kondisi tanaman disisi lainnya,tanaman sudah petik 7 kali,hasilnya …).

Kalau dahulu kita diperangi dengan senjata,saat ini senjata yang digunakan “jenis lain”.  Kalau menurut pengamatan kami,lambat laun,tanah pertanian kita ,makin lama akan menjadi tandus,gersang dan kering kerontang,inilah akibat dampak secara fisiknya.  Dampak lain secara kimia sudah kita rasakan makin asamnya tanah,hal ini bisa dilihat dengan makin meraja lelanya penyakit Layu fusarium.  Bahkan saking “putus asanya” ,pernah kami mendapat tantangan dari petani di Sumatera Utara, petani tersebut mengatakan seandainya  dapat mengatasi :Layu Fusarium,petani tersebut mempertaruhkan sebelah telinganya.  Dari segi biologi,kita jangan dulu bicara atau membahas MIKROBIOLOGI TANAH, karena mahluq hidup yang ukurannya lebih besar saja sudah ikut musnah.   Kita lihat saja,kemana perginya cacing-cacing tanah? Kemana larinya belut,yang berguna untuk memperbaiki,aerasi tanah? Sedangkan Cacing dan Belut merupakan salah satu indikator,suatu kesuburan tanah.  Binatang yang ukurannya besar saja “musnah” apalagi yang ukurannya mikro….

5

(Pengamatan diwaktu dan lokasi yang lain,Usia tanaman 90 harian,hasil aplikasi yang menggunakan sarana produksi  kimia dari ‘LUAR NEGERI’ .

“Senjata dari atas” berupa pestisida kimia juga mengalir deras,dampak yang paling nyata seperti yang terlihat pada gambar diatas ini,belum lagi,dampak yang lebih luas,yaitu…Sebaran residu pestisida yang kita makan setiap saat,penyakit degeneratif terjadi dimana -mana,dan jenisnya pun makin aneh…yang tidak pernah dialami,”nenek kakek” kita dahulu.   Selain itu, musnahnya musuh alami,akibat SPEKTRUM  yang terlalu luas dari pestisida kimia tersebut, bukan hanya hama yang mati,tetapi juga ‘MUSUHNYA HAMA pun’,ikut musnah.  Oleh karenanya tidak mengherankan apabila hama makin “ganas” karena tidak adanya “serangga penyeimbang ekosistem”.

6

(Gambar diatas juga menggunakan tehnik kimia ,lokasi pengambilan masih di desa yang sama,desa Macan Putih,kabat, Banyuwangi. Pengambilan dilakukan beberapa waktu yang lalu.)

Ini…realita… saudaraku…,kami tidak sedang mengada-ada….

Kami memang masih menggunakan sarana produksi dari mereka,baik dari benihnya (yang memang sudah di”setting” genjah tetapi rapuh),pupuk dan pestisidanya.  Tetapi kami berupaya menekan penggunaanya seoptimal mungkin.

Kami jadi diingatkan oleh,kata-kata dari Bung Karno, sebagai  “Bapak Pendiri Bangsa” ini…Bahwa:  “Siapa yang menguasi PANGAN maka dialah sebagai PEMENANG”. kalau melihat kondisi saat ini,kita sebagai bangsa yang mana? PEMENANG ATAU PECUNDANG ?

 Ilmu yang kami ketahui kami hanya ingin menggugah…dan menyadarkan bahwa hingga saat ini…PERANG menuju  KEMERDEKAAN masih terus berlangsung….dan semangat  kepahlawanan yang terpatri pada jiwa-jiwa para pendahulu kita,akan  dan harus tetap kita teruskan….