Sukses Bersama Klinik Pertanian Organik Kembang Langit, Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Pimpinan KPO-KL Bpk. Rusli Gunawan SW, SH. (kiri) Bersama Bupati Garut Bpk. H. Rudi Gunawan, SH, MH dan Camat Leles Dra. Hj Rusmanah M.Si More »

Kegiatan bersama Menakertrans di Leles-Garut More »

Kegiatan bersama bapak Dede Yusuf di Pangalengan-Bandung More »

Jajaran Komisaris Direksi, Staff, dan Rekan PT.Kembang Langit More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada tanaman Padi di Aceh More »

Kegiatan Pelatihan More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Keriting More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Rawit More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Pare/Paria More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Keriting More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada tanaman Tomat di-Bandung More »

Hasil Penerapan Teknik KPO Kembang Langit Pada Cabe Keriting More »

Hasil Aplikasi Mengatasi lalat buah di tanah karo-SUMUT More »

Pengiriman Barang, Kegiatan Pelatihan More »

 

AKAR GADA PADA KUBIS DENGAN POLA “PUPUK BERIMBANG”,TEPATKAH?

Pada kesempatan ini,kami tertarik untuk “mengulas” tehnik pemberian pupuk yang disetting dari awal.  Berikut ini kami sertakan contoh pemberian pupuk yang “berimbang” versi  konvensional.  Kami tertarik untuk membahas pemberian  pupuk pada  tanaman kubis yang hubungannya antara jumlah pupuk yang diberikan dengan terjadinya akar gada pada kubis.

1.Gambar contoh tanaman yang terkena gejala akar gada,akibat serangan Plasmodiophora brassicae.

Pengertian pupuk berimbang versi konvensional kami contohkan sebagai berikut.  Saran aplikasi yang diberikan oleh salah satu lembaga riset  untuk komoditas kubis berdasarkan “POLA PUPUK BERIMBANG”.  Pada tabel anjuran untuk komoditas kubis tertera sbb:  Pupuk dasar diberikan PUPUK PHONSKA 200 kg + Pupuk ZA 50 kg,pupuk susulan I,diberikan pada usia 15 hari dengan komposisi Phonska 200 kg + Pupuk ZA 50 kg selanjutnya untuk pupuk susulan II,diberikan pada tanaman berusia 30 hari ,dengan komposisi Pupuk ZA 200 kg.

2.(Lokasi penanaman kubis ini,dekat dengan percontohan cabe dan tomat ,yang secara berkesinambungan kami pantau perkembangannya).

Memang kami maklumi,bahwa setiap orang mempunyai cara dan metode sendiri dalam berbudidaya tanaman,bahkan kalau ada 100 orang kita mintai pendapatnya tentang pola pupuk dan pengobatannya,niscaya akan muncul 100 cara aplikasi pula. Kami sangat memahami hal demikian.  Kami hanya tertarik untuk mengulasnya karena, anjuran ini,dikeluarkan oleh badan Riset Pemerintah yang saran rekomendasinya bisa menjadi acuan petani-petani kubis di seluruh Indonesia.

3.Contoh tanaman yang terkena serangan Akar gada,pengamatan di lakukan di Samarang Kab. Garut.

Pertama penggunaan istilah pupuk berimbang, sepertinya istilah pupuk berimbang ini perlu dikoreksi ulang. Karena istilah pupuk berimbang dalam versi konvensional adalah berimbang dalam komposisi kandungan N, P dan K nya. Sedangkan dari kadar unsur hara makronya saja 3 unsur lain belum tercantumkan yaitu, kadar Ca, Mg dan S nya,apalagi unsur MIKRO nya.

4. Pola pemberian pupuk dengan cara sebagaimana yang dianjurkan seperti diatas,hingga saat ini masih “membudaya” pada aplikasi khususnya tanaman hortikultura kubis.   Hasilnya seperti gambar 1-5 ini.  Pengamatan kami,sebagian besar terjadinya akar gada ini,justru setelah diberikannya pupuk susulan dengan metode konvensional ini. Menurut Hemat kami,pola anjuran dengan sistem pemupukan demikian perlu di KAJI ULANG.  Kami sering melakukan observasi dan penelitian langsung akan hal ini.   Metode sederhana bisa dilakukan oleh badan riset pemerintah, kumpulkan petani dan bisa menanyakan pertanyaan berikut ini. 1.  Kapankah petani kubis mengalami kejadian penyakit bengkak akar/akar gada sebelum diberi pupuk susulan atau sesudah pemberian  pupuk susulan? 2.  Berapa persen yang mengalami kejadian akar gada sebelum diberi pupuk susulan dan berapa persen yang terjadi setelah diberi pupuk susulan? 3.  Jenis pupuk apa saja yang diberikan sebelum terjadinya akar gada tersebut?

5.Kalau jawaban petani adalah sbb: 1. Akar gada terjadi setelah pupuk susulan,berarti ada “apa-apa”nya dengan dosis dan jenis pupuk ini. 2. Kalau jawaban kedua ,petani lebih banyak yang menjawab  persentasenya justru lebih banyak  yang menjawab,SESUDAH, maka pola rekomendasi PUPUK BERIMBANG ini,perlu dipertanyakan dan dilakukan Riset  lanjutan.3. Jenis pupuk yang direkomendasikan yang tertara diatas apakah juga sudah tepat?

6.(Gambar diatas ini,hasil aplikasi dengan metode pertanian organik kembang langit)

Perlu pengkajian dan penelitian lebih lanjut oleh lembaga riset yang berkompeten dalam hal ini,jangan sampai petani menjadi korban rekomendasi yang justru menyebabkan tanaman kubis menjadi terkena akar gada.

7.Hasil nya seperti diatas ini,kami tidak menggunakan fungisida untuk mengendalikan cendawan /jamur Plasmodiophora brassica penyebab akar gada ini.  Mengkondisikan agar cendawan tidak sesuai untuk perkembangbiakannya,ternyata efektif untuk mengendalikan akar gada ini.  Menurut pengalaman kami, justru dengan pemberian pupuk berimbang seperti diatas ,mengkondisikan cendawan akar gada berkembang pesat.

URAIAN DIATAS HANYA SATU CONTOH PADA KOMODITAS KUBIS, DEMIKIAN PULA UNTUK TANAMAN LAINNYA.  PERLU KEHATI-HATIAN DALAM MEMBERIKAN PATOKAN REKOMENDASI . REKOMENDASI  PUPUK YANG TIDAK TEPAT  JUSTRU  BISA ‘MENJERUMUSKAN’ PETANI,KARENA MENURUT   KAMI, PENGARUH PEMBERIAN MAKANAN(PUPUK) EFEKNYA BISA LEBIH BESAR DARI PADA PEMBERIAN  “OBAT ” SEKALIPUN.